
"Jenuh juga" gumam Sally yang tengah duduk menghadap jendela di kamar apartemennya.
"Poppy, mommy, Sally kangen" keluh Sally.
Sally merasa murung disana, ia merasa kesepian yang membuncah dalam dirinya. Ingin sekali ia pulang atau kerumah kakeknya yang ada di amerika. Namun keadaanlah yang membuat Sally harus bertahan di Manhattan. Apalagi Sally telah bertemu dengan Aisha, bahkan mengenal Danial sahabat Aisha.
"Altezza, kita mau kemana lagi?" Ucap Aisha yang tengah terduduk di jok belakang bersama Altezza, menaiki mobil itu.
"Kita akan pergi mendaftarkan diri" ucap Altezza.
"He? Mendaftarkan diri? Mendaftarkan diri apa?" Ucap Aisha bingung.
"Kita akan menikah" ucap Altezza dengan entengnya.
"Apa??? Tunggu! Menikah??" Aisha terbelalak.
"Hahaha. Sayang, kalau kita menikah secepat itu, aku tak tahu apa yang akan diucapkan Alex nanti" tawa Altezza.
"Tunggu!! Alex? Maksud kamu?" Selidik Aisha.
"Iya, Alex. Adik kecilmu itu" ucap Altezza yang masih dengan menunjukkan gigi itu.
"Kamu menyelidiki keluargaku?" Ucap Aisha curiga.
"Sayang, jika aku bersedia menjagamu, berarti aku harus bersedia menjaga mama mu dan juga Alex" ucap Altezza dan mencubit hidung Aisha.
"Sejauh ini?" Ucap Aisha merasa diawasi.
"Kamu calon istriku, Aisha. Kamu benar-benar lupa padaku?" Ucap Altezza.
"Lupa?" Ucap Aisha dengan menyipitkan kedua matanya.
Tangan Aisha meraih wajah Altezza, Aisha memandang lekat-lekat wajah Altezza dengan nenempelkan kedua telapak tangannya di pipi Altezza, Aisha pun mengingat-ingat siapa Altezza. Sialnya, Aisha tak mengingat siapa Altezza, hanya sepintas mirip dengan seseorang namun Aisha lupa dan tidak tahu siapa.
"Eh? Apa yang ka..."
Aisha kaget saat wajah Aisha dikerahkan Altezza, bahkan Altezza langsung mencium bibir manisnya Aisha.
"Tak apa jika kamu tak mengingatnya, setidaknya ciuman ini akan selalu kamu ingat" ucap Altezza dengan senyum liciknya.
"Kamu..." Ucap Aisha yang menampakkan wajah merah padamnya
"Hemmm. Katakan, apa kamu sudah jatuh cinta kepadaku?" Goda Altezza.
"Tidak. Aku tudak akan jatuh cinta kepadamu"
"Walau sedikitpun?"
"Tidak akan"
"Lalu, kenapa tadi kamu menciumku?"
"Altezza, tutup mulutmu. Dasar ember" pekik Aisha yang merasa malu itu, atas kejadian dirinya yang tiba-tiba bagaikan ular betina, yang tanpa sadar langsung menyambar bibir Altezza.
"Tutuplah dengan mulutmu, kemari" goda Altezza dan berusaha merangkul bahu Aisha.
"Ah, jangan sentuh aku" rengek Aisha.
Leon yang menjadi sopir itu pun merasakan hatinya terkecamuk, lantaran melihat kedua pasangan itu tengah berselisih benar-benar membuatnya iri.
"Aku rasa, nona Aisha sudah mulai menyukai bos. Ya Tuhan, cepatlah persatukan mereka. Dan kirimkan juga aku kekasih seperti nona Aisha" batin Leon dengan sepenuh hati.
"Do'a macam apa itu?" Ucap Altezza, menoleh kedepan yang persis dihadapan Leon
"Eh? Do'a?" Ucap Aisha, merasa bingung akan ucapan Altezza.
"Kenapa bos tahu, isi hatiku" batin Leon, merasa terancam.
"Ahahaha... Maaf bos" ucap Leon merasa tersudut.
"Eh, dalam hati pun kamu mendengarnya?" Ucap Aisha ingin tahu, dan mulai waspada.
"Tentu. Bahkan isi hatimu aku tahu" ucap Altezza dan menyentuh dada sebelah kiri Aisha bagian atas, sebagai ungkapan hati.
"Aaaa.... Apa yang kamu sentuh" teriak Aisha cukup keras.
Plakkk... Tamparan mendarat tepat di pipi Altezza.
"Duh, aku lupa akan hal..." Batin Altezza, ia pun teringat akan rasanya yang tak sengaja ia rasakan. Dengan segera Altezza menguasai diri dan menepis bayangan itu.
"Dasar pria bodoh. Mesum, otak kotor" maki Aisha, ia pun teringat akan kejadian sebelumnya kini waktu yang tepat untuk Aisha luncurkan.
Sedangkan Altezza, ia hanya diam dengan makian Aisha, setelah di rasa cukup dengan sigap Altezza meraih kepala Aisha dan mencium bibir Aisha untuk membungkan mulut Aisha, agar cerewetnya tak ngelantur kemana-mana.
"Altez..."
Altezza kembali menciumnya, cukup lama Altezza mencium Aisha. Aisha merasa sesak nafas, lantaran Altezza tak memberi ruang untuk bernafas.
"Hahh... Hahh... Bodoh, kamu mau membunuhku.." ucap Aisha dengan nafas tersengal-sengal
"Itu cara terampuh" ucap Altezza dengan sombongnya bahkan dengan gaya mendekapkan kedua tangan didadanya.
"Cara apa?" Ucap Aisha kesal.
"Untuk menghentikan bibirmu yang cerewet" ucap Altezza dengan gamblang.
"Apa?" Aisha tersentak.
"Kamu bilang aku cerewet???" Ucap Aisha kemudian dengan kesal.
"Iya, kamu cerewet" ucap Altezza.
"Apa? Katakan sekali lagi" ucap Aisha.
"Kamu cerewet" ucap Altezza dengan entengnya.
"Kamu... Siapa yang cerewet, dasar Altezza bodoh" Aisha pun kesal.
Aisha pun memukul-mukul bahu Altezza, tetapi Altezza hanya tersenyum penuh kemenangan, lantaran ia tengah sengaja membuat Aisha kesal untuk menghilangkan perasaan yang hampir menyelimuti dirinya akan perasaan di hotel sebelumnya. Perjalanan itu pun terasa sebentar mereka lalui karena mereka terus berdebat mulut, entah apa yang mereka debatkan, selalu saja ada topik untuk di debatkan.
Namun tidak bagi Leon, perjalanan itu bagaikan ujian bagi seorang jomblo seperti Leon. Terasa sangat jauh dan lama, seperti perjalanan tanpa ada ujungnya yang pasti.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka disebuah gedung yang cukup megah dan besar dipinggiran kota. Seperti sebuah Villa, namun bangunan itu terlihat elegan dengan gaya arsitektur semi modern dan eropa.
Aisha terbelalak melihat gedung itu, saat Leon memakirkan mobilnya. Sekilas terlihat seperti sebuah pesta yang ada disana. Aisha pun menoleh kepada Altezza untuk mempertanyakan, acara apa yang ada di sana.
"Calon istriku. Kita tengah menghadiri pesta pernikahan dari rekan bisnisku" ucap Altezza.
Aisha hanya diam dan terbelalak melihat acara itu, digedung yang megah dan spektakuler itu jarang terjadi di negaranya. Altezza pun keluar dari mobil dan menjemput Aisha. Aisha yang didandani dengan gaun biru muda dengan perpaduan bruklat dengan pernak pernik bagaikan gaun seorang putri yang anggun. Aisha nampak sangat cantik dan anggun, saat berjalan menggandeng tangan Altezza begitu nampak serasi dan sangat memesona.
Sampai dipintu utama mereka disambut dengan penerima tamu, bahkan tak sedikit mata memandang kearah Aisha dan juga Altezza. Sedangkan Aisha terperangah dengan acara pernikahan itu benar-benar mewah dan berkelas tinggi. Dengan sigap Aisha pun menyadari, ia harus mengendalikan diri.
"Aisha" bisik Altezza, dekat dengan telinga Aisha, Aisha meresponnya dengan menoleh sedikit kearah Altezza.
"Kapan kita menyusul?" Goda Altezza, Aisha berhasil dibuat luluh akan ucapan Altezza.
"Ini, kita sedang menyusul mereka" bisik Aisha tak mau kalah. Altezza hanya tersenyum akan candaan Aisha itu.
"Sial. Tuan Altezza sudah ada yang gaet" pekik seorang perempuan muda.
"Siapa sih perempuan itu" bisik-bisik itu terjadi, disuatu tempat perkumpulan wanita-wanita bersosial tinggi, yang mengandalkan tubuh dan kecantikan untuk bersaing untuk status dan kekayaan.
Tak heran, Altezza pun di incar dari kaum wanita pemburu dolar. Yang bersedia menggadaikan tubuhnya demi sebuah kemewahan yang mereka inginkan untuk memenuhi gaya hidupnya yang tinggi.