
Aisha menyeka air matanya lantaran haru akan ucapan dan usaha Altezza yang selama ini ia lihat dan ia alami. Namun Aisha masih ingin tahu, apakah benar Altezza mencintai dirinya atau karena ada tujuan tertentu. Namun Aisha tak mampu menolak akan perasaannya itu yang mulai mengisi relung hati Aisha.
Aisha terdiam dan berhenti menyentuh piring-piring kotor itu. Altezza yang masih memeluknya itu menyandarkan dagunya di atas bahu Aisha. Entah mengapa, yang Altezza lakukan begitu terasa nyaman dan menenangkan.
"Altezza..." Lirih Aisha, dan memutar badannya. Kini mereka sudah saling berhadapan.
"Altezza. Bukankah sebelumnya sudah ku katakan, buatlah aku benar-benar mencintaimu, Altezza. Karena, saat ini aku sudah..." Jari Altezza menyentuh bibir Aisha.
"Ssttt... Jangan katakan sekarang, sayang. Tunggulah aku sampai benar-benar membuatmu mencintaiku" ucap Altezza dengan lembut.
Aisha memeluk erat tubuh Altezza, entah kenapa ucapan Altezza seperti sihir yang telah berhasil mengaduk-ngaduk perasaan Aisha. Aisha, tak mampu menahan gejolak dalam dirinya yang membara. Ingin rasanya Aisha mengatakan, aku mencintaimu atau aku sudah jatuh cinta kepadamu. Namun Aisha harus melihat seberapa tulus Altezza mencintainya. Karena Aisha, ingin mendapatkan satu pria yang tulus dan untuk selamanya, lantaran Aisha sudah lelah akan perjalan cintanya yang selalu gagal.
Di indonesia, kediaman Aisha. Pagi itu yang sangat cerah di suatu kota tanah kelahiran Aisha. Rumah mungil nan elegan berdesainkan modern yang tertata sangat apik. Disanalah seorang ibu yang selalu tulus memberikan kasih sayangnya, dan seorang anak kecil yang cerdas namun masih dengan angkuhnya.
"Lex, jangan masuk dulu ya" ucap mama Hani, mamanya Aisha.
"Alex bukan orang lemah, ma... Hatsiuu.." ucap Alex, yang sedang flu.
"Ya ampun, ni bocah turunan siapa sih" gerutu mama Hani.
"Keturunan ayah lah, siapa lagi?" Ucap Alex yang tak mau kalah itu.
"Nyahut saja kalau di bilangin"
"Uhuk uhuk... Memangnya mama bilang apa tadi" ucap Alex.
"Ya Tuhan. Lihatlah anakmu, Amon. Benar-benar melebihi kamu" ucap mama Hani dalam hati.
"Mama sedang berbicara dalam hati?... Sroottt..." Ucap Alex kemudian.
"Hus. Diam, Lex. Dengerin mama, hari ini jangan masuk sekolah dulu, lihat di kaca wajah Alex terlihat pucat tuh" ucap mama Hani yang mulai kesal.
"Yaaa, meskipun pucat. Alex masih tetap terlihat tampan" ucap Alex dengan pedenya.
"Hemp. Hahahha, memang persis dengan papa mu, kamu Lex. Terlalu percaya diri" tawa sang ibunda.
"Biarin" ucap Alex acuh.
Tok tok tok... Terdengar suara ketukan pintu dari depan.
"Ah, sebentar Alex. Mama kedepan dulu" ucap mama Hani, ia pun bergegas pergi kedepan untuk menemui siapa tamu tersebut.
"Lho, Danial. Tumben pagi-pagi sekali kesini, nak" sapa mama Hani, saat Danial mencium tangan mama Hani.
"Iya, tante. Danial kesini sekalian mampir, soalnya mau..."
"Ke rumah kak Deva" tebak Alex, yang langsung menyela ucapan Danial.
"Buset, ni bocah ngagetin orang saja" ucap Danial dalam hati, lantaran kaget tiba-tiba saja Alex datang tanpa suara dan langsung menyela tanpa ampun.
"Alex" ucap mama Hani dengan nada sedikit tinggi.
"Ya ya, Alex kedalam saja" ucap Alex, dan berjalan pergi meninggalkan mama Hani dan juga Danial.
"Hehehe, maafin Alex ya, nak. Emang sifatnya kayak gitu" ucap mama Hani.
"Haha, gak apa-apa tante..." Seru Danial.
"Eh, ayo masuk. Tante buatkan teh hangat untukmu" ucap mama Hani dengan ramahnya.
"Ah, maaf tante. Danial hanya sebentar. Danial kesini hanya mau kasih ini, oleh-oleh dari mama" seru Danial dan menyerahkan paper bag yang cukup besar.
"Ya ampun, repot-repot sekali kamu nak. Sampaikan salam dan terima kasihku untuk mama mu ya, Danial" ucap mama Hani.
"Iya, tante. Oh ya tante, apa Aisha sering ngabarin tante?" ucap Danial.
"Akhir-akhir ini jarang. Tak apalah, biar Aisha fokus dengan kuliahnya" ucap mama Hani dengan rasa kasih sayangnya itu.
"Oh, begitu" gumam Danial.
"Kalau begitu, Danial pamit dulu tante" ucap Danial dan mencium tangan mama Hani.
"Ah, iya. Sekali lagi, terima kasih ya" ucap mama Hani.
"Iya, tante" ucap Danial, Danial pun bergegas pergi menuju mobilnya. Mobil Danial pun melaju meninggalkan kediaman Aisha.
Mama Hani ingat akan Alex, dengan segera mama Hani pergi untuk menemui Alex. Karena mama Hani, tahu betul akan sifat Alex. Dan benar saja, Alex sudah memakai seragam dan sedang mengunyah roti dengan olesan selai kacang.
"Alex. Mama sudah bilang, jangan masuk sekolah dulu" ucap mama Hani.
"Uhuk..." Alex tak menyahut, ia tetap mengunyah yang ada di dalam mulutnya itu.
"Alex harus giat belajar ma, biar besar nanti Alex bisa seperti papa. Menjadi orang besar dan bisa lindungin mama dan kakak dari orang-orang jahat. Alex harus kuat, ma" ucap Alex dalam hati.
"Lex. Dengerin mama gak sih Lex?" Ucap mama dan menjewer telinga Alex.
"Mama, Alex dengar. Kasih Alex obatnya saja ma. Kalau Alex tidak kuat, Alex akan minta izin ke ruang UKS untuk istirahat sebentar" ucap Alex yang masih kekeh dengan pendiriannya.
"Usia Alex memang masih delapan tahun, tapi otaknya memak cerdik. Persis seperti Amon. Tuhan memang memeberikan Amon kecil untukku, sebelum aku kehilangan Amon" gumam mama Hani dalam hati.
"Baiklah. Terserah kamu saja. Tapi ingat, kalau gak kuat langsung minta izin sama guru, ya" ucap mama Hani, Alex hanya mengangguk.
Tak lama kemudian, mama Hani mengantarkan Alex pergi ke sekolah dengan naik taksi. Setelah mengantarkan Alex, mama Hani langsung pergi ke sebuah mall di pusat kota.
Waktu berlalu dengat cepatnya, mama Hani yang sudah berada di di rumah dan masih sibuk dengan pekerjaannya membuat kue itu pun nampak sudah biasa dengan pekerjaannya itu. Ia hanya memiliki skill membuat kue, seperti brownies, kue tart, cake dan bermacam2 roti. Mama Hani memang pandai dalam hal itu. Semenjak, Aisha pergi ke Amerika untuk melanjutkan studynya. Mama Hani langsung terjun dalam dunia catering. Masakan mama Hani memanglah lezat, apa lagi dengan kue buatannya. Rasanya tak bisa dipungkiri, memang lezat dan nikmat.
Pukul sebelas siang, beberapa orderan yang harus mama Hani kirim kepada costumer. Mama Hani membawa dua kantong plastik penuh yang cukup besar. Mama Hani menentengnya dan berjalan menyusuri gang kecil untuk mengantarkan pesanan itu ke tuannya.
Brukkk... Tiba-tiba seseorang memukul tentengan yang mama Hani bawa dengan kayu yang cukup besar, tentu itu menumpahkan apa yang ada didalamya.
Mama Hani syok dengan apa yang barusan terjadi. Seorang lelaki yang temperamental tinggi dengan tatoan di lengan kiri, ya dialah preman yang entah darimana tiba-tiba saja datang dan mengacaukan barang bawaannya mama Hani. Padahal sebelumnya, di gang itu tak pernah ada preman, tapi entah kenapa hari itu tiba-tiba preman datang dan mengerjai mama Hani.
"Siapa kamu?" Pekik mama Hani, karena ia merasa pesanan orang yang harus dikirim hari itu dan siang itu juga rusak karena ulah seorang preman.
"Uang. Mana uang" bentak preman itu.
"Tolonggg..." Teriak mama Hani yang cukup keras itu. Sontak preman itu merasa kesal dan langsung menutup mulut mama Hani.
"Aaargh..." Suara teriakan yang tertahan oleh preman, lantaran gigitan mama Hani cukup keras.
"Sialan" plakkk... Tamparan keras mendarat di pipi kiri mama Hani, ia pun jatuh tersungkur lantaran tamparan itu sangat kuat. Seketika mama Hani meneteskan air mata.
"Kakek, ayahku bahkan Amon tak pernah menamparku. Tapi kenapa, orang ini malah menamparku dengan keras?" Ucap mama Hani yang masih tersungkur itu.
"Mama?" Ucap Aisha dan juga Alex ditempat yang berbeda dengan rasa cemas, perasaan mereka tiba-tiba terpaut seperti tahu jika mamanya telah mengalami suatu masalah.
Alex, yang badannya cukup melemah lantaran demam yang disebabkan oleh batuk dan flu, cukup membuatnya lemas. Kini Alex, terbaring lemah di ruang UKS.
Sedangkan Aisha yang masih berada di kediaman Altezza, terbangun lantaran mimpi buruknya itu.
"Aisha, kamu kenapa?" Altezza yang ikut terbangun itu pun merasa cemas.
Aisha hanya menangis dan mengingat mamanya. Altezza pun memeluk kekasihnya itu.
"Mama. Altezza, aku ingin kembali ke apartemenku. Aku, aku ingin menelfon mama" pinta Aisha.
"Sayang, tenanglah dulu..." Ucap Altezza, kemudian mengambil segelas air mineral.
"Minumlah dulu, supaya kamu tenang" ucap Altezza sembari menyodorkan segelas Air mineral kepada Aisha.
Aisha pun meminumnya dengan cepat bahkan habis tak tersisa. Altezza mengembalikan gelas itu diatas meja yang ada disamping ranjangnya itu.
Drrttt....drrtttt.... Ponsel Altezza bergetar, dengan segera Altezza mengangkat telfon itu.
"Hemmm?" gumam Altezza.
Entah apa ya dibicarakan dibalik ponsel, raut wajah Altezza seketika berubah. Sorot mata yang tajam, bibir yang terkatup datar. Aura itu benar-benar menakutkan. Altezza benar-benar marah. Dengan segera Altezza menutup telfonnya untuk segera menghampiri kekasihnya itu.
"Aisha... " Altezza hanya memeluk Aisha dan menumbangkan tubuh Aisha. Aisha ingin memberontak, namun Altezza sudah mendekapnya cukup kuat.
"Sayang, kamu hanya bermimpi buruk. Percayalah, pasti sebelum tidur kamu belum berdo'a kan? Inilah akibatnya, kamu bermimpi buruk" ucap Altezza dan mencium kening Aisha.
Makin lama pelukan itu cukup membuat Aisha tenang.
"Altezza, tapi sungguh. Aku ingin menelfon..."
"Ssttt... Mama pasti baik-baik saja disana. Karena aku yakin Amon kecil, pasti akan menjaga permata surganya" ucap Altezza, dan mencium kepala Aisha.
"Tunggu. Kenapa kamu tahu ayahku?" Ucap Aisha dan mendongakkan kepala kemudian menatap wajah Altezza.
"Aduh sayang, aku mengantuk... Hoaammmm" ucap Altezza yang sengaja menghindar.
"Aaaau... Sayang, kamu mencubitku?" Ucap Altezza dan mengusap-usap perut Altezza yang di cubit Aisha.
"Katakan" ucap Aisha ingin tahu.
"Hemmm... Cium dulu, baru aku akan mengatakannya"
"Negosiasi macam apa itu"
"Ayolah"
"Altezza. Kamu sudah mencuri kesempatan tadi" ucap Aisha kesal.
"Masak iya? Yang mana? Aku kok gak merasa telah mencuri kesempatan darimu" goda Altezza.
"Altezza, kamu sudah memeluk, mencium kening dan juga mencium kepala ku. Apa itu bukan mencuri kesempatan?"
"Sayang, itu bukan mencuri kesempatan"
"Terus apa?"
"Itu kasih sayangku untuk selalu membuatmu merasa aman, sayang" ucap Altezza.
"Dan... *Kiss*... Ini baru namanya mencuri kesempatan" ucap Altezza dan langsung mencium bibir Aisha.
"Altezza" pekik Aisha.
"Hehe. Ayo tidur, besok ku antar kamu ke kampus" ucap Altezza.
Altezza menarik selimut dan menutupi tubuh Aisha dan juga dirinya, Altezza pun kembali memeluk kekasihnya itu agar terlelap dengan tenang.
"Sayang, bacalah do'a terlebih dulu" bisik Altezza.
Aisha pun berdo'a dalam hatinya, sentuhan Altezza yang sangat menenangkan itu membuatnya terlelap dengan nyaman dan damai.