
London, kediaman keluarga Abraham.
Pagi itu mama Hani yang tengah berbincang hangat dengan mama Via di sebuah taman milik keluarga Abraham, dengan di temani teh hangat suasana itu layaknya sebuah persahabatan yang harmoni di masa tua mereka.
"Sudah hampir seminggu, tapi Altezza belum juga kembali" ucap mama Hani, lantaran sudah cukup lama tidak ada kabar dari Altezza.
"Tenanglah, Altezza pasti baik-baik saja" ucap mama Via terdengar santai bahkan menyeruput teh hangat dengan rileks.
"Mbak Silvia ini, apa kita tidak terlalu santai? Sedangkan Altezza..."
"Sudahlah jangan pikirkan, santai saja. Kita nikmati saja keindahan masa tua kita saat ini, oke" ucap mama Via dengan entengnya.
"Ba, baiklah" ucap mama Hani yang masih merasa ragu dan tak percaya akan sikap mama Via.
"Hahaha, tenang Han. Altezza itu sudah dewasa, meskipun masih tergolong muda tapi perjalanan hitam putih dia sudah fasih" ucap mama Via lantaran ia tahu akan perasaan mama Hani.
"Dulu aku juga begitu Han, merasa was-was saat Altezza sering berurusan dengan hal yang buruk. Tapi aku mencoba untuk selalu mempercayainya, tidak ada seorang ibu yang tidak mencemaskan anaknya Han" imbuh mama Via dengan mengedipkan sebelah matanya kepada mama Hani.
"Yang aku tahu, dengan mempercayainya dengan sepenuh hati semuanya pasti akan baik-baik saja. Percayalah dengan kata-kata ku ini" ucap mama Via dan menggenggam tangan mama Hani.
"Baiklah" ucap mama Hani merasa sedikit lega.
"Dulu kami juga pernah sangat mencemaskan Altezza, saat dirinya terbaring lemah di ruang ICU tanpa daya sedikitpun. Orang tua mana Han yang tak setakut itu? Tapi kami selalu percaya jika Altezza anak yang kuat, dia pasti mampu melewati semuanya. Yang tak ku sangka, saat dirinya sudah siuman selalu saja membuat kami jengkel dengan bercandaannya" ucap mama Via dengan senyumannya, saat ia sedikit bercerita dan teringat akan kejadian dulu dengan menggelengkan kepalanya.
"Anak yang keras kepala" gumam mama hani.
"Ya, dia memang keras kepala. Tapi sebetulnya dia tidak ingin kita mencemaskannya dengan kesedihan kita, jadi kamu mengerti kan Han?" Ucap mama via.
"Iya mbak, sekarang aku mengerti" ucap mama Hani, ia pun mengerti kenapa mama Via selalu bersikap santai seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Oh ya, hari ini sahabat anakmu Ares, akan datang" bisik mama Via.
"Benarkah?" Ucap mama Hani.
"Tentu. Itu dia orangnya" ucap mama Via dan menunjuk ke arah belakang mama Hani.
"Selamat pagi tante" sapa seorang pria yang tak lain ialah Gavin, ia datang bersama anak dan istrinya.
"Kamu..." Mama Hani merasa tidak asing dengan wajah Gavin.
"Apa kabar tante?" Ucap istrii Gavin saat bergantian mencium tangan mama Hani.
"Baik. Kabar tante baik, kalian..."
"Dia Gavin putra pertamaku Han dan menantu serta cucuku" sela mama Via dengan wajah ceria.
"Apa?" Mama Hani tak percaya dan langsung menoleh ke arah mama Via.
"Ya, dia anakku Han juga sahabat Ares, anakmu. Kemari sayang" ucap mama Via dan menyuruh menantu dan cucunya untuk duduk bersama, sedangkan Gavin ikut menyusul untuk ikut duduk bersama.
"Oh aku ingat... Jadi kamu yang waktu itu menolong tante dulu kan?" Ucap mama Hani saat ingat dirinya pernah di tolong oleh Gavin saat dalam insiden kecelakaan waktu itu.
"Iya tante" ucap Gavin.
"Jadi kamu temannya Ares?" Ucap mama Hani nampak bahagia.
"Bukan teman lagi tante, tapi sohib" ucap Gavin dengan humornya.
"Hehe, kamu bisa saja nak. Oh iya, nama kamu siapa, cantik sekali menantumu mbak" puji mama Hani saat melihat istri Gavin.
"Dathu, tante. Dathu Maharani" ucap Dathu istri Gavin dengan sopan.
"Nenek, aku Arsya" ucap Arsya yang langsung memperkenalkan diri.
"Aduh, pinternya. Berapa umur kamu, sayang?" Ucap mama Hani yang merasa gemas dengan tingkah Arsya.
"Hayo berapa? Lupa ya?" Ejek mama Via.
"Ah, nenek... Maa..." Rengek Arsya dan menoleh ke arah Dathu.
"Empat" bisik Dathu dengan gemas pada putrinya itu.
"Empat tahun, nenek" ucap Arsya dengan polosnya.
"Oh ya Arsya, apa kamu ingin bertemu dengan paman kecil?" Ucap mama Via.
"Paman kecil?" Ucap Arsya dengan khas anak kecil yang menggemaskan.
"Itu, adiknya bibi cantik" ucap Dathu.
"Oh. Mau, mau" ucap Arsya.
"Baiklah, ayo nenek bawa kamu kesana. Han, kalian ngobrol lah dengan Ares" ucap mama Via dan menggendong Arsya.
"Tapi mbak..."
"Tidak, Arsya terlalu aktif. Kalian perlu waktu untuk mengobrol yang baik, oke?" Sela mama Via.
"Ayo sayang" ucap mama Via dan meraih tangan Dathu.
Mama Via pun pergi meninggalkan mama Hani bersama Gavin di taman itu untuk membicarakan suatu kenangan, yang mungkin akan mengobati rasa rindu mama Hani kepada putranya yang telah tiada.
"Tante, ini..." Ucap Gavin dan menyodorkan sebuah kotak kecil kepada mama Hani.
"Apa ini?" Ucap mama Hani dan meraih kotak kecil itu.
"Itu adalah hadiah yang Ares siapkan untuk tante sebelum dia pergi" ucap Gavin dengan lembut, mama Hani pun terpukul rupanya putranya tengah mempersiapkan hadiah itu untuk dirinya. Sebuah kalung sederhana yang pernah dulu sekali mama Hani sukai.
Mama hani pun menitikkan air mata saat teringat putranya dulu, menyayangi dirinya dan juga Aisha begitu lembut dan penyabar. Gavin yang ada di sana pun hanya diam menyaksikan mama Hani menangis, Gavin hanya memberi waktu untuk membiarkan mama Hani sampai merasa cukup tenang dan siap untuk mendengarkan cerita tentang semua rahasia Ares kepada mama Hani.
"Ah, maaf. Aku jadi..."
"Tak apa tante, Gavin mengerti" sela Gavin menenangkan.
"Kalau begitu, bisakah kamu ceritakan kepada tante sekarang? Rahasia Ares yang selama ini tante tak ketahui" ucap mama Hani kemudian dengan lembut.
"Dengan senang hati tante" ucap Gavin dan tersenyum lembut.
Gavin pun mengeluarkan sebuah kalung simbol persahabatan milik Ares dari dalam saku celanannya, begitu juga mengeluarkan kalung yang masih ia kenakan di lehernya yang rupanya tersembunyi di balik kaosnya itu. Gavin pun mulai bercerita awal mula mereka berteman, merajut mimpi bersama dan bahkan berkembang bersama untuk menjadi yang terkuat.
Gavin pun menceritakan keseluruhan rahasia Ares yang mama Hani tidak ketahui sedikitpun, mama Hani yang mendengar cerita itu pun sempat kaget dan juga merasa bangga kepada Ares. Bahkan Gavin sendiri juga merasa bangga kepada Ares sahabatnya itu. Dengan perasaan senang dan haru mama Hani mendengarkan cerita itu dengan seksama. Hingga cukup lama mereka berbincang dan matahari pun semakin terik, Gavin yang mampu membaca siratan dari wajah mama Hani terlihat jelas ada gambaran kebahagiaan serta kerinduan kepada putranya itu.
"Aku pun bahagia bisa melihat mama mu bahagia mendengar cerita tentangmu, Res. Kamu lihat kan? Kami di sini cukup tersiksa karena kerinduan yang tak berujung" ucap Gavin dalam hati, saat selesai menceritakan semua tentang Ares yang sama sekali mama Hani belum ketahui.
Satu minggu kemudian, di kota Manhattan.
"Kali ini aku benar-benar marah padamu, Altezza" geram Aisha yang terlihat tengah marah lantaran Altezza masih saja tidak dapat ia hubungi. Bahkan pesan dan email tidak ada balasan sama sekali apalagi kabar darinya.
"Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan bersenang-senang di sini" ucap Aisha yang sudah sangat kesal itu.
Tentu saja hal itu membuat Aisha kesal, lantaran sudah dua minggu lebih tanpa ada kabar dari Altezza sedikitpun. Aisha pun menelpon Sally, sahabatnya itu untuk di ajak pergi bersenang-senang lantaran hari itu kebetulan senggang.
"Hallo Aisha?" Ucap Sally di balik ponsel Aisha.
"Kamu di mana?" Ucap Aisha.
"Kantor. Kebetulan kamu telfon, sebaiknya kamu cepat kesini" ucap Sally yang terdengar sedang cemas.
"Ada apa?" Ucap Aisha.
"Pokoknya penting. Kamu harus cepat ya, aku tunggu secepatnya" ucap Sally dan langsung saja menutup teleponnya.
"Ada apa sih?" Gumam Aisha.
"Sebaiknya aku cek saja, ku rasa Sally tengah membutuhkan bantuanku, setelah itu aku bisa langsung ajak Sally. Baiklah Sally, aku datang" seru Aisha dengan semangatnya, ia lupa jika sebelumnya ia sedang kesal.
Aisha pun meminta paman Edo untuk mengantarnya ke perusahaan milik Altezza untuk menemui Sally, saat perjalanan Aisha masih terlihat tenang dan santai. Setelah tiba di kawasan perusahaan, paman Edo pun membimbing Aisha untuk turun. Setibanya itu Aisha langsung di cegat oleh Sally di pintu lobi.
"Akhirnya nyonya muda datang juga" ucap Sally dan langsung menggandeng tangan Aisha agar segera masuk ke dalam.
"Kamu ikut saja aku dulu, masalahnya ini sedang gawat sekali" ucap Sally, saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Memangnya ada apa?" Ucap Aisha menjadi penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri Aisha, pokoknya kamu ikut aku dulu" ucap Sally.
Setelah lift itu terbuka, rupanya ada beberapa orang yang tengah menunggunya. Mereka semua yang ada di sana membungkuk dan memberi salam kepada Aisha.
"Selamat datang, nyonya" ucap orang-orang itu hampir bersamaan.
"Eh? Sally, ini maksudnya apa?" Bisik Aisha.
"Aisha, perusahaan suamimu sedang gawat. Kamu tahu, hanya kamu yang bisa kami andalkan saat ini. Kami juga sudah mencoba untuk menghubungi suamimu dan juga Leon atau yang bersangkutan dengan suamimu tapi tidak ada yang bisa di hubungi" jelas Sally.
"Apa? Lalu kenapa harus aku?" Ucap Aisha keberatan.
"Ya itu karena, aku mendapatkan kabar jika perusahaan ini sementara waktu sudah di serahkan padamu. Sekarang hanya kamu yang bisa kami andalkan" bisik Sally.
"Apa??? Bicara yang benar kamu, Sally" Aisha tak percaya.
"Nyonya Altezza, ini adalah surat kuasa yang tuan Altezza buat beberapa minggu lalu. Dan ini berkas-berkas untuk nyonya pelajari, karena jam tiga sore akan di adakan rapat" ucap seorang wanita dan menyerahkan berkas-berkas itu kepada Aisha.
"Apa? Bagaimana ceritanya? Aku tidak mau" ucap Aisha merasa kesal.
"Sha, tolong pikirkan baik-baik. Bantulah kami, jika perusahaan ini hancur kami semua akan kehilangan pekerjaan" pinta Sally memohon.
"Tapi Sally, ini berat bagiku. Ini perusahaan bukan tempat bermain" ucap Aisha.
"Aku tahu, Aisha. Tapi aku mohon pertimbangkan ya, ini darurat Sha. Lihatlah kami semua menaruh harap padamu" ucap Sally meyakinkan, Aisha pun menatap orang-orang yang ada di sana, mereka pun menatap dengan menaruh harapan kepada Aisha.
"Tapi maaf, aku benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan perusahaan ini" ucap Aisha kepada Sally.
"Aisha, aku sangat tahu kemampuan kamu, suamimu menyerahkan ini padamu bukankah sudah percaya akan kemampuan mu?" Ucap Sally meyakinkan.
"Tapi Sally..." Aisha masih kekeh dan keberatan.
"Aku mohon, Aisha. Kasihani kami, ya? Kali ini saja, kami semua akan membantumu nanti. Kami benar-benar butuh pekerjaan ini" Sally memohon. Aisha pun luluh saat melihat orang-orang terlihat tengah menaruh harapan besar untuk tetap bekerja di perusahaan itu.
"Huft... Baiklah, akan aku coba dan usahakan semampuku. Jika ada kegagalan nanti, jangan salahkan aku" ucap Aisha tegas.
"Baik, aku setuju" ucap Sally.
"Serius nona ini mampu melakukannya? Aku takut kami semuanya akan kehilangan pekerjaan jika nona ini benar-benar gagal" ucap salah seorang karyawan yang ada di sana yang merasa ragu akan kemampuan Aisha.
"Awas kamu Altezza, saat kamu kembali nanti. Seenak jidad kamu memindahkan hak kuasa perusahaanmu kepadaku, awas saja kamu" gumam Aisha dalam hati.
"Aku akan mengantar kamu keruangan suami kamu" ucap Sally.
"Baiklah. Semuanya, saya mohon kerjasamanya" ucap Aisha dan membungkuk sebagai rasa hormat.
Setelah itu Aisha di bawa kembali oleh sally untuk menuju ruangan direksi, awalnya Aisha tak ingin menerimanya karena ia merasa tidak mampu untuk memimpin. Namun rasa belas kasihannya itu membuat dirinya terpaksa mengambil alih, dan menyimpan dendam pada Altezza yang sudah seenaknya memindahkan hak kuasa kepada Aisha dan membuat Aisha harus pusing tujuh keliling menghadapi masalah perusahaan, yang entah Aisha belum ketahui apa permasalahannya.
Ruangan CEO,
"Dasar, Altezza. Rupanya kamu sudah menyiapkan semuanya sejak awal?!" Geram Aisha saat membaca surat hak kuasa.
"Aku tak peduli Altezza, terserah perusahaanmu mau hancur atau tidak. Aku tidak peduli" ucap Aisha yang sudah kesal itu dan melangkah untuk pergi.
"Tapi..." Gumam Aisha, ia pun berhenti melangkah lantaran tiba-tiba dirinya merasa sedikit ragu.
"Aaaahh... Aku membencimu Altezza, huh..." Aisha dilema dan kesal, ia pun mengacak-acak rambutnya itu.
Ceklek, tiba-tiba Sally membuka pintu dan melihat Aisha sudah berdiri di hadapannya dengan wajah kusutnya.
"Aisha? Kamu kenapa?" Ucap Sally.
"Sally, aku benar-benar tidak bisa" rengek Aisha.
"Tapi..."
"Aku sedang membencinya, aku sedang marah padanya" ucap Aisha yang nampak sedikit frustasi.
"Tunggu, jangan bilang kamu sendiri tidak..." Tebal Sally.
"Ya, sejak saat itu sampai sekarang. Dan kamu tahu ini?" Ucap Aisha dan berjalan kembali untuk mengambil berkas surat kuasa.
"Dia, Altezza bodoh. Sudah menyiapkannya sejak awal, kamu lihat kan Sally?" Ucap Aisha sembari memperlihatkan surat hak kuasa dengan tanggal dimana ia baru kembali dari London.
"Duh, sepertinya Aisha benar-benar marah" ucap Sally dalam hati.
"Mungkin, suami kamu sedang menguji kemampuanmu atau ingin melatihmu" ucap Sally dengan hati-hati.
"Dengan cara seperti ini? Tidak ada kabar sama sekali? Tidak ada persetujuan dariku lebih dulu?" Ucap Aisha.
"Haduh, Aisha. Aku..." Ucap Sally yang terhenti lantaran terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Aisha di dalam tasnya itu.
Aisha pun buru-buru untuk mengeceknya, lantaran bunyi itu adalah sebuah pesan. Ia berharap pesan itu dari Altezza, karena Aisha sudah tak sabar lagi untuk memarahi Altezza.
"Alex?" Gumam Aisha dalam hati, ia pun membuka pesan dari Alex.
"Kak, apa kakak ipar ada di sana?" Ucap Aisha dalam hati saat membaca isi pesan dari Alex.
"Tidak ada. Kenapa?" Ucap Aisha dalam hati saat membalas pesan Alex.
Tring...
"Serius kak? Jangan bercanda!" Ucap Aisha dalam hati saat membaca isi pesan itu.
"Tunggu... Alex..." Aisha baru menyadari akan sesuatu yang tidak ia ketahui dan terasa mengganjal, sedangkan Sally hanya diam dan juga ingin tahu.
Aisha pun langsung menelfon Alex,
"Halo, Lex. Kamu tanya tentang Altezza, apa kamu sebelumnya sudah bertemu?" Ucap Aisha.
"I,iya" ucap Alex di balik ponsel Aisha.
"Dia berkunjung ke Indonesia?" Ucap Aisha tak sabar.
"Tidak kak, lebih tepatnya kami yang berkunjung di London. Sampai sekarang pun kami masih di London, tapi kakak ipar juga belum kembali sampai sekarang" jelas Alex.
"Kembali? Maksud kamu?" Selidik Aisha.
"Dasar bodoh, bukankah kakak ipar pergi untuk menangkap Rendra Andara?"
"Apa???" Aisha kaget bukan main.
"Aisha? Ada apa?" Cemas Sally dan menangkap tubuh Aisha yang tiba-tiba lemas.
"Jangan bilang kakak tidak..." Tebak Alex merasa cemas.
"Apa sejak saat itu Altezza tidak bisa aku hubungi?" Pikir Aisha.
"Kak? Halo?"
"Lex, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Aisha dengan sedikit lirih.
Aisha pun mendengarkan cerita singkat dari Alex, sebetulnya Alex juga tak ingin cerita hanya saja ia merasa cemas lantaran sudah dua minggu Altezza belum juga kembali, Alex pikir Aisha sudah tahu dan mungkin Altezza langsung kembali ke Manhattan, Alex hanya memastikan malah ia keceplosan, mau tak mau ia pun membuka mulut dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dasar bodoh..." Sesal Aisha, ia pun menangis dan merasa cemas kepada Altezza.
"Aisha, ada apa?" Cemas Sally saat melihat Aisha tiba-tiba menangis setelah menerima telepon dari Alex.
"Ternyata kamu mempersiapkan ini karena kamu akan pergi? Dasar bodoh..." ucap Aisha dalam hati, ia merasa sangat terpukul. Sally yang melihat itu pun hanya mampu memeluk dan mengelus punggung Aisha, agar Aisha segera tenang.
"Aisha..." Lirih Sally yang mencoba untuk menenangkan Aisha.