
"Baiklah, ku rasa kalian akan pergi bukan?" Ucap Mama Hani kemudian.
"Iya, tante. Kemungkinan akan bermalam di sana, karena kakek sudah mengaturnya," jelas Aisha.
"Apa?" Ucap Aisha dalam hati, ia pun cukup terkejut dengan ucapan Altezza barusan itu.
"Kenapa kamu tidak bilang sejak awal?" Selidik Aisha ragu.
"Karena kakek baru memintanya," ucap Altezza tanpa dosa.
"Alasan macam apa itu," ucap Aisha dengan malasnya, lantaran ia merasa tak percaya akan alasan tersebut.
"Hehe, tak apa sayang, untuk perkenalan sebelum kalian menikah itu hal yang wajar, mama dulu juga begitu waktu mau menikah dengan Papa mu," ucap Mama Hani menenangkan.
"Ba, baiklah," Aisha pun merasa ragu tapi mau, lantaran ia marasa canggung dengan mamanya di sisi lain ia senang Altezza mau memperkenalkan dirinya ke dalam keluarga besarnya.
"Sudah saatnya kamu mulai untuk mengetahuinya satu persatu, sayang. Maafkan mama jika mama sudah merahasiakan sesuatu darimu." gumam Mama Hani dalam hati.
Dengan segera Altezza bangkit berdiri, Aisha yang melihat Altezza sudah berdiri itu pun langsung menyusul untuk beranjak dari tempat duduknya, dengan salam hormat Altezza haturkan kepada Mama Hani sebagai tanda mohon izin untuk pamit, begitu juga Aisha yang langsung mencium tangan Mama Hani setelah Altezza memberi salam hormatnya, dan seperti biasa Aisha dan Mama Hani melakukan ritual cipika-cipiki sebelum mereka akan berpisah, hehe.
"Heh" Alex dengan angkuhnya menolak uluran tangan Aisha.
"Ayo, cium tangan kakak," ucap Aisha yang tak mau kalah.
"Tidak" ucap Alex.
"Alex..." Mama Hani mulai angkat bicara.
"Ya ya" Alex pun mencium tangan Aisha.
"Hehe, anak baik" ucap Aisha dan mengacak-acak rambut Alex.
"Hish, singkirkan tangan jelekmu itu" ucap Alex dengan gaya khasnya yang arogan.
"Hehe, baiklah. Aisha pergi ya Ma" ucap Aisha kemudian.
"Iya, hati-hati di jalan" ucap Mama Hani.
"Iya" ucap Aisha dengan senyum khasnya.
"Kabarin mama kalau sudah sampai, dan Altezza, sampaikan salamku pada kakekmu" ucap Mama Hani.
"Baik, Tante" ucap Altezza patuh.
"Siap, Ma" seru Aisha yang kemudian melambaikan tangannya.
Altezza dan Aisha pun melangkah pergi, namun setelah sampai di luar rumah tiba-tiba ponsel Altezza bergetar, dengan segera Altezza merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Saat di check, rupanya ada sebuah pesan masuk dari Alex. Setelah membacanya, Altezza pun hanya tersenyum dan kembali menyimpan ponselnya di dalam saku celananya, Aisha yang melihat senyum Altezza pun merasa ingin tahu.
"Dari siapa?" Selidik Aisha.
"Alex" ucap Altezza.
"Soal?" Aisha semakin ingin tahu.
"Rahasia" ucap Altezza yang langsung merangkul pundak Aisha.
"Ish..." Aisha merasa sedikit kesal.
"Sudahlah, ayo, Kakek sudah menunggu" ucap Altezza kemudian, saat Leon sudah tiba dengan mobilnya yang berhenti tepat di depannya.
Perjalanan menuju rumah Kakek Altezza tak memakan waktu yang lama, hanya sekitar kurang lebih dari tiga jam dari kediaman Aisha yang baru. Dan Aisha juga baru tahu, jika tempat yang ia tuju merupakan tempat di mana Altezza di lahirkan, yap, kampung halaman Altezza yang sebenarnya. Aisha yang mendengarkan cerita Altezza tentang tempat tinggalnya itu pun menjadi gugup dan jantungnya berdebar tak menentu, berpikir bagaimana ia akan menghadapi keluarga besar Altezza.
Segala pertanyaan terngiang-ngiang di dalam kepala Aisha, ia bingung harus bagaimana nanti akan berbuat apa, ia juga takut jika kehadirannya tak di sukai atau jangan-jangan kakek Altezza orang yang tidak boleh di singgung, Aisha pun nervous di buatnya.
"A, apa ini tidak begitu mendadak?" Ucap Aisha yang sudah gelisah itu.
"Tidak, hari pernikahan kita sudah dekat" ucap Altezza.
"Ta,tapi. A, aku harus bagaimana? Atau kita mampir dulu ke suatu tempat?" Usul Aisha yang masih nervous.
"Tidak perlu, kakek sudah lama ingin bertemu denganmu. Tenanglah, aku akan selalu di sisimu" ucap Altezza dan menggenggam tangan Aisha.
"Tapi, bukankah tidak sopan jika aku datang dengan tanga kosong?"
"Maka genggamlah tanganku"
"Altezza, seriuslah"
"Bukankah aku sudah sangat serius denganmu, sayang?" Altezza pun menggoda Aisha.
"Ah... Huft... Terserahlah" Aisha pun menyerah dengan akal bulusnya Altezza yang selalu saja menggoda dirinya, sedangkan Altezza hanya tersenyum puas.
Beberapa saat kemudian, mobil mereka sudah memasuki sebuah kawasan rumah yang megah nan mewah. Dengan perpaduan gaya Eropa dan modern menandakan sang pemilik rumah bukanlah orang sembarangan, semakin nervous lah Aisha, jantungnya mulai memompa lebih cepat dan lebih cepat. Setelah pintu mobil di buka, sekilas Aisha melihat begitu luasnya kediaman itu, bahkan jauh lebih luas di banding rumah Aisha yang baru, tapi juga tak seluas yang ada di London.
"Leon" ucap Altezza memperingatkan.
"Siap, bos" ucap Leon.
Altezza pun meraih tangan Aisha dan menggenggamnya dengan erat, ia tahu jika Aisha merasa gugup tak percaya diri. Mereka pun melangkah untuk masuk kedalam rumah, dan nampak jelas ada beberapa pekerja di rumah itu tengah menyambut kedatangan Aisha dan juga Altezza.
"Tuan muda Altezza datang" terdengar suara samar dari dalam rumah.
"Sayang" ucap Altezza dan menyerahkan sebuah paper bag kecil kepada Aisha, Aisha pun mengernyitkan dahinya dan menatap Altezza.
"Berikan pada kakek" bisik Altezza, Aisha pun tersenyum mengerti, rupanya Altezza sudah mempersiapkannya.
"Kalian sudah sampai, ayo kemari sayang, Kakek mu sudah tak sabar menunggu" tiba-tiba Mama Via datang dan langsung merebut Aisha dari Altezza.
"Papa, Aisha sudah datang" teriak Mama Via dengan suara cukup keras, sehingga membuat beberapa penghuni rumah pun berbondong-bondong untuk melihat Aisha.
"Mama mertuaku, kenapa kau mempersulit menantumu ini" suara rintihan hati Aisha.
"Nah, itu dia. Ayo Aisha, cepat beri salam pada kakekmu" ucap Mama Via dengan semangatnya, bahkan terlihat jelas jika Mama Via tengah berbangga diri.
"Aisha?" Ucap seorang lelaki tua yang tak lain ialah Kakek Altezza.
"Oh, i,iya. Halo, apa kabar Kakek" ucap Aisha yang sudah jadi salah tingkah dan gerogi namun ia tetap menunjukkan sikap hormatnya.
"Hahaha, ayo ayo, duduk dulu nak" ucap kakek dengan wajah riangnya.
"Vi, dimana cucuku?" Ucap sang kakek setelah meraka duduk di sebuah ruang yang luas.
"Aku di sini" ucap Altezza yang sudah berhasil untuk menyusul.
"Kakek apa kabar?" Imbuh Altezza, ia pun mencium tangan keriput sang kakek.
"Dasar kamu ini, sekarang baru ingat kakek" ucap kakek dengan wajah bahagianya.
"Eh, apa aku nggak salah lihat? Tadi kakek..." Gumam Aisha dalam hati saat melihat mimik wajah kakek seperti ingin meneteskan air mata.
"Ayo kenalkan calon istrimu padaku" ucap sang kakek kemudian.
"Baiklah, ini calon istriku, namanya Aisha Olinda, Putri Amon" ucap Altezza kemudian dan memperkenalkan Aisha kepada kakeknya.
"Hah? Hahahahaaa..." Ucap sang kakek sedikit kaget kemudian tertawa tak percaya bahkan kakek pun mengusap bulir air mata yang hampir menetes.
"Vi, jadi benar anakmu itu sudah berhasil Vi?" Ucap kakek kemudian.
"Hahaha, gak nyangka Vi, aku kira kamu mau membodohiku saja... Kemari nak, beri salam pada kakek tuamu ini" ucap kakek kepada Aisha.
Aisha pun patuh dan datang di hadapan kakek, meskipun ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aisha pun meraih tangan keriput sang kakek dan menciumnya dengan santun, ia pun ikut berjongkok di sebelah Altezza tepat dihadapan sang kakek yang tengah duduk di atas sofa. Sedangkan sang kakek tak mau melepaskan tangan Aisha, bahkan ia juga meraih tangan Altezza dan menyatukan tangan Aisha dan Altezza saling bertumpuan menjadi satu.
"Kakek sangat bersyukur, akhirnya Altezza bisa mendapatkan kamu, nak Aisha" ucap sang kakek dengan wajah bahagianya namun matanya mulai berembun.
"Kamu tahu, dulu waktu Altezza masih kecil karena dia jatuh cinta padamu, sehari tak melihatmu membuatnya begitu gelisah tak menentu, sampai-sampai neneknya di buat begitu khawatir padanya" ucap sang kakek dengan senyuman khas indahnya, sedangkan Aisha cukup kaget dengan apa yang dikatakan oleh kakek barusan itu.
"Sekarang katakan padaku, apa benar kamu mencintai Altezza, cucuku?" Ucap sang kakek, Aisha pun tersenyum mengerti.
"Maafkan aku kakek, Aisha benar-benar mencintai Altezza. Maka Aisha mohon, restuilah kami" ucap Aisha dengan mantap dan sopan, lantaran ia tak ingin membuat kakek Altezza merasa terpatahkan jika Aisha menjawab dengan keraguan karena rasa nervous nya.
"Hahaha, baiklah, baiklah, aku merestui kalian. Tapi ingat pesanku, tolong jaga Altezza dengan baik untukku, kamu mengerti kan?" Ucap sang kakek dengan lembut.
"Tentu Aisha mengerti, kakek" ucap Aisha dan tersenyum ceria kepada kakek, dengan bangga sang kakek mengusap kepala Aisha dengan lembut.
"Tak ku sangka, kakek begitu periang seperti Mama Via, beliau sangat lembut" gumam Aisha dalam hati.
"Baiklah, ayo kembali ke tempat duduk kalian. Vi kemana adik-adik mu? Kenapa cuma ada Farhan disini?" Ucap sang kakek kemudian, Altezza pun mengajak Aisha untuk kembali ke tempat duduk.
"Sebentar lagi mereka akan sampai, tenanglah Pah" ucap mama Via menenangkan.
"Dasar mereka ini, lalu kemana suami mu?" ucap sang kakek sedikit kesal.
"Lah, Papa lupa? Papa kan yang menyuruh Abraham mengambil obat buat Papa" ucap Mama Via mengingatkan.
"Oh, iya hehe, lupa. Vi, antar aku ke kamar dulu, aku ingin istirahat sebentar" perintah kakek Altezza.
"Lho? Tapi Aisha kan..." ucap Mama Via.
"Dasar bodoh" ucap sang kakek dalam hati yang tengah menggerutui mama Via.
"Ah, iya iya" tiba-tiba mama Via mengerti akan suatu hal.
Beberapa saat setelah Mama Via berlalu, Aisha baru teringat akan sebuah hadiah yang sebelumnya Altezza berikan untuk kakek karena saking nervous nya, Aisha pun memberi kode kepada Altezza.
"Berikan nanti, biarkan kakek menenangkan diri dulu" bisik Altezza dan mengusap lembut kepala Aisha.
"Kenapa?" Selidik Aisha yang tak mengerti sekaligus penasaran.
"Nanti kamu akan tahu" ucap Altezza, wajah Aisha pun nampak tak puas akan jawaban Altezza.
"Oh ya Paman, bagaimana proyeknya di kota C?" Ucap Altezza kemudian dan langsung mengangkat cangkir berisi teh hangat.
"Hish... Lagi-lagi soal kerjaan" gumam Aisha dalam hati.
"Tidak ada masalah, semuanya lancar. Bagaimana..." Dan akhirnya percakapan itu terjadi, bahkan mereka berdua nampak semangat antusias membicarakan tentang bisnis.
"Dasar penggila kerja" umpat Aisha dalam hati yang merasa sebal akan pembahasan itu.
Sedangkan di sisi lain, di sebuah kamar tidur sang kakek Altezza.
"Ih, Papa. Udah tua lho, kok masih cengeng begitu" celetuk Mama Via dan membantu mengusap air mata sang kakek.
"Kamu itu, sama orang tua yang sopan" ucap sang kakek dengan cemberut namun kedua bola matanya basah.
"Iya, iya. Maafin Via pa, udah dong sedihnya. Aisha kan sudah datang, kenapa Papa malah sedih begini?" Ucap Mama Via dan memeluk sang kakek, ia mengerti perasaan kakek karena Mama Via juga merasakan hal yang sama, sama-sama merindukan seseorang yang sudah tiada, Nenek.
"Pah, udah dong..." Rengek Mama Via yang langsung berjongkok di hadapan kakek yang masih duduk di tepian ranjang, ia pun meneteskan air mata dan menyandarkan kepalanya di atas pangkuan kakek.
"Kenapa kamu jadi ikut-ikutan cengeng Vi?" Ucap kakek yang berusaha untuk menguatkan diri.
"Kan papa yang ngajarin, papa gak tahu sih, papa kalau lagi nangis begitu jadi tambah jelek tahu, lihat saja keriputnya jadi tambah jelas begitu, kan jelek" rengek Mama Via.
"Dasar anak kurang ajar" sang kakek pun akhirnya tertawa, mama Via yang melihat ayahnya sudah merasa tenang itu pun merasa lega, kemudian Mama Via pun mengusap air matanya dengan cepat.
"Kamu itu ya, anak perempuan gak tahu aturan. Heran saja, bisa-bisanya Abraham mau sama kamu" ucap sang kakek dengan santainya dan menggelengkan kepalanya.
"Ih, papa. Namanya juga jodoh, daripada Via ketemu sama orang yang sama-sama gak tahu aturan? Bisa-bisa papa mati muda" celetuk Mama Via.
Cetok...
"Aduh" ucap Mama Via yang kena jurus andalan sentilan maut kakek.
"Hahahaa..." Kakek tertawa puas, sedangkan Mama Via tengah menggosok-gosok keningnya yang terasa nyut-nyutan.
Tok tok tok, ceklek.
"Pah, obatnya sudah aku ambil nih" ucap Papa Abraham dengan riangnya.
"Lho, Ma? Kamu kenapa?" Ucap Papa Abraham saat melihat mama Via tengah menggosok-gosok keningnya.
"Kena jitak" celetuk Mama Via.
"Owalah, kena jitak... Sini Ma, papa tambahin jitaknya, biar cepet sembuh" ucap Papa Abraham dan mendekati mama Via.
"Enggak!! Bukannya sembuh malah bikin tambah benjol iya" celetuk Mama Via.
"Lagian, pasti mama sudah bikin papa kesel, pasti begitu kan pa?" Ucap Papa Abraham yang langsung duduk di sebelah sang kakek.
"Nah, ini baru menantuku" puji sang kakek.
"Ih, papa" ucap mama Via tak terima.
"Lagian papa juga gitu sih, sudah tua lho, kok nangis segala sih, nah kan keriputnya jadi tambah lagi" ucap Papa Abraham dengan santainya bahkan menghitung garis keriput sang kakek.
Plak,
"Dasar menantu kurang ajar" ucap sang kakek dan memukul punggung papa Abraham, namun hati sang kakek tergelitik dan membuatnya tertawa lepas.
"Hemp" Mama Via menahan tawa.
"Nah, gitu dong tertawa. Jadi tambah jelas lagi keriputnya, kan enak Abraham ngitungnya pah" ucap papa Abraham.
"Hemp. Huahahaha..." Mama Via yang kelepasan tertawa.
"Hahaha, kamu ini ya Ham, sama Via sama saja" ucap kakek yang terpingkal-pingkal itu.
"Sama-saa apa pa" selidik papa Abraham.
"Sama-sama gila. Huahahaha...." Kakek benar-benae terpingkal.
"Uhuk.. Uhuk uhuk..." Tiba-tiba sang kakek batuk karena tertawanya,, dengan cepat Mama Via mengambil air mineral, sedangkan papa Abraham menepuk-nepuk punggung sang kakek agar batuk itu reda.
"Minum pa" ucap Mama Via dan menyuapi sang kakek.
Tok tok tok, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar sang kakek, sontak membuat yang ada di kamar menoleh ke arah pintu, saat pintu itu terbuka, rupanya Altezza dan Aisha datang. Dengan segera Mama Via mempersilahkan putranya itu untuk membawa Aisha masuk ke dalam.
Setelah Mama Via meletakkan gelas di meja, mama Via pun memberi isyarat kepada Papa Abraham untuk keluar dan membiarkan mereka untuk berbicara enam mata. Papa Abraham mengerti akan maksud itu, dengan segera mereka keluar dari kamar kakek dan meninggalkan mereka untuk berbicara beberapa hal penting.
Gibran Altezza