
Siang hari di kediaman keluarga Altezza, kota London.
Suasana di rumah megah itu terlihat sedang sibuk untuk mempersiapkan sebuah pesta untuk Altezza dan Aisha yang sengaja di selenggarakan oleh mama Via. Acara itu hanya akan mendatangkan kerabat dekat, para pengusaha besar dan orang-orang penting lainnya, di sisi lain mama Via juga tengah merencanakan sesuatu untuk putranya, Altezza.
Aisha yang tak mau diam itu pun ikut berbaur dengan beberapa para pelayan yang tengah membuat berbagai macam kue untuk hidangan nanti malam, hingga keberadaan Aisha di sana cukup membuat beberapa pelayan sungkan lantaran takut jika mama Via akan marah, karena membiarkan Aisha ikut bekerja di sana. Terkecuali Lala yang sudah terbiasa dengan Aisha, bahkan sesekali mereka tertawa bersama jika salah satu dari mereka ada yang usil.
"Aisha, ikut mama untuk menemui seseorang" ucap mama Via, ketika mendapati Aisha tengah ikut andil membuat kue bersama Lala.
"Baik, ma" ucap Aisha, ia pun bergegas untuk mencuci tangan dan segera menghampiri mama Via.
"Sudah?" Ucap mama Via kepada Aisha.
"Sudah, ma" ucap Aisha.
Aisha pun berjalan bersama mama Via menuju ruangan yang tak pernah ia ketahui sebelumnya, layaknya sebuah lorong panjang yang indah dan menawan, melalui pemandangan yang tak asing bagi Aisha, yaitu taman bunga.
"Pantas saja, waktu itu aku pernah melihat sekilas ada sebuah lorong dari taman, rupanya ada tempat yang begitu indah disini. Sungguh memanjakan mata" gumam Aisha dalam hati saat terpesona akan suatu tempat yang dirasa benar-benar indah dan terasa nyaman.
"Apa kamu sedang terpesona, sayang?" Ucap mama Via saat menyadari Aisha tengah mencuri-curi pandang luasnya taman dari sebuah koridor.
"Hehe, iya ma. Indah sekali" puji Aisha.
"Kamu bisa bermain di sini kapan pun kamu mau, sayang" ucap mama Via begitu terdengar lembut.
"Yah, seperti mama dulu saat Gavin masih kecil. Kami sering bermain di sini, kamu bisa menirunya kelak. Bermain bersama Altezza dan juga cucu mama nanti" ucap mama Via seperti sengaja menggoda Aisha.
"Eh?" Aisha kaget akan ucapan mama Via mengenai cucu, lantaran menikah saja belum bagaimana bisa menyinggung soal cucu.
"Hehe, santai sayang. Mama masih sabar kok" imbuh mama Via dengan sengaja.
"Apakah ini sebuah kode? Ya Tuhan, kenapa aku malah merasa senang mendengarnya?" Ucap Aisha dalam hati, ia merasa senang akan ucapan mama Via yang barusan itu, karena bagi Aisha itu artinya mama Via sudah benar-benar menerima Aisha sebagai menantu dalam keluarga Abraham.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai pada sebuah ruangan yang cukup luas, ruangan kosong yang hampir menyerupao seperti aula, dengan berbagai aksen hiasan relief yang menawan dan dekorasi bunga klasik nan mewah, di dalam ruangan itu pun masih ada beberapa pintu yang masih dengan aksen ukiran relief yang nampak begitu elegan. Kemudian, mama Via berjalan menuju di salah satu pintu yang berada di ujung kanan, mama Via mengetuknya dan langsung membuka pintu itu.
Di saat itu pula, terlihat jelas ada seorang perempuan muda cantik yang sedang duduk di sofa sembari menggambar sesuatu di sana, ketika mama Via datang wanita itu langsung menoleh dan menghentikan pekerjaannya itu.
"Wow, nyonya. Apakah ini nona Aisha?" Ucap wanita itu dengan cerianya, ia langsung beranjak dari sofa bahkan tak segan langsung menghampiri Aisha dan menyentuh tangan Aisha dengan hangatnya.
"Hah? Dia tahu namaku?" Ucap Aisha dalam hati.
"Iya, dia Aisha menantuku. Bagaimana?" ucap mama Via dengan bangganya.
"Sempurna" seru wanita itu dengan mengedipkan sebelah mata dan jarinya pun membentuk isyarat oke.
"Pilihan tuan muda memang tak pernah salah" puji wanita itu.
"Oke, Lindsey. Cukup pujiannya, sekarang kamu tahu harus bagaimana bukan?" Ucap mama Via.
"Haiyah. Tidak ada perkenalan dulu kah? Nyonya begitu kejam" rengek wanita itu, yang bernama Lindsey.
"Ya, silahkan. Aku beri satu menit saja, cepatlah" ucap mama Via.
"Haiyah. Singkat sekali" keluh Lindsey.
"Nona, perkenalkan. Nama saya..."
"Lindsey. Panggil saja dia Lindsey, sudah perkenalannya. Ayo cepat kerjakan apa yang harus kamu kerjakan" sela mama Via dengan sengaja.
"Hemn... Benar-benar nyonya yang kejam" protes Lindsey, dengan wajah cemberut. Saat cemberut seperti itu Lindsey memang terlihat sedikit konyol dan lucu, tentunya mama Via sengaja melakukan itu karena gemas akan mimik wajah Lindsey jika sedang merajuk.
"Hemp..." Aisha menahan tawa, lantaran tingkah wanita itu memang benar-benar berbeda dengan penampilannya yang begitu terlihat elegan dan profesional, tetapi rengekannya itu seperti anak kecil yang tidak kebagian permen.
"Ehm. Baiklah, Lindsey mulai saja dari sekarang. Mari nona" ucap Lindsey, wajahnya pun terlihat sedikit memerah lantaran ia tahu jika Aisha tengah menahan tawa karena dirinya yang terlihat konyol itu.
"Lindsey, Lindsey" gumam mama Via dalam hati. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menahan tawa.
Lindsey mulai mengukur tubuh Aisha, sedangkan mama Via bergegas pergi untuk duduk di sofa, di sana pula mama Via membuka sebuah buku majalah yang berisi tentang dunia fashion seperti gaun-gaun atau style busana yang menakjubkan, rupanya Lindsey adalah seorang desainer ternama di kota London dan sudah menjadi kepercayaan oleh keluarga Abraham sejak pernikahan Gavin. Lindsey memang tergolong muda, tetapi bakat dan kemampuannya tidak dapat di ragukan lagi. Bahkan sebelumnya, gaun silver yang pernah Aisha kenakan itu merupakan karya Lindsey yang di minta oleh Altezza untuk segera di buatkan kemudian di kirim langsung ke Manhattan.
Lindsey begitu cekatan saat mengukur tubuh Aisha, memang benar ukuran yang sebelumnya yang pernah ia buatkan ada sedikit perubahan dalam diri Aisha, terutama bagian dada yang kian sedikit bervolume.
"Hehe..." Tawa kecil Lindsey begitu misterius saat mengukur lingkar dada Aisha.
Aisha yang tak mengerti itu pun mengerutkan kedua alisnya sebagai tanda penasaran dan tanda tanya akan apa yang di tertawakan oleh Lindsey.
"Sepertinya tuan muda memang berbakat dalam hal ini" ucap Lindsey dalam hati, betapa kotornya pemikiran Lindsey saat itu.
"Nona, aku rasa ada perubahan besar pada nona. Hehe..." Tawa kecil Lindsey begitu terdengar misterius.
Aisha menyadari jika tatapan Lindsey mengarah pada dua buah yang menonjol di bagian dadanya, tentu membuat wajah Aisha memerah. Perubahan itu terjadi karena berawal dari kecemburuan Aisha, saat Liana mencoba menggoda Altezza dengan benda kenyal itu. Tetapi, volume yang terjadi pada Aisha bukanlah ulah Altezza, melainkan ulah dari sebuah produk yang ia kenakan untuk memperindah diri.
"Apakah dia sedang salah paham tentang itu padaku?" Ucap Aisha dalam hati.
"Sepertinya tuan muda memang ahli dalam urusan hal itu" bisik Lindsey saat mengukur bagian punggung dan berbisik kepada Aisha.
"A, apa katamu?" Aisha terhentak malu, wajahnya pun memerah padam.
"Ada apa, Aisha? Lindsey?" Ucap mama Via saat mendengar Aisha dan melihat wajah Aisha yang sudah memerah itu.
"Hehe, tidak ma. Aisha hanya kaget karena geli saja" ucap Aisha berbohong.
"Lindsey, jangan bercanda. Waktumu tidak sedikit" ucap mama Via memperingatkan.
"Tenang, Lindsey pasti akan tepat waktu" ucap Lindsey.
"Baik nona, semuanya sudah beres. Silahkan nona bersantai ria di sana" ucap Lindsey dan mempersilahkan Aisha duduk bersama mama Via.
"Kemari sayang, mama ada beberapa koleksi yang bagus" ucap mama Via, Aisha pun menurut untuk duduk tepat di sisinya itu.
Mama Via memperlihatkan beberapa karya Lindsey dalam sebuah majalah, bahkan mama Via menunjukkan gaun Silver yang pernah Aisha kenakan sebelumnya juga ada di sana. Tentu hal itu membuat Aisha bertanda tanya dan ingin tahu, dengan sigap mama Via menjelaskan tentang gaun yang merupakan permintaan dari Altezza. Tapi yang tak habis pikir, bagaimana bisa Altezza memperkirakan ukuran yang sesuai dengan badan Aisha, bahkan waktu itu cukup pas dan nyaman Aisha kenakan.
Tok tok tok, suara ketukan pintu.
"Masuk" ucap mama Via.
Rupanya Lala datang atas perintah mama Via untuk menjemput Aisha.
"Aisha. Sebelumnya Altezza mengatakan pada mama untuk mengajakmu pergi jalan-jalan, karena keadaan sedang sibuk seperti ini, jadi mama tidak bisa menemanimu untuk saat ini, tak apa kan sayang? Atau Lala, temani Aisha pergi ke perusahaan ya, bawa Aisha ke tuan muda" perintah mama Via kepada Lala.
"Baik, nyonya" ucap Lala.
"Tidak apa-apa, ma" ucap Aisha dengan tersenyum santun.
"Oh ya, satu lagi. Jangan bilang kepada Altezza soal ini, kita akan memberi kejutan untuknya, oke" seru mama Via.
"Baik, ma" ucap Aisha sebagai tanda setuju, lantaran ia juga ingin tahu kejutan apa yang mama Via siapkan untuk Altezza.
"Kalau begitu, Aisha pamit ma" ucap Aisha dan mencium tangan mama Via.
"Iya. Hati-hati di jalan sayang" ucap mama Via dan mengelus lembut kepala Aisha.
"Dasar ibu mertua yang licik" sindir Lindsey, saat Aisha sudah meninggalkan ruangan itu.
"Biarin. Lebih baik kamu cepat kerjakan apa yang harus kamu kerjakan" perintah mama Via dengan wajah yang cerianya.
"Yahhh... Aku tahu, tapi serius dengan model yang nyonya minta?" Ucap Lindsey tak percaya.
"Sudah jangan tanya melulu, kerjakan saja" ucap mama Via.
"Lalu, nyonya mau kemana?" Ucap Lindsey saat mama Via hendak beranjak dari ruangan itu.
"Mengurus yang lain, bukankah kamu ada asisten?" Ucap mama Via.
"Hehe, iya ya aku tahu" ucap Lindsey.
"Baiklah, Lindsey akan berkerja keras untuk hari ini. Tapi beneran ya, dua kali lipat" ucap Lindsey dengan semangat.
"Ya, asal hasilnya memuaskan pasti dua kali lipat" Ucap mama Via.
"Yeayyy... Pasti akan sangat memuaskan" Seru Lindsey.
Beberapa saat kemudian, Aisha dan Lala sudah berada di dalam mobil dan mobil itu pun mulai melaju perlahan meninggalkan kediaman Altezza.
"Kak? Kenapa wajah kakak dari tadi memerah?" Ucap Lala dengan polosnya.
"Haduh, mana ku tahu jika itu membuahkan hasil. Aku pikir produk itu hanya bohongan, rupanya aku tak menyadari jika ada perubahannya. Mana sudah bikin salah paham lagi, pantas saja akhir-akhir ini Altezza... Sudahlah, aku tidak mau mengingatnya" gumam Aisha dalam hati, wajahnya memerah dan tubuhnya terasa sedikit gerah.
"Kak Aisha melamun? Tapi wajahnya memerah? Apa jangan-jangan kakak sedang malu-malu mau ketemu dengan tuan muda ya?" Batin Lala.
"Kak? Kak Aisha?" Panggil Lala.
"Ah, iya?"
"Kakak melamun?"
"Tidak. Hanya saja..." Aisha tak meneruskan.
"Hanya saja?" Lala penasaran.
"Ah, lain kali aku akan cerita. Tapi Lala, bantu aku melakukan sesuatu" pinta Aisha.
"Siap, nona" seru Lala.
Beberapa saat kemudian, mobil mereka telah tiba di perusahaan milik Altezza. Sebelum tiba di perusahaan Altezza, Aisha sudah merombak diri terlebih dahulu di salah satu salon yang letaknya tak jauh dari perusahaan G.A. Mulai dari penampilan dan make up, sudah membuat Aisha jauh lebih cantik dan elegan bahkan terlihat sedikit berbeda dari tampilan sebelumnya.
Lala terlihat begitu setia untuk menemani Aisha berjalan, bahkan untuk menuju sebuah lobi pun Lala masih memandunya dengan sikap profesionalnya sebagai pelayan keluarga Abraham. Namun, saat itu pula para staff resepsionis malah terpesona akan kecantikan Aisha ketika Aisha berjalan mengarah ke arah mereka.
"Wah... Cantik sekali gadis itu" bisik-bisik.
"Siapa dia? Aku sungguh iri padanya" bisik-bisik.
"Eh, siapa wanita itu? Cantik sekali" bisik-bisik di lain ruangan para staff karyawan.
"Maaf, bisakah anda mengantar nona kami untuk menemui tuan muda Altezza?" Ucap Lala kepada salah satu rekan resepsionis wanita.
"Ah, maaf sebelumnya. Nona ini siapanya bos?" Ucap rekan resepsionis.
"Beliau calon istri tuan muda" tandas Lala.
"Ya Tuhan, baik, silahkan nona. Akan kami antar nona sampai ke ruangan bos" ucap sang resepsionis dengan cerianya. Dengan penampilan Lala yang masih mengenakan baju pelayan, tentu sang resepsionis sudah tahu identitas Lala dalam keluarga bos mereka. Jika Lala mengatakannya, tentu mereka akan percaya. Karena sebelumnya juga, Lala pernah menemani mama Via berkunjung di perusahaan tersebut.
"Dia calon istri bos?" Bisik-bisik.
"Aku dengar, bos adalah pria yang tampan tentunya istrinya akan cantik yang sempurna" bisik-bisik.
"Sayang sekali, kita tak pernah melihat bos secara langsung"
"Iya"
"Eh, tapi dengar-dengar bos begitu dingin" bisik-bisik.
"Iya, aku dengar juga begitu. Bahkan beberapa wanita sebelumnya yang pernah datang kemari untuk menggoda bos pasti akan pulang dengan wajah ketakutan" bisik-bisik.
"Wahhh... kalau begitu, beruntung sekali gadis itu mampu membuat bos kita luluh"
"Iya, beruntung sekali"
"Hah, lupakan. Siapa yang beruntung mendapatkan bos, tentu saja kita akan tetap berkerja" bisik-bisik.
"Yahhh, betul juga apa katamu" suara rintihan staff karyawan biasa.
"Mau siapa pun yang beruntung, kita hanyalah karyawan biasa"
"Iya, ya"
"Huuuhu... Bos sudah punya calon, hari ini akan menjadi hari patah hati di perusahaan G.A. Oh, bos kita yang tampan..." Rintihan para fans Altezza yang merupakan rekan staff resepsionis, mereka adalah yang pernah melihat Altezza secara langsung.
"Bos, huuu..." Suara rintihan seorang wanita yg sedang patah hati.
"Ku rasa kamu terlalu lama menjomblo, jadi tidak normal seperti sekarang ini" ucap salah satu rekan resepsionis.
"Apa?" Ucap seorang wanita yang patah hati, begitu mengena bahkan tepat sasaran, bagaikan terhunus pedang tepat di jantungnya.
"Tapi, aku juga ikut patah hati. Nona tadi begitu cantik sekali, kita pun hanya sebutir debu jalanan" ucap salah satu rekan resepsionis dengan nada seseorang yang menyedihkan.
"Dasar bodoh" timpal wanita itu dan melempar gumpalan tisu bekas ke arah wajah rekannya itu.