Just Married

Just Married
episode 74: Strategi Sally dan Leon



Keesokan harinya, di gedung kosong itu Sally masih tertidur, lantaran ia terlalu lelah untuk meratapi dirinya yang malang. Terdengar suara pintu yang tengah membuka kunci, dan pintu itu pun terbuka. Terlihat seorang pria berbadan kekar masuk dengan membawa sepiring nasi dan sebotol air mineral.


"Hoi. Bangun, cepat bangun" ucap pria itu dengan tegas, ia pun membangunkan Sally secara paksa.


Sally pun terbangun dari tidurnya, ia melihat seorang pria tengah mencoba mendudukkannya. Sally bergeliat dan berusaha memberontak, namun Sally mendapatkan tamparan yang cukup keras, air mata Sally pun terjatuh.


"Dasar, menyusahkan saja kamu. Sebaiknya, kamu cepat bangun dan makan" ucap pria itu dengan garangnya, ia pun membuka lakban yang menutupi mulut Sally, dan membuka ikatan tali di tangannya.


Sally hanya diam, pria itu pun langsung keluar dan menutup kembali pintu itu. Sally hanya diam lesu memandang makanan yang kini sudah ada di depannya itu. Sally hanya berfikir untuk kabur, ia pun melihat sekeliling, namun sialnya ruangan itu tiada jendela, hanya ada beberapa ventilasi udara kecil yang cukup tinggi, dan hanya satu pintu di sana. Kemudian Sally membuka tali yang telah mengikat di kakinya, lantaran ia harus berfikir kerasa bagaimana untuk kabur.


"Tidak. Ini bukan saatnya untuk merenung..." Gumam Sally dalam hati, ia pun mengambil botol air mineral untuk melepas dahaganya.


Dengan terpaksa, Sally memakan makanan itu sebagai rencana awal. Ya, Sally tengah merencanakan sebuah rencana. Yang entah itu berhasil atau tidak, yang jelas Sally akan berusaha. Sally pun memakan makanan itu hampir habis, dan setelah itu pun Sally bereaksi.


"Arggghhhh... Perutku... Tolong...." Sally berteriak kesakitan.


"Tolong... Perutku..." Suara Sally terdengar tengah kesakitan dari luar pintu, sontak membuat para penjaga panik. Karena, mereka di tugaskan untuk menjaga Sally tanpa dan tidak boleh menyentuhnya apalagi membunuh.


"Bagaimana ini?" Ucap salah seorang pira berbadan besar.


"Kamu cek saja kedalam, biar aku jaga-jaga fi sini. Siapa tahu itu hanya akting" ucap pria berbadan kekar dan bertato.


"Baiklah" ucap pria itu, ia pun berjalan menghampiri pintu itu untuk membuka.


Sally yang mendengar langkah kaki menghampiri pintu itu pun langsung memasukkan jarinya ke dalam kerongkongannya, supaya menimbulkan efek muntah. Sally sudah merasa mual, reaksai itu pun terjadi dengan cepat dan tepat ketika pintu itu terbuka.


"Hoekkkk..... Hooeeekkkk.... " Sally memanipulasi dengan akting tubuh yang melemah, pria yang melihat itu pun merasa jijik. Namun ia harus segera menolong Sally.


"Sial. Kenapa aku merasa ingin mengeluarkan semuanya" ucap Sally dalam hati, ketia ia terus memuntahkan dari apa yang ia makan.


Pria itu pun panik, ia berteriak meminta bantuan. Salah seorang pria itu pun menelfon bos mereka, untuk bagaimana menangani Sally yang terlihat memuntahkan makanan dan tubuhnya semakin lemah.


"Bodoh. Kamu berikan makanan apa untuk dia? Cepat bawa dia ke rumah sakit" suara umpatan di balik ponsel. Satu orang pria itu pun membopong tubuh Sally, dan segera membawanya keluar.


Para penjaga di luar pun keherahan, mereka pun langsung mendengar intrupsi dari dua pria sebagian tetap berjaga di markas, sebagian membersihkan gudang sekapan. Dan yang lainnya ikut dengan mereka membawa Sally ke rumah saki.


"Sial. Dari suaranya, ada begitu banyak orang. Aku harus mengatur strategi berikutnya" gumam Sally dalam hatu, ketika ia berpura-pura pingsan.


Sally di masukkan ke dalam mobil, Sally langsung di bawa pergi dengan mobil kecepatan yang tinggi untuk menuju rumah sakit. Sally masih menunggu waktu yang tepat untuk kabur, mobil itu tetap melaju menerobos pinggiran kota.


"Sial. Kamu beli makanan dari mana?" Pekik salah seorang pria.


"Aku beli seperti biasanya, aku juga tidak tahu jika makanan itu beracun" ucap seorang pria membela diri.


"Untung saja, kita tidak memakannya. Tapi perempuan ini? Sial. Jika terjafi apa-apa dengannya, kita akan berakhir" ucap seorang pria.


Jarak yang begitu panjang, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Sally di bopong tubuhnya dan langsung menjalani pemeriksaan, cukup lama pemeriksaan itu berlanjut. Akhirnya seorang dokter keluar, dan memberi tahu bahwa kondisi pasien harus di infus paling lama keesokannya tubuhnya akan pulih. Mereka pun mengiyakan, padahal Sally telah menjebaknya dengan mengulur waktu untuk mencari bantuan.


"Bagaimana?" Suara garang di balik ponsel.


"Harus di rawat inap, bos. Paling lama besok sudah bisa kembali" ucap seorang pria.


"Baik. Jaga dia dengan benar, jangan sampai lengah. Dalam dua jam, aku akan kesana" suara itu begitu lantang dan langsung menutup telfon.


"Bos, akan kesini"


"Sial. Matilah kita"


"Kita harus menjaga wanita itu dengan ketat"


Suara bisik-bisik itu terdengar dari ruangan Sally.


Satu jam kemudian, seorang dokter perempuan yang telah mengecek Sally pun datang untuk mengecek kembali keadaan Sally, di luar ruangan Sally begitu terlihat beberapa pria yang tengah menjaga Sally dari ruang pintu.


"Hooo... Di dalam juga ada yang menjaga rupanya" gumam dokter itu dalam hati, ketika ia membuka pintu.


"Tidak. Kita harus tetap di sini"


"Jadi, kalian ingin melihatnya?" Ucap sang dokter.


"Baiklah. Biar aku yang ada di sini, aku tak akan melihatnya" ucap pria itu tegas.


"Terserah, anda" ucap sang dokter, ia pun berjalan menghampiri Sally.


Salah seorang pria pun keluar, sedangkan yang satunya masih di dalam ruangan itu, ia membalikkan badannya untuk menghindari pemandangan itu sekalipun ia ingin melihatnya, tetapi ia mulai mempertajam telinganya. Sedangkan dokter tengah membuka baju Sally untuk membersihkan dari keringat, sebenarnya itu hanya tipuan belaka.


Dokter perempuan itu merupakan, salah seorang dokter yang telah bertugas beberapa hari untuk menggantikan seorang dokter yang tengah cuti karena kondisi. Dan hari esok merupakan hari terakhir ia bertugas disana, lantaran ia harus kembali ke rumah sakit yang sebelumnya yang berada di tengah-tengah perkotaan Manhattan. Dan ternyata, dokter itu merupakan salah satu dokter pilihan Altezza, untuk mengurus tes kesehatan di perusaha Altezza. Ketika Sally membisiki dokter itu dan meyakinkan dokter itu ketika dalam pemeriksaan Sally ketahuan jika itu merupakan akting belaka. Dokter itu pun memfoto Sally dan mengirim email ke Altezza. Dan Altezza membenarkan, jika ia mengenal Sally.


Kini, mereka hanya berfikir bagaimana untuk membawa Sally keluar, lantaran penjagaan cukup ketat dan dalam satu jam lagi bos mereka akan datang. Sedangkan para bantuan Altezza masih dalam perjalanan untuk mengatur strategi.


Di sisi lain, Leon memimpin pasukan untuk menjemput Sally. Karena Altezza harus mengelabuhi Aisha, sampai saat itu rupanya Altezza tak menceritakan kepada Aisha tentang apa yang terjadi kepada Sally. Pasukan Altezza semakin meluas, beberapa melacak keberadaan basecamp. Sedangkan Altezza tetap memantau di depan layar monitor untuk mencari siapa di balik rencana itu.


Satu jam kemudian, bos yang misterius itu pun datang untuk melihat kondisi Sally. Para pengawalnya berdiri tunduk. Sedangakan para pasukan Leon tengah bersembunyi di suatu tempat untuk berkamuflase. Beruntung, sebelumnya Sally di bius oleh dokter untuk menyempurnakan akting Sally dalam kondisi tertidur. Bos misterius itu pun melihat Sally terbatung lemah di atas ranjang rumah sakit, wajahnya cukup pucat, bahkan Sally tak mendengar suara darinya.


"Sial. Jika sampai besok, keadaanya belum membaik. Akan ku habisi kalian" hardik bos itu, ia pun keluar dari ruangan itu. Lantaran ia harus pergi ke suatu tempat.


Dokter yang melihat sekilas itu pun memberi kabar kepada Altezza, tak lama kemudian basecamp itu pun di temukan. Leon terus memantau dari dalam mobil di sekitar rumah sakit, setelah melihat seorang pria keluar. Ia seperti mengenalnya, Leon pun langsung memantau dan segera mengirim nomor plat mobil ke beberapa rekannya.


Dalam sekejap, basecamp itu sudah mampu di kendalikan. Kini, saatnya aksi penyelamatan Sally. Leon keluar dari mobil bersama seorang pria, mereka menyamar layaknya orang biasa. Setelah Leon memasuki rumah sakit, beberapa anak buah pun masuk secara acak, sebagian berjaga-jaga di luar. Dokter itu pun sudah mengeluarkan prosedur, jika Sally sudah dapat keluar dari sana.


Leon pun berjalan layaknya orang biasa, bos yang misterius itu pun kembali ke rumah sakit. Karena ia merasa ada sesuatu yang aneh dari Sally, Leon yang mendapat kabar itu pun bergerak cepat untuk segera sampai pada ruanganan yang ia cari.


Akhirnya Leon sudah menemukan ruangan Sally, terlihat jelas wajah sinis para penjaga di sana. Terlihat dari arah berlawanan pun komplotan Leon sudah siap untuk menyergap, mereka pura-pura untuk lewat, tetapi tangan mereka telah siap untuk melancarkan aksinya. Dan seketika itu pula Leon bersama komplotan langsung menyerang para penjaga dengan stun gun. Seketika mereka lumpuh tanpa sadarkan diri, tanpa berfikir panjang Leon langsung membuka dan sialnya masih ada dua penjaga yang sudah refleks untuk menyerang Leon, beruntung komplitan Leon langsung melumpuhkan dengan stun gun. Sally langsung di bopong Leon untuk segera keluar, namun sialnya saat Leon keluar dari kejauhan nampak bos misterius itu mereka pun berlarian untuk menghindari bos misterius dengan beberapa komplotannya.


"Kirim pasukan, cepat. Yang lainnya bersiap-siap di luar" pekik bos itu.


Kejar-kejaran itu terjadi, Leon terus berlari namun sialnya tubuhnya semakin verat membawa Slly yang masih tak sadarkan diri. Sampai di lantai utama sang dokter datang untuk membantu dan memberikan Leon kursi roda. Anak buah Leon mencoba menghadang bos itu, Leon tetap berlari dengan mendorong Sally. Sialnya, Leon di luar sana terkepung dengan anak buah bos.


"Sial. Kemana, mereka" hardik Leon dalam hati.


"Hahaha, sepertinya kita bertemu lagi" suara lantang dari belakang Leon.


Leon tetap berusaha tenang menghadapi situasi, ia tetap menahan diri untuk mencari akal. Meskipun pasukan itu cukup banyak. Tetapi pasukan Leon bisa lebih banywk dati itu.


"Sergap mereka" perintah sang bos.


Para anak buah pun langsung mengepung Leon, namun anehnya beberapa anak buah itu menyerang satu sama lain. Leon dapat membacanya, ia pun langsung mengangkat mendorong kursi roda dan membawa Sally menjauh dari sana.


Dor.... Suara pelatuk pistol terdengar dari langi, seketika mengubah suasana menegangkan. Sally pun tersadar dari biusnya, ia terjerambab ketika melihat situasai yang amat mengerikan.


"Glen??" Ucap Sally, ia tak percaya. Glen bisa senekat itu, ketika Sally hendak di masukkan kedalam mobil.


Bukankah Glen sudah bangkrut? Darimana ia masih memiliki kekuasaan sepeti itu. Sally ketakutan, lantaran sorot mata Glen begitu tajam Glen berlari dengan beberapa pengawal di belakangnya. Sally terperanjak bangun dan nengisyaratkan kepada Leon untuk kabur. Pistorl itu kembali berbunyi, seakan-akan menjadikan sekitar mencekam. Apalagi di siang hari dimana orang-orang tengah beraktifitas. Para pasien kaget, apalagi pasien anak-anak ketakutan. Orang-orang yang berada di sana mencoba untuk bersembunyi, mereka hanya takut di tambah terdengar anak kecil tengah menangis ketakutan.


Leon merasa geram dengan tingkah gila Glen, rupanya ia masih memiliki kekuasaan dalam dunia mafia. Leon mengambil alih kemudi, ia menghidupkan mesin mobil. Sorot mata Leon menjadi tajam memandang kedepan.


"Leon. Jangan bilang kamu mau menabraknya" Sally cemas. Tetapi Leon hanya diam dengan wajah amarahnya.


Leon menginjak gas kuat-kuat untuk bersiap diri sebelum akhirnya ia akan melesatkan mobil itu.


"Sally, tundukkan kepalamu" perintah Leon.


"A,apa?" Sally semakin cemas.


"Tundukkan kepalamu" suara tegas Leon, membuat Sally langsung menundukkan kepala.


Suara aungan mobil itu pun terdengar garang, Leon telah siap untuk beraksi, beberapa anak buah Leon pun berlarian untuk masuk kedalam mobil. Sedangkan para komplotan Glen terdiam menafsir akan apa yang Leon lakukan. Ketika gas sudah mengaung, mobil itu pun melaju dengan garangnya, Glen langsung mengarahkan pelatuknya ke arah mobil tepat ke arah Leon dan tembus kaca. Sally berdebar ketakutan, ia mengkhawatirkan Leon, ketika Sally melihat Leon, pipinta terluka peluru itu menyerempet pipi Leon, dan mobil Leon melaju kencang dan hampir menbrak Glen, Leon langsung membanting stir mobil membelok ke arah kanan untuk kabur dari arena. Glen berlari berteriak untuk mengejarnya.