
Hotel TM, Leon dan juga Sally baru saja tiba di hotel TM diamana Liana menginap. Mereka pun bergegas menuju kamar Liana, setibanya disana. Dua wanita utusan Altezza telah menemuinya dan memberi isyarat jika Liana sudah terlelap dengan pulas. Dua utusan wanita itu pun menyerahkan sebuah flashdisk kepada Leon. Kali itu Leon mencoba untuk membuka pasword ponsel milik Liana, dan akhirnya berhasil terbuka. Leon mencari bukti chatting Liana sebelum kejadian. Setelah ketemu, Leon pun mencoba untuk menyadap ponsel Liana.
Sedangkan Sally, kini tengah melakukan sesuatu di dalam kamar dengan seorang wanita utusan Altezza. Tindakan Sally terlihat santai namun tetap waspada, seorang pria yang merupakan anak buah Altezza pun datang. Leon hanya mengernyitkan dahinya yang dingin itu. Entah apa yang akan di lakukan Sally, Leon berfikir Sally akan melabraknya. Tak di sangka, Sally melakukan sesuatu yang Leon sendiri belum tahu persis. Hanya pemasangan kamera cctv yang Leon tahu, karena ia harus pergi untuk menyelidiki ke bar.
Sally di tinggal sementara di sana, karena tidak mungkin Leon menunggu Sally atau mengajak Sally mendekat di tempat arena malam. Yang mungkin berbahaya, Leon pun pergi sedangkan Sally masih asik merencanakan sesuatu untuk Liana.
Satu jam kemudian, Leon datang kembali untuk menjemput Sally. Namun herannya, ada apa dengan Sally dan juga kedua wanita utusan Altezza. Entahlah, Leon harus bergegas untuk pulang. Karena bos nya sudah pasti menunggu laporan itu.
"Apa yang telah kamu rencanakan?" Selidik Leon.
"Rencana? Lihat saja besok" seru Sally, ia tersenyum kegirangan.
"Ya, terserah. Tapi, bagaimanapun nona Liana masihlah adik bos" ucap Leon.
"Dia tidak pantas di sebut sebagai adik, Leon" protes Sally.
"Yaa, terserah. Tapi, apa bos sudah tahu?"
"Tenang, ini hanya pelajaran kecil saja" ucap Sally.
"Terserah. Aku hanya mengingatkanmu, berhati-hati lah terhadap Liana"
"Tentu"
Mobil itu bergegas menembus jalanan kota, segeralah mereka untuk tiba di villa Altezza. Setibanya di sana, Sally di sambut Lala yang sudah menunggunya. Dua wanita itu wajahnya tampak gembira, dan berlalu untuk cepat-cepat pergi kedalam. Leon dengan segera menemui bosnya itu.
Tok tok tok... Leon mengetuk pintu kamar utama, dimana Altezza dan Aisha berada. Tak lama kemudian, Altezza membuka pintu. Leon pun menyerahkan berkas dan flashdisk kepada Altezza. Setelah itu, Leon kembali turun. Ia merasa sudah mengantuk dan cepat pergi untuk istirahat, karena malam sudah begitu larut.
Raut wajah Altezza seketika berubah, ketika membaca hasil laporan dari Leon. Ia nampak marah, entah apa yang sudah di rencanakan Liana. Altezza pun tak habis pikir, ternyata pemilik bar itu merupakan teman Liana waktu di London. Mereka kenal, melalui teman wanitanya. Yang ternyata, diam-diam Liana pergi ke klub malam tanpa sepengetahuan olehnya maupun orang tua Altezza. Benar-benar gila.
"Pantas saja, begitu di sini dia berani berpakaian seperti itu" gumam Altezza dalam hati.
Altezza menaruh berkas dan flashdisk itu di atas meja dan kembali menghampiri Aisha yang sudah terlelap. Altezza membelai lembut pipi Altezza, ia tersenyum dan ingat bagaimana Aisha cemburu padanya.
"Aku akan menyentuhmu, jika kamu sudah resmi jadi milikku sayang. Karena aku menghargai kehormatanmu" gumam Altezza, ia pun mengecup kening Aisha yang masih terlelap itu.
"Altezza bodoh..." Ucap Aisha, ia tengah mengigau dari mimpinya. Ia pun bergeliat dan mengubah posisi yang awalnya terlentang, kini berubah posisi menjadi miring ke kiri tepat dihadapan Altezza dengan memeluk gulingnya.
Altezza pun merebahkan tubuhnya dan kemudian menyusul mimpi Aisha, siapa tahu Altezza bisa membujuknya melalui mimpi.
Villa itu terasa sepi dan hening, tentu saja para penghuni di sana sudah terlelap. Hanya terdengar ketukan jam besar dan jam dinding yang ada di setiap ruang yang ada. Jam itu terus memutarkan anak panahnya tanpa lelah, mereka terus berputar mengitari angka-angka yang sudah di desain sedemikian rupa. Mereka tanpa lelah terus berputar dan terus berputar, hingga salah satu penunjuk jarum jam pendek itu pun terhenti pada sebuah angka lima, sedangkan yang panjang mengarah ke angka sepuluh.
Aisha bergeliat meregangkan otot-ototnya, ia pun menguap dan menutupi mulutnya. Aisha tersadar jika dirinya merajuk menangis hingga terlelap, ia pun melihat Altezza yang masih terlelap.
"Selalu saja, terlihat tampan dan menenangkan" ucap Aisha, ia pun mengecup pipi Altezza yang tidur miring kekanan alias menghadapnya.
"Siapa yang tampan?" Tiba-tiba suara Altezza mengejutkan Aisha, sontak membuat Aisha kaget dan langsung kembali menutup matanya dan pura-pura mengigau.
Altezza membuka matanya dan melihat tingkah Aisha itu, Altezza hanya diam dan meraih tubuh Aisha dan menghadapkan tubuh Aisha di hadapannya.
"Jangan pura-pura, aku tahu kamu sudah bangun" ucap Altezza, ia pun memeluk Aisha.
Aisha langsung membuka matanya dan menatap lekat wajah Altezza yang tengah tersenyum itu. Altezza pun langsung mengecup bibir Aisha dan membuat Aisha tersipu malu.
"Selamat pagi, istriku" ucap Altezza.
"Istri dari mana?" Ucap Aisha.
"Sebentar lagi, kamu akan jadi istriku"
"Bukan Liana?" Sindir Aisha.
Altezza pun langsung mengecup bibir Aisha, itulah hukuman yang pantas untuk Aisha terima. Lantaran, ia selalu saja cemburu tentang Liana, padahal ia tahu Altezza hanya miliknya. Altezza pun bangkit dari tidurnya, tangannya meraih sebuah berkas yang ada di atas meja. Altezza pun menyerahkan berkas itu kepada Aisha, kemudian Aisha membacanya dengan seksama. Ekspresi Aisha hanya mengernyitkan dahinya, kemudian ia melirik ke arah Altezza yang tengah beranjak pergi keluar. Aisha masih membaca berkas-berkas itu. Altezza kembali dengan membawa sebuah laptop.
Altezza duduk kembali di atas ranjang dengan bersandar di atas tumpukan bantal, kemudian ia membuka laptopnya dan menancapkan sebuah flashdisk disana. Altezza pun meminta Aisha untuk menemani dirinya untuk menonton sebuah video. Aisha pun duduk bersandar dan memeluk Altezza kemudian menyandarkan kepalanya di dada Altezza, begitu juga Altezza menyambutnya dengan melingkarkan tanggannya di bawah pundak Aisha. Kini wajah mereka fokus menatap kearah layar laptop, mereka tengah menyaksikan kejadian yang sebetulnya tentang foto yang Aisha terima sebelumnya.
Di dalam video itu terlihat jelas kejadian yang sebenarnya, dimana Altezza bisa kehilangan keseimbangan lantaran Liana mencoba untuk memeluknya. Aisha menonton itu pun merasa kesal sekaligus cemburu, Aisha beranjak dari dekapan Altezza. Altezza segera meletakkan laptopnya di atas meja yang ada di sampingnya itu.
"Kamu kenapa?" Ucap Altezza, ia pun meraih tubuh Aisha dan merangkulnya.
"Tidak apa-apa" ucap Aisha.
"Kenapa?" Altezza tak mau melepaskan pelukannya.
"Aku hanya merasa kesal dan, sedikit cemburu" ucap Aisha.
"Sayang..."
"Altezza!! Aku mau sendiri dulu" sela Aisha.
Altezza melepaskan pelukannya dan membiarkan Aisha turun dari ranjang dan pergi meninggalkan dirinya sendirian di kamar itu. Aisha teringat akan suatu taman pribadi yang ada di lantai atap, ia pun berencana kesana. Siapa tahu Aisha dapat menghirup udara segar dan dapat melihat sunrise. Aisha berjalan dan terus berjalan melewati lorong dan tangga. Tak lama kemudian, Aisha sampai di sana. Ia langsung duduk di atas hamparan rumput hijau dan memandang langit pagi yang sudah kemerahan itu. Aisha menghirup nafas panjang untuk menjernihkan pikiran dan juga hatinya.
"Maafkan aku, Altezza. Aku hanya terlalu takut kehilanganmu" ucap Aisha dengan raut wajah terlihat sedih.
Aisha memejamkan matanya dan menekan dadanya, ia menyadari bahwa rasa cinta kepada Altezza begitu besar. Terkadang ia sulit untuk mengontrol rasa rindu, rasa cemburu, ingin merengek manja dan melakukan hal yang menyenangkan seperti menghabiskan waktu bersama di luar. Tetapi, Aisha menyadari akan keadaan. Bukan hanya karena jarak, tetapi Altezza yang sibuk dan dirinya juga sibuk. Ditambah, ada kasus dimana Aisha baru mengetahui tentang Liana yang secara terang-terangan ingin merebut Altezza.
"Tidak. Aku tidak boleh lemah" ucap Aisha dengan tegas.
"Yah, aku harus bangkit. Jika Liana agresif aku harus bersikap lebih manja kepada Altezza" ucap Aisha penuh percaya diri.
"Apa aku sebaiknya kembali ya? Apa aku terlalu berlebihan bersikap seperti itu kepada Altezza? Entahlah, pagi ini aku mau menikmati langit pagi" ucap Aisha sembari meregangkan otot-ototnya. Ia pun berdiri dan menepi untuk menikmati suasana sunrise di tambah semilir angin pagi yang begitu menyejukkan dan menenangkan.
Di sisi lain, di hotel TM. Dimana Liana berada, pagi itu sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh lima menit, Liana terbangun dari mimpinya. Ia pun meregangkan otot-ototnya dengan rileks. Dirinya merasa seperti habis tidur sepanjang hari dan badannya terasa pegal. Liana meregangkan tangannya keatas, namun betapa kagetnya Liana tangannya tanpa sengaja menyentuh seperti tubuh seseorang ketika ia merentangkan tangannya kesamping.
"Aaaaaaakkh....." Liana menjerit lantaran ia kaget, kenapa tiba-tiba ada seorang pria telanjang dada tengah tergeletak di sampingnya.
Pria itu pun terbangun dan mencoba untuk membuka matanya, sedangkan dua orang wanita berbondong-bondong menerobos kamar Liana. Liana semakin kaget, ia pun terbangun dan terperanjat menjauh dari pria itu.
"Sayang. Kenapa kamu ketakutan seperti itu?" Ucap pria itu.
"Kamu lupa dengan semalam?" Ucap pria itu.
"Semalam?" Liana tak mengerti.
"Kamu begitu bergairah sayang, dan membuatku selalu ingin menyentuhmu" ucap pria itu dengan mesumnya.
"Apa?" Liana kaget bukan main, ia tersadar dan langsung melihat dirinya ke arah dadanya.
Liana kaget bukan kepalang, ia kaget lantaran Liana melihat ada beberapa tanda merah di dadanya. Raut wajah Liana terlihat jelas pucat pasi, Liana pun membuka selimut yang masih menutupi dirinya. Liana melihat dirinya memakai celana dalam.
"Kamu!!! Bercanda kan?" Ucap Liana tak percaya, lantaran ia tak merasakan hal aneh di area kewanitaannya.
"Mana mungkin aku bercanda, lihatlah bekas darah perawanmu dan juga leherku yang penuh tanda ini" ucap pria itu dan menunjukkan noda darah merah di sprei putih bersih itu. Dan menunjukkan bekas tanda merah yang cukup banyak.
"Ha? Gila. Bagaimana bisa? Kamu siapa?"
"Nona, tenanglah nona. Biar tuan Altezza yang akan menyelesaikan masalah ini" ucap salah seorang wanita.
"Jangan!!! Hal ini, dia jangan sampai tahu" ucap Liana.
"Tak apa, Liana. Aku akan tanggung jawab" ucap pria itu.
"Diam kamu!!" Hardik Liana.
Liana ingin marah, dan juga ingin menangis. Bagaimana bisa dia kehilangan suatu yang berharga dalam dirinya itu, padahal Liana ingin menyerahkan itu kepada Altezza. Kenapa malah di rebut pria mesum itu. Liana tak habis pikir, ia mencoba untuk mencerna ingatannya. Benar dia mabuk, tapi ia masih sadar dan membuat kekacauan untuk menjebak Altezza.
"Nona, aku ingat semalam nona waktu tidur. Tiba-tiba tubuh nona sangat panas, kami panik dan meminta pria ini untuk menolong kami membawa nona ke rumah sakit. Tapi nona...." Ucap salah seorang wanita itu tak melanjutkan ucapannya.
"Katakan" tegas Liana.
"Nona, malah bergairah dengan pria ini ketika dia tengah mencoba untuk menggendong nona untuk keluar. Kami pikir nona mau dengan pria itu, makanya kami tidak berani mengganggu nona" ucap seorang wanita itu dengan polosnya.
"Bodoh!! Kalian memang bodoh!!" Liana, marah sejadi-jadinya.
"Bagaimana ini? Aku sudah kotor, bagaimana aku akan memberikannya kepada Altezza" pekik Liana.
"Ini semua gara-gara kalian, bodoh semua. Sekarang, kalian semua keluar!!" Perintah Liana dengan lantang.
"Tapi, nona..."
"Aku bilang, keluar!!!"
"Liana, aku akan..."
"Keluar!!!"
Dua wanita itu pun keluar dengan perasaan takut, sedangkan pria itu turun dari ranjang dan mengambil celana dan kemejanya yang berserakan. Rupanya pria itu hanya memakai celana pendek, pria itu pun memakai celana dengan sigap, kemudian kemeja dan berjalan keluar sembari membenarkan kancingnya.
Tinggallah Liana seorang diri disana, ia terlihat sedih, marah, putus asa. Liana terduduk lemas dan mendekap lututnya. Ia menangis disana, ia menyesali telah kehilangan hal yang sangat berharga.
"Sialan. Ini pasti ulah Aisha, lihat saja nanti" pekik Liana kemudian.
Liana bangkit dari tempat tidurnya, ia ingin mandi dan membersihkan dirinya dari pria itu, meskipun dengan linangan air mata, tetapi dendam Liana semakin membara kepada Aisha.
Sedangkan di sisi lain, di villa Altezza. Di sebuah ruangan yang tak lain ialah kamar Sally. Disana ada Sally, Lala dan juga Lulu. Mereka tertawa puas melihat rekaman cctv melalui laptop Leon. Mereka nampak kegirangan melihat Liana yang feustasi itu.
"Kak Sally memang cerdik" puji Lala.
"Iya dong" seru Sally.
"Seneng banget rasanya, bisa mengerjai wanita penyihir itu" timpal Lulu.
"Pasti" seru Sally.
"Tapi, rencana ini semakin membuatnya membenci kak Aisha" ucap Lala mulai cemas.
"Tenang, kita akan melindungi Aisha dari ular betina itu" tandas Sally.
Tok tok tok..
"Sally. Kamu sudah bangun?" Suara Leon dari balik pintu.
"Cieeee....." Seru Lala dan Lulu memojokkan Sally.
"Kalian.." Sally tersipu malu.
"Kami merestui kok" goda Lala.
"Apaan sih" ucap Sally.
Tok tok tok...
"Sally?" Suara Leon kembali terdengar.
"I,iya sebentar Leon"
"Lulu, sebaiknya kita pergi" ucap Lala, ia pun langsung menggandeng Lala dan meninggalkan kamar Sally.
Betapa kagetnya Leon, ketika Lala dan Lulu tiba-tiba menerobos keluar dari kamar Sally, selang beberapa detik, Sally muncul di hadapannya.
"Leon? Ada apa?" Ucap Sally.
"Tidak. Aku hanya penasaran dengan rencanamu semalam" ucap Leon.
"Oh, nanti kamu bisa lihat di dalam laptopmu. Tapi sebelum itu, aku harus memperlihatkan kepada Aisha" ucap Sally.
"Baiklah" ucap Leon.