
"Ada apa?" Ucap Altezza, saat Aisha terperanjat duduk.
"Tidak" ucap Aisha.
"Bagaimana bisa lupa? Setelah aku kembali ke Indonesia, aku harus mencari pekerjaan. Bagaimanapun Danial sudah membiayai ku selama ini" ucap Aisha dalam hati.
"Sudah aku katakan, aku tak akan pernah mengizinkanmu untuk bekerja" tandas Altezza yang pandangannya masih tertuju pada layar laptopnya.
"Pria ini" keluh Aisha dalam hati lantaran Altezza masih mampu menebak akan jalan pikiran Aisha.
"Tapi aku harus membayar hutang-hutangku kepada Danial" bela Aisha.
"Itu tidak perlu" ucap Altezza.
"Maksud kamu?" Aisha curiga, lantaran ia sudah tahu akan Altezza itu bagaimana.
"Istriku. Aku hanya ingin menagih dengan apa yang kamu katakan semalam, jadi kamu cukup fokus padaku saja" ucap Altezza dan menatap lekat Aisha.
"Iya, aku tahu. Tapi..."
"Aku, Gibran Altezza. Tidak boleh ada yang membantah" tegas Altezza.
"Hemp. Lagi-lagi dia berbuat semena-mena" ucap Aisha dalam hati.
"Kalau begini, bukankah aku akan menjadi parasit? Apa kata orang di luar sana tentang aku?" Kesal Aisha.
"Aisha, kamu itu istriku. Sudah sepantasnya aku memenuhi semua kebutuhanmu" Ucap Altezza.
"Altezza, kita ini belum menikah. Kamu belum ada kewajiban untuk menafkahiku" ucap Aisha.
"Tapi aku punya hak untuk menafkahimu atas janjiku dengan papa mu, Aisha" tegas Altezza.
Deg... Ucapan Altezza pun cukup menampar Aisha.
"Papa? Maksud kamu?" Selidik Aisha.
"Dulu, saat papa mu tahu jika aku menyukaimu. Papa mu mengajukan sebuah persyaratan padaku untuk mendapatkan restu" jelas Altezza, Aisha hanya diam dan mendengar ucapan Altezza. Aisha juga baru tahu jika ada sebuah perjanjian antara Altezza dengan papanya, Amon.
"Kamu tahu persyaratan apa yang telah papa mu ajukan padaku waktu itu?" Imbuh Altezza, Aisha pun hanya diam namun dirinya juga ingin tahu.
"Untuk menjagamu, aku harus menjadi pria yang kuat. Yang artinya kuat dalam segala hal, aku sudah berusaha keras untuk menjadi yang terkuat meskipun awalnya aku bukanlah penerus keluarga Abraham, karena aku sendiri tahu akar permasalahan antara papamu dengan Rendra Andara, aku pun menyetujui persyaratan itu karena aku juga ingin melindungimu, sama seperti yang di lakukan papa mu juga Ares, kakakmu" jelas Altezza.
"Waktu itu papamu telah melihat perkembanganku, beliau sudah mempercayakan dirimu untukku saat itu pula. Tetapi, waktu itu aku malah gagal melindungi papamu. Kemudian Gavin memilih mundur untuk menjadi pewaris Abraham, lalu aku sebagai putra terakhir mau tak mau harus mengambil alih sebagai penerus keluarga Abraham. Tentu aku harus berjuang lebih keras lagi untuk menjadi yang terkuat, tapi saat itulah aku semakin jauh darimu bahkan kehilangan jejak dirimu" jelas Altezza.
"Aisha. Aku tahu di luar sana orang mengatakan apa tentang dirimu, tapi aku yakin akan kepribadian dirimu, kamu adalah gadis yang tak mudah di patahkan hanya dengan ucapan sampah" ucap Altezza dengan tersenyum bangga dan mengelus kepala Aisha.
Aisha pun menatap lekat Altezza, ia baru menyadari akan perjuangan Altezza yang begitu keras, demi dirinya ia rela menghabiskan masa remajanya untuk terus berkembang menjadi pria yang kuat. Bahkan Aisha baru sadar akan sepintas cerita dari mama Via saat di London, tanpa terasa air mata Aisha sudah berada di ujung pelupuk matanya.
"Altezza" lirih Aisha, ia pun langsung memeluk Altezza dengan erat.
"Maafkan aku, Altezza. Aku tidak tahu jika kamu sudah melalui banyak hal demi diriku" ucap Aisha dalam hati.
"Tapi Altezza..."
"Tidak ada tapi, jika kamu masih keberatan, ayo kita menikah" ucap Altezza kemudian.
"Aku sudah lama menunggu dan menahan diri, bukankah umur kamu juga sudah cukup matang, tunggu apa lagi?" Imbuh Altezza.
"Altezza, kamu sedang melamar ku apa sedang menggerutui ku?" Ucap Aisha dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ya, aku hanya sedang memaki keperjakaan ku saja" sindir Altezza.
"Hemp... Dasar Altezza, ucapan macam apa itu" Aisha menahan tawa, ia juga baru menyadari jika selama ini Altezza sudah menahannya demi kesucian dirinya.
"Hemmm, bagaimana ya?" Ucap Aisha kemudian dengan sengaja namun sebetulnya ia juga sedikit malu dan merasa senang.
"Tapi, jika seandainya aku lulus kemudian menikah denganmu, ilmu ku jadi tidak ada manfaatnya dong, kan jadi sia-sia aku kemari malah sudah membuat beban sahabatku juga mama" ucap Aisha kemudian, Altezza yang mendengar itu pun menahan tawanya.
"Kok malah ketawa" ucap Aisha sedikit malu.
"Kemari, istriku" ucap Altezza yang langsung meraih pundak Aisha dan memeluknya ke dalam dada Altezza, begitu juga Aisha yang langsung melingkarkan tangannya di pinggang Altezza.
"Dengarkan aku, di dunia ini tidak ada ilmu yang sia-sia, kamu mengusai di bidang ini meskipun tidak kamu gunakan untuk menghasilkan uang, bukankah dengan pemahaman kamu bisa berbuat kebaikan? Membantu orang yang membutuhkan dengan pemahaman yang sudah kamu kuasai?" Ucap Altezza dengan bijak.
"Sayang, aku tahu potensi kamu dan sifat kamu itu seperti apa. Kamu adalah nyonya Altezza, cukup aku yang menghasilkan uang. Bukankan seorang pria memiliki kewajiban untuk menghasilkan uang untuk istri dan anak-anaknya?" Imbuh Altezza.
"Benar juga apa yang di katakan Altezza, rupanya mindset ku terlalu sempit" ucap Aisha dalam hati.
"Jadi intinya..." Altezza langsung mendongakkan wajah Aisha.
"Jangan pelit ilmu, mengerti?" imbuh Altezza dan menatap gemas Aisha.
"Hemm, mengerti" ucap Aisha dengan ceria.
"Bagus" ucap Altezza dan mengecup bibir Aisha kemudian memeluknya.
"Mana mungkin kamu kemari itu merupakan suatu yang sia-sia, kota inilah awal pertama kita bertemu kembali" ucap Altezza dalam hati, ia pun merasa sangat bersyukur jika takdir telah memihaknya.
"Tapi... Saat seperti inilah, rasanya ingin sekali aku memakannya" keluh Altezza dalam hati.
"Aku tak menyangka, Altezza bisa seluas ini cara berfikirnya. Benar-benar pria idaman, jadi gemas sendiri rasanya" batin Aisha.
"Eh? Altezza, badan kamu... Kenapa jadi panas?" Ucap Aisha kemudian, ia cemas lantaran suhu tubuh Altezza tiba-tiba menjadi panas.
"Aku tidak apa-apa" ucap Altezza yang rupanya tengah mempertahankan pertahanannya.
"Tapi..."
"Jangan bergerak, atau pertahanan ku akan goyah" ucap Altezza yang masih menahan diri.
"Eh?" Wajah Aisha memerah, ia baru baru menyadari akan maksud ucapan dari Altezza barusan.
"Altezza" ucap Aisha dalam hati, ia pun menunduk dan menurut untuk tidak bergerak.
Mereka saling diam dan tak bergerak kecuali jantung mereka yang memburu, mereka bagaikan patung yang saling berpelukan namun hanya nafas yang nampak berhembus. Setelah Altezza mampu meredamnya, ia pun mulai bergerak dan mencubit gemas hidung Aisha sebagai hukumannya. Pemandangan yang romantis nan humoris yang mereka pancarkan, memang membuat kaum jomblo meronta tiada daya.
Detik demi detik mereka lalui dengan bahagia, menit demi menit akan kebersamaan mereka telah mengikis waktu yang kini sudah berganti hari, mereka pun kembali menjalani hubungan jarak jauh karena Altezza harus kembali ke London untuk mengurus beberapa urusan yang harus ia tangani. Hari pernyataan akan keberhasilan Aisha dalam menyelesaikan studynya pun sudah berakhir dengan tuntas, kini Aisha tinggal menunggu acara wisuda untuk pernyataan resmi akan kelususan sebagai seorang mahasiswi dengan hasil yang membangkan dan sebagai tanda berakhinya Aisha belajar dan menimba ilmu di sana.
Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa minggu telah berganti minggu. Aisha lalui dengan perasaan bangga sekaligus perasaan yang entah bagaimana untuk di ungkapkan, di sisi lain ia telah berhasil menyelesaikan studynya dengan cepat, di sisi lain ia juga akan meninggalkan Manhattan yang artinya juga berpisah dengan Sally, sahabat terbaik Aisha di Manhattan.
Drttt... Drttt... Ponsel Aisha bergetar, rupanya ada sebuah panggilan dari Deva, dengan segera Aisha menjawabnya.
"Deva?" Seru Aisha.
"Selamat Aisha, akhirnya kamu sudah lulus, akhirnya kita akan segera bertemu kembali Aisha" suara Deva di balik ponsel Aisha.
"Terimakasih Dev, tapi sepertinya kamu senang bukan karena kelulusanku saja kan?" Tebak Aisha.
"Lalu, kira-kira ada kabar gembira apa ini?" Selidik Aisha.
"Aku, aku akan menikah, Aisha. Kamu cepat pulang ya"
Deg, jantung Aisha tiba-tiba berdegup.
"Aku sampai lupa dengan sahabat kecilku" ucap Aisha dalam hati.
"Bernarkah?" Ucap Aisha kemudian.
"Tentu. Makanya kamu cepat pulang, jangan lupa bawa si ehem ya" ucap Deva menggoda.
"Aku senang mendengar kabar bahagia ini, pasti aku akan pulang. Deva, rasanya aku ingin memelukmu" ucap Aisha dan menyeka air matanya.
"Aisha? Kenapa suaramu terdengar tengah menangis?" Cemas Deva.
"Tidak. Aku hanya terharu, rupanya sahabat kecilku akan menikah" ucap Aisha yang merasa bahagia, haru dan perasaan campur aduk saat menyadari Deva akan menikah.
"Baiklah, Aisha. Jangan lupa bawa dia juga biar nanti kamu tak di sangka jomblo" ucap Deva bercabda.
"Hahaha, tentu" tawa Aisha.
"Baiklah. Ku rasa itu sudah cukup, karena Danial sudah sampai untuk menjemputku. Aisha, aku tutup dulu telponnya ya" seru Deva.
"Oke, salam buat Danial. Dan selamat buat kalian ya, baik-baik di sana" ucap Aisha kemudian dengan perasaan senang.
"Oke" Deva pun menutup telfonnya.
Aisha terdiam dan masih menggenggam erat ponselnya, tiba-tiba air matanya menetes. Ia tak peduli jika angin malam tengah berhembus menerpa tubuhnya, entah mengapa Aisha merasa dingin malam itu.
"Seperti inikah rasanya ketika seseorang akan menikah dengan orang yang di cintai?" Ucap Aisha dalam hati.
"Seperti inikah mendengar kabar gembira dari seorang sahabat kecilku yang akan membuka lembaran baru?" Gumam Aisha dalam hati, ia pun menyeka air matanya dan dadanya terasa sesak.
"Aku hanya tak menyangka, waktu yang sudah ku habiskan di sini telah membawa perubahan besar. Setelah aku menyelesaikan semuanya, satu per satu akan pergi. Kota ini, Sally, Deva, Danial..." Sesal Aisha dalam hati
"Sial. Aku hanya iri padamu kan Dev? Apa karena aku mulai merasa kesepian?" Ucap Aisha, matanya yang basah tengah memandang jauh langit malam di balkon dengan angin malam yang telah menusuk tubuh Aisha di sana. Begitu sepi, begitu dingin.
Pagi hari, Aisha terbangun dari tidurnya. Namun, badannya terasa tak nyaman, wajahnya pucat suhu tubuhnya terasa panas. Aisha ingin minum, namun ia merasa tak bertenaga. Dengan sekuat tenaga Aisha melawannya, ia pun memaksa diri untuk beranjak bangun untuk turun mencari minum.
"Nona?" Ucap bibi Lin cemas, saat melihat Aisha pucat dan terlihat lemas setelah turun dari tangga.
"Tidak apa-apa bi, aku hanya demam" ucap Aisha terdengar lemah.
"Nona, kenapa tak sebaiknya di kamar saja biar saya yang melayani nona" ucap bibi Lin cemas dan menuntun Aisha untuk duduk di sofa ruang tengah lantai satu.
"Bi, Aisha mau teh hangat" ucap Aisha saat dirinya sudah duduk dan merasa pusing.
"Baik, akan segera bibi buatkan" ucap bibi Lin dengan buru-buru bibi Lin menuju dapur untuk membuat teh hangat.
"Kak Aisha?" Ucap Lala dan Lulu hampir bersamaan, mereka panik saat mereka melihat Aisha tengah berbaring lemah di sofa.
"Ah, kalian. Habis dari mana, baru kelihatan" ucap Aisha yang di rasa ngawur oleh Lala dan Lulu, tentu pemandangan itu membuat dirinya teringat akan kejadian dulu di mana seorang kakak terbaring lemah di akhir hayatnya.
"Kak Aisha, kamu kenapa?" Ucap Lala yang sudah kalang kabut.
"Tak seperti biasanya kak Aisha sakit seperti ini" sahut Lulu.
"Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang" ucap Lala yang tengah bersiap untuk memapah tubuh Aisha.
"Tidak perlu, aku hanya demam" Aisha menolak.
"Tapi kak..."
"Lala, Lulu. Sebaiknya kalian siapkan sarapan untuk nona, biar nona bibi yang urus" perintah bibi Lin, yang sebenarnya ia juga cemas dengan kondisi Aisha saat itu.
"Baik, segera" ucap Lulu, dengan berat hati Lala dan Lulu meninggalkan Aisha dan segera membuatkan makanan untuk Aisha.
Sedangkan di sisi lain, Kota London.
"Altezza, kamu mau kemana?" Ucap mama Via.
"Manhattan" ucap Altezza yang terlihat gusar dan buru-buru.
"Lho? Katanya kita akan kesana sama-sama saat acara wisuda Aisha nanti" ucap mama Via penasaran.
"Kalian menyusul saja, nanti Leon yang akan menjemput kalian di sana" ucap Altezza.
"Aku pergi, ma" ucap Altezza kemudian yang langsung pergi begitu saja.
"Dasar anak ini, ada apa sih sebenarnya" ucap mama Via.
"Pengurus Haston, sebetulnya ada apa dengan Altezza?" Ucap mama Via kepada pengurus Haston.
"Saya mendengar tuan muda mendapat kabar, jika nona Aisha sakit" ucap pengurus Haston.
"Apa? Aisha sakit? Sakit apa?" Ucap mama Via terlihat cemas, lantaran sebelumnya Altezza juga terlihat begitu sangat buru-buru.
"Belum tahu nyonya, tapi sepertinya sakitnya tidak seperti biasanya" ucap pengurus Haston.
"Apa? Cepat suruh Abraham kembali, kita harus cepat menyusul Altezza ke Manhattan" perintah mama Via.
"Baik nyonya" ucap Haston.
"Dasar Altezza" gumam mama Via yang mulai gusar dan berjalan mondar-mandir.
Di sisi lain, di sebuah perjalanan menuju bandara.
"Leon, percepat mobilnya" perintah Altezza tak sabar.
"Siap bos" ucap Leon.
"Aisha, tunggu aku. Kamu harus baik-baik saja" ucap Altezza dalam hati dengan perasaan cemas.
"Sepertinya nona Aisha sakitnya serius, bos sampai sangat khawatir seperti itu bahkan seluruh agenda bos batalkan dan sebagian menundanya" batin Leon.
Di sisi lain, Manhattan.
"Bibi Lin, apa bibi sudah memberitahu tuan muda" bisik Lala cemas saat mereka berada di dapur untuk membuat makanan hangat.
"Sudah, tuan sedang dalam perjalanan kemari" ucap bibi Lin pelan.
"Baiklah, tapi kenapa kak Aisha sakit seperti ini, bahkan tidak biasanya kak Aisha demam sampai seperti itu" cemas Lala.
"Entahlah, aku juga sangat mencemaskan keadaannya" ucap bibi Lin yang sudah siap membawakan air dan handuk kecil untuk mengompres Aisha.