Just Married

Just Married
episode 69: Perasaan Malu



Setelah perbincangan yang cukup lama itu, Silvia beranjak mengajak mama Hani untuk merekomendasikan beberapa kue untuk di bawa pulang sebagai oleh-oleh. Alex pun tak hentinya mencuri pandang akan gelagat Silvia, Alex begitu penasaran dengan tante Silvia.


Tak lama kemudian, mama Hani dengan Silvia pergi kekasir untuk membungkus beberapa kue yang telah di pilih oleh Silvia.


"Aduh, mbak. Gak usah bayar, kalau kamu bayar aku gak ikhlas lho" ucap mama Hani, ia pun menolak uang yang tengah di sodorkan oleh Silvia.


"Lho, kan kamu penjual kan wajar saya beli Han. Jangan begitu ah, kan kamu juga masih usaha kan?" Ucap Silvia.


"Anggap saja, ini hadiah buat mbak yang telah sudi mampir di tempat kami" ucap mama Hani.


"Kamu itu, memang gak pernah berubah Han. Baikalah kalau begitu, menolak rejeki juga tidak bagus. Tapi terima kasih lho" ucap Silvia kemudian.


"Hehe, sama-sama mbak" ucap mama Hani.


Ketika Silvia hendak pergi, ia pun menyempatkan diri untuk pamit kepada Alex yang masih duduk di sofa yang terlihat tengah bermain dengan ipad berwarna putih.


"Nak Alex..." Panggil Silvia, spontan Alex menoleh dan menatap Silvia.


"Tante pamit dulu ya. Aku tahu kamu anak yang cerdas, apalagi kamu kan?" ucap Silvia begitu tenang, ia pun mengulurkan tangannya.


Alex mencium tangan Silvia, setelah itu Alex mengerutkan dahinya dan mencerna pesan yang tersirat oleh Silvia. Silvia mengetahui gerak-gerik Alex, ia hanya tersenyum dan mengelus lembut kepala Alex. Alex hanya diam dan memikirkan jawabannya. Mama Hani pun mengajak Alex untuk mengantar Silvia ke depan.


"Hati-hati di jalan ya mbak, jangan lupa mampir kesini atau kerumah kami" ucap mama Hani.


"Tentu, Han. Terimakasih atas kuenya, Alex, tante pamit ya" ucap Silvia sebelum masuk ke dalam mobil.


Silvia pun masuk kedalam mobil, kaca mobil itu terlihat turun terlihat wajah Silvia yang tengah melambaikan tangan kepada mama Hani dengan Alex. Saat mobil Silvia relah meninggalkan temoat itu, mama Hani mengajak Alex untuk masuk kembali.


"Ma? Sebenarnya tante Silvia itu siapa?" Ucap Alex tiba-tiba.


"Kenapa?" Ucap mama Hani, ketika mereka telah sampai di sebuah ruang yang sebelumnya.


"Alex merasa, dia seperti bukan orang biasa, ma"


"Hemmm. Dulu, suami tante Silvia itu teman dekat papa mu. Kami hampir sering bersama kalau lagi ada acara, dan dari sana kita saling kenal. Memang tante Silvia merupakan istri terhormat, karena suami tante Silvia merupakan pemilik perusahaan terbesar di kota jakarta. Tapi karena suatu keadaan, perusahaan itu redup. Sampai sekarang tidak ada yang tahu keluarga tante Silvia pindah dimana. Karena terakhir kali bertemu, ketika kamu belum genap umur satu tahun" jelas mama Hani.


Alex, memahami cerita singkat mama Hani. Namun dalam dirinya masih ada rasa penasaran, ia pun berfikir bahwa tante Silvia bukan sekedar nyonya CEO. Namun ada sesuatu yang tersembunyi, tetapi itu entah apa.


"Tapi ma, tante Silvia jelas terlihat berbeda" tandas Alex.


"Kamu itu, sudah sebaiknya kita makan, kebetulan mama tadi habis beli dari warung depan" ucap mama Hani, ia oun berjalan menuju loker di sudut ruang tang tak jauh dari keberadaan mereka.


"Nasi padang lagi?" Ucap Alex, ketika melihat mama Hani menenteng sebuah kantong plastik.


"Hehe, habisnya mama kangen sama kakak kamu. Rendang kan kesukaan kakak kamu" ucap mama Hani.


"Tapi Alex gak suka, ma" keluh Alex.


"Masih syukur kita bisa makan Alex, sudah jangan mengeluh" ucap mama Hani.


Mama Hani membukakan bungkus nasi padang untuk Alex, kemudian ia membuka untuk dirinya sendiri. Mereka pun memulai acara makan siang yang hanya berdua itu.


Beberapa saat itu pula, acara makan siang itu pun telah selesai. Mama Hani membereskan apa yang ada di atas meja setelah makan, sedangkan Alex masuk kedalam kamar kusus untuk ganti baju. Toko itu merupakan rumah kedua bagi mama Hani dan Alex, meskipun tidak setiap hari di sana. Mereka akan tetap memantau perjalanan usaha mereka, dan perkembangan.


Setelah selesai, Alex berdiam diri di atas ranjang. Ia merasa bosan, bahkan dirinya teringat akan Silvia yang begitu mengganggu pikirannya. Ia terus mencari jawaban dari ucapan Silvia yang menyimpan makna sesuatu yang tersembunyi. Seolah-olah perkataannya membuat Alex tertantang untuk mencari tahu sebuah kebenaran.


"Hahh, entahlah. Sebaiknya aku tidur siang" gumam Alex, ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur busa.


Meskipun kamar itu sederhana, setidaknya nyaman untuk tidur. Mama Hani pun masih mengurus beberapa pekerjaan lainnya, beberapa karyawan pun mengambil jam istirahat mereka secara bergantian.


Sementara itu, di kota Manhattan.


Tanpa terasa malam begitu cepat berlalu, mimpi yang indah terasa begitu singkat. Membuat Aisha enggan untuk membuka mata. Namun, ia lebih memilih membuka matanya, karena dalam kehidupan yang nyata ada seorang yang begitu berharga bagi Aisha, yaitu Altezza.


Aisha memandang jeli wajah Altezza yang masih terlelap itu, kedamaian wajahnya begitu nyata seperti tiada beban. Aisha teringat awal berjumpa dengan Altezza yang begitu misterius dan konyol. Aisha pun tak habis pikir, kenapa Altezza bisa mencintainya sedangkan banyak wanita di luar sana ada yang lebih sempurna daripada dirinya, ada yang jauh lebih kaya dari pada dirinya.


Namun kenyataan, Aisha menyadari jika sudah cinta semua seakan-akan menjadi buta. Cinta pun tak memerlukan alasan, mengapa bisa jatuh cinta? Entahlah, Aisha sudah melangkah sejauh ini. Kalaupun Altezza bukan orang kaya pun, Aisha akan tetap mencintainya. Karena kenyamanan yang Aisha dapatkan begitu luar biasa, lelaki yang selalu tegap berdiri, yang selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi wanitanya. Lelaki yang selalu tegar menghadapi masalah apapun demi wanitanya, lelaki yang berkerja keras untuk membahagiakan wanitanya.


Wajh Aisha pun tersipu malu, mengingat kelembutan bibir Altezza yang ia pernah rasakan, telah mampu membuat jantungnya berdetak tak menentu, bahkan di saat mengingatnya seperti saat ini pun Aisha tengah mengontrol dirinya dari degupan jantung dan hati yang berdebar.


"Uhh... Apa yang telah aku bayangkan" keluh Aisha, ia pun berhenti untuk memandang wajah Altezza.


Aisha membalikkan badannya membelakangi Altezza, ia hanya perlu sejenak waktu mengontrol perasaannya yang begitu membara. Aisha semakin tak tenang, ingin sekali ia memeluknya tapi malu.


"Uh... Bukankah semalam aku begitu liar?" Gumam Aisha dalam hati.


"Stop. Aisha, berhenti berfikiran yang kotor, oke" ucap Aisha dalam hati.


Aisha mencoba menenangkan gejolak itu, tanpa sadar tangan Altezza tengah memeluknya dari belakang. Sontak membuat Aisha semakin tak menentu.


"Kamu terlihat sedang gelisah, ada apa?" Suara Altezza, cukup membuat Aisha tersadar.


"Ah, tidak ada. Tidak ada apa-apa kok, kamu sudah bangun Altezza?" Ucap Aisha, dengan menahan diri agar tidak gugup.


"Hemm... Hadap sini" perintah Altezza.


"Un, untuk apa?"


Altezza mendengar suara Aisha yang tertahan itu pun tersenyum, sepertinya Altezza telah mengerti sesuatu yang terjadi di dalam diri Aisha. Altezza pun membalikkan badan Aisha dan menghadapkan tubuh Aisha tepat di hadapannya. Terlihat begitu jelas, wajah gugup Aisha bahkan terlihat memerah. Altezza merengkuh tubuh Aisha untuk meredamkannya, namun jantung Aisha semakin tak menentu, di sisi lain Aisha juga menemukan sebuah kenyamanan dari dekapan itu.


"Sayang" panggil Altezza dengan lembut, Aisha berusaha untuk menatap Altezza.


Terlihat mata indah Aisha yang berbinar jernih nan jeli, Altezza tengah membaca dari sorot mata Aisha. Altezza hanya tersenyum lembut, dan senyumannya itu telah berhasil membuat Aisha menjadi salah tingkah. Ia pun langsung menunduk dari pandangan Altezza.


Altezza merengkuh dagu Aisha dan mendongakkannya, Altezza mengecup kening Aisha dengan lembut. Aisha yang tak mampu menahan diri itu pun memeluk Altezza dengan erat dan manja, seolah-olah tak ingin pisah darinya.


"Aisha, tunggulah aku untuk mempersuntingmu dan menjadikanmu satu-satunya permaisuri dalam hidupku" ucap Altezza dengan lembut, ia pun membalas pelukan Aisha.


"Iya. Aku akan menantikan waktu itu, Altezza" ucap Aisha dengan malu.


"Hemp. Hehehe. Kamu kenapa? Sedari tadi gelisah seperti itu" selidik Altezza.


Sebenarnya Altezza sudah tahu akan kegelisahan Aisha, lantaran ia telah mendengar keluhan Aisha sebelumnya, tentang pikiran Aisha, di saat Aisha tengah memandangnya.


"Tidak ada, Altezza" ingkar Aisha tak mau jujur.


Altezza pun bangun dan duduk bersandar dengan tumpuan beberapa bantal. Dan menarik Aisha agar Aisha bangun dan membetulkan posisinya agar lebih nyaman bermanja dengan Altezza.


"Altezza. Kenapa kamu bisa memilihku?" Ucap Aisha kemudian dengan rasa malu sekaligus penasaran.


Altezza hanya tertawa kecil akan pertanyaan Aisha begitu menggelitik hatinya. Aisha yang serius itu menjadi tersinggung akan tawa Altezza, seolah-olah Altezza tengah mempermainkannya.


"Hehehe. Ada apa dengan wajah cemberutmu itu?" Ucap Altezza, namun Aisha tetap diam entah kenapa Aisha merasa kecewa telah memberi pertanyaan seperti itu.


"Sayang. Sejak dulu, sejak awal kita bertemu aku sudah mencintaimu. Bukankah kamu sendiri sudah tahu, cinta itu tidak memerlukan alasan jelas, kenapa. Yang penting bagiku, kamu sudah tahu bahwa aku mencintaimu dan akan terus mencintaimu" tandas Altezza.


"Maafkan aku, Altezza. Hanya saja, di luar sana begitu banyak wanita...emmm..." Belum selesai Aisha berkata, Altezza sudah membungkamnya dengan bibir lembut Altezza.


"Kenapa kamu menciumku?" Rengek Aisha.


"Jangan berkata seperti itu, aku tidak menyukainya"


"Tapi kan, memang benar. Kenyataannya...emmm..." Altezza kembali membungkamnya dengan ciuman.


"Kamu mau mengatakannya lagi? Atau aku akan menciummu. Atau jangan-jangan kamu sengaja, agar aku menciummu?" Ucap Altezza.


"Altezza..." Rengek Aisha, lagi-lagi ia kalah.


"Aku hanya merindukanmu Altezza" keluh Aisha, ia pun memeluk Altezza.


"Maafkan aku sayang, bersabarlah sebentar lagi" ucap Altezza dan menenagkan Aisha.


Pagi itu masih sangatlah pagi, Aisha sudah terbiasa bangun lebih awal pagi. Tak heran, jika pagi itu mereka bersantai dan mengadu atas kerinduan, yang satu hari pun tak cukup untuk meluahkan perasaan rindu yang membara. Apalagi itu merupakan pertama kali bagi Aisha menjalani hubungan dengan jarak begitu jauh, bahkan ia telah kalahkan akan perasaan rindu yang begitu menyiksa dan menyakitkan.