
Panah jam dinding sudah menunjukkan angka delapan, malam itu Aisha sudah terlelap dengan pulasnya. Mungkin Aisha merasa kecapekan sehingga membuat dirinya tertidur lebih awal, bahkan ia tak tahu jika Altezza tidak ada dirumah.
Entah kemana Altezza pergi dengan Leon sejak Aisha mandi. Hingga jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih, Altezza baru pulang yang entah dari mana itu. Buru-buru Altezza melangkahkan kakinya menuju kamar utama, untuk segera menemui Aisha yang ia tinggalkan tanpa pamit maupun pesan sebelumnya. Saat Altezza membuka pintu, ia melihat Aisha masih terbaring membelakanginya dengan tertutup selimut putih yang hanya terlihat menyisakan kepala dengan rambut yang terurai. Altezza menghampiri Aisha yang masih terlelap itu, Altezza dengan pelan-pelan ikut berbaring di atas ranjang tepat di sisi Aisha.
Altezza meraih tubuh Aisha untuk ia rangkul, namun kagetnya. Altezza merasakan Aisha tengah sesenggukan, sontak Altezza bangun dan melihat kekasihnya itu.
"Sayang..." Panggil Altezza, namun tidak ada respon. Jika di amati, tubuh Aisha terlihat sesenggukan.
"Aisha" Altezza langsung melentangkan tubuh Aisha, wajah Aisha pun terlihat habis menangis namun masih menyisakan air mata. Matanya terlihat sembab, hidungnya memerah. Itu tandanya, Aisha sudah lama menangis. Altezza langsung meraih tubuh Aisha dan memeluknya.
"Sayang, kamu kenapa?" Altezza mulai cemas, Aisha masih diam dan berusaha mengontrol diri.
"Maafkan aku sayang, aku pergi meninggalkanmu dan membuatmu sedih seperti ini" ucap Altezza sembari mengusap air mata Aisha.
"Tadi, aku ada masalah. Makanya, aku sama Leon..." Belum selesai Altezza meneruskannya, Aisha langsung memeluk erat kekasihnya itu dan menangis.
"Sayang, ada apa?" Altezza semakin resah di buatnya.
"Aku, aku takut" ucap Aisha.
"Takut? Sayang, kamu mimpi buruk lagi?" Ucap Altezza
"Iya, tapi mimpinya tampak nyata" sesal Aisha.
"Sayang. Sudah ku bilang kan, sebelum tidur berdo'alah lebih dulu. Di tambah lagi kamu sedang kecapekan" ucap Altezza dengan lembut.
"Tidak Altezza, ini benar-benar seperti nyata. Karena sebelumnya, aku... Aku..."
"Hussttt... Sudah, jangan bicara lagi" ucap Altezza sembari mengangkat dagu Aisha.
Altezza menciumnya untuk menenangkan kekasihnya itu, cukup lama mereka berciuman, akhirnya Altezza melepaskan ciuman itu, dan kemudian menatap wajah kekasihnya itu dengan lembut. Aisha terlihat sudah cukup tenang, Altezza kembali merengkuh tubuh kekasihnya itu. Altezza membiarkan Aisha bersandar diatas lengannya dan memeluk tubuhnya yang kekar.
"Aroma Altezza" gumam Aisha dalam hati, ia mencium khas aroma Altezza.
Entah kenapa aroma itu membuat Aisha merasa rileks. Hingga cukup lama Aisha menikmati aroma khas itu tanpa berbicara sedikitpun. Sehingga membuat Altezza merasa canggung, lantaran Aisha masih betah berdiam diri di sana.
"Sayang. Aku, belum mandi lho" ucap Altezza kemudian.
"Jangan. Jangan mandi" rengek Aisha, malah semakin erat ia memeluk Altezza.
"Hemm?" Altezza mengerutkan kedua alisnya.
"Sudah, begini saja. Jangan mandi" ucap Aisha yang tak mau lepas dari Altezza.
"Baiklah. Kamu yang minta, yang penting aku sudah mengingatkannya" ucap Altezza kemudian, dan membelai lembut kepala Aisha.
Aisha semakin tenang disana, lambat laun mereka pun terlelap dengan mimpi-mimpi yang indah.
***
Pagi itu masihlah gelap, namun langit sudah menunjukkan pesonanya. Langit nampak memerah karena sang surya akan segera menampakkan diri. Aisha terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang melegakan, ia pun duduk dan kemudian meregangkan otot-ototnya dengan seksama.
"Ah... Nyamannya" gumam Aisha, saat menikmati peregangan otot-otot yang terasa nikmat itu.
Aisha menoleh ke arah Altezza yang masih memejamkan mata, Aisha terlihat takjub dengan wajah Altezza yang begitu harmonis, begitu tenang. Bahkan disana tak ditemukan guratan-guratan halus wajah lelah Altezza. Begitu sejuk nan damai jika di pandang dengan seksama. Tanpa sadar Aisha menyentuh wajah Altezza dengan lembut.
Glek. Aisha menelan ludah, lantaran wajah Altezza entah kenapa pagi itu terlihat tampan dan menggoda. Segera ia lepaskan, sebelum pikirannya mulai kacau memikirkan yang bukan-bukan. Namun sialnya, Aisha sudah ketahuan, bahkan Altezza menangkap tangan Aisha dan meletakkan kembali di wajah Altezza. Wajah Aisha memerah, ia tak kuasa menahan gejolak dalam dada.
"Lakukan ini setiap pagi, sayang" ucap Altezza yang masih memejamkan mata. Aisha hanya diam, namun menuruti perintah Altezza.
Altezza mulai membuka mata secara perlahan, dan ia pun menangkap wajah Aisha yang sedang tersipu malu itu. Ia memejamkan mata kembali, lantaran Aisha terlihat menggemaskan pagi dan mampu menggoda dirinya.
"Andai saja..." Keluh Altezza dalam hati.
"Altezza, biarkan aku memasak untukmu" pinta Aisha, agar Altezza melepaskan tangan Aisha. Altezza pun menuruti kemauan Aisha.
Tanpa kata, Aisha langsung bangun dan beranjak turun pergi ke dapur. Sedangkan Altezza, masih sibuk mengontrol dirinya disana untuk menahan gejolak yang ada dalam dirinya. Bahkan suhu badannya menjadi terasa panas dan sedikit agak pusing.
Hampir satu jam, Aisha belum kembali. Altezza yang sudah kembali normal itu pun turun menyusul Aisha. Tercium harum aroma masakan Aisha, dengan segera Altezza memperceptkan langkahnya agar segera sampai di dapur.
"Altezza?" Aisha kaget, lantaran Altezza berjalan tanpa suara langsung saja memeluk Aisha dari belakang.
Altezza hanya diam, dan bermalas di atas pundak Aisha. Lambat laun Aisha meraskan suhu tubuh Altezza yang panas.
"Altezza, kamu demam?" Aisha mulai cemas, dan memegang dahi Altezza.
"Tidak"
"Pusing?" ucap Aisha yang masih menyentuh dahi Altezza.
"Tidak" ucap Altezza tanpa semangat.
"Emmm... Kamu tidak akan tahu masalah seorang pria, sayang" ucap Altezza penuh dengan teka teki itu.
"Eh?" Aisha tak mengerti akan maksud Altezza.
"Berikan aku makananmu, sayang. Aku sudah tidak sabar melahapnya" ucap Altezza, ia berusaha mengendalikan diri.
Iya, Altezza tengah bersusah payah menahannya, gejolak dalam diri yang terus mencoba untuk mendobraknya. Hingga membuat suhu badannya naik drastis, menjadi panas. Bahkan Aisha ikut merasakan sensasi suhu panas itu, wajar jika Aisha terlihat cemas. Padahal Altezza, sangat sehat dan bugar.
Altezza hanya diam dan menikmati makanan yang Aisha sajikan. Aisha merasa bingung dengan sikap Altezza saat itu. Ia pun duduk di sebelah Altezza, siapa tahu Altezza akan merengek seperti biasanya. Tapi aneh bin ajaib, Altezza tetap diam dan makan dengan lahapnya. Entah kenapa, Aisha merasa ilfil akan sikap Altezza.
Jadwal masuk kuliah Aisha masih besok, karena hari itu hari minggu. Altezza saat itu pun mengurung diri di ruang kerja sampai siang. Aisha merasa benar-benar merasa badmood, merasa jengkel dengan sikap Altezza yang tiba-tiba berubah itu seperti sedang menjauhi dirinya.
"Entah salah apa aku ini, dijahuin kayak gitu" celetuk Aisha saat sedang menonton TV.
Tiba-tiba perasaan Aisha menjadi marah namun tercampur dengan perasaan yang tak karuan itu, perasaan itu pun telah berhasil membawanya di dalam duka, air matanya menetes dengan cepat. Ia merasa tak begitu di hargai, bahkan Altezza menjauhinya sampai di siang hari tanpa berbicara sedikit pun kepada dirinya, Aisha menangis disana. Bibi Lin yang melihat itu pun dengan segera memberitahukan kepada tuannya.
Di ruang kerja. Bibi Lin yang sudah memberitahukan tentang keadaan Aisha, mendadak Altezza menyadari jika waktu telah berlalu dengan cepat bahkan dirinya sampai lupa waktu, lantaran terlalu fokus mengerjakan pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sontak ia merasa sesal dan kesal lantaran telah mengabaikan Aisha begitu lama. Ia segera menutup laptopnya dan bergegas menghampiri Aisha dengan langkahnya yang buru-buru dan dengan wajah cemasnya.
"Aisha" panggil Altezza dari ujung ruang santai, Altezza yang melihat Aisha begitu murung, ia merasa hatinya tersayat.
"Entah apa yang sudah ku perbuat" hardik Altezza dalam hati. Ia pun berlari menghampiri Aisha.
"Kenapa kamu kemari?" Deg, ucapan Aisha merupakan ungkapan rasa kekesalan atau kekecewaan terhadap dirinya.
"Pergi sana, jangan hiraukan aku" ucap Aisha dengan acuh. Aisha bahkan masih sesenggukan, jika Altezza tahu, tangisan Aisha rasanya ingin meledak, lantaran dirinya telah menemuinya. Karena itu merupakan perasaan seorang wanita yang akan merasa sakit jika terabaikan.
Altezza tak menghiraukan ucapan Aisha, ia tetap mendekati Aisha dan memeluk kekasihnya itu dengan erat, juga dengan rasa sesal.
"Maafkan, aku sayang" ucap Altezza, rupanya Aisha belum menyadari maksud ucapan Altezza waktu pagi. Namun, sisi lain Altezza tidak mungkin menjelaskan yang sebenarnya.
Aisha memberontak, marah kepada Altezza, mungkin itu penumpahan rasa kekecewaannya kepada Altezza. Sedangkan Altezza hanya tetap sabar mengahadapi Aisha, Altezza pun memegang kedua pipi Aisha dan langsung membungkam mulut Aisha dengan mulutnya. Meskipun Aisha tetap memberontak, namun Altezza melakukan lebih dalam lagi. Hingga membuat Aisha kewalahan, hingga ciuman itu terjadi cukup lama. Sampai Aisha menyerah dan tenang.
"Hah..hah... Kamu gila ya, aku hampir mati gak bisa naf...emmm..." Altezza kembali membungkamnya.
"Apa yang kamu laku..." Altezza kembali membungkamnya. Hingga pada akhirnya, Aisha benar-benar menyerah.
"Kamu, licik Altezza" lirih Aisha dan menunduk lesu. Altezza merasa bersalah disana. Aisha pun memeluk Altezza, baru beberapa detik Aisha sudah melepaskannya kembali.
"Kenapa kamu terus menghindariku sepanjang siang ini!!!" Jediarrr, kekuatan amarah Aisha yang cukup keras nan kesal. Itulah sebagai wujud protes Aisha. Altezza hanya pasrah, ingin melumatnya tapi tak mungkin.
"Kenapa kamu menyebalkan sekali, sih" geram Aisha namun dengan rengekan khas perempuan.
Altezza merasa geli disana, sikapnya Aisha itu marahnya gak begitu menakutkan karena bukan marah beneran. Tapi rengekannya itu lho bikin greget sekaligus gemes. Bahkan Altezza belum tahu bagaimana mengeremnya, ia hanya pasrah sekaligus menahan tawa. Meskipun sesekali Aisha memukul-mukul Altezza, bahkan saking gemasnya Aisha pengen gigit Altezza. Bukti, tangan Altezza hampir saja digigit.
"Sayang, kenapa gak jadi?" Goda Altezza.
"Gak. Gak enak" ucap Aisha dengan berlagak acuh, padahal ia sadar tak ingin melukai tangan Altezza.
"Sayang..." Ucap Altezza sembari menyentuh bibirnya sebagai tanda, yang ini enak.
Wajah Aisha memerah, ia tersipu malu. Altezza yang memperhatikan itu pun sudah mulai tahu cara menghadapi Aisha jika sedang rewel. Altezza tertawa kecil melihat ekspresi sekaligus sikap Aisha yang langsung seketika berubah itu.
"Apa yang kamu tertawakan" Aisha masih saja berusaha acuh.
"Sayang, kemari. Aku minta maaf, sudah mengabaikanmu. Sebagai ganti, ayo kita jalan-jalan" rayu Altezza dan memeluk pundak Aisha untuk memastikan, singanya sudah tenang belum.
"Gak. Gak mau" tolak Aisha dengan acuh.
"Hemmm..." Tanpa bicara, TV di matikan. Altezza langsung saja menggendong Aisha dan membawanya ke kamar.
"Lepaskan aku, Altezza. Lepaskan" Aisha memberontak, namun Altezza tetap gigih sebelum sampai di ranjang.
Sesampainya di sana, diletakkanlah tubuh Aisha. Altezza pun menindihnya dan melumat habis bibir Aisha.
"Masih mau menolak?" Ucap Altezza.
"Aku gak mau jalan-jalan" rengek Aisha dengan suara sedikit keras, Altezza kembali melumatnya. Kini lebih ganas.
"Gimana?" Ucap Altezza.
"A, aku..." Belum sempat Aisha meneruskan, Altezza melumatnya kembali.
"Emm...emm.." Aisha memberontak, namun tubuhnya tidak kuat untuk bisa lepas dari cengkraman Altezza, lantaran tubuh Altezza begitu kuat.
"Iya, iya. Aku mau" ucap Aisha kemudian, saat berhasil melepaskan ciuman Altezza.
"Bagus" seru Altezza, namun liciknya Altezza. Ia kembali melumat bibir Aisha kembali dengan gemasnya.
"Altezza, kamu sangat licik" suara jeritan hati Aisha.