
Di sebuah kota yang berada di sebuah negara besar masih di Eropa, Lucane membawa kedua anaknya dan kedua pengasuhnya untuk tinggal di tempat ini. Lucena membeli sebuah rumah di kota ini dengan bantuan seorang teman yang tinggal di kota ini juga. Semuanya tidak Lucena sendiri yang mengurus karena takut jika Galen bisa melacak nya.
Entah apa yang kini dilakukan Galen setelah tahu dirinya pergi membawa kedua buah hatinya. Lucena rindu, sangat malah, tapi dia berusaha menahan semua itu. Rasa sakit hatinya masih begitu kentara, sehingga dia dengan mudah mengenyampingkan rindu itu.
Dua hari, sejak dia pergi dari mansion de Niels, Lucena hanya menghubungi daddy Joaquin dan mommy Noura. Meski begitu, Lucena meminta agar daddy Joaquin dan mommy Noura menyembunyikan keberadaannya dari Galen. Lucena juga tidak bertanya apa yang terjadi dengan Galen di sana, takut jika tahu seperti apa yang Galen alami saat ini, dia melupakan keputusannya dan berlari ke tempat Galen berada.
" Nyonya.. Dimana kami harus meletakan barang-barang kami.. " Tanya salah satu pengasuh si kembar.
" Pakai saja ruangan di samping kamar anak saya, Sus.. Kalian bisa menjadikan ruangan itu kamar.. Nanti saya akan meminta tukang untuk membuat pintu dari kamar kalian ke kamar si kembar.. " Ujar Lucena memberi arahan.
" Baik nyonya.. Kami beberes sebentar, setelahnya kami akan menjaga tuan dan nona kecil.. " Pengasuh si kembar masuk ke dalam ruangan yang akan jadi kamar mereka mulai sekarang dan entah sampai kapan tidak bisa diputuskan.
Hari ini, Lucena baru saja pindah ke rumah kecil berlantai dua ini setelah sebelumnya tinggal di hotel setelah mendarat di kota ini. Di rumah ini semua barang-barang nya sudah lengkap. Mulai dari barang di dalam kamar, di dapur, dan di semua ruangan sudah diisi barang-barang yang diperlukan.
Lucena meminta temannya untuk membeli sebuah rumah sederhana yang lengkap dengan perabotan nya. Hal ini memudahkan Lucena untuk langsung menempati tempat itu tanpa harus kerepotan membeli semua perabotan. Kedua anaknya masih kecil dan pasti akan repot jika dia harus mengurus keperluan rumah juga.
Lucena beribu kali mengucapkan Terima kasih pada temannya yang sudah membantunya dimulai dari teman yang membantunya pergi ke laur negeri dengan identitas lain, kemudian temannya yang ada di kota ini yang membantunya memenuhi semua keperluannya.
" Maafkan bunda ya sayang.. Bunda terpaksa membawa kalian pergi dari tempat ayah.. Bunda harap suatu saat nanti kalian bisa memahami alasan bunda berbuat seperti ini.. " Lucena mengajak bicara kedua buah hatinya yang sekarang tengah asyik bermain dengan boneka-boneka mereka.
" Semoga saja, ayah bisa mengambil hikmah dari semua kejadian ini.. Jika nanti ayah bisa menemukan kita, mungkin bunda akan memikirkan untuk kembali bersama ayah.." Ujar lucena lagi.
Bagaimana pun juga, di dalam hidupnya sejak dulu hanya ada nama Galen. Saat ini, meski dia memutuskan pergi tapi sama sekali tidak memungkiri jika dia sangat menyayangi Galen dan masih mengharapkan Galen. Lucena pergi karena tidak mau melihat wajah Galen yang pernah disentuh perempuan lain.
Lucena tidak sanggup melihat wajah Galen karena selalu mengingatkannya dengan rekaman CCTV yang memperlihatkan jika Tamara pernah mencium Galen. Belum lagi kata-kata Galen saat mereka berbincang di rooftop. Lucena sakit hati karena semua itu. Bukan dia tidak paham kerja keras Galen, tapi tidak bisakah Galen memahami perasannya yang sedang cemburu.
Lucena langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Di lantai dua ada tiga kamar, yang mana ditempat Lucena, kamar kedua buah hatinya dan yang terakhir kamar untuk kedua pengasuh anaknya. Di lantai satu, ada dua kamar lagi yang nantinya akan Lucena fungsikan sebagai kamar tamu dan gudang.
Setelah membersihkan diri dan merapikan semua pakaiannya, Lucena memilih membaringkan tubuhnya di ranjang besar yang ada di kamarnya. Ranjang yang asing, kamar yang asing, suasana yang asing, Lucena tidak terbiasa dengan ini semua. Rasa sepi menggerogoti dirinya, membuatnya merasa sendirian.
" Huft.. Kamu harus kuat, Luce.. Ini yang terbaik untuk kalian saat ini.. Menjauh demi bisa memahami diri sendiri dan instrospeksi diri.. Setelahnya jika masih berjodoh kalian bisa kembali bersama.. " Ucap Lucena memberi semangat pada dirinya.
" Kuat.. Aku harus kuat.. Semoga saja dengan keputusan ku saat ini, dia bisa lebih memahami apa yang aku inginkan.. Tapi.. Jika kepergian ku justru membuat mereka semakin dekat bagaimana? " Lucena kembali dilema.
Sibuk dengan banyaknya praduga dalam pikirannya, akhirnya Lucena pun terlelap di tempat yang asing baginya ini. Tidur lelap pertamanya setelah masalah menimpa dirinya dan Galen. Mungkin karena Lucena yang terlalu lelah, atau karena dirinya memang membutuhkan tidur yang lelap untuk mengawali hari baru dengan semangat baru.
**************
Di Milan, Italia, tepatnya di mansion utama keluarga de Niels, tuan dan nyonya besar di mansion ini tengah duduk berbincang setelah mendapatkan kabar dari menantunya yang pergi karena ulah bodoh putra mereka.
Setelah tahu alasan Lucena untuk pergi, daddy Joaquin dan mommy Noura berusaha untuk menerima semua itu dengan hati lapang. Berharap masalah ini bisa diselesaikan dengan baik oleh putra mereka dan keluarga kecil milik putranya bisa kembali utuh seperti dulu lagi.
Lucena memberikan alamat tempat dimana dia bersama kedua buah hatinya tinggal. Lucena sengaja memberikan alamat itu, kalau-kalau daddy Joaquin dan mommy Noura merindukan cucu-cucu mereka. Akan tetapi, Lucena meminta kepada kedua mertuanya ini untuk merahasiakan hal ini dari Galen.
" Syukurlah mereka sampai dengan selamat.. Mommy khawatir sekali.. " Ucap mommy Noura yang akhirnya bisa bernafas lega.
" Hm.. Biarkan dia menenangkan diri dulu di sana, sambil menunggu aku menghukum anak kurang ajar itu.. " Masih terlihat amarah yang besar di kedua mata daddy Joaquin jika mengingat kesalahan yang putranya lakukan.
" Tapi dad, jika daddy membuatnya berhenti menjadi CEO, mommy khawatir dia akan lebih sering ke club miliknya dan mabuk-mabukan di sana.. " Mommy Noura sedikit tidak setuju dengan keputusan yang dibuat oleh suaminya mengenai hukuman pada putra mereka.
" Tenang saja.. Daddy tetap mengawasinya dengan beberapa orang yang mengikutinya selama dua puluh empat jam.. Jika nanti terbukti dia melakukan kesalahan lagi di masa hukumannya, maka dengan kedua tangan ku sendiri, aku berjanji akan membuat Galen menyesal dan tidak akan pernah bisa bertemu cucu-cucu ku.. " Mommy Noura hanya bisa menghela nafas saja. Suaminya sudah memutuskan, tidak akan ada yang bisa merubahnya.
" Hm.. Awasi dia dad, dan tolong awasi juga wanita bernama Tamara itu.. Gara-gara wanita itu, rumah tangga putra kita jadi berantakan begini.. " Mommy Noura nampak kesal mengingat wanita bernama Tamara itu.
" Hm.. Gafar sudah mengurus wanita itu.. Mommy jangan khawatir.. " Mommy Noura pun mengangguk.
Jika daddy Joaquin sudah turun tangan, mommy Noura yakin jika semua masalah akan bisa terselesaikan dengan baik. Meski merasa kasian dengan putranya yang sudah mirip mayat hidup semenjak ditinggalkan anak dan istrinya, tapi sekali lagi ini semua memang salah putranya.
Mommy Noura mempercayakan semuanya pada daddy Joaquin termasuk tentang hukuman Galen. Mommy Noura paham betul, jika hukuman Galen ini baru dimulai, artinya Galen masih akan menerima hukuman yang menghancurkan mentalnya.