
" Ga-galen... Ka-kamu kok.. " Lucena sangat terkejut ketika di pagi hari dia keluar kamar yang ada di penginapan, dan di depannya sudah berada sang suami dan juga asisten pribadinya.
" Kita pulang ya.. " Ajak Galen tanpa menanggapi keterkejutan Lucena.
" Tapi.. "
" Please Luce.. Jika kamu marah sama aku, lanjutkan saja marahnya ketika kita sampai di mansion.. " Tanpa menunggu jawaban Lucena, tangan Galen segera menyambar tangan Lucena dan membawa sang istri keluar untuk segera pulang kembali ke mansion mereka.
Galen masuk ke mobil yang tadi dikendarai oleh Ketos dan langsung menancap gas meninggalkan penginapan yang menjadi tempat menginap Lucena semalam. Ketos ditinggalkan begitu saja agar bisa membawa mobil Lucena. Lagipula, Galen sudah pasti yakin jika asistennya itu tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu dia perintahkan.
Di tengah perjalanan, ponsel milik Galen berbunyi dan itu dari daddy Joaquin. Galen pun mengangkat ponselnya dan mengaktifkan loudspeaker karena saat ini dia sedang menyetir.
" Kau dimana, Len? " Tanya daddy Joaquin.
" Sorry dad.. Bisa langsung saja mengatakan keperluan daddy menelepon ku, aku sedang menyetir. " Jawab Galen tanpa menjawab pertanyaan daddy Joaquin.
" Oke.. Kembali ke mansion lama sekarang.. Ada yang perlu kita bicarakan dan ini penting.. "
" Oke.. " Panggilan pun diakhiri oleh daddy Joaquin.
Dengan kecepatan sedang, Galen memutar laju mobilnya karena tujuannya sekarang sudah berubah. Awalnya dia akan mengajak sang istri ke mansion mereka sendiri, tapi karena telepon dari daddy Joaquin, terpaksa Galen harus memutar haluan untuk kembali ke mansion lama.
Selama perjalanan, tidak ada yang bicara sama sekali baik itu Galen maupun Lucena. Keduanya sama-sama diam, karena tidak tahu harus bicara apa. Kemarin kan mereka sempat bertengkar lalu Lucena pergi begitu saja. Jadi untuk memulai percakapan, entah kenapa keduanya sama-sama canggung.
Dan benar saja, sampai mobil Galen terparkir di depan pintu mansion utama, dia dan istrinya masih setia untuk diam. Keduanya keluar dari mobil dan menuju ke dalam pun masih dengan diam. Entah kapan keduanya akan mulai bicara, tapi singgung situasi diantara mereka memang sangat canggung saat ini.
" Daddy.. " Galen menyapa daddy Joaquin begitu memasuki ruangan keluarga. Alis Galen terangkat karena penasaran dengan tiga orang pria yang usianya mungkin tidak jauh dari usia daddy Joaquin.
" Mereka.. "
" Jika kalian ingin anak kalian dibebaskan, dengan sangat yakin saya katakan bahwa itu... TIDAK MUNGKIN.. " Galen menekan dua kata di ujung kalimat yang dia ucapkan untuk membuat orang-orang di depannya ini tidak berharap terlalu banyak.
" Kami paham tuan muda.. Karena itu kami hanya akan meminta belas kasian dari anda untuk ketiga putra Kami.. Biarkan mereka mendapatkan hukuman sesuatu kesalahan mereka, biarkan hukum yang menangani mereka.. Itulah permintaan kami.. " Alis Galen terangkat sebelah.
Menurut Galen, sebagai orang tua pihak yang bersalah. Ketiga pria di depannya ini cukup berani juga meminta padanya. Jelas-jelas putra mereka bersalah tapi bisa dilihat ketiganya sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang putra mereka lakukan.
Galen menjadi semakin gatal untuk menjadi orang yang menentukan hukuman tiga mahasiswa yang sudah merusak istrinya itu. Akan tetapi, lagi dan lagi, Galen harus dibuat kesal oleh sang istri yang justru dengan mudahnya mengiyakan begitu saja ucapan ketiga orang tua mahasiswanya ini.
Galen menatap tajam Lucena, tapi dengan mudahnya dibalas oleh Lucena. Istri Galen ini seolah menyiratkan dari kedua matanya jika kali ini biarkan dia yang membuat keputusan. Tidak ingin memperburuk hubungan mereka yang masih canggung ini, Galen pun memilih melengos karena malas terlibat dalam pembicaraan ini.
" Kami memang berniat untuk melakukan seperti apa yang anda minta tuan-tuan.. Saya mungkin memang bisa memaafkan mereka karena semua ini terjadi lantaran salah paham.. Akan tetapi, saya tidak bisa melepaskan mereka begitu saja dari jerat hukum karena disini bukan saya saja yang terluka dan dirugikan atas tindakan yang dilakukan putra-putra anda.. Keluarga saya dan suami saya pun ikut dirugikan karena peristiwa ini.. " Ucap Lucena dengan lantang dan berani.
Galen sendiri cukup kaget mendengar ucapan istrinya. Tidak biasanya sang istri bisa selantang dan sangat berani dalam menghadapi masalah yang ada di dalam hidupnya. Galen merasa, sekarang ini dihadapkan bukan dengan istrinya, melainkan wanita lain.
Bukan hanya Galen yang merasa mendapatkan kejutan dari Lucena, daddy Joaquin pun terkejut mendengar menantu dan keponakannya ini yang biasanya sangat manja, bisa menjadi seseorang yang dewasa dan bisa menyikapi masalah dengan pikiran yang tenang. Anggap saja, peristiwa yang dialami oleh Lucena selama beberapa bulan ini, adalah proses pendewasaan dirinya. Dan Lucena lulus dalam ujiannya kali ini.
" Apa anda yakin dengan ucapan anda ini, miss Lucena? " Tanya Filipus selaku ayah dari Alfonso dan juga merupakan pemilik kampus tempat dimana Lucena mengajar.
" Saya yakin.. Saya memahami kenapa anak-anak anda sampai berlaku seperti ini pada saya. Semuanya hanya karena salah paham, karena menganggap saya sebagai penyebab kematian dari putri anda, Alona.. " Lucena menarik nafas kemudian menghembuskannya sebelum melanjutkan ucapannya.
" Saya memang tidak bisa menerima perbuatan mereka bertiga, tapi saya juga tidak bisa begitu saja menghakimi mereka karena semua itu percuma saya lakukan. Dengan membuat mereka menderita juga tidak akan mengembalikan semua yang hilang dari diri saya.. Yang saya inginkan saat ini hanya mengakhiri semuanya dan untuk ke depannya saya berharap saya tidak akan melihat mereka bertiga untuk sisa hidup saya.. " Lucena tersenyum.
Galen terkejut dengan ucapan dari sang istri. Dari sini Galen paham kenapa Lucena ngotot agar Galen tidak menjadi seseorang yang menentukan hukuman untuk ketiga pemuda itu. Galen pun akhirnya memberikan persetujuan nya untuk keputusan Lucena, dan menyerahkan ketiga pemuda itu pada polisi.
Polisi berjanji pada keluarga de Niels akan mengadili ketiga pemuda ini seadil-adilnya. Dengan begini, semua permasalahan yang terjadi dalam hidup Lucena telah berakhir. Sekarang waktunya Lucena dan Galen menyongsong masa depan dalam rumah tangga mereka.
" Kapan kita.. Make a baby, sweety.. " Tanya Galen.