IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Memikirkan cara



" Bagaimana hasilnya? " Galen bertanya pada pria yang sejak tadi terus menertawakannya karena tidak bisa mendebat Roseline.


" Nanti ya.. Nikmati dulu saja acara keluarga kita.. Apa kau tidak merindukan ku? " Pria ini masih terus menggoda Galen. Menurutnya, ekspresi kesal Galen itu adalah hiburan tersendiri untuknya.


" Tidak.. Untuk apa merindukan mu.. Malas sekali.. " Galen bertambah kesal sekarang.


" Bagaimana dengan kondisi Jade? " Tanya Galen.


Ya, pria yang menggodanya ini adalah papa dari Jade, keponakannya yang terlahir dengan satu kekurangan yang membuat semua anggota keluarga bersedih. Jade, lahir dengan kondisi mata buta. Dan menurut dokter, kebutaan pada Jade bukan termasuk buta yang bisa disembuhkan karena merupakan bawaan lahir.


Rouge dan keluarga kecilnya tinggal di Sisilia semenjak permasalahan dengan Geya selesai. Rouge berusaha memperbaiki rumah tangga nya bersama dengan Marisha dan mencoba menerima takdir jika cintanya telah memiliki jodoh lain di kehidupan ini. Meski sempat kisruh dengan anggota keluarga sendiri, namun pada akhirnya hubungan keluarga tetap baik. Perjalanan keluarga de Niels sangat panjang untuk sampai ke titik sekarang. Sangat disayangkan, jika ada perpecahan karena sebuah masalah yang sebenarnya jika memiliki hati yang lapang, maka akan bisa diatasi.


" Sekarang sudah mulai bertanya, kenapa dia selalu hanya bisa melihat kegelapan.. Aku sampai bingung menjelaskan hal ini padanya. " Wajahnya tengil Rouge tadi berubah sendu setiap membahas putra bungsunya.


" Nanti.. Kalau dia sudah memahami kekurangan dan kelebihan yang dia miliki, barulah kita jelaskan. Kau tidak perlu khawatir, semua orang di keluarga ini akan membantu dan mendukung mu.. " Galen menepuk pelan pundak Rouge.


Keduanya pun melanjutkan perbincangan seputar masalah perusahaan, kegiatan Rouge di Sisilia, dan juga masalah yang kini harus dialami Galen dan Lucena. Sebenernya, Rouge prihatin karena Galen harus menghadapi masalah yang rumit karena tidak tahu siapa lawannya. Dari hasil penyelidikannya pun masih belum pasti siapa pelakunya.


Penyelidikan yang Rouge lakukan memang mengarah pada titik terang masalah ini. Namun, untuk pasti siapa orangnya memang belum bisa. Tapi hasil penyelidikannya mengarah pada beberapa orang yang mungkin terlibat dalam hal ini. Untuk motif dari masalah ini, Rouge sudah menemukannya dan nanti akan dia bahas dengan Galen dan Lucifer saat acara keluarga ini sudah selesai.


" Aku tinggal dulu.. Pasti sekarang Marisha kerepotan mengurus Jade.. " Pamit Rouge. Galen pun mengangguk dan membiarkan sepupunya itu pergi.


Tak lama dari kepergian Rouge, saudara kembar Galen mengambil duduk di dekat Galen. Ketiga saudara kembar Galen ini cukup mencemaskan kondisi Galen. Terbiasa melihat Galen yang kuat dalam menghadapi setiap badai yang menghantam ya. Kini mereka justru harus melihat Galen lemah dan sakit. Mereka tidak menyangka, bahwa Galen akan mencapai titik dimana dirinya bahkan tidak mampu melakukan apapun selain otaknya yang bekerja.


" Lelah? Ingin istirahat? " Tanya Gaffi.


" Tak apa.. Aku sudah lama sekali hanya berbaring di ranjang dan tidak melakukan apa-apa.. " Galen memutar matanya karena jengah. Sudah beberapa kali Gaffi menanyakan hal sama padanya selama seharian ini.


" Kau itu sakit.. Wajar saja lah jika harus beristirahat dengan tidur terus di ranjang.. Sakit tapi berkeliaran itu namanya bukan sakit.. " Imel Gafar.


" Sudah.. Kau jangan mengomel, nanti Galen makin sakit melihat mu mengomel.. " Ghadi langsung mencegah agar Gafar tidak melanjutkan ucapannya.


" Apa Rouge sudah mengatakan hasil dari penyelidikannya? " Tanya Gaffi.


" Nanti kami ikut di sana juga ya.. " Galen mengangguk.


Setelahnya tidak ada lagi perbincangan di antara keempat putra dari daddy Joaquin dan mommy Noura. Mereka hanya menikmati makanan dan minuman yang tersedia di meja. Sambil mata mereka menatap ke arah para orang tua berkumpul dan tertawa karena melihat tingkah dan polah dari Marelyn dan Carmel. Dua cucu dari daddy Joaquin dan mommy Noura itu tengah lucu-lucunya dalam bertingkah.


***************


Jika keluarga de Niels tengah mengadakan acara di mansion utama untuk merayakan kesembuhan Galen. Lain dengan tiga pria yang tengah marah karena rencana akhir meraka gagal. Alasan gagalnya karena mereka bertiga memiliki perbedaan pendapat apakah kartu AS terakhir mereka ini akan di publik atau tidak.


Resiko, dari kartu AS mereka jika sampai di publish adalah identitas mereka yang akan terungkap. Selama mereka membalas dendam pada Lucena atas apa yang telah Lucena lakukan, mereka menyembunyikan identitas mereka. Lucena bahkan sama sekali tidak curiga padahal mereka sangat dekat sekali.


Tiap hari bertemu, tentunya selain hari minggu karena hari itu baik ketiga pria ini maupun Lucena sama-sama libur. Belum lagi, seringnya mereka berinteraksi, Lucena sama sekali tidak mencurigai mereka bertiga. Bahkan, Lucena begitu baik dengan ketiga pria ini dalam setiap interaksi mereka.


" Kau bodoh ya.. Beruntung aku tahu dan segera aku hentikan sebelum di publish.. Kita bisa ketahuan.. " Pria satu sudah berkacak pinggang menatap pria dua yang dengan nekatnya mengeluarkan kartu AS mereka.


" Apa kalian berdua tidak muak, melihat wanita itu bisa sangat beruntung karena memiliki keluarga yang bisa mendukungnya? Bukankah kita ingin dia merasakan apa yang dirasakan olehnya? " Sentak pria kedua. Pikirannya kalut, kala melihat Lucena baik-baik saja karena di dukung oleh keluarganya.


" Tentu saja kami muak.. Tapi tidak dengan mengungkap jatidiri kita disaat kita bahkan belum mempersiapkan semuanya untuk kabur jika kita dikejar.. Kau ingin mati konyol ya? Lawan kita keluarga de Niels.. " Pria ketiga ikut menyalahkan pria kedua.


" Sudah.. Sudah.. Bukan waktunya kita bertengkar saat ini.. Ayo pikirkan saja rencana berikutnya, untuk membuat wanita itu mengalami hal yang sama dengannya.. " Pria satu berusaha untuk menghentikan pertengkaran mereka. Tidak baik jika mereka bertiga bertengkar, sekarang mereka sedang berperang, dan butuh saling mendukung dan menguatkan jika ingin menang dalam perang ini.


" Apa lagi yang bisa kita lakukan? Kita kalah pendukung.. Bukan.. Bukan kalah pendukung, tapi kita tidak memiliki pendukung.. " Ujar pria kedua putus asa.


" Kita pikiran dengan kepala dingin.. Jika dengan emosi, kita tidak akan dapat rencana yang bagus justru nantinya kita malah masuk jebakan orang-orang ini.. " Pria ketiga berucap.


" Oh ya.. Ada seseorang yang ada di Sisilia menyelidiki tentang rumah yang kita jadikan sebagai tempat saat sedang membobol sistem keamanan di JN HOSPITAL.. " pria ketiga baru teringat laporan dari anak buahnya dan langsung mengatakannya pada kedua temannya.


" Lalu? Apa orang itu menemukan tentang kita? " Pria satu sudah panik sendiri.


" Belum.. Tapi mereka semakin dekat dengan kita.. Sekarang, kita harus sangar berhati-hati jika ingin semuanya berjalan dengan lancar sampai kita meraih tujuan kita.. " Kedua temannya mengangguk menyetujui ucapan pria ketiga ini.


Melawan keluarga de Niels tidak semudah melawan musuh-musuh mereka selama ini. Keluarga de Niels di dukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni, dan kecanggihan teknologi yang mereka miliki dan kedua hal ini tidak dimiliki oleh ketiga pria ini. Lalu, sekarang harus bagaimana mereka bertiga memikirkan rencana yang tepat untuk menyesatkan keluarga de Niels sama seperti sebelum keluarga de Niels menyadari masalah yang terjadi.