
Tak.. Tak.. Tak..
Suara langkah sepatu memenuhi lorong rumah sakit di hari yang sudah bisa dikatakan hampir pagi. Keadaan di sekitar masih sangat sepi, langit juga masih gelap. Namun bagi beberapa orang, yang semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak lantaran kabar yang mereka dapatkan, ini sudah sangat pagi.
Kriiieeeettttt
" Dad.. " Sapa Ghadi.
" Galen... Tidur.? " Ghadi mengangguk.
" Beberapa jam lagi pasti akan gempar.. Apa yang harus kita lakukan?? " Tanya Ghadi. Bukan bertanya pada sang daddy, tapi bertanya pada dirinya sendiri yang tengah dilema saat ini.
Bukan hanya Ghadi yang dilema, tapi semua orang sedang dilema saat ini. Semalam Ghadi mendapatkan pesan email dari asistennya. Isi email itu adalah berita yang akan dirilis pada pagi hari ini. Berita yang pasti akan menggemparkan seluruh lapisan masyarakat dan berdampak besar pada keluarga de Niels.
Meski beberapa perusahaan pertelevisian sudah dibeli oleh JN GROUP setelah pemberitaan tentang Lucena beberapa hari yang lalu. Tapi kini, berita baru akan muncul dan berasal dari perusahaan di Roma. Yang tidak disangka Galen, mereka akan mendapatkan kerja sama dengan perusahaan di kota Roma dan pengaruh perusahaan ini cukup besar.
" Bagaimana dengan Ketos? Apakah ada kabar? " Tanya Ghadi. Setahunya semalam Ketos langsung berangkat ke Roma untuk berdiskusi dengan perusahaan yang akan memberitakan berita tentang Lucena lagi.
" Belum ada kabar.. Mungkin beberapa jam lagi. Lagipula kita mendapatkan beritanya juga sudah sangat malam.. " Ghadi mengangguk, membenarkan ucapan daddy Joaquin.
" Lucifer belum memberi kabar, Galen dalam kondisi seperti ini. Aaaahhh.. Badai akan sangat kencang ke arah kita, dad.. " Daddy Joaquin mengangguk.
Obrolan Ghadi dan daddy Joaquin sebenernya didengar oleh Galen lantaran saat Ghadi membuka pintu, Galen pun langsung terbangun dan mencoba turun untuk ke kamar mandi. Namun, Galen mengurungkan niatnya ke kamar mandi begitu mendengar ucapan adik dan daddy nya yang terkesan misterius.
Galen pun mencari dimana keberadaan ponsel miliknya dan lekas menghubungi Ketos yang namanya telah disebut oleh Ghadi tadi. Terjadi sesuatu, perasaan Galen sedikit tidak enak, dan entah kenapa dia merasa bahwa dia akan kehilangan sesuatu yang menurutnya berarti bagi hidupnya.
" Jangan lagi.. Aku mohon.. " Gumam Galen sambil menghubungi Ketos.
Dalam hitungan beberapa dering saja, Ketos di seberang sana langsung mengangkat telepon dari Galen. Awalnya, Ketos sama sekali tidak mau mengatakan apa yang terjadi dan hanya memberikan pengertian pada Galen jika semuanya baik-baik saja. Hanya saja, Galen tidak mudah percaya dan memaksa Ketos menceritakan semuanya atau Galen akan bertindak tegas dalam masalah ini.
Galen sangat terkejut, mendengar berita yang Ketos katakan. Kedua tangannya terkepal kuat, Galen mencoba menyalurkan emosinya melalui kepalan tangannya. Ponsel miliknya bahkan sampai mengalami retak saking kuatnya Galen menggenggam ponselnya.
Kriiieeettttt
" Galen.. Kau.. " Ghadi terkejut saat melihat Galen tengah menatap layar laptop miliknya.
" Galen.. Kau masih belum sembuh benar... Jadi... Jadi jangan bekerja dulu.. " Ghadi sudah panik sendiri.
Pasalnya saat sebelum dia keluar kamar Galen untuk menemui daddy Joaquin, dilayar laptopnya masihlah terpampang email dari asisten pribadinya. Ghadi takut jika Galen melihat apa yang ada di sana. Galen belum sembuh, bahkan baru tadi dia tersadar setelah operasi penanganan pada penyakitnya. Ghadi tadi jika kondisi Galen bisa drop jika kembali tertekan dengan masalah yang ada.
" Ghadi.. Panggil semua anggota keluarga kita untuk berkumpul.. Usahakan siang ini kita lakukan jumpa pers dengan agenda klarifikasi semua berita mengenai Lucena.. " Ucap Galen. Terlihat diraut wajahnya ada amarah, kecewa, sedih dan tekad yang membara. Ghadi, sampai tidak tega melihat saudaranya sampai menemui masalah seperti ini.
" Len, aku rasa sekarang yang terpenting adalah kesehatan mu terlebih dahulu.. Jangan memikirkan masalah ini dulu, ada kami yang akan menyelesaikannya.. " Ghadi mencoba mengalihkan perhatian Galen.
" I'm fine, Ghadi.. Yang terpenting bagi ku adalah Luce. Jika dia melihat pemberitaan ini, maka dia akan lebih terpuruk lagi setelah kejadian tempo hari.. " Galen tertunduk. Dadanya sakit, bukan hanya karena penyakitnya, tapi juga karena perasaannya yang terluka.
" Please.. Biarkan aku bertanggung jawab pada sesuatu yang terjadi di rumah tangga ku.. Aku tidak akan bisa tenang berbaring di ranjang ini, kalau ternyata pasangan ku tengah menghadapi dunia yang kejam diluar sana.. "
Ghadi pun menghela nafas lantaran sudah tidak bisa lagi mencegah Galen untuk turun tangan langsung dalam masalah ini. Ghadi paham, karena dia juga akan melakukan hal yang sama jika hal semacam ini menimpa pasangannya. Hanya saja, Ghadi dalam kondisi sehat. Tidak seperti Galen yang sedang dalam kondisi sakit seperti ini.
" Oke.. Tapi tahu batasan mu.. Jika dirasa kau sudah tidak mampu, maka serahkan semuanya pada kami.. " Galen pun tersenyum dan mengangguk.
Jika di rumah sakit, Galen tengah berusaha untuk memperbaiki keadaan. Lain dengan kondisi di mansion. Lucena, mendapatkan notifikasi dari grup para dosen begitu dia bangun tidur. Ponselnya terus berbunyi lantaran banyak pesan yang masuk ke grup dosen di universitas tempatnya mengajar.
Berita, yang seharusnya tidak sampai diketahui Lucena, namun karena di grup para dosen ini tengah marak membicarakan masalah ini. Akhirnya Lucena mengetahui apa yang seharusnya tidak dia ketahui. Sesuatu yang keluarganya coba untuk sembunyikan darinya.
Itu miss Lucena kan?
Kenapa bisa ada video tentang miss Lucena?
Tidak disangka yang ternyata orang pendiam seperti miss Lucena bisa berbuat hal tidak senonoh begitu..
Betul.. Mana semua orang tahu miss Lucena dari kampus kita.. Pasti sebentar lagi kampus heboh karena berita ini.
Bisa saja miss Lucena dijebak orang kan.. Mungkin video itu diedit..
Nggak lah.. Kan sudah ada yang mengklarifikasi kalau berita itu benar..
Aduh kasian suaminya.. Padahal kurang apa GALEN DE NIELS yang notabene pewaris JN GROUP.. Bisa-bisanya miss Lucena mengkhianati suaminya..
Hm.. Kalau aku jadi miss Lucena, nggak akan aku mau selingkuh.. Kurang apa suaminya, tajir melintir, baik, ganteng, pastinya perkasa lah ya..
Lucena menscroll satu persatu pesan di grup para dosen, dan membacanya. Komentar-komentar itu membahas mengenai sesuatu yang Lucena tidak ketahui apa itu. Akhirnya, rasa penasaran nya mengalahkan ketakutannya hingga Lucena memberanikan diri untuk melihat media sosial miliknya. Dan yang dia dapatkan adalah...
BRAKK..
" AAAAARRRRRGGGGHHHH.. APA ITU?? TIDAK.. TIDAK MUNGKIN.. APA ITU?? " Lucena terkejut melihat berita yang tengah menghiasi semua media.
" KENAPA BEGINI? KENAPA JADI BEGINI? JADI ITU BENAR.. PERASAAN ITU BENAR.. INGATAN ITU BENAR... TIDAK... TIDAK.. AAARRRRGGGHHH... " Lucena langsung berlari keluar dari kamarnya entah menuju kemana.
Jika di kamar Galen suasananya tengah panas lantaran Lucena yang mengetahui mengenai berita yang sebuah video yang memperlihatkan Lucena dalam kondisi yang tidak sesungguhnya seharusnya terjadi. Sedangkan orang-orang di dalam mansion ini, tidak sama sekali mengetahui kehebohan di dalam kamar Galen hingga, salah satu maid yang tengah membersihkan kebun di selatan mansion, melihat pemandangan yang mencengangkan.
" Aaaarrrrggggghhh... Panggil tuan besar.. Panggil tuan besar.. Nyonya muda.. Nyonya muda.. " Maid ini histeris saat melihat Lucena berada di pagar rooftop mansion.
" Ya Tuhan.. Nyonya muda.. Turun nyonya muda.. " Maid lain mulai ikut memperhatikan apa yang terjadi.
" Panggil tuan dan nyonya besar.. Cepat... Nyonya muda mau melompat dari rooftop..!!! " Kepala pelayan keluar dan menyaksikan hal yang bisa jadi gawat kalau tidak segera di atasi.
" Nyonya jangan lompat.. Jangan lompat... Nyonya mudaaaaaaaaaa.... "