IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
kepulangan saudara



Lucena pulang ke mansion keluarganya dengan hati yang senang dan lega. Dia telah melakukan keputusan yang tepat dengan menyetujui untuk berbincang dengan Angela. Hasilnya, kini Lucena lebih bisa mengikhlaskan semuanya yang ada di masa lalu Galen.


Kini fokus Lucena adalah membantu Galen dan Lucifer untuk menyelidiki tentang apa yang dia alami hingga hamil tanpa tahu kapan dan dimana semuanya berawal. Tanpa dirinya, tidak akan bisa terpecahkan semua misteri ini, karena lawan sangat pandai menutupi kebusukan mereka. Sungguh benar-benar, Lucena merasa sangat bodoh karena sampai bisa kecolongan seperti saat ini.


" Anak mama, dari tadi mama lihat kok senyum-senyum sendiri. Ada kabar baik, sayang?" tanya mama Whitney yang menyambut kepulangan Lucena.


" Nggak kok ma.. Cuma, sekarang Luce lebih bisa bersikap dewasa jika berhubungan dengan masa lalu Galen. Sejak dulu, kan Luce selalu mempermasalahkan masa lalu Galen hingga tidak jarang kami bertengkar karena masalah ini.." Lucena merasa konyol jika mengajak Galen ribut perkara masa lalu Galen, padahal setelah mendengar sendiri dari Angela, tidak sewajarnya Lucena cemburu.


" Memangnya ada sesuatu yang terjadi sampai kamu tiba-tiba berucap begini?" mama Whitney terlihat khawatir.


" Luce, tadi ketemu sama mantan istri Galen, ma. Dia menceritakan semua yang terjadi delapan tahun yang lalu sampai Galen harus menikahi dia.. Kalau mengingat cerita mantan istri Galen, rasanya aku malu, ma, kalau mengingat sering sekali mengajak Galen ribut karena masalah itu." Lucena merasa bersalah.


" Kamu nya juga sih, cemburuan banget kalau soal apapun yang menyangkut Galen.. Kayaknya anak mama ini benar-benar jatuh sama pesona anaknya tuan Joaquin dan nyonya Noura ya." mama Whitney mencubit hidung putrinya gemas.


Interaksi dua orang ibu dan anak ini rupanya disaksikan oleh papa Daniel yang tadinya pulang karena ingin makan siang di rumah. Namun, ketika dirinya baru memasuki mansion, dia sudah melihat bagaimana putrinya kini sudah bisa tertawa meski masih tersirat kesedihan dari matanya.


Papa Daniel selalu menyalahkan dirinya atas apa yang telah putrinya alami beberapa waktu ini. Karena kesalahannya di masa lalu, kini putrinya yang sepertinya telah menjalani karmanya. Apa yang dialami oleh Lucena, dulunya juga dialami oleh mama Whitney. Dan semua itu karena dirinya yang telah berbuat hal jahat. Tapi, kenap sekarang putrinya yang mengalami segala kemalangan ini, kenapa bukan dirinya.


" Pa.." papa Daniel tersentak kaget saat mendengar suara tidak asing dari belakang tubuhnya.


" Lu.. Kapan kau kembali?" tanya papa Daniel, saat kedua matanya melihat sang putra yang beberapa waktu lalu memilih untuk tinggal di Milan terlebih dahulu.


" Baru saja.. Terus kenapa papa berdiri di pintu begini? Jangan bilang mama ngusir papa lagi?" mata Lucifer memicing tajam menatap papa Daniel.


" Heh.. Sembarangan.. Siapa juga yang diusir.. Papa habis dari kantor, gantikan anak papa yang nggak mau pulang ke rumah lantaran lebih sayang sama kakak ipar ketimbang sama kakaknya sendiri." sindir papa Daniel.


" Heh.. ngawur.. Siapa juga yang lebih sayang kak Galen dari kak Luce.. Orang aku sibuk ngurusi masalah penyelidikan tentang masalah kak Luce." sembur Lucifer tidak terima. Padahal beberapa hari ini dia kerja keras untuk menyelidiki kasus yang menimpa sang kakak.


" Kalian berdua... Ngapain di situ? Mau masuk nggak?" papa Daniel dan Lucifer langsung sadar kebodohan mereka yang masih berdiri di depan pintu, kala mendengar suara mama Whitney.


" Masuk, ma." jawab kedua pria ini serempak.


****************


Galen menatap datar pria yang secara paksa masuk ke ruang kerjanya. Siapa lagi kalau bukan saudara kembarnya yang lucknat itu, Gaffi Aluvares de Niels. Pria yang berprofesi sebagai dokter bedah saraf otak ini, pastinya baru pulang setelah liburan bersama sang istri di Rio de Janeiro.


" Santai sekali kau, setelah apa yang terjadi.." sarkas Gaffi yang gedek dengan modelan saudaranya yang selalu saja tenang meski badai menerjang.


" Terus... Aku musti bunuh diri begitu?" balas Galen.


" Memangnya kau tidak mencari tahu tentang masalah yang menimpa Luce? Aku langsung pulang begitu mendengar masalah ini.. kau gila Galen, bagaimana bisa ada orang yang luput dari kedua mata sakti mu itu.." sarkas Gaffi.


Gaffi tahu betul kejelian saudara kembarnya yang paling sulung ini. Ketika rumah tangganya dengan istrinya mengalami permasalahan yang berat. Galen bisa tahu tanpa ada orang yang mengadu padanya. Lalu sekarang, bukankah Galen seperti tengah kecolongan dalam menjaga Lucena yang semua orang tahu, siapa Lucena bagi Galen.


" Hm.. Mereka sangat rapi sekali.. Aku berulang kai mengulang penyelidikan, siapa tahu tim ku melewatkan sesuatu. Namun semua hanya sama dan tidak ada petunjuk sedikit pun. Mereka sangat rapi.. bahkan Lucena sendiri tidak mengingat kapan kejadian itu terjadi." ucap Galen menanggapi ucapan saudaranya.


" Kalau butuh bantuan ku, katakan saja, aku pasti akan membantu." ucap Gaffi penuh percaya diri.


" Memangnya siapa yang kau ajak bicara sampai sok-sokan mengatakan hal semacam itu." sarkas Galen.


Gaffi berdecak pelan lantaran kesal mendengar ucapan Galen. Jika dalam bidang non kesehatan, meski jenius, tapi Gaffi masih kalah dengan Galen. Untuk menebak sebuah peluang dalam bisnis maupun melihat seberapa benar klien bisa dipercaya, tidak mudah bagi Gaffi. Namun jika itu Galen, hal semacam ini sudah seperti sarapan baginya.


Keduanya pun berbincang bisa, sambil sesekali galen menanyakan tentang hubungan Gaffi dan Kate. Galen langsung bertepuk tangan senang saat mendengar jika Kate tengah hamil saat ini. Itu artinya Galen akan menjadi uncle untuk lima keponakannya. Daddy Joaquin dan mommy Noura juga pasti bahagia dengan berita yang Gaffi bawa.


" Sekarang ini bagaimana kondisi Lucena? " Tanya Gaffi yang mengkhawatirkan kondisi sepupu dan saudara iparnya itu.


" Lumayan.. Sudah bisa menjalani aktifitas seperti sebelumnya. Hanya saja dia masih sangat tertutup dan sering menangis sendiri. Aku sudah... Jahat padanya kan? " Galen menatap Gaffi dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti oleh Gaffi sendiri.


" Jika butuh psikiater, katakan saja.. Aku akan mengenal yang terbaik untuk kalian.. " Galen mengangguk. Untuk urusan hal seperti itu, Gaffi memang yang lebih pandai daripada dirinya.


Obrolan keduanya pun terjadi juga. Meski awalnya Galen sangat malas menanggapi saudara kembarnya ini. Tapi setelah Gaffi menceritakan tentang bulan madunya di Rio de Janeiro, Galen jadi tertarik untuk mendengarkan. Anggap saja dia memantau kerjaan dari saudaranya ini. Apakah masih menyakiti istrinya lagi atau tidak.


" Kapan-kapan, datanglah ke sana. Kau pasti akan senang.. " Ujar Gaffi.


" Hm.. Setelah masalah ini selesai, aku akan mengajak Luce ke sana. Sekalian mampir ke rumah Geya di LA. " Gaffi mengangguk.


Saat kedua orang ini asyik mengobrol, Tiba-tiba saja asisten Galen menerobos masuk dan terlihat sangat tergesa-gesa. Ingin tahu apa yang terjadi, kaki Galen segera melangkah menuju ke luar ruangan nya, mengikuti kemana asistennya pergi.