IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
terluka lagi



Tak banyak hal yang bisa Lucena lakukan karena dia hanya bersama dengan bibi Pamela saja, jika Galen pergi bekerja. Bibi Pamela juga lebih banyak melakukan pekerjaannya untuk mengurusi mansion milik Galen. Memang tidak sebesar mansion utama dan mansion saudara Galen lainnya. Tapi yang namanya mansion ya besar juga, alhasil Bibi Pamela sibuk mengurus ini dan itu bersama para pelayan yang kesemuanya tidak tinggal di mansion jika malam.


Merasa dirinya tidak ada yang bisa dikerjakan, Lucena berencana pergi ke mansion utama saja. Semalam mommy Noura sudah menelepon mengatakan rindu padanya dan meminta Lucena untuk bermain ke mansion utama. Jadilah sekarang Lucena tengah bersiap untuk pergi ke mansion utama.


" Luce.. Masuk sayang.. " mommy Noura menyambut kedatangan menantu yang juga keponakannya itu.


" Mommy.. Aku nggak ganggu kan? " Lucena memeluk ibu mertuanya.


" Mommy yang suruh kamu main, masak kamu ganggu.. Ya nggak lah sayang.. Sudah sarapan belum? " Lucena mengangguk.


" Masuk yuk.. Di dalam ada seseorang yang pengen mommy kenalkan sama kamu.. " Lucena pun mengikuti langkah mommy Noura masuk ke dalam mansion menuju area ruang keluarga.


Lucena terdiam di tempat saat melihat di antara semua orang yang ada di ruangan itu, ada suaminya di sana. Pria yang tadi pagi mengatakan akan berangkat bekerja, tapi sekarang justru tengah bermain dengan anak tirinya. Lucena menatap perempuan yang juga berada didekat Galen dan anak bernama Bumi itu, perempuan itu adalah Angela yang merupakan mantan istri dari suaminya. Sungguh menyesakan dada saat melihat pemandangan itu.


" Luce.. Ayo sini sayang.. " panggil mommy Noura saat menyadari menantunya tidak mengikutinya.


Galen yang awalnya acuh dengan sekitar tersentak kaget melihat istrinya ada disini. Matanya dan mata sang istri bertemu tatap, dan Galen bisa melihat tatapan kecewa di mata sangat istri. Galen pun menunduk, tidak sanggup melihat kekecewaan di mata Lucena. Tapi dia pun juga memendam kekecewaan yang amat besar pada Lucena.


" Aku ke kamar mandi sebentar mom.. Perut ku sakit.. " tanpa mendengarkan jawaban dari mommy Noura, Lucena langsung melengos meninggalkan ruang keluarga.


Bukan ke kamar mandi, tapi Lucena duduk termenung di meja makan. Dia hanya alasan saja untuk pergi dari tempat itu, karena merasakan sesak di dadanya melihat suaminya bisa sedekat itu dengan wanita lain. Bahkan dengan tega membohongi nya. Pamit berangkat untuk bekerja, lalu sekarang tengah bermain dengan anak tiri dan mantan istrinya. Baju Galen juga sudah berubah menjadi baju rumahan, bukankah itu keterlaluan.


" Apa aku pergi saja ya? Tapi mommy dan daddy? " gumam Lucena bingung.


" Pergi saja lah.. Dia juga tidak membutuhkan aku berada di sini.. " Lucena pun bangkit berdiri dan berjalan keluar mansion. Tidak ada yang menyadari kepergian Lucena karena semua sibuk dengan Bumi dan juga Angela.


Sampai di depan, Lucena tidak melihat mobil dan supir yang tadi mengantar dia. Jadi Lucena pun berjalan ke gerbang depan yang jaraknya cukup jauh dari bangunan mansion utama. Karena mansion utama de Niels ini memiliki wilayah yang luas dengan di tengahnya barulah ada mansion besar. Di sekitarnya adalah halaman yang sangat luas.


Sambil berjalan sambil Lucena meresapi kepedihan yang dia rasakan ketika sudah menikah dengan orang yang dia cintai dan menjadi cinta pertamanya itu. Mungkin dia salah langkah dengan mengiyakan ajakan Galen untuk menikah, nyatanya Galen sendiri mengabaikannya. Awalnya Lucena pikir setelah pindah mansion, Galen juga sudah tidak bersikap dingin dan acuh padanya meski masih terasa canggung bila keduanya berada di satu ruangan yang sama.


" Sakitnya... " Lucena meremas baju yang ada di depan dadanya. Dia berjongkok karena tidak lagi mampu berjalan dalam kondisi matanya sudah dipenuhi air mata. Lucena sendiri tidak tahu, kenapa dia bisa gampang sekali menangis dan sakit hati hanya karena masalah yang tidak seharusnya dia perbesar.


" Huft... Huft... Sakit... Huft.. Huft... " Lucena berusaha mengatur nafasnya agar jangan sampai dadanya menjadi sesak.


" Kamu kuat Luce.. Ayo pergi.. hiks.. hiks... " dengan langkah tertatih, Lucena benar meninggalkan mansion utama.


" Kalian lihat menantu ku? " tanya daddy Joaquin pada para pelayan yang ada di dapur.


" Nyonya muda tadi duduk sebentar di meja makan tuan, setelah itu kami tidak tahu kemana nyonya muda pergi.. " jawab seorang pelayan yang tadi melihat Lucena duduk di dapur.


Daddy Joaquin langsung naik ke lantai dua untuk mencari kalau-kalau Lucena berada di kamar milik Galen. Namun di sana juga tidak ada tanda-tanda Lucena berada. Hingga akhirnya daddy Joaquin pun pergi keluar siapa tahu Lucena berada di halaman untuk menenangkan diri.


Tadi, bisa dengan jelas daddy Joaquin lihat jika Lucena sedang sedih karena Galen ada di mansion dengan mantan istri dan anak tirinya. Sepertinya hubungan pernikahan putra pertamanya ini tidak sedang baik-baik saja, entah apa masalahnya. Daddy Joaquin merasa perlu meluruskan semuanya karena selain Lucena menantunya, dia juga keponakannya.


" Kalian lihat menantu ku? " tanya daddy Joaquin ketika bertemu penjaga di luar.


" Nyonya muda? Beliau pergi dengan menggunakan taksi di gerbang tadi tuan.. " jawab penjaga.


" Sejak kapan? " tanya daddy Joaquin.


" Lima belas menit yang lalu tuan.. "


Daddy Joaquin langsung kembali masuk ke mansion untuk mencari ponselnya dan menghubungi Lucena. Ketika daddy Joaquin masuk dengan panik, barulah Galen menyadari jika sejak tadi dia tidak melihat sangat istri.


" Daddy.. Ada apa? " tanya Galen mendekati daddy nya yang sibuk dengan ponselnya.


" Tidak usah ikut campur.. Kau.. urus saja Angela dan Bumi.. Biar Lucena daddy uang urus.. " ucap daddy Joaquin terdengar dingin dengan raut wajah datar.


Galen tersentak, istrinya memang belum kembali dari kamar mandi sejak tadi. Galen juga tidak terlalu peduli dengan hal itu karena di hatinya sedang tidak baik ketika melihat Lucena. Tapi bukan berarti Galen tidak khawatir, apalagi wajah daddy Joaquin terlihat sangat panik setelah mengucapkan kata untuk Galen tidak perlu ikut campur.


" Angkat teleponnya nak.. Kamu dimana? " Galen bisa mendengar daddy nya berucap. Perasaan Galen langsung tidak baik-baik saja.


" Dad, mana Lucena? " tanya Galen.


" Diam.. Lucena itu istri mu tapi kamu tidak peduli dengannya.. Kenapa kamu ke mansion utama tidak bersama dengan istri mu? Kau tidak mengatakan bahwa pergi kemari kan? Terus... terus saja kau menyakiti Lucena.. Jika daddy dan papa mu bertindak.. Jangan salahkan kami.. " sentak daddy Joaquin.


Galen mundu beberapa langkah sampai tubuhnya membentur tembok. Salahnya, karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada sang istri jika dia akan ke mansion utama. Dia bahkan berbohong dengan mengatakan akan pergi ke perusahaan. Tapi Galen melakukan ini semua untuk menjaga perasaan Lucena. Galen tahu Lucena cemburu dengan Angela sejak dulu. Tapi lihat kebodohannya, sang istri tidak ditemukan dimana pun..