IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Mawar untuk wanita cantik



Akhirnya aku menemukan mu..


Kalimat yang begitu ingin sekali Galen ucapkan sebagai bentuk apresiasi atas usahanya untuk mencari keberadaan istrinya. Namun hingga satu bukan sejak kepergian Lucena, belum ada tanda-tanda keberadaan istrinya itu.


Galen merindukannya, sangat merindukannya. Terbiasa menjalani hubungan yang terpisah oleh jarak, nyatanya tidak membuat Galen kini merasa tenang. Galen ingin sekali memeluk istrinya, mencium dan mendekap tubuhnya agar tidak akan pernah lagi istrinya pergi dari hidupnya.


Tersisa dua negara yang kemungkinan besar Lucena dan anaknya ada di sana. Galen, harus membuat keputusan untuk kemana tujuan dia berikutnya. Galen harus memilih diantara dua negara itu yang kemungkinan saja merupakan negara tempat Lucena berada. Namun Galen kini justru dilema.


Salah pilihannya, maka pencarian akan dimulai dari awal dan semakin lama lagi Galen bisa bertemu dengan istri dan kedua anaknya. Bisakah Galen menunggu lagi, sedangkan satu bulan terakhir ini, hidupnya bagaikan di neraka. Kesepian, tanpa ada seorang pun yang menemaninya. Biasanya dia akan mendengar celotehan kedua buah hatinya dan melihat senyum indah nan cantik milik sang istri.


" Tuan.. Apa anda sudah memutuskan, negara mana yang akan anda kunjungi untuk menemukan keberadaan nyonya muda?" tanya Ketos.


" Menurut mu, negera mana yang dijadikan rumah kedua oleh istri ku? Ketos, aku bingung... Aku takut keputusan ku salah dan berakibat kita semakin lebih lama lagi menemukan mereka. Aku sudah merasa sangat lelah tanpa adanya kepastian." keluh Galen.


" Bagaimana kalau kita melakukan undian tuan.. Jika memang dari undian ini nantinya kita tidak bisa menemukan nyonya, berarti memang udah suratan takdir anda menunggu lagi, tuan." Galen menatap tajam asisten pribadinya ini. Enteng sekali bicara seperti itu, seolah tidak ada masalah dibalik pilihan ini.


" Bicara dengan mu, justru semakin membuat ku ingin menghajar mu.. Ketos.." Galen yang kesal pun berlalu pergi dari lantai dua, menuju ke ruang pribadinya. Dia harus kembali berpikir lagi, kiranya mana negara yang menjadi pilihan istrinya sebagai rumah keduanya.


Jika dipikirkan menurut selera dari Lucena, pasti dia berada di Belanda. Alasannya, Lucena memang sudah sejak dulu menyukai negara yang terkenal dengan kincir anginnya. Tapi, benarkah semudah itu jawaban dari semua pertanyaan Galen selama ini. Semudah itukah jawaban yang Galen kejar selama satu bulan ini. Nyatanya jika memang benar jawabannya itu, pastinya sudah sedari awal Galen mengetahuinya.


Galen kembali mempertimbangkan lagi benarkah kiranya Lucena berada di negara yang memang menjadi negara impiannya itu. Apakah sebenarnya Lucena menginginkan Galen menemukannya sehingga sudah memberikan petunjuk sejak awal. Semua pertanyaan yang ada dibenak Galen tidak akan pernah menemukan jawabannya. Jalan pintas paling mudah untuk menemukan keberadaan Lucena hanyalah dengan bertanya pada kedua orang tuanya.


" Ketos... Siapkan keberangkatan ku ke..... Belanda.. Aku akan pergi ke sana,, Dari apa yang pernah aku dengar dari Lucena, dia pasti ada di kota itu." ucap Galen melalui ponselnya. Memberi instruksi pada asisten pribadinya untuk lekas mempersiapkan semua keperluannya.


" Baik tuan.. Apakah perlu saya menemani anda?" tanya Ketos sebelum mengakhiri panggilan telepon dari tuan mudanya ini.


" Boleh.. Kita lebih mudah menemukan apa yang kita cari jika lebih banyak orang yang akan membantu kita.." Galen menyetujui keikutsertaan Ketos pergi bersamanya ke Belanda.


Galen mempertaruhkan semua waktu dan kerja kerasnya selama sebulan ini untuk datang ke Belanda dan berharap jika tebakannya ini benar. Galen berharap jika benar Lucena ada di salah satu kota yang pernah Lucena ceritakan padanya saat mereka masih remaja dulu.


" Aku berharap jika kau benar-benar ada di sana Luce.. Aku sudah tidak sanggup lagi terpisah dari mu lebih lama lagi.. Aku bisa gila.." lirih Galen bergumam.


***************


Hari ini Lucena libur tidak mengajar di universitas karena akhir pekan. Dia sudah menjadwalkan kegiatan untuk mengajak kedua buah hatinya jalan-jalan di taman. Sesekali, perlu juga untuk King dan Queen menghirup udara segar diluar. Terus berada di area rumah juga pasti kedua buah harinya akan mereka bosan.


Lucena di bantu oleh suster Aida menyiapkan keperluan mereka untuk piknik di taman. Beberapa buah-buahan dan juga makanan ringan, akan mereka bawa untuk menemani kegiatan mereka di taman nanti. Biasanya, jika cuaca sedang bagus seperti ini dan pasti banyak keluarga yang berada di taman untuk sekedar menghabiskan waktu dengan anggota keluarga lainnya.


Ini kali pertama Lucena mengajak kedua buah hatinya pergi keluar, jadi Lucena benar-benar mereka excited untuk liburan keluarganya kali ini.


" Ayo kita berangkat, King, Queen.. " Seru Lucena disahuti suara sorak kedua buah hatinya.


" Cantiknya putri bunda.. " Lucena pun mengecup pipi gembul sang putri.


" Sudah semua Sus, sabuk pengaman sudah dipasang? " Tanya Lucena sebelum menjalankan mobilnya.


" Sudah nyonya.. Kami sudah siap.. " Jawab kedua suster pengasuh si kembar.


Lucena pun menjalankan mobilnya keluar dari area rumahnya. Lucena mengambil jalan ke sisi kanan keluar dari perumahan tempatnya tinggal dan langsung menuju taman kota yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sekitar sepuluh kilo saja dari tempat Lucena tinggal.


Seperti dugaannya, taman kota terlihat ramai sekali pengunjung. Tidak hanya anggota keluarga saja yang ke tempat ini, tapi juga anak-anak muda yang keluar bersama dengan teman-temannya. Saking ramainya taman kota ini, Lucena jadi kesulitan menemukan lahar parkir untuk mobilnya.


Akhirnya, setelah menunggu selama lima belas menit, ada satu mobil yang meninggalkan area parkir taman kota. Lucena segera mengambil tempat itu untuk memarkirkan mobilnya. Meski jaraknya sedikit jauh dari taman, Lucena tidak masalah yang terpenting bisa menikmati piknik dengan kedua buah hatinya.


" Suster.. Kita duduk disini saja ya, teduh dan tidak terlalu jauh dengan yang lainnya. " Ucap Lucena memilih tempat piknik di bawah sebuah pohon besar yang rindang.


" Iya nyonya.. Takutnya kalau hari sudah siang, di sana panas.. " Suster Aida menunjuk ke arah depan mereka.


" Kita gelar alas duduk kita dulu saja.. Biarkan si kembar berada di stroller mereka dahulu.. " Dengan cekatan Lucena mempersiapkan tempat duduk mereka. Tak lupa Lucena juga menyiapkan cemilan untuk mereka di atas alas duduk agar mempermudah mereka untuk menikmatinya.


Duduk di bawah pohon, bersama dengan kedua buah hatinya, menikmati akhir pekan dengan piknik di taman kota. Bagi Lucena, kegiatan sederhana seperti ini saja sudah bisa membuat dia bahagia. Terbersih di pikirannya, andai saat ini suaminya ada di tempat ini. Maka liburan keluarga ini akan lebih lengkap.


Lucena menggeleng pelan, ketika dia tahu apa yang dia andaikan tidak bisa terjadi dalam waktu dekat. Suaminya tidak ada disini, dan entah kapan suaminya bisa menemukan dirinya. Sudah satu bulan, dan belum ada tanda-tanda Galen akan menemukan dirinya.


Lucena tidak ingin munafik. Dia pergi memang karena terluka dengan ucapan Galen. Tapi, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika memang dia sangat mencintai Galen. Lucena ingin selalu bersama dengan pria yang telah menjadi pemilik hatinya sejak dahulu, hingga sekarang dan akan terus selamanya.


" Nyonya cantik.. Ini ada bunga untuk anda.. " Seorang anak perempuan sekitar umur enam sampai delapan tahun mendatangi Lucena dan memberikan setangkai bunga mawar.


" Untuk ku? " Lucena menerima uluran bunga dari anak perempuan ini.


" Iya.. Untuk wanita paling cantik di tempat ini.. " Anak perempuan itu terkekeh.


" Kau lebih cantik dari ku.. Kalau boleh tahu, siapa yang meminta mu untuk memberikan bunga ini pada ku? " Tanya Lucena pemasaran.


" Your secret admirer.. Pria tampan, bahkan sangat tampan. Rasanya aku tidak pernah melihat pria setampan itu.. " Lucena tertawa kecil mendengar celotehan anak kecil ini.


" Terima kasih.. Sampaikan padanya, aku suka dengan bunganya.. " Anak perempuan itu mengangguk dan pergi meninggalkan tempat Lucena.


Lucena tersenyum, rasanya tidak percaya dia memiliki penggemar rahasia ketika dirinya saja tidak merasa memiliki sesuatu yang bisa membuat orang lain menyukainya hingga menjadi penggemar rahasianya.


Lucena tidak sama sekali tahu, sejak beberapa menit yang lalu, ada dua orang yang memperhatikan setiap tingkah yang dilakukan Lucena. Kedua orang ini, terlihat begitu mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu indah, di depan mata mereka.