IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Kepercayaan diri



" Kalian disini? " Tanya Galen cukup terkejut dengan kehadiran dua orang yang langsung duduk di samping Gafar.


" Gafar boleh bertemu dengan mu, lalu kami tidak.. Apa kami bukan kembaran mu lagi? " Tanya Gaffi sedikit menaikan nada suaranya.


" Cih.. Bangga sekali.. " Cibir Gafar.


" Wah.. Bocah tua satu ini tidak bersyukur sekali memiliki kembaran dokter, CEO, dan owner restoran.. " Ucap Gaffi tidak Terima.


" Dokter cabul, mantan CEO dan tukang makan.. Benar kan? "


" Sialan.. "


Galen dan Ghadi hanya menjadi penonton dua orang yang memang sejak kecil sudah seperti kucing dan tikus itu. Herannya, meski sudah berusia kepala tiga, kedua orang ini tidak pernah berhenti memperdebatkan hal yang sama sekali tidak bermutu.


Galen mengabaikan kedua saudaranya yang masih adu mulut itu, beralih membuat minuman untuk kedua saudaranya yang baru saja datang. Cocktail dan Vodka, dua minuman yang Ghadi dan Gaffi sukai, sudah tersaji di depan yang bersangkutan.


" Kami akan selalu berada di pihak mu, Len.. Jangan bersedih dan jangan menyiksa diri mu sendiri. " Ucap Ghadi yang iba dengan kembarannya ini.


" Hm.. Thanks.. " Galen menepuk pelan punggung tangan Ghadi.


" Apa tak apa kalian berada di pihak ku? Bagaimana jika kita berempat nantinya sama-sama dicoret daddy dari kartu keluarga? " Kelakar Galen, yang berhasil membuat pertikaian Gaffi dan Gafar berakhir.


Keempatnya kemudian tertawa bersama, rasanya lucu juga jika mereka berempat benar dicoret daddy Joaquin dari kartu keluarga. Kalau masalah uang juga mereka tidak ambil pusing karena mereka kaya dengan keringat mereka sendiri. Tapi tetap saja, rasanya luce sekali karena keempatnya sama-sama di pecat dari keluarga de Niels.


" Tenang saja.. Jika benar begitu, aku bersedia menafkahi kalian semua.. " Gafar menambahkan candaan Galen. Semakin riuh saja suasana lantai dua yang malam ini sengaja Galen tutup, karena ingin menghabiskan waktu bersama kembarannya.


" Cieh yang pengacara kaya raya.. " Ledek Galen yang kemudian mengundang keempatnya untuk kembali tertawa.


" Len,, daddy dan mommy ke London, apa kau sudah tahu? " Tanya Gadhi.


" Sudah.. Kenapa? " Galen bertanya.


" Kepergian mereka itu bersamaan dengan uncle Daniel dan istrinya. Anehnya, uncle Daniel perginya ke Jerman.. Menurut mu, mereka pasti menemui Lucena kan.. " Ucap Ghadi. Galen membenarkan ucapan dari kembarannya ini.


Kepergian kedua orang tua dan mertuanya pasti menemui Lucena dan kedua anaknya. Hanya saja, untuk mengaburkan tujuan mereka, daddy Joaquin memanipulasi laporan keberangkatan mereka beserta tujuannya. Yang jadi pertanyaannya saat ini, kemana mereka sebenarnya pergi.


" Istri mu masih ada di Eropa, tapi bukan di Italia.. Pahami lagi dan cermati, pasti ada petunjuk. Karena semua teka teki memiliki jawaban, Galen.. Kau jenius, pasti bisa melihat celah yang dibuat daddy.. " Gafar menambahkan.


" Jangan lupa.. Semarah apapun daddy, dia tetap daddy kita Galen.. Pasti ada celah yang sengaja dia buat meski celah itu sangat kecil sekali.." Gaffi ikut menambahkan.


Galen memikirkan ucapan dari ketiga kembarannya ini. Ada benarnya, jika semua pertanyaan pasti memiliki Jawaban, begitu juga dengan teka teki. Hanya perlu mengukur sepandai apa diri kita untuk bisa mencari jawaban di tengah banyaknya jawaban yang ada.


Malam ini, Galen akan melihat lagi semua laporan yang sudah disampaikan orang-orang nya yang selama dua minggu ini melakukan pencarian. Galen yakin, pasti ada beberapa kejanggalan yang sebelumnya dia lewatkan begitu saja karena fokusnya hanya pada ada dan tidaknya Lucena di tempat itu.


Galen merasa kepandaiannya dan juga kejeliaannya menurun drastis akhir-akhir ini. Dia yang biasanya pandai memikirkan rencana dalam hal apapun, mendadak jadi bodoh kerena ditinggal pergi oleh istri dan kedua anaknya. Kini, Galen akan menjadi dirinya yang dulu, yang cermat, yang teliti, dan jenius dalam segala hal.


" Ini baru Galen yang kami kenal.. Berjuang lah, kami bantu kau sampai Lucena ketemu.. " Gaffi menepuk pundak Galen pelan. Memberi semangat pada saudaranya agar bisa melewati badai dalam rumah tangganya kali ini.


Setelah ketiga saudara kembarnya kembali, Galen lekas masuk ke ruang pribadinya untuk memeriksa hasil laporan dari orang-orang yang selama dua minggu ini dia kerahkan untuk mencari keberadaan istri dan anak-anaknya. Galen melakukan seperti apa yang saudaranya katakan tadi. Galen yakin, dia pasti bisa untuk mencari celah dari semua petunjuk semu yang dia peroleh.


Begitu duduk di meja kerjanya, Galen membuka email dari orang-orangnya. Dari hari pertama pencarian dilakukan, hingga hari ini. Email yang baru saja dia dapatkan, juga mengatakan jika Lucena tidak ada di London. Berarti kedatangan orang tuanya ke kota itu hanyalah petunjuk palsu saja.


Galen melacak setiap panggilan yang keluar dan masuk dari ponsel daddy nya. Tapi tidak ada nomor luar negeri yang dia hubungi atau menghubunginya. Jelas pasti daddy Joaquin tidak menggunakan ponsel miliknya untuk menghubungi Lucena.


" Apakah mereka berkomunikasi dengan email? " Gumam Galen.


" Tunggu.. Rasanya ada yang aneh disini.. " Galen melihat riwayat panggilan telepon dari daddy Joaquin dan dia mendapatkan satu nomor yang selalu menghubungi daddy nya. Disini jelas pasti ada sesuatu dengan nomor ini.


" Ketos.. Bisa kau ke tempat ku? Dan tolong selidiki nomor yang aku kirimkan pada mu.. Aku ingin tahu siapa dia.. " Pinta Galen yang menghubungi Ketos melalui panggilan telepon ponselnya.


" Baik tuan.. Lima belas menit saya akan sampai.. " Sahut Ketos dari seberang sana.


Galen pergi ke bawah untuk menemui manager club miliknya ini. Ada sesuatu yang dia inginkan untuk diambilkan managernya. Setahunya, Galen pernah menyimpan benda yang dia butuhkan saat ini.


" Sebentar tuan.. Saya akan carikan di gudang.. " Ucap manager.


" Aku tunggu di ruangan ku.. " Ucap Galen kemudian kembali ke ruangannya.


Tak lama setelah Galen kembali ke ruangannya, manager club miliknya datang membawakan apa yang dia inginkan. Galen membentangkan benda yang dibawa oleh managernya. Dia melihat ada beberapa tanda bergambar Dewa Ares yang menunjukan jika dia memiliki cabang Heaven Ares di negera-negara yang ada di peta ini.


Ya, Galen meminta manager untuk mengambil peta besar benua Eropa yang dulu pernah dia gunakan untuk mencatat kemajuan berkembangnya pembangunan Heaven Ares di Eropa. Galen juga meminta pada managernya untuk menghubungi semua orang kepercayaan yang Galen tempatkan di masing-masing cabang club miliknya untuk membantunya.


" Katakan pada mereka untuk melaporkan pada ku jika pernah bertemu dengan kedua orang tua ku, mertua ku, juga istri ku di tempat mereka.. Kau paham kan? " Perintah Galen.


" Baik tuan.. Apa ada lagi yang bisa saya bantu? " Tanya manager club Galen.


" Sementara itu saja.. Laporkan berkala semua laporan dari cabang kita mengenai apa yang aku perintahkan ini. " Manager club pun pamit setelah menyanggupi permintaan dari Galen.


" Jika daddy menutup semua akses ku.. Maka akan aku ciptakan akses ku sendiri untuk menemukan mu, Luce.. "


" Aku Galen de Niels, jangan meremehkan kemampuan ku.. " Ucap Galen penuh percaya diri.


Kepercayaan dirinya yang sempat turun drastis sejak ditinggal pergi istrinya, malam ini tiba-tiba meningkat kembali. Semua ini berkat dukungan dari saudara-saudaranya, yang tetap berada di pihaknya meski dia disini yang bersalah.


Galen bukan orang yang bisa diremehkan begitu saja. Kejeniusannya, kejeliaannya dalam melihat peluang dalam bisnis, kegigihannya, menjadikan dia sebagai CEO JN GROUP di usia yang masih muda ini.


Kemampuan yang Galen terus asah sejak dirinya masih muda, akan membawanya pada keberadaan dari sang istri yang amat sangat dia rindukan. Galen berjanji, dia tidak akan menyerah sampai menemukan keberadaan dari istri dan kedua anaknya.