
Lucena menghela nafas terlebih dahulu sebelum masuk ke sebuah ruangan yang dia sudah yakin pasti jika suaminya tengah merajuk di dalam sana. Dan benar saja, saat Lucena membuka pintu ruangan itu, terlihat Galen tengah duduk menghadap ke arah jendela, sambil melihat pemandangan hutan pinus yang begitu asri di depannya.
Lucena pun masuk dan memilih berjongkok di depan Galen, memegang tangan suaminya yang tengah merajuk itu. Tidak disangka, Galen justru memalingkan wajahnya dan memutar tubuhnya hingga kini membelakangi Lucena.
Meski mendapat penolakan, Lucena tetap tersenyum dan kembali mengambil tempat tepat di depan Galen, sama seperti tadi. Bahkan kini, senyum Lucena jauh lebih lebar dibandingkan yang tadi. Merayu Galen yang sedang merajuk memang sangat sulit. Hal ini karena Galen sendiri tipe orang yang sangat jarang bahkan hampir tidak pernah merajuk. Dan sekali merajuk, pasti akan sulit untuk membuatnya kembali seperti biasa.
Lucena membutuhkan kesabaran yang ekstra jika sudah menghadapi Galen yang dalam mode menyebalkan seperti ini. Sudah tidak mau bicara, Galen juga akan terus menghindar. Lihat saja sekarang, Galen sudah bersiap untuk berdiri dan meninggalkan Lucena di dalam ruangan itu. Akan tetapi, dengan sigap Lucena langsung memeluk Galen untuk menghalangi suaminya itu keluar dari ruangan ini.
" Aku tahu kamu marah.. Aku tahu dan paham betul perasaan mu sekarang, bahkan aku tahu jika saat ini tangan mu gatal untuk menghajar mereka bertiga.. Tapi.. " Lucena menghentikan ucapannya saat tiba-tiba saja Galen melepaskan tangan Lucena yang memeluknya.
" Len.. Please dengarkan aku ya.. Please aku mohon.. " Lucena mengiba di depan Galen.
Galen pun mengurungkan niatnya untuk keluar. Rasanya, kasian juga jika melihat istrinya sampai mengiba seperti itu demi bisa menjelaskan situasi yang terjadi tadi. Akan tetapi, Galen masih dalam suasana hati yang sedang tidak baik-baik saja dan itu membuatnya enggan mendengarkan apapun yang keluar dari mulut istrinya.
" Aku tidak ingin memperburuk keadaan dengan membalas mereka. Aku tidak ingin jika masalah di generasi kita nantinya akan menjadi bom waktu di generasi berikutnya.. Coba kau lihat daddy.. Kau tahu apa yang dialami daddy apalagi masalah ini baru terjadi. Ingat yang dialami Geya? " Galen masih saja diam.
" Aku tahu kau marah karena apa yang seharusnya menjadi yang pertama untuk mu, tapi justru diambil mereka.. Aku memang wanita tidak sempurna, Len.. Lalu.. Apa kau akan melepaskan diri ku? " Tanya Lucena yang terlihat sangat putus asa.
" Kenapa aku harus melepaskan mu? " Tanya Galen. Aura di sekitarnya berubah menjadi sangat dingin karena tiba-tiba saja Galen bersikap seperti itu.
" Apa dengan kau membalas mereka semua yang sudah mereka renggut akan kembali? " Lucena balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Galen.
" Aku tanya.. Kenapa aku harus melepaskan diri mu? " Tanya Galen sekali lagi. Tapi kali ini, nada bicaranya lebih tinggi dari sebelumnya.
" Karena kau ingin membalas mereka hanya karena kau tidak memperoleh malam pertama dari ku.. Iya kan? Aku sadar aku hanya wanita hina yang menjadi korban pelecehan dari orang lain, lalu apa yang akan kau lakukan? APA? " Lucena berbicara tidak kalah tinggi nada suaranya.
Galen menghela nafas kasar, merasa jika diteruskan hanya akan semakin memperkeruh keadaan di antara mereka berdua. Galen dalam kondisi hati yang panas dan Lucena tidak bisa mendinginkan hati Galen. Akhirnya, mesti sampai malam tiba nanti, keduanya tidak akan bisa berbicara dengan kepala dingin.
Tanpa pamit pada siapapun, Lucena meninggalkan mansion lama keluarga de Niels dengan mengendarai mobilnya sendiri. Lucena berkendara dengan emosi yang sangat labil. Dan itu membahayakan dirinya dan juga pengendara lain di jalan.
Hari kini sudah semakin larut. Galen yang sudah berhasil mendinginkan hati dan pikirannya berkeliling di mansion lama ini untuk mencari sang istri. Namun, sampai Galen kembali ke titik awal pun, dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Lucena.
Takut terjadi sesuatu pada Lucena, Galen pun lekas menuju ke ruang CCTV untuk memastikan keberadaan sang istri di mansion ini. Ketika sudah sampai di ruang CCTV, Galen justru mendapati jika sang istri sudah keluar mansion sejak sore tadi. Kini, Galen dibuat panik dengan kepergian sang istri yang dalam kondisi hati dan pikiran yang panas.
" Ketos.. Lacak ponsel milik Lucena!! " Titah Galen di telepon. Tanpa mendengar ucapan dari asistennya, Galen pun mengakhiri panggilan telepon nya dan lekas menuju ke garasi untuk mengeluarkan mobil miliknya dan pergi mencari Lucena.
" Ck.. Sial.. Kenapa harus meninggalkan mansion? "Galen berkendara dengan kecepatan yang tidak biasa dengan mulutnya yang tidak berhenti mengumpat karena kepergian sang istri.
Mobil Galen akhirnya sudah keluar dari wilayah hutan milik keluarga de Niels. Dia pun segera menuju ke kota, yang mana bisa mencapai waktu satu jam lebih untuk bisa sampai ke kota. Galen masih belum mengurangi kecepatan mobilnya, apalagi didukung dengan kondisi jalanan yang sudah sepi karena hari sudah cukup larut malam.
Pikiran Galen kacau, dia takut jika Lucena mengalami musibah atau berbuat nekat seperti yang sudah-sudah. Galen sungguh akan menyalahkan dirinya sendiri jika hal buruk terjadi pada Lucena. Pertengkaran mereka tadi siang, memang Galen akui dia keterlaluan.
" Dimana kamu, Luce? Please.. Jangan berbuat hal buruk.. " Gumam Galen penuh harap.
" Kenapa ketos lama sekali tidak segera menghubungi ku.. Melacak ponsel saja kenapa lama sekali.. " Galen memukuli setir mobilnya saking kesalnya.
Pria yang terkenal dengan sikap tenang dan pandai menguasai situasi, kini terlihat sangat gelisah dan tidak beraturan. Galen kehilangan kendali atas dirinya, dan itu semua karena istrinya yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar.
Hingga pada akhirnya mobil Galen sampai di kota, dirinya masih belum mendapatkan kabar dari Ketos mengenai keberadaan sang istri. Galen mengutuk dalam hati semua nama binatang karena lambannya asisten pribadinya dalam bertindak.
" Berpikir Galen.. Ayo berpikir.. Kira-kira dimana Lucena sekarang.. Berpikir.. Ayo berpikir... " Galen terus mencoba menebak dimana kiranya sang istri berada.