
" Apa suami saya baik-baik saja tuan? Bagaimana kondisinya? " Tanya Lucena tidak sabaran.
" Maaf.. Suami anda..? " Perwakilan dari maskapai penerbangan ini dibuat bingung dengan siapa yang dimaksud oleh Lucena.
" Galen.. Galen Avanoisk de Niels, nama suami saya. " Lucena segera menyebutkan nama suaminya. Karena dirinya paham jika petugas ini bingung dengan siapa yang dia maksud.
" Mohon maaf.. Tapi disini saya juga tidak paham dengan nama dari masing-masing penumpang.. Alangkah baiknya, jika kita semua masuk dan anda bisa melihat satu persatu.. " Ujar Mr. Brandon yang merupakan perwakilan dari pihak maskapai.
" Oh.. Maafkan saya.. " Mr. Brandon tersenyum. Dirinya paham jika saat ini pasti keluarga pasien dalam kondisi panik atas apa yang terjadi pada keluarga mereka.
Tidak ingin membuat anggota keluarga korban dari hilangnya pesawat, yang ditemukan telah mendarat di tempat ini, maka Mr. Brandon pun membawa anggota keluarga ini masuk ke dalam sebuah gedung yang disulap dadakan menjadi tempat perawatan pasien.
Tempat yang dijadikan sebagai rumah sakit dadakan ini rencananya semua pasien nya akan dibawa ke rumah sakit terdekat esok hari. Sejak dinyatakan menghilang, dan ditemukan mendarat di wilayah Vaalserberg ini, semua korban merawat diri mereka dengan pengobatan seadanya.
Keesokan harinya setelah mendarat darurat, para warga sekitar mendatangi tempat ini dan membantu korban-korban dari kejadian ini. Bila ditemukan korban dengan kondisi fatal yang tidak bisa dirawat ditempat, maka akan dikirim ke rumah sakit terdekat. Hanya saja, terbatas bagi pasien yang datang karena kapasitas rumah sakit yang tidak besar.
Keluarga de Niels diajak berkeliling untuk melihat-lihat korban kejadian ini, namun sampai semua sudah dilihat, mereka tidak menemukab keberadaan Galen dan Ketos. Mr. Brandon pun menghubungi rekannya yang mencatat korban yang dilarikan ke rumah sakit dan ternyata kedua nama itu ada di daftar yang dilarikan di rumah sakit.
" Maaf tuan.. Saya juga baru datang pagi ini sehingga belum mendapatkan detail semua kejadian di tempat ini.. Tapi menurut rekan saya, korban dengan kedua nama yang anda sebutkan tadi, telah dilarikan ke rumah sakit karena kondisi kritis. " Ujar Mr. Brandon menginformasikan.
" Rumah sakit mana, Mr. Brandon? " Tanya daddy Joaquin yang sudah tidak karuan bagaimana perasaannya saat ini.
" Ah.. Naik saja mobil yang ada di sana itu, tuan.. Nanti kalian akan dibawa menuju ke rumah sakit dengan mobil itu.. " Mr. Brandon menunjuk sebuah mobil yang berwarna putih, bertuliskan nama sebuah rumah sakit di daerah itu.
" Kalian panggil saja taksi, biar Tom, mommy, dan Lucena yang ikut dengan daddy.. Pastikan kalian berasa di rumah sakit yang benar.. "Ujar daddy Joaquin memberikan instruksi.
Setelah berpamitan pada Mr. Brandon, keluarga de Niels pun bertolak ke rumah sakit yang dimaksud. Sisa dari yang ikut mobil yang disediakan oleh pihak maskapai, memilih memesan taksi untuk menuju ke rumah sakit dimana Galen dan Ketos berada.
Jaraknya rumah sakit dengan tempat dimana pesawat mendarat darurat, tidak terlalu jauh. Tiga puluh menit, mereka sampai di sebuah rumah sakit swasta di sana. Bergegas saja mereka semua turun dan pergi ke bagian informasi untuk menanyakan kamar dari Galen dan Ketos.
Keluarga de Niels pun diberikan informasi tepatnya dimana keberadaan anggota keluarga mereka. Saat melewati lorong rumah sakit menuju ke tempat yang bagian informasi tadi maksud, tanpa sengaja mereka melihat Ketos yang jalan di temani oleh dua orang suster.
Ketos memakai alat bantu jalan, karena kaki kirinya diberi gips. Mungkin saja Ketos mengalami patah tulang atau retak karena benturan saat pesawat landing. Segera saja, anggota keluarga de Niels berlarian menuju ke arah Ketos berada.
" Ketos.. " Panggil Gafar. Yang dipanggil langsung menengok dan terkejut melihat anggota keluarga de Niels di tempat ini.
" Tuan besar.. Dan semuanya.. " Ketos pun tersenyum senang melihat anggota keluarga dari tuan mudanya sudah berada di tempat ini.
" Ketos.. Bagaimana kondisi mu? Dimana Galen?" Ketos termenung saat mendengar pertanyaan tentang tuan mudanya.
Banyak pertanyaan yang ada dibenak semua anggota keluarga de Niels yang ada di sini. Hanya saja, melihat bagaimana raut wajah Ketos tadi, semuanya kompak tutup mulut. Meski begitu, mereka semua bisa mencium adanya sesuatu hal yang tidak baik-baik saja terjadi.
Semuanya hanya bisa berdoa, jika apapun yang terjadi saat ini pada Galen, tidak akan membuat mereka kehilangan Galen. Menurut mereka semua anggota keluarga de Niels, jika Galen jatuh sakit karena peristiwa ini, tentu saja masih bisa disembuhkan. Lalu, jika yang terjadi sesuai dengan apa yang mereka takutkan, maka mereka tidak akan pernah bisa bersama dengan Galen lagi.
" Tuan dan nyonya.. Kita sudah sampai.. Tuan muda ada di dalam ruangan ini." ucapan Ketos mengejutkan semua anggota keluarga Galen yang tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
" Ini.." semua mata melihat ke bagian atas pintu yang bertuliskan ruang ICU.
" Kenapa Galen ada disini?" tanya daddy Joaquin mewakili semua anggota keluarganya.
Akan tetapi, belum sempat Ketos berucap menjawab pertanyaan dari daddy Joaquin. Pintu ruang ICU terbuka dari dalam dan keluarlah seorang dokter pria yang usianya mungkin sudah di atas empat puluhan.
Dokter pria ini tersenyum melihat ada beberapa orang yang cukup banyak menurutnya, berdiri di depan ruang ICU yang mana di dalamnya ada pasiennya yang dokter ini ketahui memiliki identitas yang tidak biasa, Kebetulan saja, dokter ini pernah melihat wajah Galen di televisi.
" Keluarga pasien? Perkenalkan nama saya Dokter Abraham Smith.. Saya adalah dokter yang menangani pasien di dalam." ucap dokter Abraham memperkenalkan dirinya.
" Saya Joaquin de Niels, daddy dari Galen. Kami semua anggota keluarga Galen.." daddy Joaquin menerima uluran tangan dokter Abraham dan keduanya pun bersalaman.
" Maafkan saya dok, tapi apakah kami semua boleh tahu kondisi putra kami di dalam sana?" daddy Joaquin langsung bertanya.
" Tentu saja tuan de NIels. Hanya saja, saya minta perwakilan dari keluarga untuk ikut saya ke ruangan saya. Ada beberapa hal penting yang harus saya sampaikan." pinta dokter Abraham.
Sesuai dengan permintaan dari dokter yang menangani Galen, daddy Joaquin, mommy Noura dan Lucena pergi untuk mendengarkan penjelasan dari dokter mengenai kondisi Galen terkini.Mereka bertiga masuk ke ruangan dokter Abraham dan dipersilahkan duduk di kursi yang ada di depan kursi kerja dokter Abraham.
Terlihat dokter Abraham mengambil sebuah map coklat yang bertuliskan laboratorium rumah sakit ini. Pastinya, berkas yang ada di dalam map itu adalah milik Galen. Daddy Joaquin bersama istri dan menantunya menjadi berdebar saat akan mendengarkan kondisi Galen dari dokter Abraham.
" Dari hasil pemeriksaan kami pada pasien Galen, kami mendapati jika sebelumnya pasien pernah mengalami Pneumothoraks dan pernah di operasi sebanyak dua kali." serempak ketiga anggota keluarga de Niels mengangguk.
" Baik.. saat kami melakukan pertolongan pada pasien yang mengalami benturan keras di bagian dadanya saat pesawat landing darurat. Pasien kembali mengalami hal serupa. Bahkan saat tindakan operasi diambil, pasien sempat mengalami henti jantung selama beberapa waktu." semuanya tercengang mendengar ucapan dokter.
" Beruntung pasien masih memiliki keinginan hidup yang besar hingga semua berjalan lancar. Tapi meski operasi berjalan lancar, dari riwayat pasien kami menjadi harus ekstra memantau kondisi pasien. Karena itu pasien masih berada di ICU untuk waktu yang tidak bisa ditentukan." terang dokter Abraham mengenai kondisi Galen.
" Lalu bagaimana putra kami kedepannya dok? Apakah Galen akan memerlukan waktu lama untuk bangun?" tanya daddy Joaquin.
" Untuk hal itu, saya tidak bisa memastikan. Nyawa pasien belum benar-benar dibatas aman Sewaktu-waktu, hal buruk bisa terjadi.. Yang ingin saya pesankan disini, agar anggota keluarga bisa mempersiapkan situasi terburuk nanti."
Lucena langsung menangis dalam pelukan mommy Noura. Tidak menyangka jika kini suaminya tengah bertarung melawan takdirnya. Sewaktu-waktu, Galen bisa saja meninggalkannya untuk selamanya. Lalu apa yang harus Lucena lakukan sekarang. Dia tidak ingin kehilangan Galen, dirinya tidak sanggup hidup sendiri tanpa Galen.