
" Eeuugghhh... " Terdengar lenguhan dari ranjang tempat Galen berbaring. Gaffi yang kebetulan berada di ruangan itu untuk mengecek Galen, lekas mendekat ke ranjang. Gaffi mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan ICU.
" Akhirnya kau sadar.. Bagaimana perasaan mu? Apa ada yang sakit? Sebentar, aku panggil dokter mu dulu.. " Gaffi saking senangnya melihat akhirnya saudara sadar, langsung memberondong pertanyaan.
" Perasaan ku baik.. Tapi di dada ini, masih sakit.. " Ucap Galen sambil telapak tangannya menyentuh bagian dada yang merupakan bekas operasi kemarin.
" Nggak apa.. Biusnya hilang jadi kamu mulai bisa merasakan sakitnya.. Tunggu dokter mu datang ya.. " Galen mengangguk kecil karena masih sangat lemah.
" Gaf, Luce mana? " Tanya Galen ketika mengingat jika sejak beberapa hari sebelum Galen operasi, sudah berada di rumah sakit ini untuk selalu menemaninya.
" Pulang.. Kata mommy dia masuk angin jadi mommy suruh aja dia untuk malam ini tetap di mansion.. Itu di luar sudah ada mommy sama Ghadi juga buat jenguk dan jagain kamu.. " Galen menghela nafas panjang lantaran sudah menduga jika akhirnya Lucena akan sakit. Sudah makan kurang teratur belum lagi susah tidur, pasti tubuhnya akan mengalami drop.
Galen memejamkan mata sejenak, mencoba menetralisir perih dan sakit yang dirasanya di bagian dada. Mungkin, benar apa kata Gaffi, karena obat biusnya sudah hilang efeknya jadilah Galen mulai bisa merasakan sakit. Dan jujur dia tidak nyaman dengan keadaannya saat ini.
" Aku.. Nggak sadar berapa hari? " Tanya Galen ketika saat membuka matanya, masih melihat Gaffi di ruang ICU ini.
" Sehari penuh, sekarang jam sembilan malam.. " Jawab Gaffi setelah melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dokter yang menangani penyakit Galen pun datang bersama beberapa dokter lain dan beberapa suster. Jika sudah menyangkut keluarga pemilik perusahaan, semua dokter yang turut campur dalam pengobatan akan memberikan ulasan mengenai pengobatan pasien dan perkembangan pasien.
" Semuanya baik.. Sekarang, tuan muda bisa dipindahkan ke ruang inap.. " Ucap dokter yang menangani Galen selama dia sakit.
" Terima kasih dok.. " Ucap Gaffi mewakili semua anggota keluarga atas kerja keras dokter ini dalam merawat Galen.
" Sama-sama dokter Gaffi, lagipula anda pasti tahu jika menyembuhkan pasien adalah tugas kita para dokter.. " Gaffi mengangguk karena memang seperti itulah sumpah seorang dokter.
" Kalau begitu kami permisi, kami akan meminta suster untuk membantu kepindahan tuan muda ke ruang inap.. Dan, saya berharap anda lekas sembuh tuan muda.. Melihat anda seperti ini, jujur saja, saya dan para dokter disini sungguh tidak terbiasa melihatnya.. " Ucap dokter tulus.
" Tentu dok.. Saya juga sudah tidak sabar untuk bisa menikmati hidup seperti biasanya.. " Dokter pun mengangguk, kemudian langsung meninggalkan ruang ICU.
Disinilah Galen sekarang, berada di ruang rawat inap nya yang digunakan sebelum operasi kemarin, bersama dengan mommy Noura dan Ghadi. Untuk Gaffi sendiri sudah pulang ke mansion begitu Galen pindah ke ruang inap biasa. Dia, sejak tugas pagi tadi belum pulang lantaran khawatir pada Galen. Setelah memastikan Galen baik-baik saja, Gaffi pun pulang ke mansion.
Ghadi beberapa kali melihat kearah Galen yang wajahnya masih sangat pucat. Tubuhnya juga lebih kurus padahal sebelumnya meski tinggi Galen memiliki berat badan ideal. Ghadi mereka iba pada saudaranya ini. Bagi Ghadi, siapa saja boleh sakit asal jangan Galen dan Geya. Dua orang ini adalah jantung keluarga mereka.
Namun nyatanya, Tuhan berkehendak jika kedua orang ini akhirnya jatuh sakit. Sungguh, bagi Ghadi ini adalah cobaan terberat bagi keluarganya. Kalau boleh, biarkan saja dirinya atau Gafar atau Gaffi yang sakit, jangan kedua orang ini.
" Ingin sesuatu? " Ghadi menawarkan.
" Aku baik-baik saja.. Semuanya akan lekas membaik. " Ghadi pun mengangguk.
" Istirahatlah lagi.. Ini masih malam.. " Galen langsung mengikuti apa yang Ghadi katakan. Dia kembali memejamkan matanya karena meski baru saja sadar pasca operasi, tapi Galen mengantuk lagi karena baru saja mendapatkan suntikan obat.
Ghadi masih terjaga padahal sudah larut malam. Dia menjaga Galen dan mommy Noura yang tidak ingin pulang karena ingin menemani Galen dan Ghadi di rumah sakit. Sambil menjaga kedua orang yang sangat berharga baginya ini, Ghadi memilih melihat laporan keuangan restoran dan cafe miliknya.
Jika Galen memiliki penghasilan lain selain perusahaan JN GROUP berupa bar dan club, lain Ghadi yang membuka restoran dan cafe. Hobby nya adalah makan sejak kecil, sehingga dia bercita-cita ingin memiliki tempat makan yang bisa didatangi oleh semua lapisan masyarkat. Selama lima tahun hidup di luar sebagai dirinya sendiri tanpa membawa nama keluarganya, Ghadi mewujudkan mimpinya dengan memulai usaha restoran dan cafenya.
Sekarang, retro dan cafe milik Ghadi sudah tersebar di beberapa negara yang ada di Eropa, an niatnya akan merambah ke Amerika. Beruntung keluarga semua mendukung dirinya dan mau berinvestasi di setiap usaha Ghadi.
" Ghadi.." panggil Galen yang tiba-tiba terbangun di tengah malam.
" Apa? Butuh minum?" Ghadi lekas mendekat ke rajang Galen sambil membawa botol berisikan air minum.
Ghadi membantu Galen minum dengan menggunakan sedotan. Karena bagian dadanya yang sakit, membuat Galen kesulitan untuk bangun. Jadilah Ghadi membantu Galen minum.
" ingin sesuatu yang lain?" Galen menggeleng.
" Istirahat lagi saja.. Malam ini aku dan mommy menginap di rumah sakit. Besok istri mu dan mertua mu akan kesini." ucap Ghadi memberi tahu agar Galen tidak khawatir sendirian di sini.
" Ehm,,, Terima kasih.. Maafkan aku jadi merepotkan kalian semua." ucap Galen merasa tidak enak. Dia paham betul semua saudaranya adalah orang yang sangat sibuk, karena dirinya sendiri pun juga termasuk orang yang sibuk.
" Coba kau mengatakan hal semacam ini di depan Gafar, sudah pasti dia akan meneriaki mu.." Galen terkekeh pelan.
" Kita saudara Galen, jadi jangan sungkan dengan kami.. Tidak akan kami menolak saat kau membutuhkan bantuan kami.." Ghadi tersenyum.
Ghadi kembali membantu Galen untuk beristirahat. Orang sakit ya harus beristirahat baru nanti setelah sehat bisa melakukan semua yang diinginkan. Ghadi berjaga di kamar ini bertujuan memastikan Galen untuk istirahat agar lekas sembuh dan kembali bisa beraktifitas. Pasalnya si Gafar yang menggantikan Galen memimpin JN GROUP yang merupakan perusahaan inti, sudah setiap detik mengeluh.
Setelah memastikan Galen kembali beristirahat, Ghadi kembali ke sofa tempat dimana dirinya sejak tadi mengurusi kerjaannya. Namun sedikit ada yang aneh saat Ghadi melihat laptopnya. Ada email dari asistennya yang setahu Ghadi, asistennya ini cuti lantaran istrinya melahirkan.
" Apa ini?" gumam Ghadi ketika membuka email yang dikirimkan oleh asistennya.
" Dia sudah gila atau tidur mengigau ya, kenapa mengirim email tidak jelas begini?" Ghadi mengutik sebentar ponselnya untuk menghubungi asistennya. Namun, belum juga dia menelepon asistennya untuk bertanya apa maksud email tadi, ponselnya sudah lebih dulu berdering dan ini telepon dari daddynya.
" Kok daddy jam segini belum tidur?" perasaan Ghadi langsung tidak enak.