
Duduk di balkon, menatap langit pagi yang sangat cerah pagi ini, seperti sedang mengejek siapa saja yang tengah berduka hari ini. Lucena selalu melakukan hal seperti ini setiap pagi. Melamun memandang langit, sambil memikirkan nasib yang menimpa dirinya.
Menurut Lucena, hidupnya ini sangat lucu. Bagaimana tidak lucu, ketika pada akhirnya dia bisa miliki hubungan dengan pria yang selama ini selalu menjadi angannya, namun takdir seolah telah mengejeknya. Sampai seperti pagi yang cerah ini, takdir pun seolah mengejek Lucena. Salah apa dirinya sehingga dia berada di posisi yang mana sangat tidak menyenangkan.
Lihat, sekarang dia bahkan sangat malu bertemu dengan suaminya. Memilih kembali ke rumah orang tua, dengan alasan ingin menyembuhkan luka di hati. Namun semua itu hanya alasan untuk menutupi rasa malunya di depan suami dan keluarga besar. Mengaku sebagai wanita sempurna yang pantas mendampingi seorang Galen de Niels, nyatanya dia hanya wanita yang tidak sempurna karena di dalam dirinya sudah kehilangan harta berharga yang seharusnya dia berikan pada suaminya.
Lucena tersenyum getir, mengingat apa yang dulu sekali pernah diucapkan sepupunya yang juga sama-sama menyukai Galen seperti dirinya. Ucapan yang sekarang terasa seperti kutukan bagi Lucena, karena telah menjadi kenyataan.
" Cih.. Dengar ya, Luce.. Melihat orang seperti mu begini, mengatakan dengan lantang bahwa kau pantas untuk Galen.. Apakah kau tidak berkaca sendiri bagaimana diri mu? Ayolah.. Gadis seperti mu yang manja dan tidak bisa menjaga diri, bisa apa jika sudah berada di samping Galen.. "
Lucena memang manja, karena kesalahan yang pernah papa Daniel lakukan dulu, membuat dia memanjakan putrinya berlebihan. Hasilnya, Lucena terbiasa apa-apa, ada orang tua yang selalu menjadi sandaran nya. Dan menurut Roseline, mental Lucena yang seperti itu tidak bisa disandingkan dengan Galen yang adalah penerus keluarga de Niels.
Satu prasangka tiba-tiba merasuki diri Lucena, " Apa semua ini karena rekan bisnis Galen? " , Lucena merenung dan mencoba mengingat apakah dia ada bertemu dengan rekan bisnis Galen atau teman Galen. Dan setelah diingat ternyata, tidak ada.
Lucena kembali menghela nafas, entah sudah berapa kali sejak dia duduk di balkon, apalagi tadi dia duduk disini saat fajar belum muncul. Tanpa Lucena sadari, sejak beberapa menit yang lalu, dari pintu kamar miliknya, seseorang terus memperhatikan nya.
Mama Whitney, sejak lima menit yang lalu, berdiri di depan pintu kamar Lucena. Niat hati memanggilnya putrinya untuk sarapan bersama, tapi apa daya, dia justru melihat putrinya bersedih seperti itu. Rasanya, mama Whitney sangat bersalah karena telah membuat putrinya mengalami apa yang pernah dia alami dulu.
" Kenapa menangis di sini? Katanya mau panggil Luce untuk makan.. " mama Whitney terlonjak kaget mendengar suara suaminya tepat di belakangnya. Meski sudah ketahuan habis menangis, tapi mama Whitney berusaha menghapus air matanya dan terlihat baik-baik saja.
" Aku kasian, pa.. Lihat Lucena seperti kehilangan semangat hidupnya.. Apa perlu mama bicara sama Luce ya, pa? " mama Whitney meminta pendapat suaminya.
" Boleh.. Kamu ajak ngobrol dia dulu.. Tawarkan jika dia bosan, dia bisa kembali mengajar di universitas. Siapa tahu, berinteraksi dengan lingkungan yang sudah dia kenal, dia cepat bisa melupakan permasalahannya.. " saran papa Daniel.
" Papa bener juga.. Aku coba ajak Luce bicara ya.. Papa sarapan sendiri, tak apa? "
" Hm.. Nanti papa suruh pelayan antar sarapan kalian kemari.. Nanti papa sekalian ke kantor ya, putra mu kemarin ketinggalan di Milan.. "
" Putra papa juga kali.. Sifatnya kan sama persis sama papa.. "
" Cup.. Iya, dia mirip kita berdua.. " mama Whitney tersipu malu.
Tok.. Tok..
" Boleh mama masih Luce? " sapa mama Whitney berpura-pura baru datang.
Lucena berusaha untuk menghapus sisa air matanya agar sang mama tidak curiga. Lucena tidak mau, jika kedua orang tuanya menyalahkan diri mereka atas apa yang menimpa dirinya. Tidak ingin menambahkan beban, pada orang tuanya.
Keduanya masih sama-sama diam setelah duduk bersebelahan di balkon. Baik Lucena maupun mama Whitney belum sama sekali berucap. Mama Whitney sedang mencari saat yang tepat untuk mengajak Lucena bicara, karena saat ini pembicaraan ini memang sangat penting karena menyangkut perasaan Lucena.
" Luce.. Boleh mama tanya sesuatu? " tanya mama Whitney.
" Boleh ma.. Kenapa musti izin dulu sih, biasanya juga nanya langsung nanya? " Lucena terkekeh.
" Karena ini penting, mama nggak enak kalau ternyata kamu belum bisa membicarakan masalah ini dulu.. " ucap mama Whitney jujur.
" Mau tanya apa ma? Selama Luce bisa jawab, juga pasti Luce jawab kok.. " Lucena tersenyum. meski hanya sebentar karena setelah mendengar ucapan mamanya, dia langsung menyurutkan senyumnya.
Mama Whitney menatap sejenak sangat putri, putri kecilnya yang saat masih kecil hidup hanya bersamanya dan neneknya saja. Tanpa ayah, karena saat itu papa Daniel tidak tahu keberadaan Lucena. Karena itulah, baik mama maupun papanya, sama-sama memanjakan Lucena karena rasa bersalah mereka yang membuat Lucena kecil, besar dan tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap.
Sekarang putri mereka sudah dewasa, hanya saja kini putri yang selalu mereka manjakan, telah mengalami ujian terberat dari hidupnya. Berjalan di kegelapan, tanpa adanya cahaya sama sekali. Dan tidak ada yang bisa membantu nya.
" Apa kamu membenci Galen, setelah semua ini terjadi? " tanya mama Whitney.
Lucena tersenyum dengan tulus, kemudian menggeleng, " Luce, tidak membenci atau menyalahkan Galen ma.. Ini semua murni kesalahan Luce.. Karena kecerobohan Luce, semuanya menjadi hancur berantakan. "
" Bukan salah ku, nak. Ini takdir yang harus kamu lalui karena Tuhan sedang menguji kedewasaan mu.. Berserah pada Tuhan, yakin bahwa setiap kesulitan dalam hidup akan mendapatkan jalan keluar terbaik dari Tuhan.. " Lucena mengangguk, meski memang terasa sangat berat.
" Mau dengar saran mama, bagaimana cara menerima dan mensyukuri apa yang ada? "
" Apa ma? " alis Lucena berkerut karena bingung maksud dari sang mama.
" Luce boleh kok kembali mengajar lagi. Papa bilang, lebih baik memperbanyak interaksi agar semua masalah mu bisa kamu jalani tanpa mengeluh. Mama sama papa nggak maksa, tapi kalau kamu mau mengajar lagi, kami memberi izin.. "
" Tentunya kamu harus menjaga diri, agar kejadian kemarin tidak terulang kembali.. Mama dan papa dukung yang terbaik untuk Lucena.. " Lucena langsung berhamburan kepelukan mama Whitnet. Menguap syukur karena dia memiliki keluarga yang tidak meninggalkannya ketika dia berada di posisi terburuk hidupnya.
Tak lama, pelayan mengantar kan sarapan untuk mama Whitney dan Lucena. Berdua, mereka sarapan sambil bercerita hal-hal yang lucu. Dengan begini, Lucena bisa mengenyampingkan permasalahannya terlebih dahulu dan berusaha menikmati momen ini.
Entah apa keputusannya nanti, apakah kembali mengajar atau tidak, maka sebagai orang tua, mama dan papanya akan mendukung segenap jiwa mereka. Selalu yang terbaik, yang terjadi pada putrinya mereka.