IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Pergi bersama cinta ku



Sejak Lucena meninggalkan dirinya sendiri di rooftop, Galen masih tetap berada di sana. Dirinya terlalu shock, dengan semua kejadian yang terjadi di hari ini. Belum genap satu hari, tapi kejutan demi kejutan, diterima Galen sejak pagi tadi hingga kini hari sudah beranjak siang.


Galen memikirkan berkali-kali ucapan yang dia sampaikan pada Lucena tadi, dan kini dia menyesal. Meski sisi Galen yang masih egois mengatakan jika Lucena berlebihan dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Tamara. Tapi sisi Galen yang lain, mengatakan jika Galen bersalah dalam hal ini. Selain ucapannya, perbuatan yang dia lakukan dengan Tamara pasti membuat Lucena terluka.


Huft...


Galen menghela nafas, sepertinya dia harus membuat keputusan yang pasti akan sulit diterima oleh siapapun. Tapi Galen disini punya prioritas, berharap Lucena memahami keputusannya. Bagaimana pun juga, nasih seluruh karyawan yang bekerja di JN GROUP, berada di tangan Galen. Dia, tidak bisa membuat keputusan berdasarkan masalah pribadinya. Bisnis, tetaplah bisnis.


Galen berjalan kembali ke ruangannya, berharap masih ada Tamara di sana. Dia perlu meluruskan beberapa hal dengan wanita ini, demi Lucena dan demi perusahaan. Semoga saja, keputusannya saat ini benar dan tidak merugikan siapapun.


" Tuan muda.. " Bridella menyapa Galen begitu melihat tuannya keluar dari lift.


" Tamara masih ada di ruangan ku? " Tanya Galen. Bridella terkejut, bagaimana mungkin tuan mudanya justru menanyakan keberadaan dari wanita pembawa petaka itu.


" Masih tuan... Nona Tamara mengatakan ingin berbicara hal penting dengan anda.. " Ujar Bridella menjawab pertanyaan Galen.


" Siapkan perjanjian yang baru antara JN GROUP dan perusahaan Tamara.. Aku tunggu di ruangan ku.. " Rahang Bridella terjatuh mendengar ucapan Galen.


Mata cantik dengan bola mata berwana coklat muda itu mengerjap beberapa kali saat telinganya mendengar perintah tuan mudanya yang melawan keputusan nyonya mudanya. Apakah saat mengejar nyonya mudanya, Galen telah berhasil meyakinkan Lucena, atau keduanya tetap dalam keputusan masing-masing yang artinya Galen melanggar ucapan Lucena.


Meski bingung dengan situasi yang terjadi saat ini, Bridella tetap menjalankan ucapan Galen. Dirinya disini bekerja pada Galen untuk mengurus masalah perusahaan, bukan masalah pribadi tuan mudanya. Biarlah jika nanti akan ada perang Dunia sekalipun antara tuan dan nyonya mudanya, yang jelas, Bridella tidak ikut campur di dalam masalah ini.


Kembali ke tempat dimana Galen berada saat ini. Dia tengah duduk di sofa berhadap-hadapan dengan Tamara. Galen sudah mengatakan ingin mengatakan sesuatu yang penting, dan keputusan yang dia buat ini sama sekali tidak memberatkan kedua belah pihak dan harus dipatuhi.


Awalnya Galen berpikir jika Tamara akan merajuk dan membatalkan kerja sama mereka seperti ucapan Lucena. Beruntung, Tamara bersikap dewasa dan memahami masalah antara Galen dan Lucena yang diluar konteks bisnis mereka. Galen bersyukur, semuanya masih bisa dia kendalikan.


" Aku harap kali ini kerja sama kita tidak melibatkan hubungan pribadi Tamara.. Artinya, aku tidak ingin terjadi kontak fisik diluar konteks kerja sama kita.. Aku tidak mau memiliki masalah dengan istri ku.. " Ucap Galen.


" Takut jika istri mu kembali marah? " Ledek Tamara.


" Aku menghormati dia sebagai istri ku.. Jelas aku harus memikirkan perasaannya juga dalam hal ini.. Jadi aku mohon, jika kau masih ingin kerja sama dengan JN GROUP, lakukan sesuai dengan kesepakatan kita. " Galen berucap tegas tidak terbantahkan.


" Oke.. " Jawab Tamara cuek. Dalam pikirannya yakin, jika semua ini hanya formalitas saja. Nanti, akan ada waktunya dia bisa dekat dengan Galen seperti sebelum dipergoki oleh istri Galen tadi.


Tamara yakin karena Galen sempat memberikan respon ketika dia mendekati Galen seperti yang terekam dalam CCTV ruangan Galen tadi. Bahkan ketika Tamara mencium Galen seperti yang Lucena lihat, setelahnya Galen tidak sama sekali menegur Tamara. Artinya, tinggal menunggu waktu lagi, Tamara akan bisa menguasai Galen.


" Tuan.. " Bridella masuk membawa berkas perjanjian baru antara Galen dan Tamara.


" Terima kasih.. Kembalilah ke meja kerja mu.. " Galen menerima berkas yang baru dibuat oleh Bridella.


Sebelum memberikan berkas itu pada Tamara dan mereka menandatangani perjanjian kerja sama ini. Galen terlebih dahulu membaca isinya agar tidak ada poin yang terlewatkan di dalam berkas ini.


Tengah seriusnya Galen membawa berkas yang ada di tangannya, beberapa kali ponselnya berbunyi, Galen tidak mendengarnya. Ponsel Galen berada di meja kerjanya dan dalam mode dering dengan suara yang tidak cukup keras, membuat Galen tidak menyadari jika ponselnya berbunyi.


" Hm.. Aku akan baca dengan cepat, aku yakin kau tidak akan membuat aku rugi.. " Kelakar Tamara yang berhasil membuat Galen tersenyum.


Semua lelaki sama saja, ketika mereka merasa jenuh dengan hubungan rumah tangga bersama istrinya, hanya perlu sedikit pepet saja, maka akan ada kesempatan orang ketiga masuk di dalamnya. Disini Tamara memanfaatkan hubungan Galen dan Lucena yang sudah cacar di awal pernikahan mereka, untuk membuat Galen meninggalkan istrinya dan akhirnya bisa bersamanya.


Tamara pandai memanipulasi keadaan, dengan begini, hanya perlu beberapa kali pertemuan dengan Galen, hasil dari perjuangannya akan segera terlihat. Tamara memiliki sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh Lucena, yaitu mega proyek yang sudah Galen perjuangkan sejak awal tahun ini.


Tok.. Tok.. Tok


" Masuk.. " Galen menyahut dari dalam, cukup heran kenapa ada yang mengetik pintunya padahal setahunya tidak ada yang urgent.


" Tuan muda.. " Bridella membungkuk memberi hormat pada atasannya.


" Ada apa Bri? Jika tidak ada hal penting, tolong jangan ganggu.." Tegur Galen mulai terlihat kesal.


" Maaf tuan.. Tapi anda mendapatkan telepon tuan besar.. Beliau mengubungi anda tapi tidak ada jawaban, jadi beliau menghubungi ponsel saya dan meminta saya menyambungkan dengan anda.. " Bridella sudah menelan ludah begitu Galen bertanya. Mood atasannya benar-benar hancur saat ini.


Sungguh siap bagi Bridella, kenapa bukan Ketos atau Billcan yang dihubungi oleh tuan besar mereka. Jika begini, Bridella harus siap menerima omelan dari tuan mudanya jika ternyata tidak terlalu penting telepon dari tuan besarnya. Tapi, tidak mungkin tidak penting kan, secara tuan besar sampai menghubunginya.


" Berikan pada ku.. " Galen mengulurkan tangannya secara tidak ikhlas. Kesal, hari ini ada saja yang mengganggunya.


" Ya dad... " Ujar Galen begitu ponsel Bridella berada tepat di samping telinga kanannya.


" APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN, GALEN AVANOISK DE NIELS? KENAPA ISTRI MU MEMBAWA KEDUA CUCU KU PERGI DARI MANSION..!!! " Bentak daddy Joaquin dengan suara menggelegar. Galen sampai menjauhkan ponselnya, saking kerasnya suara daddy nya meneriakinya.


" Apa maksud daddy? Bicara baik-baik, jangan berteriak seperti itu.." Ujar Galen menuntut penjelasan.


" Istri mu pulang ke mansion dalam keadaan menangis, lalu membereskan semua pakaiannya dan barang-barang si kembar. Tanpa menjelaskan apapun, istri mu pamit pergi dengan berlinang air mata.. Apa yang kau lakukan padanya, Galen? Jika semua ini karena kau, jangan salahkan aku berlaku jahat pada mu.. " Jantung Galen berdetak sangat cepat saat ini. Dia berusaha mencerna ucapan daddy nya tentang istrinya.


Galen menggigit bibirnya kuat lantaran bingung dengan informasi yang daddy nya katakan. Istrinya pulang dan pamit pergi membawa kedua buah hatinya, apa ini ada hubungan dengan ucapan Lucena tadi di rooftop.


Otak Galen blank, dirinya yang biasanya pintar mengambil keputusan dalam situasi apapun mendadak jadi bodoh. Otak Galen rasanya tidak mampu mengolah informasi yang diberikan oleh daddy Joaquin. Galen, merasa dirinya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


" GALEN.. KAU DENGAR AKU.. " ucapan daddy Joaquin membawa Galen pada dunia nyata.


" Daddy... Aku akan pulang sekarang, jadi tolong cegah Lucena keluar dari mansion.. " Galen lekas bangkit berdiri berniat untuk pulang.


" Terlambat.. Daddy menghubungi mu sejak setengah jam yang lalu, tapi kau tidak mengangkat panggilan ku.. " Ucap daddy Joaquin bagai petir yang menyambar langsung tubuh Galen.


Galen langsung terduduk di lantai tepat di depan pintu lift yang terbuka. Ingin nya dia cepat kembali ke mansion dan mengajak istrinya bicara. Nyatanya dirinya sudah terlambat sejak awal. Ingatan nya langsung membawa Galen ke beberapa menit yang lalu di rooftop. Tantang ucapan Lucena yang kini terus terngiang di telinganya.


" Baik.. Jika seperti itu, jika memang kerja keras mu lebih penting daripada perasaan ku. Maka aku akan melepaskan semuanya.. Silahkan berjuang dengan kolega mu, maka aku yang akan mengalah.. "