
Mansion utama keluarga de Niels, hari ini dipenuhi oleh semua anggota keluarga ini lengkap. Tidak ada satu pun dari mereka yang absen datang dalam acara spesial kali ini. Acara apa yang disebut dengan spesial, tentu saja acara menyambut Galen yang sudah keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama dua minggu penuh.
Daddy Joaquin dan mommy Noura selalu tuan dan nyonya besar keluarga de Niels, sengaja mengumpulkan semua sanak saudaranya untuk menyambut kepulangan Galen. Rasanya, sudah lama sekali mereka tidak berkumpul lengkap seperti ini. Karena di acara pernikahan Galen beberapa bulan yang lalu, ada beberapa yang tidak bisa datang karena urusan yang sangat penting.
Oh ya, tidak semua anggota keluarga de Niels berkumpul. Karena keluarga si bungsu, Geya, tidak bisa datang lantaran Geya sendiri masih belum bangun dari komanya. Claude dan ketiga cucu daddy Joaquin dan mommy Noura hanya melakukan video call saat menyambut kedatangan Galen. Secara pribadi, Claude meminta maaf karena tidak bisa datang saat Galen sakit maupun saat menyambut kepulangan Galen.
" Thanks, kak Claude.. Semoga sekeluarga di sana diberikan kesehatan dan Gege lekas bangun dari koma.." Ucap Galen tulus, saat berhadapan dengan Claude via video call.
" Hm.. Terima kasih doanya.. Ingat, untuk selalu jaga kesehatan.. " Galen mengangguk.
Video call dari Claude pun diakhiri oleh Claude sendiri karena dia masih memiliki kerepotan lainnya. Mengasuh bayi tanpa adanya seorang istri, memang cukup berat. Meski ada baby sitter, tapi Claude ingin merawat bayinya sendiri sama seperti ketika Twins Q masih bayi dulu. Jadinya, sekarang Claude sangat sibuk dengan perusahaan dan bayinya.
Acara di mulai dengan beberapa patah kata sambutan dari daddy Joaquin, kemudian berlanjut dengan acara makan malam disertai obrolan-obrolan diantara semuanya. Lama tidak berkumpul seperti ini, membuat banyak sekali bahan pembicaraan yang bisa dibahas oleh mereka.
Galen duduk di samping Lucena, masih menggunakan kursi rodanya. Matanya menelisik satu per satu anggota keluarga besarnya, dia merasa senang karena sakit yang dia derita berhasil mengumpulkan seluruh anggota keluarga de Niels. Bahkan yang begitu dia nantikan kepulangannya dari Sisilia, hadir juga dalam acara makan malam keluarga ini.
Galen hanya menyayangkan beberapa hal yang memang masih mengganjal di hatinya sehingga keseruan acara kumpul dengan keluarga ini tidak bisa dia rasakan dengan sepenuh hati. Selain masalah sang istri yang belum menemukan titik temunya, Galen juga merasa tidak enak hati dengan Roseline. Sepupunya itu, masih mengibarkan bendera perang dengan Lucena apalagi akhir-akhir ini, Galen kena imbas karena masalah Lucena, dan Roseline membenci hal itu.
" Boleh aku bicara sebentar dengan Roseline? " Tanya Galen pada sang istri. Tahu jika hubungan dua wanita ini tidak pernah akur, jadinya Galen ingin meminta izin agar tidak timbul masalah seperti Lucena yang cemburu.
" Hm.. Aku sebenarnya juga ingin berbincang dengannya.. Hanya saja... Tanpa Gege, aku yakin kami berdua hanya akan bertengkar saja.. " Galen mengangguk paham.
" Sebentar ya.. " Lucena tersenyum dan mengangguk.
Ada sedikit tidak rela di hatinya, ketika melihat Galen berbincang dengan Roseline. Alasannya jelas karena Roseline yang memiliki rasa yang sama dengan dirinya terhadap Galen. Keduanya memang sudah mengibarkan bendera perang sejak masih remaja. Meski Lucena berhasil mendapatkan hari dari Galen, akan tetapi jika Roseline masih belum membunuh perasaannya terhadap Galen, maka dirinya juga tidak akan bisa tenang.
Dari tempat duduknya, Roseline mengernyit ketika Galen mendorong kursi rodanya yang memang otomatis bergerak hanya dengan mengarahkan stick ke depan. Roseline berdiri dari duduknya dan menyambut Galen. Dia tahu, pria ini pasti ingin bicara dengannya membahas tentang ucapan Roseline pada Lucena saat Galen pertama masuk rumah sakit.
" Kenapa kemari? Istri mu menatap horor ke arah ku.. " Tanya Lucena yang membantu Galen untuk berada di dekat kursi tempatnya duduk.
" Ck.. Jangan mengada-ada.. Lucena bahkan sudah tahu aku kemari. " Ujar Galen sedikit kesal. Padahal istrinya hanya menatap biasa, tapi Roseline selalu mengartikan tatapan itu dengan yang buruk.
" Sudah lebih dari sepuluh tahun.. Apa kalian berdua tidak bisa memiliki hubungan yang baik? Kalian itu saudara, memakai marga yang sama. Kenapa selalu saja seperti kucing dan tikus? Tidak pernah akur. " Heran Galen jika memikirkan dua wanita ini.
" Kau tahu alasannya.. Jadi jangan bertanya lagi.." Roseline mengedikan bahunya malas, kemudian tangannya terulur untuk mengambil gelas berisi wine yang tadi sempat dia letakan di meja ketika mendekati Galen dan membantunya.
" Huft.. Sampai kapan? Kalau karena aku kalian jadi begini, lebih baik kemarin aku mati saja.. " Gerutu Galen yang sudah sangat jengah dengan kedua wanita ini.
" Maka aku akan semakin membencinya.. "
Galen melotot ke arah Roseline ketika mendengar dengan sangat santainya, sepupunya ini mengatakan membenci istrinya. Galen tidak habis pikir, patah hati bisa membuat sepupunya ini menggila dan membenci terlalu dalam dengan Lucena. Padahal dulu, sebelum keduanya sama-sama sadar dengan perasaan mereka untuk Galen, kedua wanita ini sangat akur sekali.
Roseline, Geya, dan Lucena, berurutan umurnya, hanya berbeda beberapa bulan saja. Usia mereka sama, lahir di tahun yang sama, tumbuh dan besar bersama, tapi berakhir dua diantaranya bermusuhan karena dirinya. Galen sungguh menyesal, tahu begini dia akan mengubur dalam-dalam cintanya untuk Lucena agar kedua orang ini tetap akur.
Bukan bermaksud menyesal menikah dengan Lucena, hanya saja tidak duka jika kedua orang ini berakhir tetap bermusuhan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Hal apa yang bisa membuat keduanya kembali seperti sedia kala. Galen pusing memikirkannya.
" Jangan terlalu keras pada Luce.. Dia tidak seperti kita yang tumbuh besar dengan kasih sayang lengkap.. Jadi jangan menghakimi nya karena sifat yang terbentuk tidak seperti kita.. " Bingung mencari cara untuk memperbaiki hubungan keduanya, Galen pun memilih untuk menasehati saja.
" Bukan bermaksud membela dia karena sekarang dia istri ku.. Hanya saja, bukan salahnya dia memiliki sifat seperti itu.. Jadi, jangan terlalu keras padanya.. Oke.. " Roseline memicing menatap Galen tajam. Bisa-bisanya mengatakan hal ini padanya.
" Katakan padanya untuk bersikap sebagai mana seharusnya sikap seorang istri kepala keluarga. Jika dia lemah begitu, apakah pantas bersanding dengan mu? Baru begini saja, dia tidak bisa apa-apa.. Tidak lihat betapa kuatnya Gege menjalani hidup padahal tak kalah sakit darinya.." Sembur Roseline akhirnya pergi meninggalkan Galen.
Roseline tersinggung, Galen selalu berusaha memahami Lucena tanpa memahami perasaan yang lain, termasuk dirinya. Galen selalu berusaha memberi kenyamanan untuk Lucena, dan membuat Roseline jadi tidak nyaman. Galen yang ditinggalkan pergi oleh Roseline, hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela nafas gusar.
Tanpa Galen sadari, sejak dia mendatangi Roseline, ada anggota keluarganya yang memperhatikan dari kejauhan. Dan sekarang, orang ini terkekeh karena Galen kewalahan menghadapi sifat dan sikap Roseline. Orang ini saja kewalahan, apalagi Galen.
" Sampai kapan pun kau tidak akan bisa menenangkan hati wanita yang patah hati, Len.. " Orang ini mendekat dan menggoda Galen.
" Ck.. Menguping kau.. " Ujar Galen ketus.
" Tentu tidak.. Tapi melihat Roseline meninggalkan mu, rasanya seperti melihat iklan sabun saja.. Kalian berdua,.... Lucu.. " Galen melengos. Rasanya kalau dirinya tidak sakit, ingin sekali menonjol pria yang sialnya adalah saudaranya itu.