IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Curahan hati



Seminggu berlaku, namun Lucena masih betah untuk memejamkan matanya. Galen sendiri selalu rajin untuk datang menemani istrinya ketika selesai bekerja. Dia masih tetap mengikuti rapat tahunan, yang sekiranya berakhir besok. Meski lelah, menurut Galen semua itu masih belum sebanding dengan apa yang Lucena rasakan selama ini.


Galen duduk di sofa yang ada di ruangan rawat Lucena, menatap laptop miliknya. Dia memeriksa laporan yang tidak bisa dia lakukan di perusahaan karena begitu rapat tahunan selesai digelar, dia akan langsung pulang. Dia pun meminta rapat tahunan hanya berlangsung sampai jam setelah makan siang, jadi dia bisa memiliki waktu banyak di rumah sakit.


Semua orang memaklumi apa yang dilakukan Galen karena semua tahu kondisi Lucena yang dirawat di rumah sakit. Namun, mereka hanya tahu jika Lucena mengalami kecelakaan tanpa mengetahui bahwa sejatinya Lucena bunuh diri.


" Galen.. " panggil papa Daniel, papa dari Lucena.


" Ya pa? " Galen menatap sejenak papa mertuanya sebelum kembali melihat ke arah layar laptopnya.


" Tidak perlu memaksakan untuk menjaga Lucena sepulang kerja.. Kau butuh juga istirahat, kami ada disini bisa membantu mu menjaga Lucena.. " ucap papa Daniel yang sebenarnya kasian dengan menantunya.


" Tak apa, pa.. Lagipula aku ingin menjadi orang pertama yang dilihat Luce ketika dia sadar.. Anggap saja ini penebusan dosa ku, karena pernah meragukan dia.. " Galen tersenyum kecut.


" Dia pasti mengerti diri mu, Galen.. Papa juga akan berlaku sama jika kejadiannya seperti apa yang kamu alami.. " papa Daniel menepuk pelan pundak menantunya, memberikan semangat.


Awalnya papa Daniel dan mama Whitney menyesalkan tindakan Galen yang mengacuhkan Lucena setelah mengetahui bahwa Lucena adalah wanita yang tidak sempurna. Tetapi, mereka berusaha memahami dan mencoba berpikir dari sudut pandang Galen. Hingga akhirnya mereka mengerti kenapa menantu mereka sampai mengacuhkan Lucena. Pastinya, Galen butuh waktu untuk menata hatinya, dan juga berusaha untuk mengucap semuanya tanpa menyakiti hati Lucena.


Galen sendiri yang menyadari kedua mertuanya kecewa padanya hanya bisa meminta maaf. Dia memang merasa bersalah telah menjadi orang yang memusuhi Lucena. Dia tahu betul, tidak seharusnya dia meragukan Lucena. Tapi keegoisan hatinya membuatnya berbuat mengacuhkan Lucena. Galen merasa apa yang telah dia klaim menjadi miliknya disentuh oleh orang lain, dan dia kecewa karena menganggap Lucena menutupi semua itu.


Bukti yang dicari Ketos terlalu rapi untuk perselingkuhan Lucena, membuat Galen meragukan semua tentang sang istri. Apalagi ketika mengetahui Lucena hamil, semakin bertambah kecurigaan Galen. Pikir Galen, tidak mungkin ada seorang wanita yang tidak tahu bahwa dirinya tengah hamil. Sebab itulah Galen tahu jika Lucena berbohong padanya.


Memikirkan Lucena melakukan malam panas dengan pria lain, jujur saja melukai harga diri Galen. Dia saja yang menikah selama tiga tahun dengan Angela, tidak pernah sekalipun menyentuh wanita itu. Galen mengatakan alasannya ketika dia menceraikan Angela yang ketahuan memasukan Ryo, ke dalam kamar pribadi mereka.


" Hahahahaha.. Bukan aku belok, tapi karena ada hati yang harus aku jaga.. Dia saja pasti akan menangis sebulan lebih jika tahu aku sudah pernah menikah.. Pasti akan lebih dari satu bulan dia menangis jika tahu aku pernah menyentuh wanita lain.. "


Begitulah Galen berucap ketika dia melakukan pertemuan antara dirinya, mantan istrinya dan juga pria yang sejatinya merupakan ayah biologis dari Bumi.


" Galen.. " panggil papa Daniel yang menyadari Galen sedang melamun.


" Ah.. Iya, pa.. Ada apa? " tanya Galen terkejut.


" Boleh papa tahu, apa yang menjadi keputusan mu setelah Lucena sadar? " tanya papa Daniel.


Alis Galen berkerut ketika dirinya tidak paham dengan maksud dari papa mertuanya. Disini Galen tidak paham apa yang dimaksud dengan keputusan Galen setelah Lucena tersadar. Menurut Galen, keputusan apa yang harus dibuat, tidak ada, itulah jawaban dirinya.


" Maksud papa, apakah kau akan berpisah dengan Lucena? " Galen langsung terkejut.


" Nggak pa.. Itu nggak mungkin aku lakukan.. Tidak mungkin aku meninggalkan Lucena di masa dia terpuruk seperti ini.. Galen akui, Galen salah sempat meragukan Lucena, tapi Galen mencintai Lucena dan itu tidak berubah pa.. " Galen langsung menjawab dengan menggebu saat tahu maksud dari ucapan papa mertuanya.


Papa Daniel sempat terkejut mendengar jawaban Galen yang terkesan tanpa dipikir terlebih dahulu. Yang menjadi ketakutan papa Daniel, menantunya ini akan kembali kecewa jika semuanya tidak seperti yang diharapkan olehnya. Terus terang, papa Daniel tidak ingin jika kedua orang ini saling menyakiti jika bersama. Tapi, benarkan mereka akan lebih sakit hijau mereka terpisah.


" Apa kau bisa memastikan bahwa ucapan mu ini tidak akan kau tarik kembali suatu hari nanti? " Galen mengangguk mantap.


" Saat menemukan Lucena dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam bath up yang penuh dengan darah, saat itu Galen sadar pa, bahwa yang Galen takutkan bukan kekecewaan Galen terhadap Lucena, tapi karena Galen takut kehilangan Lucena.. " Galen menjeda sejenak.


" Galen takut, jika ternyata memang benar Luce memiliki pria lain di luar sana dan nanti akan meninggalkan Galen. Apalagi sejak tahu Luce hamil bukan anak Galen, pikiran yang memenuhi otak ku saat itu adalah pemilik janin dalam perut Lucena akan datang dan membawa dia pergi.. Bukankah mungkin jika Luce lebih memilih bersama dengan pria yang jelas ayah dari anak yang di kandungnya.. Itulah ketakutan Galen, pa.. " terang Galen.


Papa Daniel kini mengerti, kekecewaan Galen pada putrinya memang murni karena dia sangat mencintai Lucena dengan segenap jiwanya dan ketakutan akan kehilangan putrinya. Meski kini mereka diterpa ujian berat, belum lagi ketika Lucena tersadar nantinya, akan seperti apa dia bersikap. Tapi jika Galen yakin akan hatinya milik siapa, keduanya pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.


" Terima kasih, nak.. Kamu mau mencintai putri papa dengan segenap hati dan cinta mu.. " Galen mengangguk.


Galen pamit sebentar untuk mencari makanan di kantin rumah sakit. Perutnya menjadi lapar setelah menghabiskan waktunya dengan papa mertua untuk mengatakan isi hatinya. Bukankah sedih juga butuh tenaga, apalagi setelah ini jalan yang akan Galen lalui akan sangat berat.


Sepeninggal Galen, papa Daniel duduk di samping ranjang putrinya. Namun ketika matanya bertemu pandang dengan mata putrinya yang ternyata sudah sadar, entah kapan. Terus terang saja, papa Daniel bahagia bukan main. Dia pun lekas memanggil dokter untuk memeriksa putrinya.


Syukur, pada akhirnya Lucena tersadar setelah koma selama seminggu. Melihat senyum di wajah Lucena, hati papa Daniel menjadi tenang. Harapannya senyum di wajah putri kedatangannya ini tidak akan pernah hilang. Namun senyum itu langsung surut, ketika mata Lucena bertemu dengan mata Galen yang berdiri diambang pintu dengan nafas yang terengah-engah.


" Sayang kamu sadar.. " Galen langsung mendekat. Namun, senyum diwajahnya langsung menghilang, ketika Lucena justru beringsut menjauhi Galen.


" Luce.. Ada apa? " tanya Galen merasa sedih.


" Kau marah pada ku? Apa aku terlalu menyakiti mu, bolehkan jika aku minta maaf dan menebus kesalahan ku dengan menyayangi mu? " tanya Galen. Hatinya langsung terasa tercubit melihat bagaimana tatapan mata Lucena ketika menatapnya.


" Apa kau membenci ku? Maafkan aku Lucena.. Maafkan aku, telah menyakiti mu...Maafkan aku.. " Galen langsung menangis. Rasanya sakit diacuhkan oleh orang yang kita cintai.


" Galen.. Papa ingin bicara dengan mu.. " Galen pun mengangguk, mengikuti papa mertuanya keluar kamar, meninggalkan Lucena yang menatap kepergian Galen dengan wajah tersirat kesedihan yang mendalam.