
Menjadi seorang dosen adalah cita-cita Lucena sejak kecil. Alasannya, dia ingin menjadi seseorang yang berguna untuk membimbing generasi muda, agar menghasilkan generasi yang baik untuk negara nya. Dan Lucena memilih jurusan psikologi untuk mempelajari kehidupan manusia, lebih tepatnya untuk mempelajari hati manusia.
Lahir sebagai anak tanpa ayah, membuat Lucena kecil selalu bertanya-tanya, dimana ayahnya, apakah ayahnya tidak menginginkannya, apakah ayahnya tidak tahu jika dia ada. Belum lagi dia dihina dan dibully teman sekolahnya dengan mengatakan jika Lucena adalah anak haram. Masa kecil Lucena sangat berat dan ketika dia menginjak usia remaja hingga dewasa, dia pun sering mendapati ada anak-anak yang mengalami nasib sama sepertinya.
Selain karena itu, Lucena baru mengetahui ketika dia sudah remaja jika dulu, mama Whitney mengalami kejadian dimana dia diperkosa oleh papa Daniel, namun papa Daniel tidak mengetahui jika karena perbuatannya, Lucena sampai ada. Melihat bagaimana mamanya dulu berjuang demi dia sampai akhirnya kembali bertemu dengan papanya. Perjuangan mama Whitney sebagai orang tua tunggal yang juga mendapatkan stigma buruk dari masyarakat.
Pernah ada wanita yang senasib dengan mamanya, dan berakhir bunuh diri karena tidak bisa menahan sikap masyarakat yang memberikan penolakan padanya. Bahkan ada juga yang tega melakukan aborsi lantaran tidak menginginkan anak yang dikandung hasil dari kasus pelecehan seksual.
Mencoba untuk membina masyarakat yang pernah mengalami semua itu, akhirnya Lucena mengambil jurusan psikolog yang merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari emosi manusia.
**********
Karena sebuah alasan, Lucena yang dulunya mengajar psikologi kini berubah menjadi jurusan ekonomi. Hingga dia bertemu dengan tiga sekawan mahasiswa yang selalu kemana-mana bertiga dan selalu senasib seperjuangan. Lucena menyukai sifat setia kawan ketiga anak didiknya ini karena bahkan mereka rela jika yang satu tidak diwisuda maka dua lainnya pun tidak.
Karena itulah disini Lucena saat ini, mengajar bimbingan pada ketiga mahasiswa yang serempak gagal wisuda bulan kemarin. Padahal sebelum menikah dengan Galen, sudah enam bulan terakhir Lucena menjadi guru bimbingan mereka sekarang. Namun saat diakhir, mereka akhirnya tidak ikut diwisuda lantaran Lucena mengundurkan diri dan diganti oleh dosen lain.
" Bagaimana penjelasan saya, apakah kalian bisa memahaminya? " Tanya Lucena pada kedua mahasiswa yang terlihat serius mendengarkan nya mengajar.
" Paham miss.. Tapi boleh saya bertanya sesuatu? " Tanya Alfonso.
" Boleh.. " Lucena pun mendekat dan duduk di bangku tepat di depan mahasiswa yang mengikuti bimbingannya.
" Kenapa anda pindah jurusan mengajar? Bukankah dulunya anda mengajar di jurusan psikologi ? " Tanya Alfonso.
" Oh.. Karena beberapa alasan, karenanya saya pindah mengajar. Memangnya ada apa? "Tanya Lucena.
" Tidak.. Hanya bertanya saja.. " Alfonso tersenyum pada Lucena.
" Miss.. Apa arti psikologi bagi anda? " Ganti Marcelino yang bertanya.
" Mempelajari emosi manusia. Setiap orang memiliki kecenderungan sikap yang berbeda dalam menghadapi sebuah masalah, dan seorang psikolog mempelajari itu.. " Jawab Lucena.
" Kalian berdua tertarik dengan jurusan psikologi? " Tanya Lucena yang sepertinya bisa melihat kedua mahasiswa nya ini cukup antusias membicarakan hal ini.
" Bisa diceritakan detailnya? " Pintar Lucena.
" Kejadian ini sekitar tiga tahun yang lalu kalau tidak salah. Ada seorang gadis yang berkencan dengan Pedro. Awalnya kami pikir, dia hanya main-main karena memang dia seorang cassanova sejati.. " Alfonso terkekeh kalau mengingat kelakuan bejat sahabat baiknya itu.
" Hubungan mereka sangat dekat sekali sampai sering berhubungan badan layaknya suami istri. Kemudian mereka putus karena di gadis dijodohkan oleh pria lain yang adalah anak dari kolega bisnis gadis itu. Namun sayangnya, pria ini adalah seorang maniak dan gadis ini sering dilecehkan.. Tak lama kemudian gadis ini hamil.. Coba miss tebak, anak siapa yang dikandung gadis ini. Anak Pedro atau anak dari pria yang dijodohkan dengannya itu? " Tanya Alfonso.
Lucena tidak langsung menjawab, dirinya malah berpikir bahwa cerita ini tidak asing di telinganya. Tentang seorang gadis yang hamil anak kekasihnya namun karena tidak diakui oleh kekasihnya, gadis ini pun bunuh diri. Lucena mengenal gadis itu karena dulu gadis itu adalah mahasiswi didiknya.
" Anak dari Pedro, apakah benar? " Lucena balik bertanya karena takut tebakannya salah.
" Bingo... Itu anak Pedro.. Saat tahu gadis itu hamil, Pedro tidak percaya jika itu anaknya karena tunangan gadis itu juga sering mengajak gadis itu berhubungan badan. Namun apa yang akhirnya terjadi, menjadi penyesalan terbesar Pedro saat ini. Karena meragukan gadis yang mencintainya dengan tulus itu.. " Alfonso melanjutkan ceritanya tanpa memberi endingnya. Lucena sungguh penasaran karena kisah yang Alfonso ceritakan sama seperti kisah hidup gadis bernama ALONA.
Lucena takut untuk bertanya apakah kisah ini benar adalah kisah Alona atau tidak. Karena terus terang saja, kisah ini juga membawa dampak besar apa Lucena saat itu hingga kini. Lucena bahkan sampai mengurung diri di kamar sampai satu bulan dan berakhir pergi ke Milan karena tidak sanggup berada di sana. Beruntung saat itu Galen selalu ada di sampingnya memberikan support untuknya.
Rasa bersalah Lucena saat itu begitu besar. Tak lama setelah dirinya membahas tentang kasus dimana ada seorang gadis yang menjadi korban pelecehan oleh ayah kandungnya sendiri, Alona qw ditemukan bunuh diri di dalam kamar gadis itu. Alona bahkan membuat surat warisan terakhirnya dan mengatakan bahwa dirinya berharap nantinya akan ada tempat dimana dia bisa diterima bersama dengan anaknya.
Kata-kata yang ditulis Alona dalam surat warisannya, merupakan sebuah tanggapan dari ucapan Lucena saat mengajar mengenai kasus pelecehan oleh ayah kandung dari seorang gadis yang usianya terbilang masih sangat muda.
" Korban pelecehan seksual sering kali mendapatkan pandangan yang buruk dari masyarakat. Karena ada kejadian dimana seorang wanita, menciptakan situasi dan kondisi untuk memancing seorang pria melecehkan mereka. Seperti menggoda pria itu. Padahal tidak semua korban pelecehan melakukan hal itu. Siapa yang ingin dilecehkan? "
" Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, pihak wanita akan selalu disalahkan atas apa yang menimpa mereka. Mereka dituduh menggoda pria, dituduh tidak bisa menjaga diri sendiri, dituduh wanita murahan. Sehingga siapa saja korban pelecehan seksual akan berakhir dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Padahal, belum tentu mereka yang bersalah. Bisa saja mereka murni diperkosa, bukan secara suka rela menyerahkan diri mereka pada seorang pria. "
Kiranya begitulah ucapan Lucena saat mengajar di kelas terakhir yang Alona ikuti. Setelah hari itu, Alona tidak lagi masuk kuliah dan seminggu kemudian kabar menyebar di kampus jika Alona meninggal dunia karena bunuh diri dan di kamarnya terdapat surat warisan yang mengatakan semua yang dia rasakan selama masa dirinya mendapatkan pelecehan seksual.
" Kalau boleh tahu, apa yang terjadi pada kekasih Pedro saat itu? " Tanya Lucena. Dia memberanikan diri untuk bertanya.
" Meninggal dunia.. Gadis itu ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di apartemen tunangannya. Di badannya terdapat banyak sekali luka bekas kekerasan baik fisik maupun seksual. Dan saat diotopsi itulah, terbongkar usia kandungan gadis itu dan ternyata terbukti janin itu adalah milik Pedro.. " Alfonso yang menjawab. Wajahnya terlihat sangat sedih sekaligus marah disaat yang bersamaan.
" Apa miss Lucena ingin tahu siapa nama gadis yang menjadi kekasih Pedro? " Tanya Marcelino menyeringai.