
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA
Suara tawa beberapa orang pria terdengar memenuhi sebuah ruangan di sebuah rumah yang ada di daerah pinggiran kota Roma. Pemberitaan di televisi, semuanya membahas tentang LUCENA DE NIELS. Rencana mereka untuk membuat seorang Lucena menjadi pusat perhatian semua orang. Membuat wanita ini lemah secara mental karena menjadi bahan pembicaraan di semua belahan Italia.
Rencana yang sangar bagus karena apa yang pernah terjadi pada seseorang, kini secara perlahan juga akan menimpa Lucena. Tiga orang yang memiliki dendam pada seorang Lucena, menghalalkan segala cara untuk membuat Lucena berakhir menyedihkan seperti apa yang sudah pernah dia perbuat di masa lalu.
" Tidak aku sangka. Seorang Lucena, adalah salah satu anggota keluarga de Niels.. Dengan begini, rencana kita membuat dia lemah bisa dengan mudah kita capai.. " Ucap si pria satu.
" Apa tidak apa? Lawan kita adalah keluarga de Niels.. " Tanya pria dua, yang terlihat sedikit ragu.
" Tenang saja. Keluarga de Niels tanpa pemimpin bagai harimau tanpa taring. " Ujar pria satu dengan penuh keyakinan.
" Apa maksud mu? Tanpa pemimpin? " Ganti sekarang pria tiga bertanya.
" Hm.. Saat aku mencuri catatan medis milik Lucena, aku mendapatkan catatan medis lainnya. Catatan medis seorang Galen de Niels, pemimpin keluarga de Niels, yang memiliki kelemahan yang sangat fatal.. "
" Apa itu? "
" Dia mengidap penyakit PNEUMOTHORAKS.. Dan aku sudah membuatnya masuk rumah sakit saat ini.. Kondisinya tidak akan bisa membaik dalam waktu dekat.. Jadi, mari kita sebarkan video itu.. "
" Kau mendapatkan kartu AS mereka rupanya.. Pantas kau dengan santainya menjalankan semua rencana mu.. "
" Tentu saja.. Darah dibalas darah, gigi dibalas gigi.. Apa yang terjadi padanya, akan aku buat sesuai dengan apa yang terjadi pada kakak ku.. "
" Baik... Sebelum kita ke babak selanjutnya, mari kita berpesta!!!! "
Ketiga pria ini pun berpesta semalaman suntuk, ditemani alkohol dan camilan yang cocok untuk menemani alkohol yang mereka tenggak. Hingga hampir pagi tiba, dua diantara ketiga pria ini sudah tepar dulu, meninggalkan seorang dari mereka yang masih dalam keadaan sadar.
Pria yang sadar ini merenung sambil menikmati alkohol yang tersisa. Mencoba mengingat kembali, kenangan demi kenangan bersama dengan seseorang yang selalu ada untuknya. Seseorang yang menjadi malaikat dalam hidupnya.
Flashback.
" Kak... Aku dengar kau diterima di kampus favorit mu.. " Seorang pemuda langsung menghampiri kakak perempuannya.
" Hm.. Aku diterima di kampus yang aku impikan tanpa bantuan dari seseorang yang selalu saja memanjakan ku.. " Gadis itu menatap sang ayah yang hanya bisa tersenyum karena disindir oleh putrinya.
" Hm, dek... Bagaimana dengan teman mu itu? " Tanya si kakak.
" Hei.. Hei.. Hei... Apakah ada yang tidak aku ketahui disini? " Si adik terus menggoda kakak perempuannya yang ternyata tengah berkencan dengan temannya.
" Besok lusa, mungkin.. Dia tidak bisa dihubungi.. " Si kakak mengangguk kecewa..
Beberapa bulan berlalu sejak pembicaraan kakak dan adik itu. Hari ini, si kakak bertemu dengan kekasihnya yang merupakan teman dari adiknya sendiri. Sepasang kekasih ini terlihat tengah berbincang sangat serius. Bahkan di gadis, sudah menangis sesenggukan didalam pelukan kekasihnya.
" Maaf.. Aku belum bisa memperjuangkan diri mu saat ini.. Aku baru masuk kuliah dan aku yakin orang tua ku tidak akan setuju jika aku menikah terlalu muda.. Maafkan aku.. " Ucap si pria yang sebenarnya tengah menahan rasa perih di hatinya.
Sang kekasih, harus dijodohkan oleh orang tuanya dengan salah satu kolega bisnis keluarganya. Tidak ada pilihan lain selain melepaskan, karena dipaksakan bersama pun juga tidak akan bisa. Akhirnya sepasang kekasih ini memutuskan untuk mengarungi kehidupan masing-masing bersama dengan masa depan masing-masing.
Si gadis harus Terima dijodohkan, dan si pria harus merelakan cinta pertamanya bersama dengan jodoh yang tepat dari keluarganya. Mereka berdua harus merelakan jika kisah cinta mereka berakhir sampai disini saja. Memang mungkin mereka berdua tidak berjodoh di kehidupan ini.
Sebulan setelah perpisahan antara sepasang kekasih ini, si wanita dikabarkan tengah mengandung. Tunangan wanita ini seolah tidak percaya bahwa wanita yang menjadi tunangannya ini hamil, karena mereka berdua selalu menggunakan pengaman. Hubungan keduanya yang para awalnya baik-baik saja, kini menjadi berantakan. Si pria selalu melampiaskan kemarahannya pada si wanita, tidak peduli jika si wanita tengah mengandung.
" Dasar wanita murahan.. Katakan pada ku, siapa yang menghamili mu!! " Sentak si pria untuk sekian kalinya bertanya sejak mengetahui kehamilan tunangannya.
" Masih diam.. Apa jika aku membuat kau keguguran, maka kau baru mau mengatakan siapa yang menghamili mu? Kedua orang tua mu malu mengetahui anaknya hamil di luar nikah.. Seharusnya kau berterima kasih pada ku, karena menanggung aib mu.. Sekarang katakan, siapa ayah anak ini? " Si pria menarik rambut si wanita ke belakang, agar wanita ini mau melihatnya.
" Aku tidak tahu.. " Jawab si wanita berbohong.
" Jangan berbohong kau.. KATAKAN SEKARANG SIAPA YANG MENGHAMILI MU.. SIAL*****.. " Si pria sudah tidak lagi mampu menahan emosinya.
Jika si wanita ini tengah menanggung akibat dari perbuatannya di masa lalu bersama dengan kekasihnya. Lain dengan mantan kekasih wanita ini, dia bahkan tidak lagi mau bertemu dengan mantan cinta pertamanya ini lantaran tahu jika wanita yang menjadi cinta pertamanya telah hamil anak dari tunangannya.
Saat malam hari, di suatu malam, mantan kekasih si wanita hamil ini mendapatkan telefon dari si wanita namun karena sakit hati dan kecewa, pria ini mengabaikan panggilan telepon dari mantan kekasihnya itu. Tanpa di ketahui, sebenarnya ini adalah hari terakhir bagi si wanita. Wanita ini ingin mengucapkan salam perpisahannya, karena tidak akan bisa hidup lagi di dunia ini. Dan dia akan pergi membawa anak dari pria ini.
" Apa maksud mu.. Katakan pada ku apa maksud mu!! "
" Kakak ku... Kakak ku... Dia... Bunuh diri... Dia mengakhiri hidupnya lantaran dia terus menerus disiksa oleh keadaan dimana dia hamil bukan anak dari tunangannya.. "
" Maksud mu? Bukan anak tunangannya, lalu anak siapa? "
" Entah.. Usia kandungannya lima minggu.. Kami tidak tahu siapa yang dekat dengannya saat itu. Apa kau tahu siapa? Kau kan terakhir menjadi kekasihnya.. "
Tubuh si pria langsung terjatuh di lantai ketika mendengar kenyataan yang tidak pernah dia sangka seperti ini ceritanya. Lima minggu, berarti itu adalah anaknya. Meski saat itu mereka sudah putus, tapi si pria ini ingat betul jika untuk terakhir kalinya, mereka sempat melakukan hal itu tanpa pengaman. Lalu sekarang, cintanya telah pergi membawa anak mereka.
Sejak saat itu, si pria ini terus diliputi rasa bersalah yang begitu mendalam. Seperti apapun dia berusaha menjalani hidupnya, dia selalu tetap kembali ke masa dimana dia bersama dengan wanita yang dia cintai, cinta pertamanya. Andai saja, malam itu dia mengangkat telepon darinya mungkin saja cinta pertamanya ini pasti masih hidup, dan mereka akan menikah dan membesarkan buah hati mereka bersama.
Namun kenyataannya, jodoh mereka telah berakhir. Cinta pertamanya pergi, membawa setengah bagian dari dirinya untuk selamanya..