IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Mengingat



Rasa haru menyeruak mau ke dalam relung hati Galen, ketika tiga orang yang paling dia percaya kini menemaninya makan siang di kantornya. Galen pikir, ketiga orang ini akan makan siang di luar kantor, atau kalau malas, mereka akan makan siang di kantin perusahaan. Namun siang ini, ketiganya menemani Glen untuk makan siang bersama. Sungguh Galen sangat berterima kasih pada ketiga orang ini.


" Kenapa makan di sini?" tanya Galen ketika menerima uluran piring berisi makanan favoritnya.


" Kami mereka tuan muda akhir-akhir ini kelihatan kurus. Saya yakin, tuan muda tidak memperhatikan makan dan juga kesehatan.. Mana tiap hari selalu lembur lagi.. Saya saja capek, apalagi tuan.." gerutu Bridella.


" Hihihihi... Lucu juga kalau kau mengomel seperti itu.. Bill, Ketos? Kira-kira di antara kalian berdua, siapa yang menjadi jodoh Bridella nanti?" tanya Galen menggoda.


" Tuan jangan mengada-ada ya... Bisa sial kami tujuh turunan jika memiliki istri modelan Bridella begitu.." Billcan yang menanggapi.


" Hei... Siapa juga yang mau dengan mu, jangan terlalu percaya diri kau.." Bridella langsung berdiri dan berkacak pinggang di depan wajah Billcan.


" Ck.. Kalian kalau ribut terus, bisa-bisa beneran jodoh lho.." Ketos berkomentar.


" Yak... Mending aku jadi perawan tua kalau sisa pria di dunia ini mirip Billcan.."


HAHAHAHAHAHAHAHA


Galen sampai tertawa ngakak melihat ketiga pekerjanya, yang memiliki posisi paling dekat dengannya. Rasanya, lama sekali dia tidak tertawa lepas seperti ini. Terima kasih pada ketiga orang yang telah berhasil membuatnya tersenyum ini.Galen berjanji dalam hati, akan memberikan bonus besar di akhir bulan nanti.


Diam-diam Bridella melihat bagaimana Galen bisa tertawa lepas. Dalam hati, Bridella mengucap syukur karena tuan mudanya akhirnya bisa tertawa lagi meski mungkin setelah ini akan kembali bersedih. Tapi, setidaknya, Bridella sudah bisa membuat pria yang sudah mirip robot ini bisa tersenyum.


" Terima kasih.. Aku tahu niat kalian siang-siang begini datang ke kantor ku dengan alasan makan siang.." ucap Galen tulus.


" Sama-sama tuan.. Kami jujur saja lebih suka jika tuan marah-marah pada kami bertiga karena ketahuan mengobrol saat bekerja, daripada diam saja seperti robot begini." ucap Bridella mengutarakan isi hatinya.


" Kalian tahu sendiri, saat ini apa yang aku rasakan.. bagaimana aku bisa tertawa jika bahkan wanita yang aku cintai menangis.." Galen tersenyum kecut.


Obrolan selesai, mereka pun kembali menikmati makan siang dalam diam. Bukan tidak memiliki topik pembicaraan, tapi ucapan kalian terakhir tadi, membuat ketiga pegawai kepercayaannya itu jadi takut untuk bicara. Mereka takut, semakin membuat Galen bertambah sedih.Tidak mudah untuk tetap terlihat baik-baik saja, padahal apa yang dirasakan justru kebalikannya.


Bridella ditemani Billcan membersihkan sisa makanan mereka dan juga peralatan makan. Keduanya akan membawa semua ini ke kantin, dan membiarkan orang kantin yang membersihkannya. Sedangkan Ketos, kini menghadap Galen karena ada yang ingin dia sampaikan.


" Tuan.. Saya baru saja mendapatkan laporan dari anak buah kita yang mengikuti nyonya muda. Dia mengatakan jika nyonya muda mulai hari ini, kembali mengajar di universitas>" lapor Ketos.


" Apa ada yang mencurigakan?" tanya Galen. Atensinya sekarang pada Ketos. Dia ingin mendengar laporan dari Ketos tanpa ada yang dilewatkan olehnya.


" Sejauh ini tidak ada yang aneh tuan.. Hanya saja, nyonya muda tadi bertemu dengan anak didiknya yang seharunya diwisuda bulan kemarin. Tapi sepertinya mahasiswa itu mengulang. Dia juga terlihat akrab dengan nyonya muda." alis Galen berkerut.


" Lanjutkan saja.. kalau bisa tempatkan lebih banyak penjaga untuknya.. Pastikan, Lucena tidak menyadarinya." titah Galen.


" Baik tuan.." Ketos pun undur diri.


Galen menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Kepalanya menenggadah melihat langit-langit ruang kerjanya. Mengingat kembali perjalanan cintanya hingga berakhir dia memiliki perasaan untuk Lucena. Padahal sebelum kejadian itu, Galen tak ubahnya menatap Lucena sama seperti dia menatap perempuan lainnya.


Andai saja waktu bisa diputar saat itu, mungkin Galen akan lebih awal menyatakan perasaannya dan mengingat Lucena sejak awal. Dengan begitu, tidak akan ada kejadian buruk seperti saat ini. Lucena akan baik-baik saja, dan masih sempurna seperti dulu kala. Dia pun tidak harus mengalami kekecewaan yang akhirnya justru membuatnya semakin jauh dengan wanita yang dia cintai.


_Flashback


Di sebuah club yang ramah dengan anak muda, malam ini di penuhi dengan banyak sekali kelompok muda mudi yang datang ke tempat ini untuk merayakan ulang tahun dari teman mereka. Remaja ini sepertinya berasal dari sekolah elite, terbukti dari pakaian mereka yang tidak ada satu pun memiliki branded murah.


Di antara banyaknya yang datang, ada keturunan keluarga de Niels yang juga diundang ke acara pesta ulang tahun ini. Pemilik acara, secara kebetulan adalah teman dari salah satu keturunan keluarga de Niels. Semuanya berkumpul membaur menjadi satu, namun tetap saja,keturunan keluarga de Niels, mendapatkan atensi yang lebih banyak dibanding lainnya.


" Apa kau tahu kalau Lucena akan tampil malam ini? " Tanya Roseline. Salah satu sepupu Lucena yang sama-sama menyukai Galen.


" Memangnya kalau dia tampil kenapa? Biarkan saja, toh Alecia memang teman sekelasnya kan. Teman baik lagi.. " Ucap Galen enggan mengomentari terlalu mendetail.


" Kalau dia mengungkapkan perasaanmu bagaimana? Jangan sampai kau menerima cinta Lucena, karena aku tidak suka itu.. " Roseline memperingati.


" Ck.. Fokus ku sekarang bukan tentang masalah itu.. " Galen yang malas menanggapi Roseline lebih jauh lagi, memilih pergi dan bergabung dengan saudara kembarnya yang lain. Niat hati ingin menyendiri malah diganggu oleh Roseline.


Galen tidak terlalu mengikuti jalannya pesta dengan baik. Dia tidak terlalu suka kondisi pesta yang ramai dan teriakan para gadis yang menyiksa telinganya itu. Jadi, Galen datang ke pesta ini murni karena dipaksa oleh Geya dan Alecia, si pemilik acara. Entah apa yang akan terjadi, tapi memang Galen mencium bau-bau yang sedikit mencurigakan dari kedua gadis itu.


" Tes.. Tes.. Satu.. Dua.. Tiga... " MC mulai naik ke panggung untuk segera memulai pesta ulang tahun ini.


" Mari kita semua.. Menyanyi lagu untuk nona Alecia yang cantik.. " Seru MC meminta semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama.


Galen mulai bosan, jadi dia memilih untuk melihat-lihat media sosialnya. Galen mengacuhkan pesta ulang tahun ini dan sama sekali tidak memperhatikan apa yang terjadi di sana. Fokus Galen sepenuhnya pada ponsel miliknya. Hingga akhirnya, dia mendengar suara dari seseorang yang dikenalnya. Suara yang begitu merdu, tengah menyanyi dipanggung.


" Lucena.. " Mata Galen terbelalak melihat bagaimana indahnya Lucena sedang bermain gitar dan bernyanyi di panggung.


Tatapan keduanya bertemu, dan keduanya saling mengunci pandangan mereka. Masih dengan menyanyi, Lucena menatap Galen dan tersenyum. Lalu apa yang Galen rasakan saat itu. Saat melihat bagaimana senyum Lucena yang begitu indah dilihat matanya.