
Seseorang yang pernah mengalami trauma, jarang ada yang benar-benar bisa melupakan traumanya. Apalagi kejadian yang membuat seseorang itu trauma, terjadi belum lama ini. Sebisa mungkin dia mengatakan jika dirinya baik-baik saja, tapi kenyataannya tidak akan bisa benar-benar melupakan traumanya.
Lucena, mencoba melupakan masalah yang pernah menggegerkan Italia, namun hingga kini pun masih sering sekali Lucena merasa dirinya diikuti orang, atau dirinya yang merasa ketakutan tanpa sebab yang jelas. Lucena sering sekali merasa takut dan merasa ditempatnya berada saat itu, dia tengah diawasi oleh banyak sekali orang.
Memang secara fisik dia sama sekali tidak memiliki rasa sakit. Hanya saja batinnya sangat tersiksa dan kerap kali Lucena membentur-benturkan kepala bagian belakangnya demi bisa menghilangkan ketakutannya itu. Sengaja Lucena membenturkan kepalanya karena dia sadar bahwa ketakutan yang terjadi padanya ini sangatlah tidak nyata.
Berharap dengan dia membenturkan kepalanya, maka Lucena akan bisa melupakan semua itu. Jika Lucena menyakiti bagian lain seperti tempo lalu, dimana dirinya menggigit bibirnya sampai berdarah dan Galen menyadari hal itu. Galen terus bertanya padanya hingga Lucena sendiri tidak bisa menjawab semua pertanyaan Galen.
Duk...duk...duk...
Terdengar suara benturan yang tidak terlalu kencang berasal dari kamar mandi yang ada di dalam kamar pribadi Galen dan Lucena. Siapa lagi pelakunya jika bukan Lucena. Saat dia tengah mandi, tanpa sengaja dia melihat dirinya sendiri di cermin yang ada di dalam kamar mandi itu. Kemudian muncul sekelebat bayangan dimana dirinya pernah dilecehkan oleh mahasiswanya.
Lucena langsung memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya dan kini dia membenturkan kepalanya di pinggiran bathup karena ingin mengenyahkan pikiran-pikiran buruk itu.
Lucena sadar apa yang akan terjadi padanya jika dia nekat membenturkan kepalanya seperti ini terus menerus, tapi sungguh dia tidak punya cara lain saat ini. Kepalanya sakit, tapi belum cukup sakit seperti hatinya dan jiwanya. Sakit sekali hingg Lucena lebih memilih dirinya mati daripada hidup dengan aib yang tidak akan pernah hilang selamanya dari dalam hidupnya.
Tok... Tok.. Tok..
" Luce, apa yang kau lakukan di dalam?" tanya Galen yang baru saja pulang kerja dan mendengar bunyi aneh arah kamar mandi.
" Luce... Buka pintunya atau aku akan dobrak..." Galen tidak berhenti terus menggedor pintu kamar mandi sampai Lucena yang ada di dalam kamar mandi keluar.
Galen khawatir, tentu saja dia sangat khawatir jika istrinya berbuat sesuatu yang fatal di dalam kamar mandi sana. Pernah melihat bibir Lucena digigit hingga menggeluarkan darah yang cukup banyak. Sejak saat itu Galen sudah memiliki pikiran jika mungkin saja Lucena kembali mengingat musibah yang menimpanya.
" Luce.. Dalam hitungan sampai tiga kau tidak keluar, aku benar-benar akan mendobrak pintu ini.." teriak Galen yang sudah kepalang panik.
Dor...Dor...Dor...
Ceklek...
" Len, kau sudah pulang.." tidak berniat menjawab pertanyaan dari Lucena. Galen justru memutar tubuh Lucena untuk mencari jika saja ada luka di sana.
" Hei... Kau ini kenapa?" Lucena cukup bingung. Tapi sebisa mungkin Lucena bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Jangan sampai Galen curiga dengan apa yang sebenarnya terjadi.
" Kenapa lama sekali mandinya?" tanya Galen.
" Maaf.. tadi aku berendam karena lelah, terus ketiduran.. Maaf ya.." Lucena nyengir kuda.
" Kau yakin ketiduran? " Lucena mengangguk mantap.
" Aku baik-baik saja.. Kita di mansion utama, jadi jelas aku akan baik-baik saja." Lucena berusaha untuk terus meyakinkan Galen dengan tetap memasang wajah tanpa dosa.
" Kalau begitu aku mandi dulu ya.." Lucena mengangguk.
Setelah memastikan Galen masuk ke dalam kamar mandi, Lucena akhirnya bisa kembali bernafas lega. Lucena menyembunyikan apa yang akhir-akhir ini sering dia alami karena tidak ingin membuat Galen kepikiran.
Masalah perusahaan saja sudah membuat kepala Galen pusing, janganlah jika sampai dia menambah beban Galen. Lagi, Lucena tidak ingin jika Galen kondisi kesehatannya kembali drop jika terlalu banyak pikiran. Lucena sungguh tidak ingin jika pria yang selalu tampil kuat di depannya itu, menjadi lemah karena sakitnya.
" Apa aku pergi ke psikiater saja ya... Aku rasa, apa yang aku rasakan ini mulai membahayakan nyawa ku.." gumam Lucena yang tengah berkaca di walk in closet. Saat ini dirinya dalam keadaan sadar sepenuhnya.
" Tapi.. Apa Galen tidak curiga jika aku mnemui psikiater? Tapi... Jika terus seperti ini, maka semuanya justru akan semakin memburuk.." Lucena dilema saat ini. Tapi keputusannya untuk menemui psikiater memang sudah mantap untuk dia lakukan. Kondisinya ini sudah mulai pada tahap menyakiti dirinya sendiri.
Setelah dipikirkan secara masak-masak, akhirnya Lucena memutuskan untuk besok pergi ke psikiater yang dulu pernah merawat Kate, istri Gaffi. Setahu Lucena, dokter psikolog ini bekerja bukan di JN HOSPITAL, sehingga sangat aman jika dia kesana. Galen tidak akan tahu, dan dia tidak perlu membuat Galen cemas dengan kondisinya.
Keesokan harinya, Lucena benar-benar menjalankan rencananya untuk menemui dokter psikolog yang dulu pernah merawat Kate. Sayangnya, menurut suster yang berjaga di bagian resepsionis di rumah sakit, dokter yang dimaksud oleh Lucena sudah tidak lagi bekerja disana.
Daripada kembali dengan tangan kosong, Lucena pun meminta saran dokter yang terbaik di rumah sakit ini di bidang psikologis manusia. Dan akhirnya suster jaga ini menawarkan seorang psikolog wanita yang dulunya pernah bekerja di salah satu rumah sakit jiwa di Amerika dan pindah tugas ke rumah sakit ini.
Merasa ada baiknya karena pastinya dokter yang pernah menangani pasien sakit jiwa jelas paham betul masalah psikis yang dimiliki Lucena. Akhirnya dia pun memutuskan untuk menemui dokter ini.
" Suatu kehormatan bagi saya menjadi dokter yang nyonya muda pilih untuk merawat masalah kejiwaan anda.." Dokter Milly berucap.
" Terima kasih dok, tapi bisa saya minta tolong untuk jangan sampai keluarga saya dan suami saya tahu mengenai kedatangan saya kemari?" pinta Lucena memelas.
" Jika kondisi anda baik-baik saja, maka saya tidak akan sampai menghubungi suami atau keluarga anda. Akan tetapi, apabila saya menemukan suatu kondisi yang serius, mohon maaf, saya tetap harus memberi tahu kepada suami dan keluarga anda nyonya muda.." Lucena mendesah kecewa.
" Tapi jangan khawatir nyonya muda. Disini yang saya maksud dengan kondisi yang mengkhawatirkan adalah ketika saya sudah tidak lagi mampu menangani anda lagi.. Jadi jangan diambil hati dan fokus saja pada pengobatan anda." Lucena tersenyum senang.
Lucena yakin jika dokter ini tidak akan mengalami kesulitan selama menanganinya. Kondisi Lucena masih bisa dikatakan baik karena terkadang ada kalanya dia bisa kembali sadar dari ketakutannya tanpa bantuan dari orang lain.
Lucena masih memiliki pengendalian diri yang kuat jadi semisal traumanya menyerang, pada akhirnya Lucena bisa menangani hal ini sendiri meski dia akan melukai dirinya dengan membenturkan kepalanya. tapi setelah semua itu terlewati, dia akan kembali seperti biasa seolah tidak memiliki masalah.
Besar harapan Lucena pada dokter Milly untuk membantunya sembuh. Kedua buah hatinya masih sangat kecil dan membutuhkan dirinya. Begitu juga dengan suaminya yang dia yakin tidak akan bisa sendirian tanpa dirinya.
Mempertimbangkan masalah inilah, akhirnya Lucena memutuskan untuk pergi ke psikiater dan sembuh dari traumanya. Memang membutuhkan waktu dan proses, tapi Lucena sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berjuang untuk orang-orang yang dia sayangi.