
" Keadaan nyonya muda sudah stabil tuan.. Jika nyonya merasa pusing, itu cukup wajar setelah apa yang terjadi pada beliau. Dibandingkan fisiknya, kami lebih mengkhawatirkan kondisi mental beliau. Sepertinya kejadian ini memberikan luka mendalam pada nyonya muda, dan membuatnya trauma.. Saya harap, nyonya dibawa ke psikiater, untuk memantau kondisi mental beliau.." ucap dokter Milan setelah selesai memeriksa Lucena.
Ada beberapa poin yang mendasari ucapan dokter Milan. Meski bukan seorang yang mendalami masalah psikis pasien, tapi sebagai dokter yang bertemu pasien dalam segala kondisi dan situasi, jelas dokter Milan bisa menyimpulkan tentang yang dialami Lucena saat ini.
Poin yang mendasar hal itu, karena tatapan mata Lucena yang kosong dengan pupil yang bergetar, sepertinya dia tengah takut akan sesuatu hal. Belum lagi peristiwa yang terjadi sebelum Lucena bunuh diri, bisa disimpulkan jika Lucena mengalami masa dimana dirinya tidak bisa menerima apa yang terjadi padanya hingga membuat keputusan ekstrem, seperti bunuh diri.
Selain menyembuhkan luka fisiknya, yang paling penting adalah menyembuhkan luka hatinya. Karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin jika Lucena akan kembali melakukan bunuh diri suatu hari nanti. Simpul yang ada di dalam hatinya harus diuraikan, agar Lucena tidak berlaku ekstrem, atas apa yang menimpanya.
Setelah menerangkan kondisi Lucena, dokter Milan memilih pergi dari ruangan itu untuk bisa memudahkan pasien dan keluarganya berbincang dan pasien juga lebih membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Papa Daniel langsung mendekat ke arah Lucena, mengusap kepala dan mengecup ubun-ubun Lucena cukup lama, berusaha menyalurkan rasa sayang yang begitu besar pada putri yang ketika kecilnya dia sia-sia kan karena tidak ingin bertanggung jawab pada kehamilan istrinya dulu.
Papa Daniel dulu secara tidak sengaja telah menyumbangkan benihnya pada mama Whitney yang saat itu adalah sekretarisnya. Namun tanpa papa Daniel ketahui, mama Whitney rupanya juga bekerja di club malam selain sebagai sekretaris magang di perusahaan yang dia pimpinan. Kecewa pada Whitney, papa Daniel yang saat itu disibukan dengan segala bisnis milik keluarga de Niels, akhirnya melupakan tindakannya yang pernah menitipkan benih pada mama Whitney.
Baru setelah Lucena lahir hingga berumur beberapa tahun, papa Daniel mengetahui keberadaannya dari papa Theo. Akhirnya setelah dibujuk oleh daddy Joaquin, dia pun setuju bertanggung jawab pada mama Whitney dan juga Lucena.
Karena peristiwa itulah, papa Daniel begitu menyayangi Lucena karena perasaan bersalah nya pernah menelantarkan putri kandungnya. Seharusnya Lucena bisa menikmati kehidupan yang mapan sejak kecil, tapi karena salah paham dan egoisnya, Lucena kecil menjadi korban atas perilaku kedua orang tuanya.
" Ada yang dirasa tidak nyaman? " tanya papa Daniel lembut.
" Tidak pa.. Tapi ada yang ingin Luce minta tolong sama papa.. Kali ini Luce mohon, papa dukung keputusan Lucena ya, pa. " Lucena berucap dengan wajah memelas. Membuat papa Daniel tidak tega jika tidak mendengarkan permintaan sang putri.
" Apa itu? "
" Luce ingin kembali ke Roma pa, Luce nggak mau tinggal di sini. Luce ingin menyembuhkan sakit hari Luce dulu, dan pergi dari sisi Galen sejenak. "
Papa Daniel terkejut, padahal tadi, sebelum Lucena tersadar, dia sudah membicarakan masalah ini dengan Galen. Lalu sekarang, apakah yang musti dia lakukan. Mengabulkan keinginan putrinya, apakah Galen bisa memahami keinginan Lucena.
" Aku tahu, pa. Aku mendengar pembicaraan papa dengan Galen. Dan karena itulah aku ingin sementara menenangkan diri. Bukan karena aku membenci Galen pa, tapi karena aku mencintai dia.. Aku merasa diri ku kotor pa, aku merasa tidak pantas dan merasa tidak sempurna untuknya.. Aku tidak tahu siapa yang menjamah tubuh ku, aku merasa bersalah pada Galen pa.. Hiks.. Hiks.. " tangis Lucena pecah.
Dia pergi bukan ingin meninggalkan Galen, tapi menyembuhkan luka dia dan Galen. Kemudian suatu hari nanti, mereka bisa kembali bersama saat sama-sama sudah bisa saling mengikhlaskan apa yang terjadi pada rumah tangga mereka. Bukan untuk berpisah, atau bercerai, tapi meminta waktu untuk memantaskan dirinya sebagai istri Galen.
" Papa bicara dulu sama suami kamu.. Tapi keputusan ini, kembali lagi papa serahkan sama suami ku.. Karena dia lah yang paling berhak bertanggung jawab atas diri mu.. " Lucena mengangguk.
Disini lah sekarang, papa Daniel bicara empat mata dengan Galen, untuk mengatakan keinginan Lucena. Respon yang ditunjukan Galen saat ini, sudah ditebak oleh papa Daniel sejak tadi. Karena itu, dia sudah memiliki cara untuk menyakitkan menantunya, agar mau menerima keinginan Lucena.
" Jika kalian bersama setelah masalah ini, apa kamu bisa menjamin kalian tidak akan kembali terluka? Lucena terus menyalahkan dirinya karena peristiwa ini, dan kamu tega membuat dia lama-lama menjadi gila, karena terus merasakan tekanan yang menghantui dirinya. " tanya papa Daniel.
Satu kelebihan Galen adalah dia tidak akan membual. Galen tidak akan pernah berjanji atau menjamin sesuatu jika dia tidak yakin. Seperti sekarang, dia tidak yakin untuk menjamin ketakutan papa Daniel terjadi. Meski tidak rela jauh dari Lucena, Galen perlu membicarakan ini dengan Lucena untuk bisa mengambil keputusan yang tepat dalam masalah ini.
" Galen butuh waktu pa, untuk memutuskan semuanya secara tepat.. Galen janji akan segera memberikan jawaban pada papa.. Apa sekarang Galen boleh bertemu Luce? " papa Daniel mengangguk.
Galen masuk ke ruangan Lucena secara diam-diam, dan dia melihat jika awalnya Lucena bangun, tapi setelah mengetahui Galen datang, dia pura-pura tertidur. Galen tidak marah, karena dia paham apa yang dirasakan Lucena sekarang. Galen justru tersenyum, menyadari sikap istrinya ini tidak berubah sejak dulu, karena Lucena tipe gadis yang akan menghindari Galen jika dia berbuat sesuatu yang membuat Galen marah. Sama seperti situasi saat ini.
Galen mengambil duduk di samping ranjang Lucena, yang sebelumnya Galen mencium kening Lucena terlebih dahulu. Galen mengambil nafas beberapa kali untuk menetralkan suasana buruk di hatinya setelah mendengar keinginan Lucena. Untuk saat ini, Galen tidak boleh emosi dan harus berusaha memahami istrinya.
" Luce.. Sebelumnya aku minta maaf atas apa yang aku lakukan pada mu sejak awal pernikahan kita. Jujur aku kecewa, saat tahu kalau bukan aku yang pertama untuk mu. Dan aku menyelidiki hal itu, meski akhirnya aku belum tahu sebenarnya apa yang terjadi.. Tapi aku tidak bisa membohongi mu, karena aku cinta kamu, Luce.. " Galen menjeda sejenak ucapannya. Menarik nafas, menghembuskan secara perlahan. Hatinya tidak sedang baik-baik saja saat ini.
" Aku tahu kamu memutuskan untuk pergi, bukan karena kamu tidak cinta. Tapi karena kamu cinta karena itu kamu memilih menjauh. Apakah sudah tidak ada cara lain, selain berjauhan, Luce? " tanya Galen.
Bahu Lucena bergetar, dia menangis dan Galen tahu itu. Meski begitu, Galen berpura-pura tidak tahu agar Lucena tidak melakukan penolakan seperti tadi. Punggung Lucena yang menghadapnya semakin kuat bergunjang, setelah mendengar ucapan Galen berikutnya.
" Yang aku takutkan bukan semua yang kau takutkan saat ini Lucena. Karena aku takut kehilangan mu, apalagi saat menemukan mu berhenti bernafas dalam pelukan ku saat itu. Apakah kau tahu, aku juga melukai diri ku sendiri karena telah menyakiti mu? " Lucena terkejut dan reflek melihat ke arah Galen.