IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Rahasia terungkap



" Kau bercanda, Luce? " Galen mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan bawah tanah di mansion lama keluarga de Niels lantaran sang istri menyusulnya kembali ke ruangan itu.


" Aku yakin.. Tidak ada gunanya melanjutkan semua ini.. Hanya akan semakin terluka saja.. " Galen memejamkan kedua matanya. Tidak menyangka istrinya akan membuat keputusan diluar nalarnya.


" Jangan sok baik, Miss.. Andai Anda membunuh kami disini pun kami akan siap.. Jangan Anda pikir jika anda membantu kami, maka kami akan mengucapkan Terima kasih pada Anda.. " Pedro berucap.


Galen yang mendengar ucapan Pedro langsung meradang dan kemudian secepat kilat mengeluarkan pistol dari belakang tubuhnya dan mengarahkan tepat di kepala Pedro.


" GALEN.. " teriak Lucena yang terkejut melihat suaminya mengeluarkan pistol. Bukankah kondisi Galen tidak memungkinkan baginya menggunakan pistol.


" Turunkan senjata mu, Len.. Please.. Ingat kondisi mu.. " Lucena memegang tangan Galen yang masih memegang pistol yang diarahkan pada Pedro.


" Semuanya akan kembali lagi seperti ini jika kita menuntaskan dendam.. Daddy pernah mengatakan pada ku, bahwa tidak semua sakit hari itu perlu dibalas. Dalam hal ini pun sama seperti itu. Kita tidak boleh membalas mereka atau semua kekacauan ini tidak akan berhenti sampai disini.. Keturunan kita semua akan kembali mengalami hal yang sama, jika kau tidak memutuskan tali ini, saat ini.. " Lucena berusaha untuk mengubah keputusan Galen.


Lucena paham, kenapa Galen sangat susah sekali melepas amarahnya dan menganggap ini semuanya berlalu. Apa yang terjadi pada Lucena, melukai harga diri Galen sebagai seorang pria, sebagai seorang suami. Galen tidak Terima, disaat dia bisa mendapatkan apa yang menjadi sesuatu yang berharga bagi Lucena, ketiga pria ini merebutnya begitu saja.


Alasan yang membuat Galen kehilangan sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya, sama sekali tidak bisa Galen Terima. Balas dendam karena seseorang meninggal setelah curhat dengan wanitanya, bukankah itu terlalu naif. Galen tidak bisa menerima itu semua, baginya, ketiga pemuda ini harus merasakan apa yang dia rasakan, kehilangan sesuatu yang dianggap berharga.


Galen adalah tipekal orang yang akan membalas berkali-kali lipat apa yang dia dapatkan. Dalam sekejap Galen bisa menjadi pria paling baik sedunia, dia rela memberikan apa yang dia miliki untuk seseorang tuna wisma yang dia temui di jalan. Hal itu selalu terjadi sejak Galen masih bersekolah.


Meski dikatakan sangat baik karena tidak pernah padang bulu dan pamrih ketika membantu orang yang membutuhkan. Tapi, Galen memiliki sifat lain yang bertolak belakang dari sifat yang dianggap seperti malaikat itu. Galen pendendam, sangat malah. Dia tidak akan membiarkan siapa saja membuat keluarganya terluka, dan dia akan membalasnya.


" Aku mohon.. Biarkan kita mengakhiri semuanya di sini, sekarang.. Biar mereka diadili oleh hukum di negara kita. Yang perlu kita lakukan adalah memantau mereka sampai keputusan hakim dijatuhkan.. Aku mohon Galen, aku tidak ingin dendam di generasi sebelumnya membuat generasi di masa depan menderita. " Lucena memelas.


Lucena menatap punggung Galen yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Bukan tidak mengerti perasaan Galen saat ini. Tapi Lucena benar tidak ingin membawa dendam di masa nya, hingga sampai ke masa anak dan cucunya nanti berada. Lucena berkaca dari kejadian mertuanya. Dan tidak ingin suaminya mengalami hal yang sama.


" Maafkan aku, Galen.. Aku tahu kau terluka dengan keputusan ku.. Maafkan aku.. " Batin Lucena menangis.


Lucena berbalik, berganti menatap ketiga mahasiswanya. Ada yang ingin Lucena sampaikan, dan ada yang ingin dia tanyakan pada ketiga mahasiswanya ini. Meski hatinya sangat sakit mengingat betapa dekat dirinya dan ketiga mahasiswanya ini.


" Aku ingin menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan Alona.. Anggap saja ini pesan terakhirnya.. Setelah ini, apakah kalian masih tetap membenci ku atau tidak, aku tidak peduli tapi mari akhiri semuanya disini, hari ini.. " Ucap Lucena kini berubah menjadi tegas.


" Alona pernah mengatakan pada ku, jika dia memiliki seorang adik laki-laki yang sangat dia sayangi. Meski waktu yang mereka habiskan tidaklah banyak, tapi Alona menyayangi adiknya. Dan Alona berkata, jika suatu hari nanti, adiknya akan menjadi orang yang sukses.. " Jeda Lucena sejenak, sambil menatap Alfonso yang kini menunduk. Sepertinya, pemuda ini tengah menangis, dan tidak ingin memperlihatkannya pada Lucena.


" Kedua.. Dia pernah menjawab pertanyaan ku tentang siapa ayah dari janin yang dikandungnya dan Alona menjawab dengan lantang, jika ayah kandung janinnya adalah pria yang hebat. Hanya saja, pria ini belum siap menjadi seorang ayah karenanya Alona akan membawa pergi anak mereka bersamanya.. Alona sangat mencintai mu Pedro.. Mungkin, di waktu terakhirnya, dia ingin mengucapkan perasaannya pada mu meski belum bisa terwujud. " Lucena kini pun ikut menangis. Rasanya sangat sesak ketika menceritakan ini.


Terkadang kesedihan orang lain akan menjadi kesedihan kita ketika kita benar-benar menganggap orang ini adalah seseorang yang berarti untuk kita. Begitu pula yang kini Lucena rasakan. Beberapa bulan terakhir Alona, memang mereka berdua sangatlah dekat. Sering makan siang bersama, dan Alona banyak bercerita tentang kehidupan nya.


Lucena tahu, menjadi Alona sangatlah berat. Tapi Lucena sangat bangga pada Alona karena gadis itu sama sekali tidak mengeluh. Ada beberapa hal yang membuat Alona bisa menjalani kehidupan yang berat lantaran tidak dianggap keberadaannya oleh ayahnya sendiri.


" Dan kalian berdualah alasan Alona bisa bertahan hingga akhirnya dia memilih mati daripada membuat kalian menderita. Tunangan Alona menyadari siapa ayah dari bayi yang dikandung olehnya dan pria itu sangat marah sekali.. Pria itu berusaha untuk mencari mu Pedro, namun akhirnya tanpa sengaja Alona terbunuh karena menghalangi pria itu mencari mu.. " Lucena sudah menangis sesenggukan. Menceritakan sebuah rahasia besar ini pada kedua orang ini sangat berat baginya.


" Dari mana kau tahu semua ini? " Akhirnya, Pedro berani untuk membuka suara untuk bertanya. Mungkin saja, selama ini dialah yang benar-benar tidak tahu apa-apa.