
Berulang kali Lucena berteriak bertanya pada tiga orang yang tengah duduk di sebuah kursi dengan posisi diikat tubuhnya, namun tetap saja, ketiga orang itu bungkam. Mereka bertiga enggan untuk menjawab semua pertanyaan yang Lucena lontarkan. Namun, mereka bertiga menatap Lucena penuh dengan kebencian. Tatapan mata yang tidak pernah Lucena sangka akan dipancarkan oleh ketiga orang ini padanya.
Lucena kini sampai tidak sadarkan diri lantaran shock dengan kenyataan yang harus dia hadapi saat ini. Sungguh, dari semua orang yang dia pikir bisa melukainya, ketiga orang ini sama sekali tidak masuk daftar orang-orang yang Lucena pikir akan tega menyakiti dirinya.
Tubuh Lucena yang sudah tidak sadarkan diri itu, dibawa Gaffi keluar dari gudang mansion lama. Lucena harus diperiksa kondisinya dan Gaffi dipercaya bisa menangani itu semua. Di ruangan itu, akhirnya hanya tersisa Galen, daddy Joaquin, Gafar, Lucifer dan papa Daniel.
" Apa kalian semua melakukan ini karena wanita bernama.... Alona? " Tanya Galen.
Pertanyaan Galen membuat dua pria yang awalnya sama sekali tidak memperdulikan keluarga ini, kini langsung menatap Galen dengan tajam. Nama yang baru saja Galen sebutkan, seperti pelatuk pistol yang kemudian membuat kedua orang ini siap menembak Galen.
" Bisa dan berani menatap diri ku seperti itu, kalian benar-benar punya nyali yang besar.. " Cibir Galen.
" Tidak tahukah kalian, hanya dengan satu perintah dari ku, kalian akan pergi menyusul Alona.. " Galen mendekati ketiga pria itu, berdiri tepat di depan Marcelino.
Galen menatap tajam pemuda bernama Marcelino ini. Ada dendam pribadi bagi seorang Galen pada satu-satunya orang yang bisa membobol dan mencuri dari sistem keamanan yang Galen buat. Galen sebenarnya tertarik dengan kemampuan Marcelino andai saja yang diusik bukan dirinya dan wanita yang paling dia cintai itu.
" Kau... Yang berhasil membobol sistem keamanan yang aku buat kan... Luar biasa, aku acungi sepuluh jempol pada mu.. Akan tetapi... " Galen menghentikan ucapannya, berjalan memutar kemudian tepat berhenti di belakang Marcelino.
Jujur saja Marcelino mulai merasa takut saat tatapan Galen menusuk tajam ke arahnya. Sudah seperti ingin menguliti dirinya hidup-hidup dan itu sukses membuat tubuh Marcelino bergetar sebentar karena kemudian dia berhasil menguasai kembali rada takutnya itu.
" Akan tetapi.. Tidak seharusnya bakat hebat yang kau miliki, kau gunakan untuk melawan ku.. Andai saja.. Ingat ini.. Andai saja kau tidak mencari gara-gara dengan ku, bisa ku pastikan kau akan menjadi orang terbaik yang berada di dalam orang-orang yang bekerja dengan ku.. " Galen menepuk pundak Marcelino.
Galen kembali berdiri di depan ketiga pemuda ini berjarak satu meter dari tempat mereka. Galen menatap tajam dua pria yang merupakan dalang utama musibah yang dialami Lucena. Dipastikan, jika anak yang ada dalam kandungan Lucena adalah salah satu dari kedua pria ini. Hanya mengingat hal itu, Galen merasa harga dirinya benar-benar terluka karena kenyataan ini.
" Tidak seharusnya kalian melampiaskan ketidak mampuan kalian dalam melindungi Alona dengan melakukan hal yang sama pada istri ku.. Lalu apa bedanya kalian berdua dengan orang-orang yang mendorong Alona untuk bunuh diri.. " Ujar Galen dengan nada bicara yang terdengar dingin.
" Apa maksud mu..? " Sentak Pedro.
" Hei.. Hei.. Jangan membentak ku.. Tapi, senang juga kau bersuara. Karena aku sempat berpikir jika daddy ku membuat kalian tidak pernah bisa bicara lagi.. "
GLEK
Ketiga pemuda ini menelan ludah mereka dengan kasar. Yang membuat mereka sok-sokan terlihat berani di depan keluarga de Niels ini sebenarnya hanya karena mereka tidak ingin dianggap lemah. Mereka adalah orang-orang yang termasuk lawan paling kuat dari keluarga de Niels karena bisa mengelabuhi keluarga ini hingga sejauh ini.
Tapi, tetap saja mereka harus menyadari bahwa sebenarnya keberuntungan lah yang membuat meraka bisa menjadi lawan yang cukup sulit bagi keluarga de Niels. Jadi, yang membuat mereka bisa memberikan beberapa pukulan kuat pada keluarga de Niels, hanya karena kebetulan saja. Dan sejak meraka tertangkap, kebetulan keberuntungan mereka sudah habis.
" Bukan salah Lucena hingga Alona memilih untuk mengakhiri hidupnya.. Seharusnya kalian berpikir dulu sebelum menyimpulkan semua ini. Bukankah kalian pintar-pintar, orang yang pintar itu, tidak akan menelan begitu saja informasi yang mereka dapatkan. " Sindir Galen. Wajahnya dibuat setengil mungkin agar ketiga pemuda ini kepanasan dengan tindakannya.
" Sebenarnya.. Alona itu tidak bunuh diri.. Bukankah, ada orang yang di penjara karena kasus Alona.. " Alis Alfonso dan Pedro berkerut. Ucapan Galen ini, membuat mereka mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Memang ada seseorang yang ditangkap karena kasus Alona.
Galen menghela nafas ketika melihat raut wajah ketiga pria ini menjadi bingung. Sudah dia duga, karena dendam membuat mereka buta pada kenyataan yang sebenarnya terjadi. Andai saja dari awal ada pembicaraan yang serius mengenai masalah ini. Pastinya tidak akan ada salah paham seperti ini.
Kenyataan yang sebenarnya memang Alona tidak bunuh diri, melainkan terbunuh karena ketidak sengajaan dari pelakunya kemudian dibuat seolah Alona bunuh diri untuk menutupi kesalahannya. Satu tahun setelah Alona meninggal dunia, barulah kenyataan ini terungkap. Dan penyebab kematian Alona langsung ditahan oleh polisi. Kalau tidak salah Galen mengingat, pelakunya dihukum dua puluh tahun penjara.
" Minta maaf lah pada Lucena, setelahnya aku akan memutuskan apa yang pantas kalian dapatkan.. " Ucap Galen, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan ini. Diikuti keluarganya semua pergi dari ruangan itu, meninggalkan ketiga pemuda yang diliputi ketidaktahuan mereka.