
Huft..
Dokter Milan menghela nafas, setelah berhasil melakukan operasi dadakan pada seorang wanita yang sudah hamil tua, namun mengalami kecelakaan sehingga bayinya harus dilahirkan sekarang. Ketika berjalan menuju ke ruangan nya yang ada di bagian obgyn, matanya tidak salah melihat jika dia baru saja berpapasan dengan Lucena. Penasaran dengan apa yang dilakukan nyonya muda nya di rumah sakit, apalagi di bagian obgyn, dokter Milan lekas bertanya pada bagian informasi.
" Suster.. Tadi itu... Nyonya muda, istri dari tuan muda pertama kan? " tanya dokter Milan.
" Benar dok.. " suster yang berjaga di sana membenarkan tebakan dokter Milan.
" Ke bagian obgyn, ada urusan apa ya? " kembali dokter Milan bertanya.
" Beliau mengatakan ingin memeriksakan kandungannya. Karena dokter Milan sedang berada di ruang operasi, kami menyarankan untuk bertemu dokter Lora.. " terang suster jaga itu menjawab.
" APA?? Dokter Lora? Lalu... lalu.. mereka bertemu? " suster itu mengangguk.
Dokter Milan langsung berjalan cepat menuju ke ruangan dokter Lora. Pikirannya kacau saat ini, apalagi ketika dia mengingat pesan yang disampaikan oleh Galen saat terakhir kali Lucena dirawat di rumah sakit.
" ***Tolong rahasiakan kehamilan istri ku pada siapa pun keluarga de Niels, termasuk pada istri ku sendiri.. "
" Tapi tuan.. Bukankah ini kabar menggembirakan yang harus disampaikan pada keluarga besar.. "
" Situasinya tidak sederhana seperti yang anda pikiran dok.. Jadi ikuti saja ucapan saya***.. "
" Mampus aku.. Mampus.. mampus.." dokter Milan memukul kepalanya berulang kali karena situasi ini.
BRAKKK
Dokter Lora yang ada di ruangannya terlonjak kaget saat pintu ruangannya dibuka dengan sangat kasar. Mata dokter Lora memicing tajam, melihat pelaku yang telah membuatnya hampir saja terkena serangan jantung.
" Dokter Milan.. Dimana sopan santun anda? Anda adalah seorang dokter.... EEEEMMMMMPPPPTTTTT.. " mulut dokter Lora langsung dibekap oleh dokter Milan.
" Lora.. Aku tanya sama kamu, apa tadi istri tuan muda Galen, nyonya muda Lucena datang ke sini periksa kandungan? " dokter Lora mengangguk. Tidak biasanya suaminya itu terlihat sangat serius, dia jadi takut untuk kembali marah.
" Kamu bilang kalau nyonya hamil dan tepat usia kandungannya? " dokter Lora kembali mengangguk.
" ****.. " dokter Milan mengumpat.
" Honey.. Kenapa mengumpat di depan aku? Apa salah aku ngomong sama nyonya muda? " sentak dokter Lora tidak Terima.
" Masalahnya tuan muda tidak ingin nyonya muda tahu.. Mereka sedang dalam kondisi yang tidak sederhana karena itu tuan muda meminta kita merahasiakan nya.. " tutur dokter Milan menjelaskan.
" Terus kita harus bagaimana? Aku kan tidak tahu.. " dokter Lora langsung lesu.
" Aku akan coba menghubungi tuan muda.. "
Ketika dokter Milan berusaha menghubungi Galen, sayangnya sudah berkali-kali di telepon, sama sekali tidak ada tanggapan dari Galen. Tentu saja Galen tidak menanggapi karena dia meninggalkan ponsel miliknya di ruangan kerjanya, sedangkan dia sedang mengikuti rapat tahunan di ruang rapat.
Tidak ada waktu lagi, begitulah pikir Ketos. Sesudah menerima telepon dari dokter Milan, Ketos lekas berlari keluar dari ruangan Galen, langsung menuju ke ruangan rapat yang berada tepat satu lantai dibawah lantai ruangan CEO. Ketos terpaksa melewati rangga darurat karena sepertinya ada menggunakan lift khusus CEO. Entah siapa itu, mungkin anggota keluarga de Niels.
BRAAAKK..
Semua mata menatap pintu yang terbuka lebar, karena ulah Ketos. Sebelum menemui Galen, Ketos terlebih dahulu membungkuk, meminta maaf atas perlakuannya yang dirasa tidak sopan. Tapi, Ketos melakukannya ini semua terpaksa karena saat ini, kepentingan yang ingin dia sampaikan pada tuan mudanya, lebih penting dari rapat tahunan ini.
" Ada apa? " tanya Galen yang tahu, jika Ketos berbuat begini, pasti ada kepentingan mendesak yang tidak bisa ditunda.
" Maaf tuan.. " Ketos maju untuk membisikan pesan yang disampaikan oleh dokter Milan padanya.
Mata Galen langsung terbelalak, refleks dia berdiri begitu saja, dan menjadi pusat perhatian di tengah rapat akhir tahunan JN GROUP. Daddy Joaquin pun menegur Galen karena dirasa kurang sopan, tapi sepertinya sama sekali tidak Galen dengarkan, karena saat ini, pikiran Galen telah melanglang buana ke tempat dimana istrinya berada.
" Mohon maaf atas ketidaksopanan saya dan asisten saya.. Karena ada kondisi yang mendesak, saya Galen de Niels, CEO JN GROUP, mengumumkan rapat ditunda.. Kita bertemu besok.. " setelah mengumumkan hal itu, Galen berujar pada daddy Joaquin ada hal penting mengenai Lucena yang harus dia segera temui. Daddy Joaquin pun mengerti, karena rumah tangga putranya sulungnya ini tengah dilanda angin topan.
Di dalam mobil, berulang kali Galen mengumpat kesal atas keteledoran dokter Milan hingga kondisi yang Galen sembunyikan dari Lucena, akhirnya bocor ke telinga sang istri. Sumber kekecewaan Galen terhadap istri dan takdir, kini telah diketahui oleh Lucena. Artinya, sekarang masalah baru akan segera Galen hadapi.
" Ketos.. Ini mobil atau sipit, kenapa jalannya lambat sekali.. ? " sentak Galen.
" Maaf tuan.. Keadaan sedang macet karena banyak dari para pekerja yang di jam seperti ini baru saja pulang.. " Ketos masih bisa menjawab.
" Jalankan cepat mobilnya, atau aku akan membuat mu selamanya tidak akan bisa keluar dari mobil.. " Galen melotot tajam, mengintimidasi asisten pribadinya itu.
Ketos hanya bisa menurut tanpa berani menjawab. Tuannya sedang dalam mode singa lapar, gawat jika dia mengusik. Bisa berakhir diterkam oleh tuannya dan hidupnya tidak akan tenang lagi. Ketos berharap, tidak akan ada yang terjadi ke depannya. Karena jika sesuatu terjadi pada nyonyanya, Ketos yakin jika tuan mudanya ini akan menyalahkan dirinya sendiri.
*************
Mata Galen terbelalak saat melihat ada genangan darah di bawah pintu kamar mandi. Pikirannya langsung mengarah ke suatu yang buruk. Dengan segala kekuatan yang dia miliki, Galen mendobrak pintu kamar mandi. Hanya satu kata yang bisa melukiskan apa yang ada di depannya saat ini.
" Tidak.. "
" LUCENA... " Galen langsung maju dan lekas mengangkat tubuh sangat istri yang berada di dalam bath up yang sudah berwarna merah.
Galen menangis melihat betapa kondisi sangat istri sangat mengenaskan. Tadi, sebelum diangkat, tubuh Lucena terbaring tenggelam di dalam bath up, yang mana hanya bagian tangan sebelah kanan yang berada di atas air karena menyandar di pinggiran bath up. Akan tetapi, di pergelangan tangan kanan Lucena, terdapat sayatan yang memotong urat nadinya.
Galen berusaha memberikan nafas buatan, berharap jika dia masih bisa menyelamatkan nyawa sang istri. Tubuh Lucena sangat dingin, belum lagi wajahnya pucat sekali. Mirip seperti kondisi mayat. Galen ketakutan, bibirnya kelu untuk hanya memanggil nama sang istri. Tangannya bergerak cepat menekan dada sang istri, meski kedua tangannya bergetar hebat karena takut.
" Bangun Lucena... Aku mohon bangun.. " ucap Galen dengan air mata yang sudah berlinang.
" Bangun Luce... Sayang, my love.. Come on wake up.. Please Lucena... Don't leave me alone.. I love you, please wake up.." gumam Galen terus berusaha membangunkan sang istri.
" Panggil ambulan.. KETOS CEPAT PANGGIL AMBULANS.... " teriak Galen menggelegar di ruangan sempit kamar mandi itu.
" BANGUN LUCENA.. JANGAN TINGGALKAN AKU.. LUCENA.. LUCENA... "