IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Pesta



" Bridella.. Kamu temani saya ke pesta nanti malam.. " Ucap Galen sebelum memasuki ruang kerjanya.


" Tapi tuan... " Bridella hendak menolak karena dia ada acara keluarga malam ini, Galen justru sudah menutup pintu ruang kerjanya.


" Aduh... Harus apa aku? Nanti malam kan.... " Gumam Bridella merasa dilema.


Di dalam ruangannya Galen langsung duduk di kursi kebesarannya dan mulai langsung mengecek email dari klien bisnisnya. Galen hanya mengecek email yang penting saja, selebihnya adalah tugas Billcan untuk merangkum email ini dan nanti dilaporkan padanya. Alis Galen menukik tajam saat melihat ada email dari alamat email Lucena. Galen menyayangkan cara Lucena menghubungi nya, kenapa tidak melalu telepon saja, tapi justru melalui email.


**Galen..apakah boleh jika aku kembali memberikan bimbingan untuk mahasiswa ku? Rektor dan pemilik kampus meminta ku untuk membimbing tiga mahasiswa yang gagal wisuda bulan lalu**


Galen menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ingin melarang, karena mengingat kondisi kesehatan dan mental Lucena yang belum sembuh. Tapi, terus membatasi ruang gerak Lucena, hanya akan memperburuk kesehatan mentalnya. Akhirnya, Galen pun menyetujui permintaan Lucena untuk kembali memberikan bimbingan pada mahasiswa nya.


**Hm..lakukan apa yang kau mau..asal dengan syarat,kau mau dikawal dengan bodyguard..meraka akan memantau diri mu dari jauh..**


Galen menutup emailnya, karena dia yakin jika Lucena tidak akan membalasnya segera. Selain karena sibuk, email Lucena sebenarnya dikirim kemarin malam. Hanya saja Galen yang memang sekarang memilih menyibukan diri, sama sekali tidak perhatian dengan hal itu.


Galen menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya. Matanya menerawang jauh, pada berkas-berkas penyelidikan yang diperlihatkan oleh Ketos kemarin sore. Memang masih belum pasti siapa yang telah mempermainkan Galen, tapi ada sedikit petunjuk yang menurut Galen mungkin itu adalah penyebab Lucena mengalami ini semua.


Lucena dulunya adalah dosen yang mengajar ilmu psikologi sebelum mengambil jurusan ekonomi. Lucena berpindah jurusan karena dia memang mengambil S2 di bidang ekonomi. Namun, tidak banyak orang ketahui, bukan itu alasan Lucena pindah fakultas mengajar.


Ada sebuah kejadian, yang mana akhrinya menimbulkan trauma yang besar pada Lucena. Itu terjadi sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Galen sampai harus tinggal di Roma selama hampir satu tahun, demi mendampingi Lucena agar tidak terus menerus mengalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.


" Alona Moarez.. Dia kalau tidak salah, anak dari Filon Moarez kan.. Salah satu pemegang saham di perusahaan yang ada di Roma? " Gumam Galen mencoba mengingat-ingat.


" Gadis cantik dengan lesung pipi yang membuatnya terlihat sangat berbeda karena kecantikannya. Sayangnya.. Dia harus mengalami itu semua.. Dia,, mahasiswa Luce. " Galen mencoba merangkai semua informasi yang dia dapatkan dari beberapa sumber.


Kejadian yang menimpa Lucena, menyisakan banyak sekali lubang di mana-mana. Hal ini membuat Galen kesulitan menjangkau orang yang berada di balik semua ini. Galen salut pada orang-orang yang telah mencelakai Lucena, karena mereka sama sekali tidak terendus oleh Galen.


Mengingat bahwa Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan ada kalanya jatuh juga. Kemudian, tidak ada yang bisa menutupi bangkai. Hal itu lah yang memberikan kepercayaan tinggi pada Galen. Dia, tengah menunggu momen dimana tupai akan terjatuh, dengan begitu, kejahatan orang-orang ini akan terungkap.


" Apakah aku harus memancing mereka? Sebelum itu, aku harus mencari tahu terlebih dahulu, apa motif mereka.. Benarkah karena Alona Moarez, atau ada alasan lainnya? " Galen tersenyum miring.


Malam harinya, Galen datang ke pesta tidak bersama dengan Bridella, karena sekretarisnya itu ada acara tunangan dengan kekasihnya. Galen memaklumi dan dia juga tidak memberatkan posisi Bridella dengan memaksanya untuk menemani Galen ke pesta yang diadakan oleh kolega bisnis Galen. Tapi, bukan Galen namanya kalau tidak bisa mencari pasangan untuk pergi ke pesta.


Beberapa jam yang lalu,


" Kau gila.. Kenapa kau mengajak istri ku pergi ke pesta? Kenapa bukan pasangan mu sendiri? " Sentak Gaffi emosi karena Galen dengan beraninya mengajak Kate pesta.


" Ck.. Tapi ya tidak harus istri ku, Galen. Ajak saja sekretaris mu. Bukankah dia yang selama ini menemani mu ke pesta.. " Gaffi tetap menentang keinginan Galen.


" Sekretaris ku bertunangan malam ini.. Karena itu aku ajak Kate saja.. Kalau ada Gege, aku juga pasti mengajak dia kok.. Jadi santai saja.." Ucap Galen seolah tidak merasa bersalah.


" Pokoknya tidak ya tidak.. " Gaffi melengos.


" Aku tanya Kate saja.. " Galen pun pergi menemui Kate di dapur karena sedang memasak bersama dengan mommy Noura.


" Jangan macam-macam kau, Len.. Galen.. Galen... Aarrrgggggg... Sialan.. " Gaffi langsung mengejar Galen yang sudah sampai ke dapur.


Alhasil, disinilah sekarang Galen, berada di pesta bersama dengan Kate. Pastinya sekarang Gaffi sedang menangis di rumah sakit karena sedang kerja jam malam. Kate mengiyakan ajakan Galen, karena tak kuasa menolak. Dulu saat dia dan suaminya dalam kondisi hubungan yang tidak baik, Galen lah yang selalu ada untuk membantu. Jadi Kate merasa memiliki hutang budi pada Galen.


Semua tamu undangan menatap Galen dan Kate dengan tatapan kagum. Yang satu tampan dan yang satu lagi sangat cantik. Namun, bagi beberapa kolega Galen yang datang ke acara pesta pernikahannya saat itu, pastilah menyadari jika pasangannya di pesta ini, bukanlah istrinya.


" Selamat datang, di pesta sederhana saya ini, Tuan muda Galen.. " Sapa si pemilik acara.


" Iya.. Terima kasih, tuan Malik.. Pesta yang sederhana..? Ya.. Sebenarnya pesta ini tidak bisa Anda sebut sederhana.. " Ujar Galen meledek.


" Hahahahaha... Maaf atas ketidaknyamanannya Anda tuan.. Selamat menikmati pesta. " Galen mengangguk, kemudian mengajak Kate menuju ke stand makanan. Iparnya ini sedang hamil, dan tiba-tiba tertarik saat melihat makanan yang disajikan di sana.


Galen dengan telaten membantu Kate mengambil makanan, membantunya duduk, dan juga mengambilkan Kate minuman. Sudah seperti pasangan suami istri saja mereka ini. Namun, ketenangan yang Galen dan Kate rasakan saat ini, tiba-tiba saja diganggu oleh seseorang yang sepertinya adalah istri dari salah satu kolega Galen.


" Selamat malam tuan de Niels.. Oh.. Bukankah ini nyonya de Niels dari tuan muda ketiga.. Rupanya Anda sedang hamil ya.. " Ucap seorang wanita yang Kate sendiri kenal karena pernah melakukan hubungan kerja sama dengan perusahaan milik suami wanita ini.


Namun, bukannya Galen dan Kate membalas sapaan dari wanita ini, keduanya justru heran karena nada bicara dari wanita ini, terkesan lebih pada mengejek daripada sopan. Dalam diamnya Galen sudah berancang-ancang akan melabrak wanita ini jika sampai ucapannya keterlaluan.


" Selamat malam juga, nyonya Wilson.. Apa Anda datang bersama dengan suami Anda? " Tanya Galen basa basi.


" Tentu saja.. Kami pasangan yang harmonis, selalu bersama kemana pun kami pergi.. Anda.. Juga suatu saat nanti, akan bisa merasakan kehidupan rumah tangga seperti saya... Hihihihi.. " Kate menggigit bibir bawahnya, berusaha meredam amarahnya.. Wanita ini terang-terangan menyindir dirinya dan Galen.


" Syukurlah jika begitu... Semoga saja, suami Anda akan terus... Tetap diam dan bersahaja.. Meski istrinya... " Galen kemudian membisikan sesuatu apa nyonya Wilson.


Setelah mendengar ucapan Galen, nyonya Wilson lekas ngacir pergi. Dari wajahnya terlihat sangat ketakutan, entah apa yang Galen katakan. Kate penasaran, tapi Galen hanya mengedikan bahunya saat Kate bertanya tentang apa yang Galen katakan.