IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Kode untuk merahasiakan



Disebuah ruangan yang bernuansa serba putih, terlihat seorang pria tengah duduk di sofa menghadap ke tempat tidur pasien dimana ada perempuan yang terbaring tidak sadarkan diri di sana. Pria ini menatap tajam ke arah perempuan itu, seperti seekor elang yang menatap mangsanya.


Galen, pria yang tengah menunggui perempuan itu adalah dia. Dan tentunya sedang terbaring tidak sadarkan diri di tempat tidur itu adalah Lucena. Menurut dokter, butuh beberapa jam untuk Lucena bisa sadarkan diri setelah pingsan karena darah rendah dan stress dimasa kehamilannya.


Berulang kalo Galen menghela nafas frustasi, jika mengingat ucapan dokter padanya tadi. Sungguh tidak bisa dipercaya, Lucena yang beberapa hari lalu mengatakan tidak pernah berhubungan dengan pria lain selama menyukai Galen, lalu sekarang dikabarkan tengah hamil. Parahnya, pernikahan mereka baru berjalan dua minggu, tapi Lucena sudah hamil lima minggu.


" Dengan siapa kau melakukannya, Luce? Kau bilang hanya ada aku di dalam hidup mu.. " gumam Galen, masih menatap sang istri meski tatapan nya sekarang berubah menjadi tatapan lembut sarat kesedihan.


" Apa aku harus mengatakannya pada mu? Ataukan aku harus diam? Apa kau tahu jika kau telah hamil, atau kah tidak mengetahuinya. Kenapa semua jadi begini Luce.. " Galen menelungkupkan kepalanya dibalik kedua telapak tangannya sudah terlampau frustasi.


" Eeeeeuugghhh.. " terdengar lenguhan dari ranjang, Galen pun langsung mendekat.


" Ssssttttt... Aku.. dimana? " tanya Lucena ketika mendapati suaminya ada di sampingnya.


" Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan di rooftop.." jawab Galen. Tangannya terulur untuk memencet tombol yang terhubung dengan ruangan suster. Galen berusaha untuk memanggil dokter agar memeriksa keadaan Lucena saat ini.


" Oohh.. Maaf.. sudah merepotkan kamu.. " Lucena tiba-tiba berucap sedikit dingin. Galen sampai mengernyitkan alisnya karena bingung dengan nada bicara dari Lucena.


Kecanggungan diantara keduanya akhirnya bisa cair ketika dokter Milan dan beberapa suster masuk untuk memeriksa Lucena. Pada awal mata dokter Milan dan Galen bertemu, Galen langsung memberi isyarat agar dokter Milan tidak mengatakan apapun tentang kehamilan Lucena.


Dokter Milan sama sekali tidak mencurigai hal itu karena berpikir bahwa tuan mudanya ini akan memberikan kejutan pada nyonya muda. Alhasil, dengan senyum yang khas dokter Milan, dokter yang adalah pria ini mengangguk melihat Galen.


" Tidak ada masalah yang serius, hanya anemia saja.. Perbanyak makan dan minum yang bisa memperbanyak produksi darah merah di dalam tubuh. " ucap dokter Milan setelah memeriksa Lucena.


" Dok, saat sebelum saya pingsan, saya merasakan perut saya sangat sakit sekali.. Apakah ada penyakit serius dengan perut saya? " tanya Lucena yang teringat kejadian sebelum dia pingsan.


Galen tersentak kaget mendengar pertanyaan yang Lucena lontarkan pada dokter Milan. Dari ucapannya seolah Lucena tidak tahu bahwa dia telah mengandung. Bukanlah itu terdengar aneh, padahal usia kandungannya sudah lima minggu.


" Em... Itu... " dokter Milan melirik Galen yang ada di sampingnya. Galen pun menggeleng kecil, tidak mengizinkan dokter Milan mengatakan yang sebenarnya.


" Itu karena akhir-akhir ini Anda sering melalaikan pola makan Anda dan dalam kondisi mental yang tidak baik-baik saja. Sehingga mempengaruhi perut Anda.. " dokter Milan tersenyum canggung.


" Begitu dok.. Terima kasih.. Tapi kapan saya bisa pulang? " Lucena kembali bertanya.


Kini di dalam ruangan itu hanya ada Galen dan Lucena saja. Keduanya kembali canggung karena tidak tahu harus berbincang tentang masalah apa. Lagi, keduanya sama-sama tengah memendam kekecewaan satu sama lainnya. Untuk saat ini tidak menangis saja, sudah merupakan pertahanan diri yang hebat dari Lucena.


Dia memilih untuk kembali membaringkan tubuh nya dan langsung bergelung dengan selimut. Merasa percuma meminta penjelasan pada Galen, karena tidak mungkin Galen mau menanggapi keluh kesahnya. Sudah sejak awal pernikahan mereka Galen mendiamkannya dan terkesan acuh padanya.


Galen sendiri bingung untuk saat ini keputusan apa yang harus dia buat. Dia merasa perlu memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Tidak bisa dia bertindak gegabah saat ini. Semua ini menyangkut dia keluarga dan keluarga besar de Niels. Salah langkah, maka bisa memperkeruh hubungan keluarga de Niels yang sempat goyah karena masalah Geya dan Rouge beberapa tahun belakangan ini.


" Kita, pindah ke mansion pribadi ku saja.. Kau mau? " tanya Galen. Dia menatap wajah Lucena yang terlihat pucat sekali.


" Aku ikut saja keputusan mu... ( Bahkan jika kau memilih meninggalkan aku sekali pun.. Karena aku sungguh tidak sanggup lagi..) " lanjut Lucena dalam hati.


" Sepulang dari sini, kita langsung ke mansion pribadi ku.. " Lucena mengangguk, kemudian memejamkan matanya. Berusaha menghindari pembicaraan dengan Galen karena hatinya masih sakit karena kejadian di kantor Galen tadi.


Galen kembali duduk ke sofa, masih menatap Lucena dalam diam. Membiarkan saja Lucena yang menghindari dirinya dengan memejamkan mata seolah tidur. Galen tahu Lucena tidak tidur, hanya sedang kesal dengannya karena Galen terdengar sangat dekat dan mesra dengan mantan istrinya.


Galen tersenyum ketika melihat wajah Lucena yang terlihat tengah menutupi bahwa dia sebenarnya tidak tidur. Mimik khas yang selalu Galen lihat saat Lucena tidak menyukai sesuatu, tapi menahannya hanya demi Galen. Tidak bisa membohongi hati dan pikirannya, Galen masih sangat mencintai Lucena. Kejadian kali ini sama sekali tidak mengurangi rasa cinta Galen untuk Lucena.


Galen senyum senyum sendiri saat mengingat jika dulu, ketika mereka masih bersekolah. Dia sering kali merasa terganggu dan jengah dengan sikap Lucena yang over protective padanya. Jika ada gadis yang mengutarakan perasaanya, sudah pasti Lucena akan maju ke depan dan memproklamirkan bahwa Galen adalah miliknya.


Flashback..


" Lucena hentikan.. Kenapa kau selalu bersikap seperti itu setiap ada gadis yang mengutarakan perasaannya pada ku? " protes Galen. Keduanya kini berada di taman belakang sekolah.


" Kenapa kau marah? Senang jika diri mu digilai oleh mereka.. Galen, sudah aku katakan berkali-kali kalau aku menyukai mu, jadi jangan beri tanggapan pada gadis yang mengejar diri mu, atau aku akan katakan pada mommy jika kau itu playboy.. " Lucena langsung mengeluarkan jurus andalan nya.


" Terus saja menjadikan mommy sebagai tameng mu.. " Galen melotot tajam menatap Lucena.


" Tentu.. Kau hanya boleh bersama ku, selamanya aku akan tetap menjadi satu-satunya wanita yang pantas untuk mu.. " Lucena berteriak tepat di wajah Galen kemudian pergi meninggalkan Galen yang tercengang melihat tingkah Lucena.


Flashback off.


" Benarkah hanya diri ku yang pantas untuk ku Lucena? Lalu, haruskah aku menerima diri mu dan segala misteri yang menyertai mu, termasuk kehamilan mu? " gumam Galen lirih.