IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Luka yang sama



Beberapa hari sudah berlalu sejak keluarga de Niels mengadakan konferensi pers untuk menanggapi berita yang mengulas salah satu anggota keluarga mereka, Lucena de Niels. Selama beberapa hari ini, media masih ramai memberitakan tentang kejadian yang dialami oleh Lucena. Ada yang simpati atas apa yang Lucena alami, ada juga yang masih mencibir Lucena lantaran tidak percaya jika disini Lucena adalah korban.


Satu hal yang diluar perkiraan keluarga de Niels telah terjadi setelah konferensi pers hari itu. Ada beberapa dosen dan mahasiswa yang mengenal Lucena ikut membuat postingan di media sosial mereka, yang mana mereka semua memberikan dukungan pada Lucena. Orang-orang yang keseharian nya bersama Lucena ini mengatakan jika Lucena bukanlah tipekal perempuan yang bisa melakukan hal memalukan seperti itu.


Miss Lucena itu pemalu.. Dan kami semua satu kampus tahu jika miss Lucena jatuh cinta pada sosok pria yang sekarang adalah suaminya.. @yolan_da.


Miss Lucena tidak mungkin melakukan seperti apa yang nitizen katakan.. Beliau termasuk dosen yang sangat menjunjung tinggi aturan.. Jadi bukanlah, kalau disini miss Lucena adalah komplotan dari penyebaran video itu..


@Riona_89.


Dan masih banyak lagi teman kerja dan mahasiswa Lucena yang membuat pernyataan mendukung Lucena.


Hal ini tentu saja membuat Lucena merasa terharu karena orang-orang disekitarnya dan keluarganya mendukung dirinya. Bagi seseorang yang menjadi korban pelecehan seperti dirinya. Tidak banyak yang mendapat dukungan. Kebanyakan dari mereka justru dikucilkan, dihina dan dikecam sebagai seseorang yang buruk. Padahal, tidak semua orang menginginkan berada di posisi seperti Lucena.


Galen pun ikut bertindak dengan menulis sebuah caption di media sosial miliknya, mengenai hubungan dirinya dan Lucena. Maksud Galen melakukan hal ini agar semua orang tidak berbicara buruk tentang pernikahan mereka. Galen, mencintai Lucena, dengan segala kelebihan dan kekurangan wanita ini. Sejak dulu, sekarang dan akan selamanya, perasaan Galen tidak akan berubah.


* Mungkin semua orang tidak banyak tahu tentang kisah awal diri ku dan Lucena. Kami, sudah saling mencintai sejak kami masih duduk di bangku sekolah. Namun, baik aku dan Lucena tidak pernah memiliki niatan untuk memiliki hubungan yang pasti seperti sepasang kekasih..


Alasannya bukan seperti yang orang pikirkan tentang kami, seperti Lucena yang kurang sempurna dan sebaliknya. Yang menjadi dasar keputusan kami adalah perbedaan pemahaman kami tentang hidup.


Lucena adalah seseorang yang mendasari setiap tindakan dan tutur katanya dengan peraturan. Dia, sejak duduk di bangku sekolah pun tidak pernah satu kali pun melanggar peraturan. Hal ini, bertolakbelakang dengan aku yang menyukai kebebasan tanpa ada aturan yang membuat diriku tidak diriku terkekang.


Dari sini, seharusnya kalian bisa mengambil keputusan, bahwa Lucena bukan termasuk seseorang yang akan melakukan sebuah perbuatan yang melanggar norma dan aturan.. Dia adalah korban dari perbuatan yang dilakukan oleh orang lain yang tidak bertanggung jawab. Jadi... Bisakah kalian tidak menempatkan Lucena sebagai seorang pendosa? *


Begitulah kiranya Galen menulis di laman sosial media miliknya. Tidak ada yang bisa Galen lakukan sekarang karena statusnya sebagai pasien. Banyak pengobatan yang harus dia jalani agar umurnya tidak pendek. Banyak yang bergantung hidup padanya sehingga Galen tidak boleh menyepelekan kesehatannya.


" Kau menulis ini? " Tanya Lucena. Saat ini, dirinya tengah menemani Galen di rumah sakit.


" Hm.. Aku sedikit jengah dengan orang-orang yang tidak mau menerima hasil dari konferensi pers tempo hari. Mereka bicara seolah mereka berada di TKP dan melihat semuanya.. " Gerutu Galen.


" Tak apa.. Mau dengan mu harus mau menerima satu paket. Satu paket kebahagiaan dan masalah.." Galen terkekeh.


Jika orang menganggap Lucena baik-baik saja, apalagi terlihat bisa tersenyum dan tertawa di depan Galen, maka orang itu salah. Lucena, hanya akan bersikap seolah dirinya baik hanya di depan suami dan keluarganya. Namun, saat dirinya sendiri, tidak jarang Lucena bahkan mencoba menyakiti dirinya sendiri lantaran merasa jijik pada tubuhnya.


Beberapa kali, Lucena mencoba melakukan bunuh diri tanpa sepengetahuan keluarganya. Tapi selalu gagal karena mengingat ucapan Galen. Bahwa saat Lucena mengakhiri hidupnya maka Galen pun akan ikut mengakhiri hidupnya. Bagi Lucena, Galen tidak seharusnya menjadi pihak yang tersakiti disini. Karena sejujurnya, dibandingkan rasa sakit yang dialami Lucena, rasa sakit Galen lebih kuat.


Entah sampai kapan Lucena bisa berpura-pura dirinya baik-baik saja. Padahal, keputusasaan sudah mulai sedikit demi sedikit masuk ke dalam dirinya. Penyelidikan yang belum menemukan titik terang karena pelaku sangat rapi dalam melakukan kejahatan. Menjadi faktor utama Lucena mulai putus asa dengan perjuangan dirinya dan keluarganya.


" Luce.. Jangan sekali-kali bertindak diluar nalar lagi seperti tempo hari.. Aku, tidak suka kau begitu.. " Ucap Galen terlihat serius sekali. Matanya menyorot Lucena, mengintimidasi istrinya ini agar tidak sampai berbuat hal yang buruk.


" A-apa maksud mu, Len? " Lucena terlihat sedikit gugup.


HUFT...


Galen menatap istrinya dengan tatapan sayu. Merasa dirinya gagal melindungi orang yang dia cintai ini. Meski terlihat tidak sama sekali terpengaruh dengan keadaan saat ini, akan tetapi sebenarnya Galen selalu diliputi rasa bersalah yang amat sangat besar sekali.


Dari kasus Geya, kemudian Gaffi, lalu Rouge, dan kini Lucena. Keempatnya gagal dia lindungi sehingga jatuh dalam keputusasaan. Geya yang harus hamil diluar nikah dan memilih pergi, Gaffi yang menjadi pernikahan sebagai alat balas dendam hingga harus kehilangan calon anaknya, dan Rouge yang harus menjadi pria tidak bertanggung jawab karena terlena dengan cinta di masa lalunya. Dan sekarang, yang paling menyakitkan, dia telah gagal melindungi wanita yang dia klaim sebagai wanitanya.


" Aku tahu kau hanya pura-pura baik di depan ku.. Aku tidak marah, karena aku pun melakukan hal yang sama. Aku, jujur saja sekarang ini sangat tertekan dan juga merasa bersalah.. Namun takut kau semakin tertekan jadi aku pun memperlihatkan jika aku baik-baik saja. Bukankah kau juga begitu.. " Lucena menunduk karena Menghindari tatapan tajam dari suaminya.


" Ingat Luce.. Jika kau nekat mengakhiri semuanya,, maka aku pun juga dengan senang hati melakukan hal yang sama. Aku tidak baik-baik saja dan pilihan ku pun sama seperti mu, lebih baik jika aku mengakhiri semuanya.. "


" Tidak.. Jangan.. Jangan pernah melakukan itu.. Maaf.. Maafkan aku.. Aku pikir... Aku pikir... Hiks... Hiks.. " Lucena tidak bisa melanjutkan ucapannya karena rasanya tenggorokan nya tercekat.


Lucena, selalu berpikir jika dirinya yang paling menderita diantara semua orang. Nyatanya, deritanya juga dirasakan oleh pria yang menjadi tujuan hidupnya sejak dulu kala. Andai saja waktu bisa diputar, Lucena tidak akan menjadi orang bodoh hingga terjebak situasi seperti saat ini. Karena, hasil dari kepolosan dan kebodohannya, pria yang dia cintai, menjadi korban dan berakhir terluka.