IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Kebahagiaan seorang suami



" Paman.. Kenapa kau menangis? " Tanya seorang anak perempuan yang mendekat ke arah Galen yang masih bersimpuh dan menangis menatap ke arah Lucena.


" Paman.. Paman sedang merasa sangat senang sekali saat ini.. Akhirnya.. Akhirnya paman menemukan istri dan anak-anak paman.. " Ucap Galen menjawab pertanyaan anak perempuan ini.


" Mana.. Mana.. Dimana istri dan anak paman? " Anak perempuan ini terlihat bahagia sekali.


Galen menunjuk ke arah dimana Lucena berada bersama dengan kedua anak mereka dan dua pengasuhnya. Anak perempuan ini mengikuti arah tangan Galen dan dia pun ikut memperhatikan Lucena dan juga anak dari paman yang baru dia temui saat ini.


Tiba-tiba saja, ada seorang wanita tua berjalan di depan mereka membawa bunga yang dia jual. Kesemua bunga yang dijual oleh wanita tua itu adalah bunga mawar dengan beberapa jenis warna.


Galen tiba-tiba saja memiliki ide bagus saat melihat wanita tua penjual bunga itu. Galen sengaja membeli bunga dari wanita tua ini dan meminta anak perempuan yang bersama ini mengantarkan bunga untuk Lucena.


Anak perempuan ini dengan senang hati membantu Galen. Dia berlari menuju ke arah Lucena dan memberikan bunga itu untuk Lucena. Dari tempatnya, mata Galen tidak sama sekali beralih ke arah lain selain tempat dimana istrinya berasa.


" Tunggu Luce, setelah aku memastikan bahwa aku sudah mendapat maaf dari mu, setelahnya aku akan langsung menemui diri mu dan kedua buah hati kita.. Aku merindukan kalian berdua.. " Lirih Galen dalam hati.


Terlihat jelas di matanya Lucena menerima bunga darinya dengan senyum yang lebar menghiasi wajahnya. Senyum itu menular pada Galen, dia pun ikut tersenyum dengan beberapa tetes air mata yang keluar dari matanya. Air mata bahagia, karena berhasil menemukan dimana istri dan kedua buah hatinya berada.


" Ketos.. Kembali ke hotel dan sewa mobil di sana.. Aku ingin setelah ini kita mengikuti kemana Lucena pergi. Dengan begitu kita akan tahu dimana tempat tinggalnya.. " Galen memerintah Ketos.


" Baik tuan muda.. Saya akan menunggu anda di tempat parkir.. " Ketos pun menunduk dan pergi melakukan perintah dari Galen.


Galen hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari tempat sang istri berada. Lama Galen hanya duduk di bawah pohon tanpa alas duduk, memandang berapa cantiknya Lucena setelah dirinya tidak memandang wajah istrinya satu bulan terakhir ini.


Galen akan tersenyum, setiap melihat istrinya tersenyum. Dan saat mata Galen menatap kedua buah hatinya, dia sangat terkejut karena King Grif dan Queen Fay ternyata sudah mulai berjalan dengan dibantu dua pengasuhnya.


Ada rasa senang dan sedih datang bersamaan ke dalam relung hatinya. Betapa bodohnya dirinya sampai membuat istrinya pergi meninggalkannya hingga dirinya tidak bisa melihat dengan kedua matanya sendiri tumbuh dan kembang kedua buah hatinya.


" Terima kasih.. Kalian baik-baik saja selama pergi jauh dari ku.. Cukup seperti ini saja, aku sudah merasa sangat bahagia.. " Batin Galen.


Satu jam lebih Galen menunggu di taman dimana dia akhirnya bisa menemukan sang istri. Dapat Galen lihat jika saat ini istrinya telah mempersiapkan dirinya untuk pulang. Lucena tengah membereskan barang-barang yang dia bawa piknik dibantu salah satu suster pengasuh si kembar.


Si kembar diletakan di stroller mereka bersama suster satu lagi, memperhatikan bunda mereka berberes. Galen pun menghubungi Ketos untuk bersiap di pintu keluar taman. Galen ingin langsung berada di mobil Galen sebelum istrinya keluar dari area taman.


Galen memang tidak akan langsung menemui Lucena karena tidak ingin jika nantinya Lucena justru kembali pergi darinya. Galen akan mengawasi Lucena dari jauh sekalian mencari kesempatan untuk kembali dekat dengan sang istri. Tak masalah dia menunggu, dia memiliki banyak sekali waktu luang setelah dipecat oleh daddy Joaquin.


Galen masuk ke mobil yang disewa oleh Ketos, menunggu mobil yang dikendarai oleh Lucena di pintu keluar area taman ini. Sepuluh menit berikutnya, Galen tahu Lucena sudah mengendarai mobilnya dan dia pun langsung mengutus Ketos mengikuti dari jarak aman.


Galen tidak ingin jika dia ketahuan tengah mengikuti Lucena. Tidak mau disebut sebagai penguntit padahal sejak tadi, tingkah lakunya memang lebih mirip penguntit dibanding suami.


" Tuan.. Sepertinya nyonya muda tinggal di daerah yang cukup disebut dengan kawasan elite.. " Komentar Ketos ketika mobilnya sudah memasuki kawasan tempat Lucena masuk.


" Syukurlah.. Dia hidup dengan baik di sini.. " Gumam Galen.


" Oh ya.. Setelah kita tahu rumahnya, kau coba tanya-tanya apakah ada rumah yang dijual di sekitar sana. Pastikan kita dapat rumah meski harus membayar harga mahal.. Jangan lupa selidiki selama sebulan di kota ini, apa yang Lucena lakukan.. Kau paham Ketos? " Cerocos Galen memerintah asisten pribadinya.


" Paham tuan.. Selama saya mencari semua yang Anda inginkan, tolong tunggu saya di hotel saja.. Saya juga akan menghubungi orang-orang kita untuk datang kemari.. " Ketos menyanggupi. Dan Galen memberi respon mengangguk saja.


Mobil yang Lucena kendarai berhenti di depan sebuah rumah dengan dua lantai dan memiliki taman di bagian depannya. Dari seberang jalan, Galen menyaksikan bagaimana rupa rumah dari sang istri selama berada di kota ini. Ada sedikit rasa bersedih, karena alih-alih tinggal di mansion, istrinya justru memilih tinggal di rumah sederhana.


Galen terus berada di sana sampai Lucena dan kedua buah hatinya masuk ke dalam rumah, setelahnya dia pun meminta Ketos untuk membawanya kembali ke hotel. Besok, Ketos akan memulai penyelidikan, dan biarkan malam ini mereka berdua beristirahat terlebih dahulu.


Lucena menutup gorden jendela kamarnya setelah memastikan mobil mencurigakan yang mengikutinya pergi. Bukan Lucena tidak tahu jika ada yang mengikutinya sejak di taman tadi. Tapi Lucena tetap bersikap santai karena yakin jika yang mengikutinya pasti adalah orang yang menyuruh anak perempuan tadi memberikan bunga mawar padanya.


Memang tidak salah apa yang Lucena tebak mengenai mobil yang mengikutinya. Memang orang yang meminta anak perempuan yang memberi bunga pada Lucena, adalah orang yang mengikutinya. Tanpa Lucena ketahui, jika orang yang itu adalah orang yang sama dengan orang yang membuatnya pergi dari rumah sekaligus orang yang sangat dia rindukan saat ini.


" Entah kenapa tiba-tiba aku merasa kau ada disini, Galen.. " Gumam Lucena menatap foto pernikahannya dengan Galen yang dia pajang di dinding kamarnya.


" Jika aku merindukan mu, apakah kau akan marah? " Lucena terkekeh kemudian.


" Aku istri mu, tapi rasanya aku seperti seorang wanita yang menjadi penggemar fanatik mu saja. Merindu secara diam-diam, mendamba secara diam-diam. Layaknya seorang gadis yang tengah mengagumi kakak kelasnya secara diam-diam.." Lucena terkekeh kemudian.


Hari-harinya di tempat ini memang terkesan biasa-biasa saja. Semua itu memang ditanamkan Lucena pada dirinya sendiri agar tidak lagi menangisi perpisahan antara dirinya dan Galen. Lucena pun mengambil hikmah dari perpisahan ini. Ternyata, dia memang sangat kehilangan Galen dan takut kehilangan suaminya itu.


Lucena berharap, jika nanti mereka akan bertemu lagi, Lucena ingin semua kesedihan dan permasalahan mereka, akan melebur menjadi satu hingga menghilang ditelan waktu.