IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Takut hamil



Kepulangan Galen dan Lucena disambut dengan sangat meriah oleh anggota keluarga de Niels. Meski tidak semuanya yang menjemput di bandara, tapi cukup banyak juga yang datang menjemput Galen dan Lucena. Sisa dari anggota keluarga yang tidak ikut menjemput, rupanya berada di mansion utama menyiapkan pesta penyambutan.


Galen sungguh dibuat tidak berdaya oleh keluarganya sendiri. Hanya menyambut kedatangan nya dan sang istri dari bulan madu saja, sampai ada pesta segala. Meski bukan pesta yang dihadiri banyak orang, dan hanya makan bersama anggota keluarga. Tapi tetap saja menurut Galen ini sangat berlebihan.


Begitu sampai di mansion, Lucena dan para sepupunya segera berkumpul untuk membagikan oleh-oleh yang dia beli di Maldives. Semua anggota keluarga mendapatkannya, bahkan yang tidak hadir pun mendapatkan oleh-oleh dari Lucena. Melihat berapa senangnya sang istri, Galen pun ikut tersenyum. Sesuai janjinya, dia akan mengganti semua air mata Lucena dengan senyum dan tawa disisa hidup mereka.


" Bagaimana bulan madunya, Len? Apa sudah ada tanda-tanda Galen junior atau Lucena junior? " Raffi bertanya dengan kedua alisnya yang naik turun menggoda kembarannya.


" Menyenangkan.. Setidaknya tidak kalah dengan bulan madu mu di Rio de Janeiro.. Maldives, luar biasa.. Kapan-kapan ajak istri ku ke sana, pasti senang.. " Jawab Galen dengan senyum merekah menghiasi bibirnya.


" Hasilnya? Aku pulang dari bulan madu langsung berhasil membuat istri ku berbadan dua.. Bagaimana dengan mu? " Galen mengedikan bahunya karena memang belum tahu.


" Aku belum ada niat memiliki momongan.. Masih ingin berdua dengan Lucena, memperbaiki hubungan kami yang sempat renggang kemarin-kemarin.. " Gaffi mengangguk.


" Jangan terlalu lama.. Kalau Gaffi menunda momongan masih bisa diterima karena istrinya masih muda.. Lucena berbeda, usianya sudah hampir kepala tiga.. Bahaya jika punya anak di atas usia tiga puluh tahun.. " Paman Gilbert angkat bicara. Pengalaman istrinya yang pernah hamil di usia yang berada di kepala tiga, membuatnya memperingati keponakannya.


" Iya paman.. " Galen pun paham.


Usia wanita saat mengandung memang mempengaruhi kondisi kehamilannya dan juga pasca melahirkan. Fisik wanita di atas usia tiga puluh tahun mungkin memang tidak terlalu beda dengan yang berusia di bawah tiga puluh tahun. Namun, nyatanya memang banyak memberikan dampak pada wanita yang melahirkan di atas usia tiga puluh tahun.


Mata Galen kembali memperhatikan sang istri yang tengah bercengkrama dengan Silvanna, anak gadis dari paman Gilbert dan bibi Sherly. Mereka terlihat sangat seru sekali berbincang, entah apa yang mereka bahas sampai seseru itu keduanya berbincang.


Keputusan untuk memiliki keturunan memang sepenuhnya Galen serahkan pada Lucena. Selain karena Lucena pernah keguguran dan mengalami trauma pada saat itu, Galen sendiri belum cukup berani memiliki momongan karena trauma yang terjadi saat awal pernikahan mereka. Galen, sejujurnya takut memiliki anak setelah apa yang menimpa Lucena.


Meski banyak pertimbangan yang mengganjal di pikirannya mengenai momongan. Tapi mengingat ucapan paman Gilbert tentang usia wanita saat mengandung, cukup membuat Galen kembali memikirkan keputusannya untuk menunda memiliki momongan. Mungkin memang nanti dia harus membicarakan hal ini dengan Lucena.


Setelah acara makan bersama keluarga besar selesai, Galen mengajak Lucena untuk beristirahat di kamar mereka sekalian membicarakan apa yang tadi sempat Galen bahas dengan paman Gilbert dan keluarganya. Galen perlu mendengar pendapat Lucena tentang hal itu.


" Luce.. " Galen memanggil sangat istri yang masih sibuk dengan alat tempurnya di meja rias.


" Hm.. " Lucena berdehem.


" Kemarilah.. Aku ingin bicara sesuatu yang penting dengan mu.. " Lucena mengangguk. Kemudian dirinya mendekat ke ranjang dan mengambil tempat duduk di samping Galen. Lucena juga sudah selesai membersihkan wajahnya dan memakai cream malam. Sebagai istri CEO JN GROUP, penampilan Lucena harus dijaga dengan baik.


" Kau... Sudah siap untuk kembali berusaha memiliki.... Momongan? " Tanya Galen dengan sangat hati-hati karena takut membangkitkan kenangan buruk sang istri.


" Bukankah kita selalu berusaha make a baby selama di Maldives.. Kau pikir setiap malam di sana kita memadu kasih itu apa? Kau juga tidak memakai pengaman.. " Galen menggaruk pelipisnya mendengar ucapan sang istri yang sedikit frontal.


" Aku pikir kau memakai KB.. " Lucena menggeleng. Tentu saja Galen terkejut. Setahunya, Lucena memang memakai KB sejak kejadian dia keguguran waktu itu.


" Waktu itu aku memang memakai KB.. Tapi dua bulan kemudian aku melepasnya karena menurut mommy, tidak baik menggunakan KB karena bisa membuat kandungan kering dan sulit memiliki momongan.. Jadi ya aku lepas.. " Galen melongo mendengar penuturan sang istri.


" Terus.. Kamu nggak KB? Dan aku keluarin di dalam, terus.. Terus.. " Galen sudah panik saat ini.


" Dan.. Len.. Aku pengen ngomong sama kamu kalau aku itu sudah telat datang bulan dua hari.. "


Deg..


Secepat kilat Galen pergi meninggalkan Lucena. Memakai jaket dan menyambar kunci mobil yang ada di atas nakas. Lucena sendiri bingung dengan tingkah Galen setelah dia mengatakan dia sudah terlambat datang bulan.


" Mau kemana dia? " Gumam Lucena bingung melihat suaminya sudah keluar dari kamar. Saat Lucena mendengar suara deru mobil, lekas dia mengintip di jendela dan ternyata mobil Galen keluar area mansion utama.


" Dia mau kemana sih? Nggak pamit lagi.. " Lucena jadi kesal. Dalam pikirannya sudah melintas banyak pikiran-pikiran negatif tentang suaminya. Dan Lucena jadi parno sekarang.


Lucena duduk di ruang tamu, guna menunggu kedatangan Galen. Sejak Galen pergi tadi sudah terhitung satu jam lamanya. Lucena yang pikirannya sudah buruk duluan tentang suaminya, kini sudah mulai menahan untuk tidak menangis. Lucena takut, jika Galen akan kecewa seperti saat pertama kali mengetahui Lucena hamil. Apa Galen sungguh tidak ingin memiliki anak.


" Tapi kan belum tentu aku hamil.. Telat datang bulan kan sudah biasa buat aku.. " Gumam Lucena.


Karena melamun terus sejak tadi, sampai-sampai Lucena tidak mendengar suara mobil Galen yang sudah kembali ke mansion. Bahkan kini Galen sudah berdiri di depan Lucena dengan tangan yang terulur memberikan sesuatu pada Lucena.


" Luce.. Pakai ini.. " Ujar Galen menyerahkan sesuatu yang masih terbungkus dalam tas kresek.


" Ini.. Galen.. Kamu... " Lucena menutup mulutnya dengan kedua tangannya lantaran terkejut.