IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Menanggung semua sendiri



Daddy Joaquin dan mommy Noura langsung menghampiri sang putra yang sekarang terlihat sangat kacau. Beberapa saat yang lalu, Ketos menghubungi tuan dan nyonya besar de Niels untuk mengabari tentang menantu mereka yang ditemukan dalam kondisi tenggelam dalam bath up. Untuk kondisi detailnya, Ketos menolak untuk mengatakan dan meminta agar tuan dan nyonya besar de Niels ini sendiri datang dan bicara dengan Galen.


" Galen.." mommy Noura mengusap pundak sang putra yang terlihat bergetar. Putranya yang selama ini dia kenal sangat tegar, kini menangis tersedu.


" Mom.." Galen langsung berdiri dan memeluk sang mommy. Hatinya, pikirannya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


" Apa yang terjadi, Galen?" tanya mommy Noura. Tangannya bergerak naik turun mengusap punggung putra sulungnya ini.


" Luce mom... Luce...bunuh diri.." tenggorokan Galen tercekat ketika mengingat bagaimana dia menemukan sang istri dalam kondisi mengenaskan.


Mata mommy Noura terpejam, air matanya ikt menetes setelah mengetahui apa yang terjadi. Mommy Noura tadi sempat panik ketika dari kejauhan melihat kemeja putih putranya penuh dengan darah. Mommy Noura takut jika Galen terluka melihat betapa banyaknya darah yang ada di baju Galen. Kemeja putih itu nyaris menjadi warna merah.


" Jangan nangis, nak.. Yang perlu kita lakukan saat ini hanya berdoa semoga saja Lucena mendapatkan yang terbaik.. Galen harus kuat ya.." mommy Noura berusaha membesarkan hati putranya ini. Sungguh sangat sedih hatinya, melihat putranya begitu rapuh seperti ini.


" Galen takut ma.. Galen takut kalau Luce akan meninggalkan Galen untuk selamanya, mom... Galen takut.." tutur Galen mengutarakan isi hatinya.


" Luce akan kembali... Percaya ya. Kalau kalian itu jodoh dan Luce pasti kembali." mommy Noura terus menghibur sang putra.


Bersama daddy Joaquin, ibu dan anaknya itu duduk di bangku tunggu di depan ruang penanganan Lucena. Tidak ada yang bicara, hanya tangan mereka yang saling bertaut untuk menguatkan satu sama lain.


Ketakutan mulai merasuki tubuh mereka, kala sudah lebih dari satu jam, Lucena berada di dalam ruangan penanganan. Selama itu pula, belum nampak dokter atau suster yang keluar masuk ke ruangan itu. Jika tidak memikirkan dimana saat ini dirinya berada, sudah sejak tadi Galen terobos pintu di depannya ini untuk melihat bagaimana kondisi sang istri.


Selang setengah jam, keluarga Lucena dari Roma pun tiba di rumah sakit. Mereka melihat kondisi Galen yang kacau, membuat hati Daniel dan Whitney yang merupakan orang tua Lucena menjadi ketakutan. Hendak bertanya apa yang sebenarnya terjadi, namun mereka urungkan ketika melihat Galen pasti tidak akan bisa menjawab pertanyaan apapun saat ini.


Ceklek..


Dokter Milan keluar dari ruangan itu, ditemani seorang dokter pria yang usianya sudah berumur. Mereka disini untuk mengabarkan kondisi pasien saat ini pada keluarga. Berat mengatakan jika kabar yang akan mereka bagikan adalah berita buruk. Tapi sebagai seorang dokter, mereka tidak bisa memilih untuk terus mengabarkan kabar gembira pada keluarga pasien secara terus menerus. Pastinya akan ada berita duka juga, dan entah berita yang akan mereka sampaikan ini termasuk ke dalam kategori apa.


" Dokter.. Bagaimana putri kami?" papa Daniel langsung maju untuk bertanya pada dokter.


" Begini tuan dan nyonya, saya ingin menyampaikan beberapa berita, saya harap anda sekalian mempersiapkan diri untuk menerima kabar dari saya ini." dokter Milan menatap keluarga pasien satu persatu. Kesemua yang ada di sana mengangguk kecuali Galen.


" Saya mohon maaf, karena kami tidak bisa menyelamatkan janin dalam kandungan nyonya muda. Lagi, karena untuk waktu yang tidak sebentar otak nyonya muda tidak mendapatkan aliran darah yang membawa oksigen, bisa saya katakan kemungkinan besar nyonya akan....koma...untuk waktu yang tidak bisa kami tetapkan.."


Tubuh Galen langsung luruh ke lantai. Dia menjambak rambutnya, merasa gagal menjaga wanita yang telah dia jadikan kekasih terakhir dalam hidupnya. Galen menyesal, tidak ada di samping Lucena saat masalah ini dia ketahui. Andai...andai saja Galen memberikan sedikit perhatian alih-alih malah acuh, maka apa yang dialami Lucena saat ini tidak akan terjadi.


" Galen.. Bisa kamu jelaskan sama kami, apa yang sebenarnya terjadi.. Bagaimana bisa, Lucena bunuh diri ketika dia mengandung anak kalian?" tanya papa Daniel.


" Karena...Yang dikandung Lucena, bukan anak Galen, pa.." ujar Galen lirih.


JEDER.......


Semua orang di tempat itu dibuat tercengang bagai disambar petir karena ucapan Galen. Apakah yang mereka dengar ini adalah salah, ataukan mereka saat ini tengah bermimpi. Karena apa yang Galen ucapkan ini sungguh tidak masuk akal.


" Luce, mengalami pelecehan seksual? Kapan dan dimana?" tanya daddy Joaquin. Rasanya, jika dipikir seperti ini, terkesan lebih masuk akal.


" Galen nggak tahu, dad.. Galen sudah minta Ketos untuk cari tahu, tapi hasilnya nihil." jawab Galen.


" Bagaimana bisa kamu nggak tahu? Kamu itu suaminya, seharusnya tahu apa yang dialami oleh istri kamu sendiri.. Jangan lepas tanggung jawab jika hanya untuk menutupi kesalahan mu.." mama Whitney sudah berteriak di depan wajah Galen karena tidak senang dengan jawaban Galen yang terkesan lepas tanggung jawab.


" Bagaimana Galen bisa tahu kalau kejadiannya sebelum kami menikah? Usia kandungan Luce itu enam minggu... Sedangkan kalian tahu sendiri kami baru menikah tiga minggu.. Mama sama papa pasti tahu kan, enam minggu yang lalu Luce dimana dan Galen dimana.." sentak galen karena sudah tidak bisa menahan emosi di dalam dirinya.


Mama Whitney langsung lemas dan hampir saja limbung, beruntung papa Daniel lekas menangkap tubuh sang istri. Begitu juga mommy Noura yang langsung memeluk suaminya karena shock dengan apa yang didengarnya. Ternyata, selama ini, Galen memilih memendam semua sendirian lantaran masalah yang menimpanya sangat pelik.


" Aku tahu aku salah... Aku kecewa padanya karena dia tidak virgin di malam pertama kami.. Aku kecewa karena Lucena terlihat sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padanya. Disaat aku mulai mencoba menerima takdir yang harus aku jalani, aku mengetahui Lucena hamil, dan itu bukan anak ku.. Aku semakin kecewa, aku lalu bersikap acuh, karena setiap memandangnya, hati ku sakit.. Ma, Pa, mom, dad.." semua yang ada di sana menangis tersedu mendengar curahan hati Galen.


" Tapi, semua kekecewaan ku berubah menjadi ketakutan ketika Lucena mengatakan untuk berpisah jika memang aku tidak mencintainya... Tapi aku mencintainya.. Sangat mencintainya.. Karena itulah aku kecewa padanya...Dan disaat aku memutuskan untuk menerima masa lalu Lucena, menerima bayi yang dikandungnya... Tapi Lucena justru mengetahui semua yang aku sembunyikan dengan rapi, dan memutuskan untuk bunuh diri..." Galen langsung terduduk lemas stelah mengeluarkan semua unek-unek yang dia tahan selama tiga minggu ini.


Galen menolak untuk menceritakan apa yang terjadi dalam rumah tangganya demi melindungi martabat sang istri. Memilih menahan semua sendiri agar sang istri tidak menyalahkan dirinya sendiri. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi, dia akan segera kehilangan sang istri karena Lucena pasti akan memilih meninggalkannya karena merasa tidak pantas untuknya.


" Kak... Jangan khawatir.. Aku akan mencari tahu detail masalah ini... Kalian harus bahagia.. Itu harus.." seorang pria berdiri tidak jauh dari keluarga de Nielss yang berkumpul.