
Seorang wanita terlihat duduk di sebuah taman yang ada di pusat kota. Karena pikiran yang sedang kalut membuat wanita ini mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan dan berakhir di tempat ini. Sebuah taman kota yang berada di sebuah kota kecil dekat dengan Milan.
Taman terlihat sudah sangat sepi, tapi wanita ini sama sekali tidak takut jika ada orang jahat yang mencelakai nya. Sudah pasrah pada hidupnya, dan andai pun ada orang yang berniat jahat padanya, wanita akan pasrah menerima semuanya. Sudah pernah mencoba bunuh diri beberapa kali, dan selalu gagal. Membuatnya berpikir mungkin memang Sang Pencipta belum mengizinkan dirinya untuk pergi dari dunia ini.
" Nona.. Nona.. Apa yang anda lakukan di taman semalam ini? " Seorang pria tua menghampiri wanita ini.
" Ah.. Maaf tuan.. Saya sedang ingin mencari ketenangan disini.. " Si wanita menjawab.
" Tapi jangan disini nona, apalagi ini sudah sangat larut.. Lebih baik anda pergi ke penginapan di sebelah barat saja.. Di sana anda akan aman dan besok bisa kembali ke tempat ini.. Di sini rawan kejahatan nona.. " Ucap pria tua itu terlihat mengkhawatirkan wanita yang duduk sendiri di taman.
" Ada penginapan di arah barat? Kebetulan kalau begitu, bisa anda bawa saya ke sana tuan? " Wanita ini bangkit berdiri dan mengajak pria tua yang menyapanya tadi untuk menunjukan letak dimana penginapan berada.
" Mari nona.. Saya akan mengantar anda.. "
Keduanya pun masuk ke dalam mobil dan segera bergerak ke arah barat menuju ke sebuah penginapan sederhana. Karena tidak ada tempat menginap lainnya, akhirnya si wanita menerima saja meski fasilitas di penginapan ini jauh sekali dari kata mewah.
" Terima kasih pak.. Sudah membantu saya mencari penginapan.. Ini ada sedikit rejeki untuk bapak, mohon diterima pak.. " Si wanita memberikan beberapa lembar uang dolar pada si pria tua itu.
" Tidak nona Terima kasih.. Saya memang niat membantu dan itu ikhlas.. " Si pria tua menolak dengan sopan.
" Tidak apa pak.. Saya mohon agar anda menerima pemberian dari saya. Jika anda menolak, saya akan sangat sedih sekali.. " Ucap di wanita yang kekeh menyerahkan beberapa lembar uang dolar itu.
" Huft... Baiklah nona, saya Terima uang ini.. Terima kasih banyak.. " Pria tua itu pun pergi meninggalkan si wanita.
Wanita ini berbaring di ranjang yang hanya cukup untuk satu orang dan kasur di ranjang ini sangatlah keras. Ukuran kamarnya juga sangat sempit, hanya ada ranjang kecil yang cukup hanya untuk satu orang, sebuah meja dan kursi, televisi kecil dan yang disyukuri oleh wanita ini adalah karena masih ada kamar mandi di dalam kamar yang sempit ini.
" Aku tidak bawa baju ganti.. Aish.. Kenapa juga bisa sampai disini? " Gumam wanita ini kesal. Kesal atas kebodohannya yang diliputi amarah sampai tidak sadar kemana dia pergi.
" Dia pasti mencari ku.. Mana ponsel ku mati lagi.. Maafkan aku ya, Len. " Gumam wanita ini yang tidak lain adalah Lucena de Niels.
Jika Lucena telah memasuki alam mimpi dengan tenang, lain dengan Galen yang masih terus memutari jalanan di kota Milan. Dirinya khawatir pada Lucena jika saja terjadi suatu hal yang buruk pada istrinya itu. Sudah tiga jam, sejak Galen keluar dari mansion lama keluarganya dan sampai saat ini belum di ketahui keberadaan Lucena.
Ketos juga belum bisa dihubungi entah apa yang dikerjakan oleh asistennya itu sehingga selama ini belum juga menemukan keberadaan posisi Lucena. Ponselnya bahkan tidak aktif, membuat Galen ingin sekali menelan asistennya itu hidup-hidup.
CKKIIITTTTTTTT
Mobil Galen langsung berhenti mendadak ketika di depannya ada sebuah mobil yang tiba-tiba menghalangi jalannya. Hendak marah karena aksi berbahaya pengguna jalan ini, tapi begitu melihat siapa yang keluar dari mobil yang menghalangi jalannya itu, Galen semakin dibuat marah.
Tangannya lekas meraih handle pintu dan langsung keluar dari mobil menghampiri seseorang yang telah membuatnya kesal sejak tiga jam yang lalu.
" Kemampuan mu sudah menurun, HAH.. Sampai mencari lokasi ponsel saja tidak becus.. " Teriak Galen tepat di depan wajah Ketos yang langsung memejamkan matanya karena hujan lokal.
" Maafkan saya tuan.. Ponsel saya kehabisan daya dan sejak tadi saya mengikuti anda.. Baru ini saya ada kesempatan memotong jalan anda.. " Tutur Ketos menyelamatkan dirinya dari amukan singa jantan yang sedang kehilangan betinanya itu.
" Apa kau ingin membunuh ku, HAH? Tindakan mu barusan bisa saja membawa ku kembali ke rumah sakit.. Kau bodoh atau apa. " Ketos menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dirinya serba salah disini, padahal niatnya tidak seperti yang dikatakan oleh tuan mudanya ini.
" Maaf tuan muda.. Saya mendapatkan lokasi terakhir ponsel milik nyonya muda terakhir aktif.. Dan posisinya ada di.... " Ketos menyampaikan kabar yang ditunggu Galen sejak tiga jam yang lalu.
Galen sendiri sangat terkejut ketika mendengar lokasi ponsel Lucena terakhir berada sebelum tidak aktif. Tempat itu sangat jauh dari tempatnya berada, dan yang membuat Galen heran kenapa istrinya pergi ke tempat itu.
Dari yang dia tahu, tempat dimana Lucena berada di kota kecil yang berada di bagian selatan Milan. Dari tempat Galen sekarang berada untuk sampai ke kota itu membutuhkan waktu sekitar empat jaman. Tapi untuk dia berangkat sekarang ke tempat itu, rasanya tidak mungkin karena dirinya sudah sangat lelah.
Galen bingung apakah harus berangkat sekarang atau menunggu pagi tiba dan beresiko kehilangan Lucena kembali. Seperti mengerti yang dicemarkan oleh tuan mudanya, Ketos menawarkan diri untuk menjadi sopir Galen. Mobil Ketos pun langsung berangkat menuju ke lokasi yang dimaksud, meninggalkan mobil Galen yang nanti pasti akan diambil oleh Biilcan.
" Semoga saja kau masih di sana ketika aku datang, sayang.. " Gumam Galen penuh harap.