
Galen menatap putra tirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Rasanya sangat ingin sekali jika dia segera memiliki anak bersama dengan Lucena. Tapi kenyataannya, sejak malam pertama hingga pernikahannya berusia dua minggu, Galen tidak pernah lagi menyentuh Lucena. Lagi, saat malam pertama, Galen tidak mengeluarkan di dalam milik sang istri. Terlalu kecewa, saat mendapati sang istri sudah tidak lagi virgin, saat melakukannya dengan dirinya.
Kegelisahan hati Galen, bisa dilihat dengan jelas oleh Angela, yang merupakan mantan istri Galen. Angela dan Galen memiliki hubungan yang sangat baik, sejak mereka menikah hingga berpisah. Meski Galen mengetahui bahwa niat Angela menikah dengannya hanya untuk menutupi kehamilannya yang saat itu tanpa suami, tapi Galen sama sekali tidak pernah mempermasalahkan karena Galen sendiri memanfaatkan pernikahannya dengan Angela, untuk tujuan keberadaannya di Indonesia saat itu.
" Kak.. Apa kau punya masalah? " tanya Angela.
" Tidak.. Kenapa? " Galen langsung menatap mantan istrinya yang sebenarnya memang sangat cantik, body goals pokoknya.
" Jangan bohong pada ku.. Kita tiga tahun hidup bersama, masih bisakah kau membohongi ku.. " ucap Angela tidak percaya dengan ucapan Galen.
" Heh... Dasar kau itu.. " Galen mengusap puncak kepala Angela.
" Angela.. Jika kau mendapati sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspetasi mu dan berakhir mengecewakan mu, apa yang akan kau lakukan? " tanya Galen. Dia tidak mengungkapkan detail masalahnya karena masih memikirkan harga diri dan nama baik Lucena sebagai istrinya.
" Kalau bisa diperbaiki ya diperbaiki, kalau tidak bisa tinggal kita ikhlas atau tidak.. Apa kakak ingat kasus ku hingga aku berakhir menikah dengan mu? Bukankah saat itu juga aku kecewa pada sesuatu yang tidak sesuai ekspetasi ku.. " Galen sedikit tersentak kala paham dengan maksud ucapan Angela.
Saat itu memang Angela harus hamil dari benih seorang pria yang ternyata sudah beristri. Angela bahkan pernah disakiti oleh istri dari pria yang menghamilinya dan berakhir menikah dengan Galen untuk menyelamatkan diri istri pria itu sekaligus untuk memberi status pada anak yang dikandungnya.
Meski setelah tiga tahun pernikahannya dengan Galen, mereka berdua bercerai dan setahun kemudian Angela menikah dengan pria yang menghamilinya waktu itu. Tapi awal kisah Angela, Galen dan pria bernama Ryo itu pun diawali dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspetasi mereka.
Akan tetapi, masalahnya disini Galen lah yang mengalami kecewa sama seperti Angela saat itu. Apakah dia bisa sekuat dan setegar Angela, rasanya Galen sangsi akan hal tersebut.
" Memangnya kenapa kak? " tanya Angela mengusap lengan Galen yang terlihat melamun. Tapi belum Galen menjawab pertanyaannya, ponsel Galen yang ada di meja bergetar, dan terlihat nama Sekretaris Galen di layar ponsel nya.
" Halo... " sapa Galen.
" Apa? Kalian dimana? " Galen langsung bangkit ketika mendengar suara sekretarisnya panik.
" Panggil ambulans secepatnya, aku akan segera naik.. "
" Angela, maaf aku tidak bisa menemani mu.. Sebentar lagi suami ku akan kemari, tapi aku pergi dulu.. Istri ku pingsan.. " pamit Galen langsung meninggalkan Angela tanpa mendengar tanggapan Angela terlebih dahulu.
Galen berdiri dengan cemas di depan ruangan dokter yang memeriksa Lucena. Dia di rumah sakit ditemani oleh Bridella yang menemukan Lucena pingsan di rooftop. Bridella yang melihat Lucena tidak baik-baik saja saat meninggalkan ruangan Galen tanpa masuk tadi, segera mengikuti.
Awalnya Bridella turun ke lobby dan bertanya pada resepsionis yang ada di sana, tapi menurut ucapan resepsionis mereka belum melihat nyonya muda mereka turun, tapi tadi melihat nyonya muda mereka naik dengan lift khusus CEO. Bridella kemudian pergi ke tempat yang bisa di akses oleh lift CEO selain lobby, dia pun menuju ke rooftop dan menemukan tubuh Lucena tergeletak di lantai.
" Apa yang terjadi? Kenapa istri ku bisa ada di rooftop? " tanya Galen yang heran dengan keberadaan sangat istri saat pingsan.
" Nyonya muda sebelumnya datang ke ruangan anda. Tapi ketika hendak masuk, beliau mendengar suara anda dan juga nona Angela serta tuan kecil. Nyonya muda langsung berbalik saat itu juga setelah menyerahkan paperbag berisikan makan siang anda.. " lapor Bridella tanpa ditambah dan dikurangi.
Ceklek..
" Dok.. bagaimana istri ku? " Galen langsung maju saat melihat dokter yang menangani Lucena keluar.
" Tuan muda.. Bisa kita bicara sebentar di ruangan saya tentang kondisi nyonya.. Dan untuk saat ini nyonya muda masih tertidur karena meminum obat dari saya.. " ucap dokter Milan.
" Kembalilah ke perusahaan, dan batalkan semua jadwal ku hari ini.. Kau atur ulang dan laporkan pada ku.. " ucap Galen pada Bridella.
" Baik tuan muda.. Saya permisi.. " Bridella langsung pergi meninggalkan Galen di rumah sakit bersama sangat istri.
Di dalam ruangan dokter Milan, Galen sempat merasa ada yang aneh karena dokter Milan adalah dokter kandungan. Apakah istrinya mengandung, tapi Galen rasa itu tidak mungkin. Pikirannya jatuh ke kondisi yang mungkin berhubungan dengan masalah rahim sangat istri. Feeling Galen langsung tidak enak.
" Dokter.. Apa yang terjadi pada istri saya? " tanya Galen yang tidak sabar mendengarkan kondisi Lucena.
" Begini tuan.. Saya ucapkan selamat terlebih dahulu, karena nyonya muda tengah mengandung saat ini.. Usia kandungannya lima minggu, akan tetapi kondisi janin dan nyonya muda sangat lemah.. Saya harap anda lebih memperhatikan tentang mood dari nyonya karena dari hasil pemeriksaan saya nyonya tengah mengalami stress............... "
JEDER....
Tubuh Galen menegang, telinganya berdenging sangat kencang. Ucapan dokter Milan tidak lagi bisa Galen dengar karena fakta yang baru saja dia dengar dari dokter yang duduk di depannya masih menjelaskan kondisi Lucena. Galen tidak lagi bisa berpikir, jantungnya berdetak sangat cepat, tangannya mengepal kuat dengan gigi bergemeletuk.
" Tuan muda.. Tuan muda... " dokter Milan menepuk pelan punggung tangan Galen, membuat pria yang tengah melamun ini tersentak kaget.
" Ya? " ujar Galen.
" Anda mendengarkan saya? Saya harap anda lebih memikirkan kondisi mental nyonya muda, karena saat ini beliau sedang down dan butuh support besar.. Demi kebaikan ibu dan janinnya, anda harus bisa membuat nyonya tidak lagi tertekan dan stress.. " dokter Milan mengulangi ucapannya.
" Baik dok.. Apa saya sudah boleh pergi? " tanya Galen terlihat acuh dengan penjelasan dari dokter Milan.
" Dan satu lagi.. Jangan sampai kondisi istri ku sampai diketahui keluarga kami.. Rahasiakan hal ini.. " Galen menatap tajam dokter Milan.
" Oh.. Ya.. Silahkan tuan muda.. " dokter Milan sempat tergagap karena merasa aneh dengan respon tuan mudanya. Dalam pikiran dokter Milan, mungkin tuan mudanya tengah malu karena ketahuan bahwa nyonya muda hamil sebelum pernikahan mereka. Kehamilan Lucena sudah memasuki minggu kelima sedangkan pernikahan pasangan ini baru berjalan dua minggu.
Galen keluar dari ruangan dokter Milan dengan emosi yang membuncah memenuhi rongga dadanya. Tangannya terkepal kuat dan dadanya naik turun karena emosinya sudah tidak bisa dia tahan.
Bugh.. Bugh.. Bugh..
" Sialan.. sialan.. sialan... " desis Galen dengan tangan terkepal meninju tembok.