IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Pertengkaran



Taksi yang membawa Lucena sudah beberapa berputar di jalan yang sama sesuai dengan keinginan Lucena sendiri. Supir taksi dibuat bingung dengan penumpangnya kali ini. Hanya meminta untuk dibawa berkeliling kota Milan, dan sejak masuk ke dalam taksi, langsung menangis sambil melihat ke jendela. Supir taksi hendak bertanya tentang keadaan penumpangnya ini pun tidak berani karena takut jika mengganggu.


Lucena sendiri tidak peduli apakah nanti dianggap aneh oleh supir taksi yang beberapa kali diketahui Lucena melirik nya dari kaca spion depan. Hati Lucena saat ini memang sedang tidak baik, meski sudah menangis dari tadi pun juga belum bisa membuat hatinya membaik. Entahlah, pernikahan yang dia impikan nyatanya hanya membawa luka yang dalam sekali bayinya.


" Mr.. Bisakah anda membawa saya ke taman kota? " pinta Lucena.


" Ba-baik nona.. " sopir taksi itu tergagap lantaran terkejut tiba-tiba penumpangnya yang sudah hampir satu jam duduk di dalam taksi yang dia sopiri tengah berbicara.


" Ehm Mr.. Bisakah saya sewa taksi anda? Ehm.. Maksud saya saat nanti saya di taman, bisa anda menunggu saya sampai kembali lalu mengantar saya pulang? Saya tidak akan lama, hanya ingin menenangkan diri dulu... Ehm.. tentang bayarannya anda tidak perlu khawatir, pasti saya bayar.. " ucap Lucena tanpa melihat ke arah sopir taksi itu.


" Bisa... bisa nona.. Anda tidak perlu khawatir, saya akan menunggu anda dan mengantar anda pulang nanti.. " ucap sopir taksi itu cepat.


Jujur saja sopir taksi ini memiliki ketakutan jika saja penumpangnya ini bunuh diri jika dia tidak menunggunya. Bisa saja nanti dia terseret kasus bunuh diri ini karena dia yang terakhir kali bersama dengan korban. Mengantisipasi hal itu terjadi, lebih baik menuruti saja keinginan dari penumpangnya ini. Jika pun terjadi sesuatu yang buruk, dia bisa membantu.


Tidak butuh waktu lama, taksi yang ditumpangi Lucena sudah terparkir rapi di taman kota. Sekali lagi berpesan pada sopir taksi untuk menunggu, kemudian Lucena turun untuk mencari tempat duduk kosong di taman yang cukup ramai itu. Ketika mendapatkan tempat duduk yang letaknya sedikit tersembunyi, Lucena pun memilih untuk duduk di sana.


Di tempatnya duduk, Lucena hanya memandang kosong ke arah depan. Tidak ada apapun dalam pikirannya, dia ingin mengosongkan pikiran dan hatinya demi bisa pulang dengan kondisi yang baik-baik saja. Mungkin saja nanti ketika kembali ke mansion, suaminya belum pulang karena kepergiannya tadi juga tidak diketahui siapapun. Lucena hanya merasa bersalah pada ibu mertuanya karena pergi tanpa pamit. Tapi untuk pamit dan melihat adegan keluarga bahagia di depannya, terus terang Lucena tidak sanggup.


" Eh lihat.. Wanita itu kenapa ya, terlihat melamun, malah menangis lagi.. Tapi wajahnya kayak tidak asing, tapi dimana lihatnya ya.. " ujar seorang pejalan kaki yang tengah berjalan-jalan di taman.


" Iya.. Kayak wajah artis tapi nggak mungkin artis melamun disini kan.. " teman orang itu menanggapi.


Lucena mendengar semua, memang sejak tadi orang-orang selalu saja berkomentar tentang apa yang dilakukan. Tapi semua itu tidak dipedulikan olehnya. Hatinya belum membaik, malahan ketika kembali mengingat kejadian tadi, rasanya lebih sakit dan sakit lagi yang dia rasakan.


" Kenapa semua harus menjadi seperti ini? Kenapa harus sekarang kami saling menyakiti setelah selama ini semuanya baik-baik saja? Kenapa? Kenapa? Letak salah ku dimana? " monolog Lucena dalam hati. Merasa hidupnya benar-benar akan berakhir sebentar lagi.


Lama Lucena berada di taman masih menangis dan melamun, sampai sopir taksi yang khawatir karena penumpangnya tidak kunjung kembali bahkan sampai hari sudah gelap. Ketika menemukan keberadaan Lucena di tengah gelapnya malam, sopir taksi ini langsung menghampiri dan mengajak Lucena untuk pulang.


" Nona.. Ini sudah malam, mari kita kembali.. " ajak sopir taksi.


" Ah... Sudah malam rupanya, saya terlalu lama melamun sampai tidak sadar kalau malam sudah tiba.. Kalau begitu mari kita pulang Mr. Dan maaf membuat Anda menunggu lama.." Lucena bangkit dari duduknya dan berjalan beriringan dengan sopir taksi itu menuju ke mobil yang ada di parkiran.


Butuh waktu sekitar setengah jam dari taman sampai ke mansion Galen. Malam juga sudah menunjukan pukul tujuh malam. Lucena memberikan sejumlah uang dalam jumlah yang besar pada supir taksi itu. Sambil mengucapkan Terima kasih, Lucena lekas masuk ke area mansion Galen.


" Masih peduli? Aku pikir jika aku pergi kau tidak akan peduli.. Bukankah kau asyik bersama dengan mantan istri dan anaknya.. " sahut Lucena. Mata Galen langsung terbelalak ketika Lucena dengan lantangnya menyahuti ucapannya.


" Tunggu Luce.. Bukankah kau seharusnya mengucapkan maaf karena telah membuat semua orang khawatir.. " Galen mencekal pergelangan tangan Lucena ketika wanita ini hendak naik ke lantai dua.


" Maaf.. " ucap Lucena singkat.


" Kau.. Sebenarnya apa mau mu dengan bersikap seperti ini? Apa kau sama sekali tidak merasa bersalah. Daddy dan mommy khawatir ketika kau pergi tanpa pamit.. " sentak Galen yang sudah terpancing emosinya karena sikap acuh Lucena. Ini pertama kalinya Galen melihat Lucena bersikap seperti ini.


" Apa lagi? Aku sudah minta maaf lalu apa lagi mau mu? Yang khawatir daddy dan mommy kan? Besok aku akan menemui mereka dan minta maaf.. Jika kau ingin memperpanjang masalah ini, tidak kah seharusnya kau minta maaf karena telah membohongi ku demi bisa bersama mantan istri mu.. " sentak Lucena tak kalah keras dibanding Galen.


" Lain kali jujur saja, tidak perlu menggunakan alasan ke kantor untuk membohongi ku... " ucap Lucena yang kini tengah menangis. Ingin tidak terlihat lemah di depan suaminya, tapi air matanya nyatanya tetap mengalir bahkan sangat deras.


" Aku tidak bermaksud berbohong.. Kau tidak suka jika aku bertemu dengan Angela, karena itu aku tidak mengatakannya pada mu.. " ucap Galen menjelaskan.


" Jawab jujur Galen.. Apa kau menyesal menikah dengan ku? Jika iya, maka ceraikan aku.." ucap Lucena langsung pergi meninggalkan Galen yang terkejut dengan ucapan Lucena.


" LUCENA... LUCENA.. KEMBALI KAU.. KITA BELUM SELESAI BICARA... " Galen berteriak memanggil sang istri yang berjalan cepat menuju ke kamar mereka.


BRAAAKKK


Lucena membanting pintu kamarnya dengan Galen, kemudian berjalan ke arah walk in closet dan langsung mengambil koper dan mengepak pakaiannya. Tidak ada gunanya dia berada di tempat ini, jika keinginan suaminya hanya menyakiti hatinya.


" APA YANG KAU LAKUKAN.. " sentak Galen mencengkeram tangan Lucena yang dengan cepat mengepak pakaiannya.


" LEPAS.. LEPAS GALEN.. " Lucena memberontak.


" Aku tidak akan melepaskan mu.. Kenapa kau pergi? Untuk bisa bersama dengan pria mu yang lain diluar sana? " alis Lucena mengernyit mendengar ucapan Galen.


" Jangan menuduh ku yang tidak-tidak jika kau tidak punya bukti.. Disini kau yang salah, kau yang berbohong pada ku, lalu kenapa disini kau yang ma...... aaarrrrrgggghhh.... sakit.... aaarrgghhh.. sakit... "