IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Salah keputusan



Di lorong lantai empat, menuju kamar tempat dimana Galen dirawat. Gafar dan Rosalind, berlari memburu waktu. Berita yang baru saja mereka lihat di televisi dan juga sudah merambah ke dunia sosmed, harus segera diselesaikan atau semuanya berubah menjadi di luar kendali.


Di depan ruang rawat Galen, rupanya sudah ada mommy Noura dan daddy Joaquin yang tengah melihat ponsel mereka. Mungkin saja, kedua orang tua Gafar ini sudah mengetahui berita tentang Lucena di televisi melalui Sekretaris mereka masing-masing. Gafar semakin tidak percaya dengan ini semua. Lawan mereka bukan orang yang bisa disepelekan ternyata.


" Dad "...... " Uncle "... Gafar dan Roseline bebarengan memanggil daddy Joaquin.


" Kalian sudah lihat berita? " Tanya daddy Joaquin. Terlihat ada gurat panik di wajahnya yang sudah mulai muncul keriput itu.


" Sudah.. Apa terjadi sesuatu diluar pengetahuan kita? " Tanya Gafar. Rasanya tidak mungkin ada orang luar tahu apa yang terjadi pada Lucena.


" Rasanya ini sangat aneh, uncle. Jika pun mereka hanya asal membuat berita tentang Luce, tapi kemana beritanya bisa tepat sasaran. Bahkan ada laporan kesehatan Lucena juga di sana.. " Roseline mengutarakan keraguannya.


" Kau benar.. Daddy akan menemui kepala rumah sakit terlebih dahulu.. " Belum juga daddy Joaquin meninggalkan posisinya sekarang. Datang Ketos yang berlari dengan wajah panik.


" Tuan besar.. Maafkan atas apa yang terjadi.. Saya perlu melapor pada anda.. " Ucap Ketos dengan wajah serius, sangat serius sekali.


" Kita bicara di ruangan ku saja.. " Ketos pun mengangguk dan kemudian mengikuti langkah daddy Joaquin dari belakang.


Sepeninggal daddy Joaquin dan Ketos, ketiga orang yang masih tinggal di depan ruangan rawat Galen terlihat saling menatap satu sama lain. Ketiganya sepertinya memiliki pemikiran yang sama dengan masalah kali ini.


" Mereka berdua yang ada di dalam sana tidak boleh tahu masalah ini.. " Ucap mommy Noura.


" Iya mom... Aunty... " Gafar dan Roseline sama-sama menunduk.


" Perlu sesuatu agar berita ini bisa digiring dan turun dari berita paling dicari.. Tapi kira-kira berita apa itu.. " Mommy Noura bergumam sendiri. Refleks, dia pun menggigiti ibu jari tangannya karena kelewat panik dan bingung.


Gafar mendekat ke arah mommy Noura, tangannya terulur dengan gerakan yang sangat lembut, melepaskan ibu jari milik sang mommy, agar tidak digigit lagi. Gafar khawatir jika mommy Noura menggigitnya sampai luka. Gafar kemudian membawa mommy nya masuk ke dalam pelukannya. Rasanya, setelah masalah Geya dan Gaffi, dia pikir tidak akan badai lagi di keluarga de Niels. Namun kini, justru pemimpin keluarga de Niels lah yang bermasalah.


" Bagaimana kondisi Galen mom? Apa anak itu perlu kembali dioperasi? " Tanya Gafar yang prihatin dengan kondisi Galen.


" Hm.. Besok, dokter berencana untuk mengambil tindakan operasi besok.. Mommy takut jika Galen akan down, Gafar.. " Ujar mommy Noura terlihat sangat tertekan.


" Tenang saja.. Badai pasti akan berlalu, percaya saja semua akan menjadi baik.. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah membuat Galen tidak sampai mengetahui masalah ini.. " Mommy Noura mengangguk.


" Awas saja kalau kau berbuat bodoh dan membuat Galen menjadi menderita lagi.. Aku akan bawa Galen pergi dari sini dan kau tidak akan pernah bisa menemui Galen lagi.. " Monolog Roseline dalam hati.


Di dalam ruangan rawat dimana Galen dan Lucena berada. Keduanya telah sama-sama melepas rindu tanpa sedikit pun terganggu dengan situasi di luar ruangan ini. Keduanya sama-sama belum mengetahui masalah yang sedang heboh di luar sana. Mereka berdua hanya mencoba saling mengungkapkan rasa rindu yang begitu mendalam dalam hati mereka.


Galen tidak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya dari Lucena. Begitu Lucena, tidak pernah beranjak dari dekat Galen sejak pertama kali datang. Rasanya jika mereka melepaskan satu sama lain, mereka akan kehilangan satu sama lain. Senyum juga tidak pernah lepas dari bibir mereka.


" Kenapa bisa seperti itu dan kau tidak mengatakan apapun pada ku, Galen? " Sesal Lucena karena dirinyalah yang terakhir mengetahui kesehatan Galen yang sebenarnya.


" Aku pikir tidak akan lagi ada masa dimana aku akan terbaring tidak berdaya lagi di rumah sakit.. Tidak menyangka, hal ini kembali terulang. Tapi ambil saja yang aku dapatkan dari peristiwa ini, aku bisa membawa mu kembali ke sisi ku.. " Ucap Galen sama sekali tidak merasa bersalah telah membuat Lucena menangis sepanjang hari.


" Sudah.. Jangan banyak bicara.. Nanti dada mu sakit lagi.. Sekarang istirahat ya.. " Galen pun mengangguk dan langsung kembali terlelap


karena dirinya juga baru saja selesai minum obat.


Lucena merasa genggaman tangan Galen sudah longgar, itu artinya suaminya ini sudah lelap dalam tidurnya. Hendak Lucena melepaskan genggaman tangan itu untuk mengecek ponsel dan tasnya, namun entah kekuatan dari mana, Galen kembali menggenggam telapak tangah Lucena dengan sangat erat.


Lucena geleng kepala melihat tingkah alam bawah sadar dari Galen. Lucena selalu merasa beruntung menjadi satu-satunya masa depan bagi Galen. Hanya padanya Galen mencurahkan segala cintanya. Banyak wanita lain diluar sana yang menginginkan posisi Lucena, lalu, haruskah Lucena merelakan untuk melepas Galen. Jawabannya tentu saja tidak.


" Sepertinya aku harus memikirkan ucapan Gafar tadi.. " Gumam Lucena terlihat sedih.


" Sebagai wanita yang pantas berada di samping mu, aku harus menjadi wanita yang kuat. Lihatlah, kau pun bisa menjadi pria yang lemah, jadi seharusnya dalam situasi seperti ini aku harus kuat untuk melindungi mu kan? " Monolog Lucena.


Tangannya yang tidak digenggam oleh Galen, terulur menyentuh pipi Galen. Hanya beberapa waktu mereka tidak bertemu, namun suaminya sudah berubah menjadi sekurus ini. Apakah dirinya terlalu egois dengan mementingkan dirinya sendiri. Merasa menjadi satu-satunya korban disini padahal Galen juga korban.


Sepertinya, keputusan Lucena untuk berpisah jarak dan waktu dengan Galen bukanlah keputusan yang tepat. Ada yang pernah mengatakan bahwa pasangan ada yang akan menjadi sangat kuat jika mereka bersama. Ada juga yang akan menjadi kuat saat mereka terpisah. Dan Lucena serta Galen adalah perumpamaan yang pertama. Mereka kuat dan mampu menghadapi apapun asal bersama.


" Apa aku harus mereset semua keputusan yang rencana yang aku sudah pikirkan matang? Karena semuanya terasa percuma saat kau tidak ada di samping ku, Len.. " Lucena kembali menitikan air matanya.


" Apa boleh jika aku berdiri di samping mu dan berjuang bersama mu? Aku tidak ingin lagi selalu berada di belakang dan kau lindungi.. Apakah ini saatnya aku bisa menjadi seseorang yang melindungi mu.. Bagaimana menurut mu, Galen? "