
" Oke semua.. Sampai di sini pertemuan kita.. Jangan lupa besok lusa untuk mengumpulkan tugas kalian.. Semuanya paham? " Lucena, berdiri di depan kelas terlihat sangat cantik dengan mengenakan blouse berwarna biru tua dengan celana panjang warna biru gelap.
" Paham, miss.." sahut mahasiswa yang ada di kelas Lucena.
" Kalau begitu, sampai jumpa lusa.." Lucena pun meninggalkan kelas. Berjalan sambil melamun, menuju ke ruangannya.
Di tengah jalan menuju ke ruangan Lucena, seorang mengatakan pada Lucena, jika rektor memanggil Lucena. Meski agak heran dengan tujuan dari rektornya, Lucena tetap menuju ke ruangan rektor yang ada di gedung A, lantai dua.
Tok.. Tok..
" Masuk.. " terdengar suara dari dalam ruangan. Lucena pun segera membuka pintu ruangan rektor, namun tubuh Lucena sempat memaku di tempat, ketiga melihat siapa yanga ada di ruangan rektorat.
" Kemarilah, miss.. Kenapa anda justru berdiam di depan pintu? " Lucena tersentak ketika tiba-tiba saja, rektor berada di depan wajahnya.
" Maaf kan saya Mr. Totti, saya hanya terkejut melihat mereka ada di sana.. " jawab Lucena menunjuk ke arah tiga pemuda yang setahu Lucena, seharusnya lulus bulan kemarin.
" Hahahahaha.. Bukan hanya anda yang terkejut, saya pun juga.. Mari masuk terlebih dahulu.. " Lucena pun mengikuti rektor kampus dari belakang, kemudian mengambil duduk, di kursi sisi kanan rektor, sedangkan tiga mahasiswa nya, duduk di sisi kiri.
Lucena tidak bisa paham dengan perasaan yang tiba-tiba dia rasakan saat melihat tiga mahasiswanya ini. Entah bagaimana mengatakannya, tapi seperti dia... Takut..
Kemarin dia sudah bertemu dengan yang satunya, sekarang tiga orang ini berkumpul di depannya. Tiga mahasiswa yang memiliki pengaruh di kampus, karena kedudukan orang tua mereka di kota ini. Terlebih, dari tiga mahasiswanya ini, yang duduk di bagian tengah, adalah anak dari pemilik kampus tempatnya mengajar.
" Apa kabar miss? Kami pikir anda tidak akan kembali mengajar di kampus ini, setelah menikah.. " sapa Alfonso Lordeus, putra pemilik kampus.
" Saya rindu mengajar.. Lagipula, tidak ada yang bisa saya lakukan di rumah, jadi biarkan saya bekerja saja.. " jawab Lucena setenang mungkin, karena jujur, hatinya tidak tenang sama sekali, saat ini.
" Harus itu.. Karena kami begitu bosan dan tidak semangat belajar karena bukan anda dosennya.. Pasti sangat menyenangkan, belajar bersama Anda.. Miss Lucena.. " Alfonso menyeringai.
" Bagitu kah? " sahut Lucena tidak berani menatap wajah Alfonso yang terlihat mengerikan.
Keringat dingin mulai bermunculan di tubuh Lucena. Biasanya juga dia bertemu dengan ketiga mahasiswanya ini sebelum dia menikah. Tapi entah kenapa, dia merasa jika perasaannya tidak enak sekarang ini jika bertemu dengan ketiga mahasiswanya ini. Secara naluri, Lucena ingin menjauh sejauh-jauhnya dari ketiga orang ini.
" Maaf sebelumnya miss.. Saya memanggil Anda kemari, karena ada beberapa hal yang harus saya sampaikan.. Salah satunya, keinginan dari tuan Lordeus, yang mana menginginkan Anda sebagai dosen untuk membimbing putranya agar bisa segera wisuda.. Yah, seperti yang tempo hari dulu.." ucap Mr. Totti menyampaikan maksudnya.
" Lagi pak? Kenapa bukan dosen lain saja.. Terus terang saya... ehm... " Lucena bingung mencari alasan untuk menolak. Dia berusaha mengikuti kata hatinya yang memintanya menolak itu semua.
" Biarkan saja dulu, Mr. Totti.. Miss Lucena sekarang ini sudah memeliki... suami.. Jadi wajar kan, jika beliau harus meminta izin terlebih dahulu pada suaminya.. " Marcelino tersenyum manis sekali. Namun bagi yang mengenal betul pemuda satu ini.. Bukan semanis itu arti dari senyumannya.
" Ah.. Iya.. Maafkan saya, miss.. Karena terlalu semangat, saya sampai tidak memperhatikan masalah ini.. Kalau begitu, Anda bisa meminta izin dulu dengan suami Anda.. Setelahnya, silahkan Anda berikan jawaban Anda.. " Mr. Totti memberikan waktu dua hari untuk Lucena berpikir.
Setelah pertemuan itu selesai, Lucena memilih pulang karena tidak ada kelas lagi. Sejak kembali menjadi dosen, Lucena membatasi waktunya mengajar hanya sampai jam makan siang. Lembutnya, juga paling sampai jam tiga sore saja. Hal ini, Galen yang meminta dan dia sampaikan pada papa Daniel. Galen, mengingatkan kondisi Lucena yang belum benar-benar pulih, jadi harus membatasi diri terlebih dahulu.
Jika mengingat perhatian demi perhatian yang diberikan oleh Galen sejak dulu hingga kini, Lucena merasa sangat sakit. Sakit bukan karena tidak menyukai perhatian Galen, melainkan sakit karena mengkhianati Galen meski dia sebenarnya juga korban dalam masalah ini.
Memang tidak pernah Galen mengajak Lucena untuk menjalin kasih sebagai kekasih. Menurut Galen, itu terlalu merepotkan karena dia sendiri hampir tidak memiliki waktu untuk hidup pribadinya, apalagi jika pacaran yang pasti dituntut oleh kekasihnya. Lucena paham, karena meski tidak ada hubungan di antara keduanya yang lebih dari sekedar itu, tapi Galen selalu mengucapkan kata-kata yang sudah seperti mantra baginya.
" Tidak perlu pacaran seperti orang lain.. Toh juga justru bisa membuat kita sering bertengkar dan berakhir putus.. Cukup kau tahu, di dalam hati ku, aku bisa pastikan tidak ada pria lain selain kau... "
" Huft.. Apa aku harus izin Galen dulu ya? Aku yakin, dia pasti tidak akan mengizinkan.. " dilema Lucena.
Di salah satu ruangan yang ada di kampus yang ada di bagian fakultas ekonomi, duduk tiga pemuda yang tadi baru saja bertemu dengan Lucena. Ketiganya nampak berbincang serius, membicarakan dosen idola mereka sejak masih semester kedua. Karena Lucena baru mengajar saat ketiga pemuda ini duduk di semester du fakultas ekonomi.
Marcelino, Alfonso dan Pedro adalah tiga pria yang dicap sebagai bad boy karena meraka sering sekali mempermainkan hati para mahasiswi. Ketiganya sama-sama tampan meski dengan ciri khas masing-masing, tapi sudah menyebar seluruh area kampus, ' TRE UOMINI BELLI ' yang artinya tiba pria tampan.
" Kalian dengar gosip tentang miss Luce? " tanya Pedro yang asyik dengan cemilan di tangannya.
" Hm.. Kabarnya dia bunuh diri karena hamil... anak pria lain.. " ucap Marcelino menyeringai.
" Kira-kira.... anak siapa ya? " Alfonso menaik turunkan alisnya sambil tersenyum melihat kedua temannya.
" Entahlah.. Mana yang benar.. Tapi kalau tidak salah dia keguguran.. " ucap Pedro.
" Ck.. Ck.. Ck.. Kasian sekali janin nya.. Tega sekali, miss Lucena membunuh janin yang tidak bersalah.. Benar begitu.? " Marcelino terlihat suram. Mungkin karena dia adalah anak yang tidak diinginkan orang tuanya, jadinya merasa sensitif dengan pembahasan ini..
" Dia bebas melakukan apapun yang dia inginkan.. Bukanlah hanya perlu mengulang untuk mendapatkan kembali.. "
" Yap.. Kau benar.. Dosen tercantik dan terseksi itu, tidak akan kesulitan mendapatkan momongan lagi.. "
Suara tawa ketiga pemuda ini menggelegar menggema di dalam ruangan kelas tempat mereka berkumpul untuk bergosip. Tiga pemuda yang termasuk dalam fans tetap dari miss Lucena..