IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Wanita lain dalam hidup Galen



Sepulang dari bertemu dengan dokter Milly, Lucena akhirnya menyempatkan diri mampir ke JN GROUP untuk menemui sang suami. Lucena ingin bicara empat mata dengan Galen berharap suaminya bisa mengerti keputusan yang dia ambil. Lucena tidak ingin bertengkar dengan Galen dan memperdebatkan masalah ini. Toh semuanya baik-baik saja sebelum Galen tahu tentang pengobatannya.


Sepertinya, sepasang suami istri ini sama-sama keras kepala dan tidak ingin mengalah. Mungkin nanti akan ada pertengkaran lain lagi, seperti beberapa hari yang lalu. Tapi dalam sebuah rumah tangga, tidak akan bisa disebut rumah tangga tanpa bumbu-bumbu seperti perbedaan pendapat dan juga pertengkaran baik besar maupun kecil.


" Nyonya muda.. " Bridella menyapa Lucena yang tiba-tiba saja ada di depannya.


" Suami ku di dalam, Bri? " Tanya Lucena. Bisa saja dia langsung masuk, tapi tetap Lucena menghormati sekretaris Galen dan memilih bertanya serta menyapa lebih dahulu.


" Ada nyonya.. Tapi... " Bridella ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Pasti akan jadi permasalahan jika dirinya jujur. Akan tetapi, membiarkan Lucena bertemu dengan Galen saat ini, situasinya juga tidak mendukung.


" Tapi apa? Saya masuk ya.. " Lucena hendak melangkah, tapi Bridella langsung menghentikan langkah nyonya mudanya ini.


" Ada apa? Apa ada tamu di... " Ucapan Lucena terhenti ketika mendengar suara dari dalam ruangan Galen.


Tunggu, suara ini adalah suara perempuan. Dan apa tadi yang Lucena dengar, suara di dalam sana terdengar seperti seseorang yang sedang mendesah. Jangan bilang, jika Galen di dalam sana bermain dengan wanita murahan.


Lucena menatap tajam Bridella yang mencegahnya masuk ke ruangan Galen. Dilihat seperti ini, membuat Bridella merasa tidak bernyali lagi. Dengan perlahan, Bridella menurunkan tangannya yang menghadang Lucena tadi.


Tanpa menunggu lagi, Lucena lekas melangkah ke ruangan Galen. Kedua tangannya terangkat dan langsung membuka pintu ruang kerja Galen dengan kasar. Begitu pintu ruangan Galen terbuka, mata Lucena membola ketika melihat seorang wanita tengah duduk di pangkuan Galen.


" Bagus.. Begini yang dimaksud bekerja, Galen.. " Sindir Lucena dengan nada sinis.


Galen yang melihat Lucena masuk secara tiba-tiba, tentu saja terkejut. Dia bahkan refleks berdiri membuat wanita yang baru satu detik duduk di pangkuannya ini langsung terjatuh. Galen lekas menghampiri Lucena, berharap istrinya tidak akan salah paham dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Lucena menatap sinis Galen ketika suaminya itu berjalan dengan terburu-buru ke arahnya dan mengabaikan wanita yang terduduk di lantai menahan sakit di bokongnya itu. Galen meraih tangan Lucena, tapi dengan cepat Lucena hempaskan begitu saja.


Awalnya niat Lucena datang kemari ingin bicara baik-baik untuk mencari titik temu permasalahan mereka. Tapi, yang sekarang dilihatnya justru membuat matanya dan hatinya sakit. Meski Lucena percaya Galen sepenuhnya, tapi apa yang bisa menjelaskan kejadian yang dia lihat barusan.


" Ini tidak seperti yang kau lihat.. " Ucap Galen pertama kali setelah Lucena melihat kejadian yang tidak seharusnya terjadi tadi.


" Oh.. Jadi mata ku rabun? " Lucena mencibir Galen. Raut wajahnya terlihat sangat datar, matanya menatap tajam Galen, di bibir Lucena tersungging senyum sinis mengejek Galen.


" Galen.. Kenapa kau memperlakukan ku seperti ini? Pantat ku sakit sekali.. " Wanita yang terlihat duduk di pangkuan Galen tadi, berjalan mendekati Galen.


" Diam kau.. Siapa diri mu berani menyebut nama ku? " Hardik Galen sudah emosi sekali.


" Kau tanya aku siapa? Setelah yang kita lalui akhir-akhir ini, kau masih bertanya siapa aku. Kau tidak sedang berpura-pura baik di depan calon mantan istri mu ini kan.. " Alis Lucena terangkat sebelah melihat keberanian wanita di depannya ini, dan sekilas dia bisa melihat keduanya ada sedikit kedekatan.


Rupanya, memang ada kedekatan yang tidak biasa diantara wanita dan suaminya. Meski enggan mencari tahu dan berakhir sakit hati. Tapi Lucena tidak bisa diam saja ditindas seperti ini oleh Galen dan wanita yang dengan beraninya mengatakan jika dirinya akan menjadi mantan istri Galen.


Lucena keluar dari ruangan Galen dengan tujuan mencari asisten Galen dan sekretaris nya. Dari Galen dan wanita ini, jelas tidak akan ada yang berkata jujur padanya. Satu-satunya jalan, bertanya pada ketiga orang yang pasti mau jujur padanya. Hanya perlu membawa nama daddy Joaquin, jelas ketiga orang ini pasti akan jujur.


Ketos, Billcan, dan Bridella sudah berjejer rapi di depan Lucena. Ketiganya menatap penuh kewaspadaan pada nyonya muda mereka ini. Posisi mereka bertiga sudah berada di ujung tanduk. Maju kena, mundur pun kena. Sungguh hari ini adalah hari tersial sepanjang hidup orang-orang yang ada di lantai kantor CEO ini.


" Luce.. Aku bisa jelaskan semuanya.. Ini benar tidak seperti yang kamu pikirkan.. " Ucap Galen yang tidak berhenti menjelaskan pada sang istri agar tidak ada kesalahan pahaman.


" Memangnya apa yang aku pikirkan? " Tanya Lucena sangat ketus.


" Kau diam saja Galen.. Semakin kau berusaha menjelaskan duduk permasalahan ini. Semakin aku tahu jika benar ada sesuatu antara kau dengan wanita itu.. " Galen langsung kicep.


" Diantara kalian bertiga, bisa jelaskan siapa wanita ini dan kenapa ada di ruangan suami ku? Hubungan apa yang bisa menjelaskan kedekatan mereka? " Tanya Lucena menatap ketiga pegawai kepercayaan Galen secara bergantian.


" Jangan tanya mereka.. Aku bisa jelaskan pada mu siapa aku.. Aku Tamara Stockholm, teman kuliah Galen dan kami dekat.. Sangat dekat.. " Ucap wanita yang ternyata bernama Tamara tadi. Namun sayangnya, Lucena sama sekali tidak mendengarkan ucapan wanita ini. Lucena masih menanti jawaban dari ketiga orang yang ditanya.


Ketos sendiri bingung harus menjelaskan bagaimana, dia tahu apa hubungan di antara bosnya dan wanita bernama Tamara ini. Tapi, untuk mengatakan semuanya secara gamblang, Ketos masih memikirkan nasibnya di masa depan karena berani cari mati dengan berada di pihak nyonya mudanya.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Billcan dan Bridella. Keduanya sama bingungnya dengan Ketos. Membela Lucena, sama saja mencari mati, dan jika mereka diam, mereka pun akan hidup menderita. Posisi mereka sama sekali tidak nyaman saat ini.


" Masih tidak mau menjawab. Apa perlu aku minta daddy Joaquin kemari agar kalian mau jujur? " Lucena mengeluarkan senjata pamungkas nya. Tangan kanannya, bahkan sudah mengambil ponsel dari dalam tasnya.


" Jangan bercanda, Luce.. Kenapa harus memanggil daddy? Sudah aku katakan berkali-kali, diantara aku dan Tamara tidak ada hubungan apapun.. Kami akan berbisnis, hanya itu.. " Galen langsung merampas ponsel milik Lucena. Tapi sayang kalah cepat dengan Lucena yang langsung menyembunyikan ponsel miliknya dibalik punggungnya.


" Oh.. Hanya bisnis? Kau memangkunya di dalam sana, kau bilang hanya bisnis? Coba sekarang katakan pada ku bisnis apa sampai kau berbuat hal seperti itu? Mau membalas ku, begitu.. Karena aku wanita murahan yang pernah di cicipi beberapa laki-laki, jadi kau juga ingin memelihara wanita murahan lain.. Begitu maksud mu, jawab aku Galen.. " Sentak lucena.


Tubuh Lucena tiba-tiba saja gemetaran, nafasnya pendek, wajahnya langsung berubah pucat. Tangan Lucena gemetaran hingga ponsel yang dia sembunyikan di balik punggungnya terjatuh. Bola mata Lucena bergerak ke sana kemari, sama sekali tidak bisa fokus.


Galen terkejut melihat kondisi Lucena yang seperti ini. Bergerak mendekat, berusaha membawa Lucena masuk ke dalam pelukannya. Tapi apa yang terjadi selanjutnya, Galen justru didorong oleh Lucena dan dia pun berlari menuju ke arah pantry.


Galen yang sudah panik dan ketakutan jika istrinya berbuat hal yang tidak-tidak, pun bergegas menyusul. Begitu memasuki pantry, mata Galen langsung terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


" Ya Tuhan.. Luce apa yang kau lakukan? " Teriak Galen panik.