
" Luce, bersiaplah... Hari ini kita akan naik kapal pesiar.. " ucap Galen ketika pagi hari Lucena tengah menyiapkan mereka sarapan.
" Kapal pesiar? Untuk apa? Milik siapa? " tanya Lucena terlihat bengong. Perubahan Galen pagi ini sedikit tidak membuatnya terbiasa.
" Tentu saja kapal pesiar milik ku.. Apa kau lupa, siapa suami mu ini? " ujar Galen membusungkan dadanya membanggakan dirinya sendiri.
" Dalam rangka apa? Aku masih masak sarapan, Galen.. " Lucena tidak kunjung beranjak dari tempatnya, membuat Galen kesal dan gemas bila terkadang sang istri ini lemotnya kambuh.
" Yak.. Galen.. Turunkan aku!! " teriak Lucena ketika Galen dalam sekali hentakan langsung menggendong Lucena ala bridal.
" Kau lama.. Kapal pesiar ku sudah menunggu jadi jangan banyak bertanya, kita akan berlayar.. " ucap Galen tidak ingin dibantah.
Di dalam mobil yang membawa keduanya pergi menuju ke tempat dimana kapal pesiar Galen berada. Sejak tadi Lucena tidak berhenti menatap suaminya yang tengah fokus menyetir itu. Rasanya terbiasa diacuhkan oleh Galen, lalu pagi ini secara tiba-tiba mereka kembali seperti ketika mereka belum menikah, membuat Lucena merasa curiga.
" Kau tidak sedang berniat menceraikan ku, kan Galen? " tanya Lucena.
CCKIIIIITTTTT
DUK
" Aaarrghhh... Galen kenapa berhenti mendadak.. " protes Lucena saat dahinya terbentur dashbor.
" Kenapa bicara seperti itu? Pernahkan aku membicarakan masalah perceraian dengan mu? Membahas saja tidak pernah, kenapa bertanya seperti itu.? " Galen terlihat marah. Wajahnya merah padam dengan dada yang naik turun.
Dirasa sudah sedikit tenang, Galen kembali melajukan mobilnya. Entah kenapa saat mendengar Lucena menyebut kata cerai, hati Galen sakit, sangat sakit malah. Meski dia sadar telah berlaku buruk pada Lucena selama pernikahan mereka, tapi berpisah tidak pernah menjadi option untuk Galen. Baginya menikah hanya sekali seumur hidup, seperti kedua orang tuanya.
" Maaf.. Bukan maksud ku membuat mu marah.. " ucap Lucena lirih, terdengar sangat menyesal.
" Tapi kau memang sudah membuat ku marah, Luce.. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? " Galen berusaha menahan kekesalannya agar tidak merusak rencana liburannya.
" Sikap mu... "
" Kenapa dengan sikap ku? "
" Kau selalu acuh pada ku akhir-akhir ini.. Aku tidak tahu mengapa, tapi seperti ada tembok tinggal nan kokoh yang kau bangun diantara kita. Apa... aku... membuat mu merasa kecewa? Jika iya tolong katakan, karena aku sungguh tidak tahu alasan apa yang membuat mu berlaku acuh pada ku.. "
Galen termenung, karena sibuk dengan rasa kecewa yang dia rasakan, membuat Lucena merasa jika mereka terlihat sangat renggang. Galen memang belum bisa menguasai hatinya untuk tetap terlihat baik-baik saja, setelah serentetan kenyataan yang serasa menampar dirinya. Galen ragu, benarkah Lucena tidak memahami situasi yang terjadi karena itu seperti mustahil.
" Maukah kau menunggu sampai aku mendapatkan jawaban dari semua keraguan ku? " tanya Galen sekali lagi.
Lucena tahu, Galen tidak bohong akan perasaannya pada dirinya. Terlihat jelas di mata Galen, ada cinta untuknya. Tapi yang Lucena tidak mengerti kenapa disela cinta untuknya, mata Galen memancarkan kekecewaan yang begitu dalam. Itulah yang sebenarnya mengganggu Lucena akhir-akhir ini. Dia mencoba mencari tahu, namun tidak bisa menemukan jawaban yang dia cari.
" Ehm.. Asalkan tetap genggam tangan ku dalam situasi apapun.. Dan... Jangan terlalu dekat dengan mantan istri mu.. " kalimat terakhir diucapkan Lucena dengan sangat lirih sekali.
" Hahahahaha.. Jadi... jadi kau... cemburu... begitu? " Galen justru tertawa melihat wajah Lucena yang jadi masam karena ketahuan cemburu.
" Luce.. Sudah aku katakan berulang kali, aku dan Angela tidak ada ketertarikan antara pria dan wanita meski kami mantan pasangan suami istri.. Itu karena dia ada hati yang harus dia jaga, begitu pun aku.. " ucap Galen menyakinkan sangat istri untuk tidak terus menerus cemburu dengan Angela. Kecemburuan ini ada sejak Galen kembali dari Indonesia, dan itu artinya sudah hampir empat tahun Lucena menyimpan cemburu untuk Lucena.
" Tapi tetap saja.. Aku nggak nyaman, Galen.. " rengek Lucena.
" Hm.. Lain kali aku tidak akan seperti itu.. " Galen mengusap puncak kepala Lucena.
Keduanya kini sudah berada di atas kapal pesiar dan menyisiri lautan. Pemandangan yang hanya ada air dan langit, membuat Lucena berdecak kagum atas ciptaan Sangat Pencipta yang baginya sungguh luar biasa indahnya. Laut dan langit terpisah satu garis lurus, Lucena menatap itu seperti menatap cinta dan benci yang juga dibedakan oleh satu garis lurus yang sangat tipis.
Lucena ingat pernah ada yang mengatakan padanya untuk jangan terlalu mencintai seseorang, karena ketika kita mendapati apa yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan pada orang itu, maka kita akan kecewa. Itulah yang sebenarnya kini telah terjadi diantara Galen dan dirinya.
Lucena terus memikirkan permasalahan rumah tangga mereka yang belum menemukan titik terang. Meski Galen mengatakan memintanya untuk menunggu karena dia tengah mencari jawaban dari banyaknya hal yang dia tidak ketahui. Dalam pikiran Lucena, merasa bahwa Galen mengetahui sesuatu tentangnya yang mana Lucena sendiri tidak tahu apa itu.
Lamunan Lucena buyar ketika merasakan lengan seseorang memeluknya dari belakang. Senyum Lucena mengembang karena tahu itu adalah suaminya. Hal yang sepertinya, rasanya sudah lama tidak Lucena rasakan. Dulu, ketika dia dan Galen tidak memiliki ikatan sebagai sepasang kekasih, Galen sudah terbiasa memeluknya dari belakang seperti ini. Rasanya sangat nyaman, sama sekali tidak berubah sejak dulu hingga kini.
" Len.. Entah kenapa aku merasa kamu lebih bahagia ketika kita tidak memiliki ikatan yang mengikat kita seperti sekarang ini.. "Lucena berbalik menatap Galen.
" Kenapa bisa merasa begitu? " tanya Galen. Tangannya terangkat untuk mengusap pipi Lucena yang dia rasa tidak lagi chubby seperti dulu. Apakah ini karena dirinya?
" Karena ketika kita masih belum memutuskan memiliki ikatan, kamu terlihat bebas dan tidak terkekang oleh sesuatu.. Kamu melakukan apapun yang kami inginkan dan kamu terlihat sangat bahagia. Tapi kini, lihat.. pria tampan ku memiliki mata panda.. Apa menikah dengan ku sangat mengekang mu? " tanya Lucena. Raut wajahnya terlihat sangat sedih saat ini. Galen jadi tidak tega dan merasa bersalah telah menyakiti hati istrinya yang lembut itu.
Lucena tahu Galen adalah seseorang yang menjunjung tinggi sebuah kebebasan. Dia tidak suka dikekang oleh suatu peraturan atau dia tidak mau mengikuti peraturan. Bagi Galen, selama itu tidak merugikan orang lain, Galen berhak dan bebas melakukan apapun yang dia inginkan.
Lucena merindukan sosok suaminya yang dulu bisa dengan lepas menyuarakan apa yang dia rasakan. Dan bisa tertawa serta tersenyum lepas tanpa ada beban sedikit pun. Galen menjalani hidupnya dengan pedoman tidak akan membuat dirinya menyesal atas pilihannya.
" Apakah kamu menyesal menikah dengan ku? " tanya Lucena.