
Menatap penuh linangan air mata, Lucena merasa hancur saat kembali melihat pria yang teramat dia cintai kini justru terbaring tidak sadarkan diri di ranjang pesakitan. Ingin rasanya Lucena memeluk tubuh Galen, melampiaskan rasa rindunya yang mendalam. Tapi semua itu dia urungkan saat melihat banyaknya alat penunjang kehidupan Galen menempel ditubuhnya.
Lucena, tadi meminta izin pada dokter yang merawat Galen untuk bisa menjenguk suaminya di dalam ruang ICU ini. Dr. Edward pun mengizinkan, namun Lucena harus mengikuti semua peraturan yang mengharuskannya memakai pakaian khusus dan juga Lucena hanya boleh berada di dalam ruangan ini tidak lebih dari lima menit.
Lucena menerima semua persyaratan itu, yang paling terpenting baginya, dia bisa melihat suaminya dari dekat. Ada sedikit harapan dimana dirinya bisa melihat dan ada di samping Galen saat pria ini tersadar. Tapi bisakah semua itu terwujud, Lucena tidak bisa banyak berharap.
" Bangun.. Aku sudah disini.. Maaf.. Maafkan aku egois dengan pergi.. Andai saja aku tidak pergi.. Kau.. Kau.. Tidak akan seperti ini.. Maafkan aku.. Galen.. " Gumam Lucena menangis di atas telapak tangan Galen yang dia genggam.
" Ayo bangun ya.. Kita pulang ke rumah kita.. Anak-anak, menunggu mu di rumah.. " Ucapnya lagi.
Masih menangis, Lucena mulai berpikir jika semua ini adalah ulahnya. Andai saja dirinya tidak egois dan pergi, andai saja dia bisa memahami Galen seperti Galen memahaminya. Dirinya saja pernah terlibat skandal yang sangat menggemparkan, lalu apa yang terjadi pada Galen saat itu tidak seberapa dibanding skandalnya.
Galen juga tidak mungkin meninggalkannya ataupun berselingkuh. Galen mencintainya apalagi ada anak di antara mereka. Seharusnya lucena lebih bisa mengerti sifat suaminya. Galen, bukan hanya suaminya, tapi ketika di kantor Galen adalah CEO nya. Setiap keputusan yang Galen buat bisa menentukan nasib ribuan pekerja di kantor keluarga mereka.
" Jangan menyalahkan diri mu sendiri.. Aku juga salah di sini.. Maaf.. " Mata Lucena yang tadinya tertutup kini terbuka lebar saat mendengar suara yang amat dia hapal siapa pemiliknya. Belum lagi usapan tangan di atas kepalanya yang tertunduk.
" Galen.. Kau.. Sadar.. " Lucena langsung berdiri, dan memencet tombol di samping ranjang Galen yang terhubung dengan ruangan dokter dan suster di rumah sakit ini.
Galen mengangguk tersenyum, sebagai jawaban pertanyaan Lucena. Dirinya terlalu lemah untuk banyak bicara. Tubuhnya terasa sangat berat sekali, nafasnya juga sesak. Mungkin ini efek dari kecelakaan pesawat yang dia tumpangi.
Galen tersadar sejak Lucena bertumpu di atas punggung tangannya dan menangis. Ingin Galen bicara saat itu juga, tapi dia harus mengumpulkan tenaga untuk bisa mengucapkan dua kalimat tadi. Dirinya lemah, bahkan rasanya jauh lebih lemah dibanding dirinya yang pernah sakit untuk kedua kalinya.
" Dokter.. Pasien sudah sadar.. " Pekik seorang suster yang masuk terlebih dahulu sebelum Dr. Edward.
" Nyonya.. Bisa tunggu di luar terlebih dahulu.. Biarkan dokter memeriksa pasien.. " Suster tadi meminta Lucena keluar dengan sopan. Prosedur pengobatan memang seperti ini, dan Lucena memahaminya. Dia pun keluar dan mengabarkan tentang sadarnya Galen pada keluarganya.
" Apa yang anda rasakan tuan? " Tanya dokter setelah memeriksa di beberapa bagian tubuh Galen.
" Sesak dok.. Tubuh saya, rasanya sangat berat sekali.. " Ucap Galen lirih.
" Kita akan lakukan pemeriksaan lanjutan tuan.. Saya berharap tidak ada komplikasi dari penyakit anda yang kembali kambuh.. " Galen mengangguk kecil.
" Suster.. Tolong persiapan pemeriksaan menyeluruh untuk pasien besok pagi.. " Suster yang ikut berada di ruangan ini pun mengangguk.
Setelah memastikan suster sudah menyuntikan obat untuk Galen, dan melihat Galen kembali terlelap. Dr. Edward keluar dari ruang ICU untuk menemui keluarga Galen. Ada beberapa hal yang perlu disampaikan, berharap keluarga akan selalu mendampingi pasien selama pengobatan.
" Dokter.. Bagaimana putra saya? " Daddy Joaquin paling dulu maju ketika pintu ruang ICU dibuka dari dalam.
" Terima kasih dok.. Terima kasih banyak atas bantuannya.. " Daddy Joaquih menjawab tangan Dr. Edward.
" Sudah tugas saya tuan.. " Dr. Edward merendah.
" Dokter.. Sebelumnya ada yang ingin saya sampaikan.. Mengenai pemindahan putra saya ke rumah sakit yang ada di negara kami.. Apakah hal itu memungkinkan untuk dilakukan? " Tanya daddy Joaquin menjelaskan maksudnya.
" Saya tidak bisa menjawab sekarang tuan.. Mohon maaf.. Tapi saya akan memberikan jawaban saya ketika hasil pemeriksaan menyeluruh pasien sudah keluar.. " Dr. Edward merasa tidak enak. Siapa yang tidak tahu jika keluarga pasien yang ditanganinya saat ini memiliki rumah sakit yang bertaraf internasional.
" Baik dokter.. Saya tunggu jawaban Anda.. " Dr. Edward pun meninggalkan keluarga pasien yang akhirnya bisa bernafas lega karena Galen sudah sadar.
Tuhan pasti mendengar doa mereka sepanjang perjalanan ke tempat ini. Sehingga Tuhan memberikan mukjizat dengan bangunnya Galen. Dengan begini, Galen sudah melewati masa kritis dan semua anggota keluarga berharap jika nantinya tidak akan ada hal buruk yang terjadi selama pemeriksaan yang akan Galen jalani besok.
****************
Hari sudah berubah malam, tanpa disadari satu pun anggota keluarga de Niels. Karena tidak mungkin menginap di rumah sakit seperti biasa mereka lakukan di rumah sakit milik keluarga. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk menginap di hotel yang ada di dekat rumah sakit. Memudahkan jika sewaktu-waktu mereka akan menjenguk Galen.
Lucena awalnya ngotot ingin tetap di rumah sakit karena tidak ingin meninggalkan Galen. Tapi setelah mendapatkan penjelasan dari suster di sana jika Galen tetap berada di ruang ICU sampai pemeriksaan besok selesai, akhirnya Lucena memutuskan ikut pergi ke hotel dengan keluarganya.
Yang tinggal di rumah sakit adalah Lucifer dan Gafar saja. Mereka masih kuat untuk tetap terjaga di malam ini dan lagi mereka tidak ingin tidak ada yang menunggui Galen. Takut ketika pria itu kembali sadar, dia mencari keluarganya.
" Bagaimana hubungan mu dengan sekretaris ku, Lu? " Lucifer menatap Gafar terkejut.
" Hei.. Hei.. Jangan bersikap seolah-olah aku tidak akan tahu.. Dia itu sekretaris ku, Lu.." Gafar terkekeh melihat wajah terkejut Lucifer.
" Kak Galen yang cerita pada mu? " Tanya Lucifer. Setahunya, hanya kakak iparnya saja yang tahu.
" Haish kau meremehkan aku.. Apakah kau lupa sejenius apa diri ku? " Gafar menyombongkan dirinya. Tapi memang benar apa yang dikatakannya.
Kandidat penerus daddy Joaquin selain Galen adalah Gafar. Hanya saja, yang membuat Gafar tereliminasi dari kancah pemilihan penerus daddy Joaquin dengan kekuasaannya, Gafar memiliki tempramen yang buruk. Gampang emosi dan jika sudah seperti itu, semua kena semprotannya. Bisa gawat jika seperti itu.
" Iya.. Iya.. Kak Gafar benar, andai saja kakak tidak emosian, mungkin sekarang Kak Galen bukan CEO JN GROUP, hanya pebisnis Clubs malam saja.. " Lucifer terkekeh.
Pembicaraan mereka terhenti ketika ada beberapa suster dan dokter yang merawat Galen berlarian menuju ke ruang ICU dengan wajah panik. Gafar dan Lucifer tentu saja terkejut dan menjadi panik takut terjadi hal buruk pada Galen.
Kedua pria ini mendekat ke arah jendela kaca ruang ICU dimana Galen berada. Tapi karena banyaknya tenaga medis di ruangan itu, tidak terlihat sama sekali apa yang terjadi di dalam sana. Akan tetapi, dari mimik wajah semua tenaga medis itu, hal buruk telah terjadi pada Galen.