
" Galen... Galen... " Gaffi masuk ke kamar rawat inap Galen sambil berteriak memanggil Galen.
" Hei.. Hei.. Jaga sopan santun mu.. Ini rumah sakit, kenapa kau berteriak seperti di hutan? " Ghadi langsung menegur Gaffi yang datang-datang sudah membuat keributan.
" Dimana Galen? Cepat katakan dimana Galen? " Gaffi menggoyang badan Ghadi sampai Ghadi marah dan mendorong Gaffi menjauh.
" Heh.. Sudah aku bilang jaga sopan santun mu.. Kau itu sebenarnya kenapa? " Tidak habis pikir Ghadi, melihat saudaranya jadi bersikap aneh seperti ini.
" Pelan-pelan, Len.. " Terlihat Roseline dan Galen baru saja keluar dari ruang ganti. Ternyata Galen tengah bersama dengan Roseline mengganti pakaiannya.
" Kalian kenapa ribut sih? Berisik sekali.. Ini rumah sakit dan kalian ada di ruangan pasien.. Tidak punya tara krama sama sekali.. " Tegur Roseline yang sudah dalam mode on Galak.
" Ck.. Kenapa kau kemari? Disaat yang tidak tepat begini.. " Gaffi berdecak kesal.
" Ada apa? " Akhirnya Galen angkat bicara. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa pertengkaran mereka bertiga tidak bisa dicegah.
Setelah melihat Galen, entah kenapa Gaffi jadi ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia baru saja mendapatkan telepon dari mansion utama yang mana ada kejadian buruk terjadi di sana. Gaffi mendapatkan mandat untuk memberitahu Galen tentang situasi di mansion utama saat ini. Tapi, melihat Galen masih pucat dan terlihat lemah, Gaffi jadi kehilangan keberaniannya untuk mengatakan apa yang terjadi.
" Gaffi.. Ada apa? " Tanya Galen sekali lagi. Sejak tadi di tunggu, tapi Gaffi sama sekali tidak juga mengatakan maksud kedatangannya.
" Len.. Itu.. Ehm.. Itu.. " Gaffi bingung harus mengatakan seperti apa agar Galen tidak sampai shock.
" Ada apa? Kenapa kau seperti ini? " Galen menuntut Gaffi.
" Len.. Dengarkan aku.. Kau harus tenang dan berpikir positif.. Ikut aku sekarang juga kita kembali ke mansion utama.. " Ujar Gaffi tapi tidak memiliki jawab pertanyaan Galen.
" Maksudnya bagaimana? " Tanya Galen tidak paham maksud Gaffi.
" Ikut aku pulang ke mansion dengan ambulance.. Akan aku jelaskan saat dijalan.. Oke.. " Gaffi merayu Galen.
Melihat Gaffi bersikap aneh seperti ini, entah bagaimana Galen merasa ada sesuatu dalam hatinya yang tiba-tiba saja terasa begitu sakit. Rasanya sama sekali tidak nyaman dan Galen sendiri tidak paham dengan apa yang dia rasakan kini. Saat. Mengetahui ada pemberitaan tentang Lucena, perasaannya sudah tidak enak.
" Jangan-jangan.. Luce... Sudah tahu? " Galen melotot kalau akhirnya otak jenius nya bisa menangkap maksud dari Gaffi.
" Kita bicarakan di jalan.. Please... Ikuti saja arahan ku.. " Pintar Gaffi memelas.
Galen mengangguk dan mengikuti Gaffi yang membawanya keluar dari ruangannya dengan kursi roda. Ambulans sudah disiapkan oleh Gaffi, dan hanya tinggal menunggu Galen masuk ke dalam sana, setelahnya ambulans ini akan segera berangkat menuju ke mansion utama. Ada situasi genting di mansion, yang mana sulit Gaffi katakan karena takut jika Galen shock dan mempengaruhi kondisinya saat ini..
Kembali ke mansion utama keluarga de Niels yang tengah dihebohkan dengan situasi dimana salah satu menantunya tengah melakukan percobaan untuk bunuh dari dari rooftop mansion. Tinggi bangunan mansion utama mencapai lima belas meter dari tanah. Jika seseorang melompat dari rooftop, bukan tidak mungkin jika orang ini berakhir meninggal dunia.
Yang tengah dilakukan Lucena saat ini adalah batas dari rasa bersalah nya dan rasa yang tidak bisa dia lukiskan telah mendera batinnya. Jijik pada dirinya sendiri yang ternyata tidaklah sesuci pikirannya. Merasa bersalah pada keluarga, terutama pada satu-satunya pria yang namanya terukir dihatinya sejak dulu.
Dalam pikiran Lucena, jika dia mencoba melepaskan semua bebannya dengan mengakhiri semuanya, mungkin saja dia akan bisa menyelamatkan nama baik keluarga yang selama ini mendukungnya. Biarkan dia yang menanggung semua tanggung jawab atas masalah yang terjadi, dan membebaskan keluarganya dan suaminya dari cacian dan hinaan orang-orang di luar sana.
Ya, Lucena memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari rooftop mansion utama. Pernah mencoba memotong pergelangan tangannya namun berakhir dia selamat, maka Lucena pikir jika dia melompat dari rooftop, maka dia akan langsung mati dan tidak lagi membebani keluarganya.
" Sayang... Turun sayang... Jangan berbuat sesuatu yang akan membuat mu menyesal.. Papa mohon, Luce.. Turun lah sayang.. " Dengan linangan air mata yang tumpah, papa Daniel mencoba menghentikan niat Lucena untuk bunuh diri.
" JANGAN MENDEKAT!!!! SEMUANYA TIDAK AKAN BISA DISELESAIKAN KECUALI JIKA AKU MATI.. SEMUA SALAH KU... JANGAN MENDEKAT AKU BILANG.. " teriak Lucena yang sudah sangat frustasi dengan semuanya.
" Luce.. Dengarkan mama, sayang.. Turun... Jangan buat kami kehilangan kamu.. Jangan buat kami hidup dihantui rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan mu.. Tolong turun, Luce.. Mari bicarakan semuanya.. " Mama Whitney bahkan sudah berlutut memohon pada sang putri untuk turun dari tempatnya sekarang.
Lucena sudah berdiri di laut pagar pembatas rooftop. Setelah langkah saja, maka Lucena akan terjatuh dan dipastikan bisa menghantam tanah. Semua orang panik dengan peristiwa yang sangat mendadak ini. Tidak bisa disangka jika Lucena akan berpikir kan sempit dan memilih mengakhiri hidupnya karena tidak mampu menghadapi masalah yang menimpanya.
" Lucena.. Dengarkan daddy.. Kita akan menyelesaikan semua ini, kita akan bekerja sama untuk membuat semua orang mengetahui jika disini kau tidak bersalah.. Jadi daddy mohon, jangan berbuat sesuatu yang seperti ini.. Kau tidak memikirkan Galen? Suami mu sedang berjuang melawan penyakitnya dan kau justru ingin mengakhiri hidup mu? " Daddy Joaquin mencoba untuk mengalihkan Lucena dengan menyebut nama Galen. Dan itu..... Berhasil.
Lucena menatap wajah daddy Joaquin dengan sangat intens. Ucapan daddy Joaquin berhasil mengusik keteguhan hatinya karena ada nama Galen di dalam hati Lucena. Dia berpikir, apakah dirinya egois dengan berbuat seperti ini. Tetapi, bagi Lucena peristiwa ini, pemberitaan tengah dirinya ini, telah sukses membuat dirinya down, telah membuat dirinya menjadi manusia paling hina di dunia ini.
" JANGAN MENDEKAT!!! JANGAN MENDEKAT!!! " Lucena kembali berteriak saat melihat Gafar dan Rouge hendak mendekatinya dan menarik tubuhnya. Sontak kedua pria ini langsung berhenti di tempat karena teriakan Lucena.
" Aku tidak sanggup lagi.. Sungguh tidak sanggup lagi.. Ini buruk,, kejadian ini sungguh buruk dan aku tidak bisa menerima ini semua.. Lebih baik aku mati saja daripada menjadi seorang pendosa selamanya.. " Ucap Lucena sambil menangis.
" Dengar Luce.. Jika kau nekat melakukan ini maka kau akan menyesal.. Kau tahu, saat ini, Galen sedang dalam perjalanan kemari dan coba pikirkan apa yang akan Galen pikirkan jika kau seperti ini.. " Gafar berucap sangat pelan, seperti berbisik tapi jarak antara dirinya dan Lucena yang dekat, membuat Lucena dapat mendengarnya.
Semua orang tengah melakukan sesuatu di bawah sana jadi sebisa mungkin Gafar mengalihkan perhatian Lucena agar tidak melihat ke bawah dan menggagalkan rencana mereka semua. Satu-satunya pengalihan yang tepat untuk mengalihkan perhatian Lucena hanyalah Galen. Jadi, sebelum persiapan selesai Gafar sebisa mungkin tidak membuat Lucena mengambil tindakan yang nekat.
" Kak Galen sudah tiba.. " Ucap Kate memberitahukan jika saat ini, Galen sedang menuju ke tempat mereka berada.
" Kak Luce.. Kak Galen sudah tiba.. Turunlah kak, dan mari bicarakan semuanya dengan baik.. " Pinta Kate memelas. Dirinya ketakutan, karena kejadian saat ini sungguh diluar nalar nya.
" Lucena.. " Mata Lucena bertemu dengan mata seseorang yang tengah menatapnya dengan sangat teduh. Dalam tatapan itu tersirat bahwa dirinya tidak ingin jika Lucena mengambil tindakan yang ekstrem seperti ini. Namun, melihat orang ini justru semakin menguatkan keputusan Lucena untuk mengakhiri semuanya.
" Maafkan aku Galen.. Selamat tinggal.. " Lucena tersenyum menatap pria yang dia cintai seumur hidupnya.