
" Maaf Miss Lucena, saya dengan sangat berat hati mengatakan jika masa kerja Anda akan diakhiri pada hari ini.. Kebetulan dosen yang anda gantikan, akan kembali bekerja esok hari.. Karena itu, saya mohon maaf, dengan terpaksa saya memberhentikan anda.. " Ucap rektor merasa sangat tidak enak. Dirinya terpaksa melakukan karena tekanan dari seseorang yang mengenal pemilik universitas ini.
" Tak apa Mr. Edward.. Terima kasih telah menerima saya selama beberapa minggu ini.. Kalau begitu saya akan membereskan barang-barang saya sebelum saya meninggalkan tempat ini.. " Lucena berusaha untuk bisa menerima keputusan yang sangat mendadak ini.
Posisi dirinya disini memang hanya sebatas dosen pengganti. Jadi sudah sewajarnya jika dosen yang dia gantikan telah kembali, Lucena harus meninggalkan posisinya. Tidak ada yang salah disini, semuanya memang sudah sesuai prosedur kerja. Bahkan Lucena yang seharusnya tidak mendapatkan pesangon, kini diberikan pesangon.
Jujur saja Lucena terkejut dirinya mendapatkan pesangon. Baru bekerja tiga minggu, seharusnya untuk seorang dosen honorer, dirinya tidak mendapatkan pesangon, hanya gajinya yang dihitung perhari saja.
Lucena hendak mengembalikan pesangon itu pada pihak universitas, tapi ditolak dengan alasan sebagai rasa Terima kasih mereka dan permintaan maaf karena memberhentikan Lucena lebih awal dari ketentuan. Setelah perdebatan dengan pihak administrasi, akhirnya Lucena pun mengalah dan membawa pesangon bersamanya.
Bukan tanpa alasan sebenarnya pihak kampus memberikan Lucena pesangon. Semua itu tentu karena orang berpengaruh yang mengenal pemilik universitas ini. Orang berpengaruh ini mengatakan untuk memberhentikan Lucena dengan alasan apapun. Rektor, hendak mencegah karena masih kekurangan tenaga kerja, tapi pemilik universitas ini mengatakan jika dirinya ditekan oleh orang berpengaruh ini.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya rektor memberhentikan Lucena sebagai dosen honorer dan pesangon itu sebagai perwujudan rasa bersalah mereka karena memutuskan semuanya secara mendadak tanpa pembicaraan terlebih dahulu dengan Lucena.
" Sepertinya aku harus mencari pekerjaan lain.. Haish, kenapa mendadak sekali? Mr. Edward juga kelihatan aneh sekali tadi.. " Batin Lucena sedikit curiga dengan situasi yang menurutnya seperti dipaksakan ini.
" Sudahlah.. Lebih baik pulang dan bermain dengan King dan Queen.. " Lucena pun akhirnya melakukan mobilnya pulang kembali ke rumahnya.
Dirinya sepertinya harus berpikir ulang apakah akan kembali mencari pekerjaan atau tidak. Menurut Lucena, dirinya sudah terlalu lama pergi dari rumah. Dia merasa semuanya harus diselesaikan sekarang. Mungkin saja dia sudah siap untuk kembali melihat Galen. Toh sebulan sudah berlalu.
Ada sedikit ketakutan Lucena jika dia kembali ke Milan dan justru mendapati Galen dan wanita bernama Tamara itu masih dekat. Lucena tidak suka dan dia cemburu ketika ada wanita lain yang dekat atau sengaja mendekati Galen. Lucena sadar diri, jika dirinya adalah wanita yang tidak sempurna untuk Galen.
Lucena berniat menghubungi mertuanya nanti, untuk bertanya apakah semuanya akan baik-baik saja jika dia pulang kembali ke Milan dalam waktu dekat. Lucena juga sudah sangat merindukan Galen, sampai-sampai dia bermimpi jika Galen sudah menemukan keberadaan dirinya.
" Nyonya.. Nyonya.. " Lucena terkejut saat melihat suster Clara berlari memanggil namanya saat dirinya baru saja keluar dari mobil setelah memarkirkan nya.
" Ada apa Sus? Anak-anak nggak apa kan? " Lucena ikut panik dan langsung berlari menghampiri suster Clara yang berdiri di depan pintu.
" Tuan dan nona kecil baik-baik saja nyonya.. Hanya saja... Hanya saja.. Ada.. Ada berita... Tentang... Tuan muda.. " Ucap suster Clara terbata karena bingung harus menyampaikan seperti apa berita yang dia lihat di televisi barusan.
" Tuan muda.. Tuan muda siapa, Sus? " Tanya Lucena melangkah masuk ke rumah bersama suster Clara dengan langkah cepat.
" Suami anda.. " Jawab suster Clara.
Lucena menghentikan langkahnya mendengar jawaban suster Clara. Tiba-tiba saja, perasaannya menjadi tidak enak. Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Galen. Pikiran Lucena sudah berlarian kesana-kemari karena takut sesuatu buruk terjadi dengan suaminya.
Lucena tahu jika suaminya memiliki penyakit paru-paru yang bisa saja kambuh. Apalagi beberapa waktu yang lalu, suaminya baru saja masuk rumah sakit lagi. Lucena sudah panik duluan apalagi ketika melihat berita di televisi tentang suaminya.
Tubuh Lucena membeku ketika membaca informasi berikutnya yang mengatakan jika salah satu dari penumpang pesawat itu adalah GALEN AVANOISK de NIELS, yang merupakan CEO JN GROUP.
Lucena menangis tanpa suara saking terkejutnya. Apa yang membuat Galen berada di Amsterdam, benarkah mimpinya jika Galen berada di negara yang sama dengannya, tapi kenapa Galen tidak menemuinya dan malah kembali lagi ke Milan.
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenak Lucena, tapi yang paling membuatnya bertanya-tanya dimana suaminya sekarang. Pesawat yang ditumpangi oleh Galen menghilang, lalu apa yang menimpa pesawat itu sampai menghilang.
" Suster.. Kemasi semua barang-barang kita.. Malam ini juga kita kembali ke Milan.. " Ucap Lucena setelah berhasil menguasai dirinya.
Tidak ada waktu untuk menangis saat ini. Lucena harus secepatnya sampai ke Milan dan meminta semua orang-orang dari keluarga de Niels mencari keberadaan dari suaminya. Mertuanya dan papanya lebih dari mampu mengerahkan banyak anak buah mereka untuk menemukan Galen.
Meski belum pasti apakah Galen selamat atau tidak, tapi jika masih ada satu persen saja kemungkinan suaminya selamat, maka Lucena akan mempertaruhkan semuanya pada satu persen itu. Lucena, percaya atau lebih tepatnya berusaha percaya, bahwa suaminya tidak akan pergi meninggalkannya.
***************
Tidak hanya Lucena yang ada di Belanda saja yang panik menerima berita tentang Galen, semua keluarga de Niels di Italia juga terkejut mendengar berita itu. Tidak ada yang tahu Galen melakukan perjalanan ke Belanda, tapi sekarang muncul berita yang menyatakan pesawat yang ditumpangi Galen dari Amsterdam menuju ke Milan tiba-tiba menghilang.
Mommy Noura terus menangis dalam pelukan Gafar karena shock dengan berita mengenai putranya. Ada rasa tidak percaya, tapi tidak mungkin berita yang beredar itu hanya hoaks belaka. Saking panik dan kalutnya, Mommy Noura langsung pingsan dalam pelukan Gafar.
" Bawa mommy ke kamarnya, Gafar!!! " Perintah daddy Joaquin yang panik tingkat tinggi saat ini.
" Iya dad.. Gaf, periksa mommy.. " Gafar dan Gaffi naik ke lantai dua untuk mengurus mommy mereka.
" Dad, kita perintahkan saja semua orang kita untuk mencari ke sana.. " Ucap Ghadi.
" Tapi sebelum itu, pastikan memang benar Galen berangkat ke sana.. " Ucap daddy Joaquin memerintahkan asistennya untuk mencari Galen di Heaven Ares.
" Sebenarnya apa yang dilakukan Galen di sana? Bukankah dia tidak punya usahanya sendiri di sana? " Ghadi bertanya-tanya apa yang membuat saudaranya itu pergi ke negara yang terkenal dengan Kincir anginnya itu.
" Lucena dan kedua anaknya ada di sana.. Sepertinya Galen sudah menemukannya tapi semuanya tidak berjalan sebagai mana mestinya.." Ghadi terkejut mendengar jawaban daddy nya.
Meski sebenernya Ghadi sudah memprediksi jika orang tuanya tahu keberadaan Lucena dan keponakannya. Tapi Ghadi tidak menyangka semuanya menjadi seperti ini. Bohong jika dia tidak cemas, tapi Ghadi ingat betul Galen punya rencana untuk membawa istrinya kembali ke Milan.
Benarkah ini semua rencana dari Galen, atau apakah semua rencana Galen gagal dan berakhir menjadi musibah untuk nya.