IMPERFECT WOMEN WITH YOU

IMPERFECT WOMEN WITH YOU
Sakit



Galen yang sekarang ini masih duduk di ruang kerjanya di JN GROUP, baru saja menerima laporan email dari Lucifer. Sekarang yang perlu dilakukan adalah mencari tahu tentang keluarga yang memiliki rumah itu. Mungkin saja, ada petunjuk besar di sini jika digali dengan teliti.


Selangkah demi selangkah, Galen akan bertemu dengan orang-orang yang telah menyakiti Lucena. Galen pun berpikir, kira-kira apa yang akan dia lakukan saat bertemu dengan orang jahat ini. Hasil dari perbuatan mereka memberikan dampak yang besar pada kehidupan Galen dan Lucena. Jadi, Galen harus memiliki penanganan secara tepat untuk orang-orang ini.


" Huft.. " Galen menghela nafas lelah. Akhir-akhir ini, banyak sekali masalah yang datang. Baik itu masalah perusahaan atau masalah pribadi. Saking sibuknya Galen jadi lupa kapan terakhir kali dia tidur di mansion utama.


" Kenapa Rouge belum memberi kabar? Lucifer saja sudah.. Rasanya perlu diragukan kemampuan dia sekarang. Apa aku ganti saja ya pemimpin perusahaan keamanan? " Gumam Galen.


Tok.. Tok..


" Masuk.. " Ujar Galen. Alisnya mengernyit saat melihat di depannya ada sekretarisnya. Galen langsung beralih melihat jam di tangannya, dan waktu susah menunjukan pukul delapan malam. Lalu kenapa Bridella masih di perusahaan.


" Bukannya tadi kau pulang? " Tanya Galen menatap heran sekretarisnya.


" Memang pulang tuan muda.. Tapi saya ingat kalau belum menyerahkan satu berkas penting dari klien kita yang ada di Spanyol. Besok, mereka sudah meminta keputusan.. " Ucap Bridella nyengir kuda.


" Kau kenapa jadi sering lupa sekarang? Efek sudah tidak jomblo lagi kah? " Ujar Galen menerima berkas yang Bridella serahkan.


" Tuan.. Itu sama sekali tidak saling berhubungan.. Kenapa menyangkut pautkan lupa saya dengan pasangan? " Bridella mencebik.


" Karena sebelum kau bertemu tuan polisi itu.. Kau tidak sering lupa, Bri.." Ujar Galen acuh. Dia hanya menatap berkas yang ada di tangannya, sama sekali tidak peduli pada wajah sekretarisnya yang sudah ditekuk lantaran diledek.


" Sudah aku Terima.. Jadi pulanglah dan beristirahat. " Ucap Galen yang langsung diangguki oleh Bridella.


Galen memeriksa berkas yang besok sudah harus memberikan jawaban atas beberapa poin yang perusahaan dari Spanyol ini dimasukan dalam kontrak kerja mereka. Saat tengah serius, Galen tiba-tiba merasa kehausan. Tangannya meraih gelas yang berisi air putih di meja kerjanya, namun karena tidak hati-hati, gelas itu terjatuh dan pecah.


DEG..


" Aarrgggghh.. Dada ku... Sakit sekali.. " Ucap Galen tertunduk sambil memegang dadanya.


" Ada apa ini? " Ucapnya kemudian entah bagaimana ceritanya Galen langsung ambruk tidak sadarkan diri.


Di tempat yang mana setengah hati Galen berada. Tengah diliputi oleh ketakutan yang tidak biasanya. Pikirannya terus mengarah pada Galen, seperti ada sesuatu yang tengah terjadi pada suaminya itu. Lucena, mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Saat menyadari hari sudah sangat larut, Lucena pun membatalkan niatnya untuk menghubungi Galen.


**********


Galen terbangun dan matanya melihat langit-langit ruangan dimana dirinya berada. Bau obat yang tercium, menandakan jika Galen saat ini berada di rumah sakit. Tangan Galen terangkat satu memegang dadanya yang sempat sakit saat terakhir kalinya sebelum akhirnya dia tidak sadar.


" Galen sudah bangun? " Sapa suara seorang wanita yang selalu mampu memberikan semangat dan juga ketenangan hati untuk Galen.


" Berapa hari Galen nggak sadar, mom? " Tanya Galen pertama kali, setelah dia tidak sadarkan diri.


Tangannya terulur menyentuh punggung tangan putranya yang menyentuh dadanya. Dalam diam, mommy Noura menangis. Meratapi apa yang terjadi pada putranya. Berharap, bahwa vonis dokter bisa berubah dan putranya akan baik-baik saja. Sungguh, jika harus kehilangan Galen, mommy Noura sangatlah tidak sanggup.


Putrinya sudah koma lantaran kecelakaan, apakah dia harus melihat putranya juga berurusan dengan maut. Andai bisa bertukar, pastinya mommy Noura ingin dirinya yang menggantikan putra dan putrinya berperang melawan penyakit.


Galen, didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit yang di sebut dengan PNEUMOTHORAKS,yang mana penyakit ini sudah ada pada Galen sejak lama. Galen pernah mengalami sebuah musibah dimana dia pernah tertembak peluru tepat di bagian dadanya beberapa tahun silam saat berurusan dengan bisnis dunia hitam keluarga de Niels.


PNEUMOTHORAKS sendiri bisa disebut sebagai paru-paru kolaps yang disebabkan oleh kondiri ketika udara berkumpul di rongga pleura, yaitu ruang diantara paru-paru dengan dinding dada. Udara tersebut dapat masuk karena adanya robekan pada paru-paru atau cidera di dada. Akibatnya paru-paru menjadi mengempis ( kolaps) dan tidak bisa mengembang.


" Dokter mengatakan, penyakit lama mu kambuh.. Untuk observasi, kau harus menginap di rumah sakit untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.. " Ucap mommy Noura terlihat sedih sekali.


" Jangan katakan apapun pada Luce, mom.. Aku tidak ingin dia panik dan khawatir mom.. " Ucap Galen masih terlihat lemah. Nafasnya masih sesak, dan terkadang masih terasa ada nyeri di dadanya.


" Terlambat.. Pagi setelah kau pingsan, Lucena menghubungi dan tidak ada yang mengangkat ponsel mu.. Kemudian dia menghubungi Ketos, dan dia terpaksa memberi tahu kondisi mu pada Lucena.. " Galen memejamkan matanya lantaran tidak lagi bisa menanggung bagaimana hebohnya Lucena jika melihat kondisinya.


" Galen ingin istirahat mom.. " Ucap Galen merasa sangat lelah.


" Hm.. Tunggu dokter datang untuk memeriksa mu ya.. " Galen pun mengangguk.


Di sebuah taksi yang menuju ke JN HOSPITALS dari arah bandara, di dalamnya ada seorang perempuan yang terus menerus menangis karena baru mendapatkan kabar tentang kondisi Galen. Tidak pernah mengetahui jika Galen pernah mengalami musibah hingga mengakibatkan cidera pada bagian paru-paru nya. Membuat orang ini frustasi dan merasa bersalah.


" Bodoh kau Luce, bagaimana bisa kau tidak tahu masalah ini.. " Gumam Lucena masih terus menangis di dalam taksi.


Beberapa kali kesempatan, supir taksi terlihat mengintip ke kaca tengah spion depan. Supir taksi sedikit khawatir dengan kondisi dari penumpangnya. Pasalnya sejak masuk ke dalam taksi yang dia kemudikan, penumpang ini sudah menangis. Sesekali bergumam mengatakan dirinya bodoh dan tidak peka dan segala jenis ucapan penyesalan.


" Nona.. Apa anda tidak apa? " Tanya supir taksi ketika dirinya sudah tidak bisa lagi menahan kekhawatirannya pada penumpang.


" Saya.. Tidak apa, Sir.. Tolong.. Antarkan saya segera ke... Rumah sakit.. " Ucap Lucena tergagap lantaran menangis


" Sebentar lagi sampai nona.. Apakah perlu bantuan saya nanti di rumah sakit? " Supir taksi tidak tega melihat seorang wanita seorang diri dalam kondisi terpuruk begini. Jujur saja, supir taksi takut jikalau ada orang yang memanfaatkan kondisi dari wanita ini.


" Tidak perlu Sir.. Terima kasih.. " Ucap Lucena.


Tidak ingin menunggu apapun lagi, begitu taksi berhenti tepat di depan rumah sakit, Lucena langsung berlari menuju ke lantai empat rumah sakit. Pantai empat adalah lantai khusus yang digunakan untuk merawat seluruh anggota keluarga de Niels.


Lantai empat sangat lengkap fasilitasnya dari mulai laboratorium sampai ruang operasi pun ada. Daddy Joaquin sengaja menyedikan lantai khusus anggota keluarganya agar mendapatkan penanganan yang cepat. Punya ICU sendiri, IGD sendiri dan para dokter pun, khusus memang disediakan untuk anggota keluarga.


BRAK...


" Jangan beraninya kau masuk ke ruangan Galen, atau kau akan berhadapan dengan ku, Lucena.. " Seseorang mendorong Lucena sampai membentur tembok yang ada di lantai empat. Orang ini, tidak mengizinkan Lucena untuk masuk ke ruangan Galen.